Perjalanan ini dilalui dengan empit-empitan di angkot CO9 yang berisi 15 orang. Satu sama lain saling berebutan oksigen guna mempertahankan hidupnya masing. Wangi parfum yang makin kini makin berubah dengan aroma semerbak keringat yang membuat kota Jakarta ini makin terasa kian sumpek.
Walaupun begitu, semangat membara tuk menuju sasaran perjalanan tidak menjadi pudar karena semangat persaudaraan yang tertanam dalam diri terus menyertai guna memenuhi undangan kebahagian walimahan Dony dan Lia.
Setelah turun di perempatan Carefour Lebak Bulus, kami membagi 15 orang ini menjadi 3 kelompok. Kebetulan kelompokku berisi orang-orang yang akrab dengan ku, yaitu Yonak, Oktora, Dedi, Wahyudi, dan tentunya aku. Walaupun dah dibagi kelompok-kelompok, kami melanjutkan bersama-sama dengan bus yang juga luar biasa padet. Orang diibaratkan barang yang terus dipadat-padatin agar muat. Tapi alhamdulillah aku masih dapat kursi, Brow. Setelah nyampe Cijantung kami baru naek taksi sesuai kelompok yang sudah dibagi tadi. Ternyata jaraknya gak terlalu jauh, so argonya pake argo minimal, Rp10.000,-. Pas nyampe di Gedung Balai Komando, Cijantung, Pasar Rebo, keadaan masih sepi yang ada cuma panitia aja.
Wah keliatannya bantu-bantu ngedekor (dekorasi) dulu neh. Pletak...
Eh ternyata Sang Mempelai Pria masih belom siap sempurna yang masih berdiri sendiri di depan gedung dengan baju setelan serba putih. Setelah ditunjuki letak posisi masjid oleh Doni, kami sholat maghrib terlebih dahulu di Masjid An-Nur di belakang gedung yang keadaannya masih gelap sebelum rombongan kami ke sana. Sesuai kesepakatan, kami menuju resepsinya ba'da Isya. So, ngobrol-ngobrollah dulu kami di masjid sambil nunggu Isya, sekalian reunian lah dengan mereka.
Setelah Isya', kami gabung rombongan Media Center dan anak-anak STAN laennya.
Luar biasa aku kaget, tuh acara bener-bener spektakuler, acara mewah. So pasti kalo setarafku mahal sehingga aku gak keduitan kalo ngadain seperti itu. But, yang membuat ku agak ilfil (ilang feeling) ama tuh acara adalah standing party-nya itu. Acara formalnya kan di awal dan sebentar banget, selebihnya didominasi oleh acara serbu makanan tiap stan-stan makanan yang ada. Nah itu dia, niat awal mau menikmati tuh makanan yang dikemas apik ntu, eh.. alih-alih gak nafsu karena gak ada tempat duduk untuk makan. Secara, aku gak biasa makan dan minum sambil berdiri karena bagi ku ntu gak nyunnah. Aku makan seperlunya aja sekedar untuk ngilangin rasa laperku yang hampir menjelang stadium empat. So, berjejal-jejallah aku memperebutkan jatah makan yang saingannya para tamu yang berbaju glamour. Walaupun laper, aku menghentikan rasa rakus karena laper ini. Bodo' amat lah ama temen-temenku dan yang laennya pada menggilir ke setiap stan makanan untuk icip-icip, aku hanya menonton mereka dan sedikit bujuk-bujuk untuk segera pulang ama temen kelompokku yang memang jam kesepakatan pulang udah waktunya.
Ku akui tuh acara meriah dan luar biasa, sampe-sampe tetamunya pun ada orang-orang penting, petinggi-petinggi kayak aku ini loh... Pletak.. Eh beneran, Bapak Wakil Gubernur pun sempet-sempetnya mampir ke walimahan ini loh. Salut deh buat sang pengantin, keluarga, panitia, dan terkhusus buat ku pribadi.. Gubrak.. He.. He..
Sesudah berhasil mengumpulkan 5 orang kelompokku, kami ikut ngantri menuju plaminan untuk salam-salaman. Eh ternyata ada cupika-cupikinya juga antara aku dan Dony, sambil Dony berkata, "wah yang jaoh-jaoh dari Lampung." Aku hanya bisa tersenyum, karena memang aku berniat datang dari Lampung ke Jakarta untuk ngunjungin pesta ini. Terus Dony request ke kami untuk foto bersama nanti. Weleh... Weleh... Nunggu agak lama lagi neh. Sambil nunggu aku cas cis cus ama temen-temen yang ku jumpai. Tapi yang lain menjamahi makanan lagi.. Hajaa..rr.
Akhirnya foto juga dengan perjuangan yang hebat karena antri salamannya gak abis-abis. Lalu aku berjuang bujuk-bujuk rayu lagi untuk pulang ke temen-temen kelompokku. Wah.. Ada Mas Lutfi dateng sama pasangan idealnya, istrinya. Eh.. Cupika-cupiki lagi deh aku dan dia sebegai salam pertemuanku yang dah lama gak ketemu.
Karena sepakat pulangnya naek taksi, kami menuju jalan untuk mencari taksi bersama Mas Lutfi dan pasangannya. Caela dinks, yang mau naek taksi juga bejibun. Temenku beride cemerlang, ngajakin nunggu di seberang jalan. Yes, emang di seberang sepi, jadinya, kami dengan mudah dapet taksi. Mas Lutfi pun ikut jejak langkah kami.
Tuk pasangan yang menginjakkan kaki pada dunia baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah..
Sabtu, 28 Juni 2008
9 Juni
Kepalaku sakit. Ingin ku hilangkan namun tak jua reda. Aku yang terus melandai diri dengan kesedihan, tak jua sirna dalam kesepian. Ingin ku memanggil seseorang tuk menghampiri, tapi siapa yang mau peduli. Mereka telah sibuk dengan urusannya masing-masing. Siapa peduli dengan jiwa kecil yang sendiri terpojok karena sepi. Tak dihiraukan pun tak mengapa karena memang sangat tak berguna bagi mereka.
Kontradiksi
Mulai beranjak menjadi pembangkang
Penolakan terhadap segala perlakuan
Terkesan tak berperasaan
Kondisi yang berbeda ku hadapi
Tak tertarik akan tindak tanduknya
Sangat bertentangan dengan keinginanku
Semua belum tentu berlaku sama
Walau semua dipaksa sama
Semua tak dapat menjadi indah
Walau dipaksa untuk indah
Penolakan terhadap segala perlakuan
Terkesan tak berperasaan
Kondisi yang berbeda ku hadapi
Tak tertarik akan tindak tanduknya
Sangat bertentangan dengan keinginanku
Semua belum tentu berlaku sama
Walau semua dipaksa sama
Semua tak dapat menjadi indah
Walau dipaksa untuk indah
Pikiran Diam
Aku yang merindu
Kehidupan yang terabaikan
Meski tak tertandingi
Aku ingin semua itu damai
Semua itu hidup kembali
Terluka karena hati
Musnah karena terpuruk
Menjadilah terbenam aku
Bagai semua dalam diam
Mati pun aku tak berkesudahan
Janganlah aku berhenti
Karena diri telah sepi
Janganlah aku berlari
Karena diri tak mungkin kembali
Kehidupan yang terabaikan
Meski tak tertandingi
Aku ingin semua itu damai
Semua itu hidup kembali
Terluka karena hati
Musnah karena terpuruk
Menjadilah terbenam aku
Bagai semua dalam diam
Mati pun aku tak berkesudahan
Janganlah aku berhenti
Karena diri telah sepi
Janganlah aku berlari
Karena diri tak mungkin kembali
Hitam Pekat
Aku terhempas
Lepas menghatam dasar lembah
Nurani tak lagi putih
Telah tertutupi mendung
Gelegar petir turut menyertai
Hati terus menghitam
Dengan mulut yang tak lagi terbungkam
Noda diri terus menggunung
Menghancur sisi diri
Terpuruk...
Yah...
Aku hanya bisa menangis
Akankah semua kembali suci
Dalam perjalanan menuju Ilahi
Lepas menghatam dasar lembah
Nurani tak lagi putih
Telah tertutupi mendung
Gelegar petir turut menyertai
Hati terus menghitam
Dengan mulut yang tak lagi terbungkam
Noda diri terus menggunung
Menghancur sisi diri
Terpuruk...
Yah...
Aku hanya bisa menangis
Akankah semua kembali suci
Dalam perjalanan menuju Ilahi
Tak Sehat
Betapa malang nasib pejuang
Sakit melawan terus diterjang
Sulit melirik
Jua sirna tak pupus harapan
Sakit melawan terus diterjang
Sulit melirik
Jua sirna tak pupus harapan
Dunia Baru
Ketemu orang asing buat ku pusing
Melihat yang terusik telah melirik pada yang asyik
Sudilah diri membasuh hati
Agar tak kesampaian tuk menjadi buaian
Melihat yang terusik telah melirik pada yang asyik
Sudilah diri membasuh hati
Agar tak kesampaian tuk menjadi buaian
Sedih
Di sini aku berkelana
Tak memiliki kekuatan akan pengetahuan
Terpaku aku duduk di sini
Hanya menatap kosong pembicaraan tak berkesudahan
Aku yang berkeinginan untuk berlari
Keluar dari komunitas ini
Menggelayuti dunia yang aku idamkan
Tapi...
Sampai sekarang tak tahu pasti
Ke mana aku harus singgah
Ke mana aku harus menggapai
Dunia terasa begitu kejam
Tak tersenyum ketika diri bersedih
Terbahak-bahak sewaktu diri di pesakitan
Dalam diam aku memendam
Dalam senyum aku meringis
Dalam siang aku terus merasakan malam
Ingin ku cari hangatnya sang mentari
Memeluk diri
Dan
Membelai kasih
Tak memiliki kekuatan akan pengetahuan
Terpaku aku duduk di sini
Hanya menatap kosong pembicaraan tak berkesudahan
Aku yang berkeinginan untuk berlari
Keluar dari komunitas ini
Menggelayuti dunia yang aku idamkan
Tapi...
Sampai sekarang tak tahu pasti
Ke mana aku harus singgah
Ke mana aku harus menggapai
Dunia terasa begitu kejam
Tak tersenyum ketika diri bersedih
Terbahak-bahak sewaktu diri di pesakitan
Dalam diam aku memendam
Dalam senyum aku meringis
Dalam siang aku terus merasakan malam
Ingin ku cari hangatnya sang mentari
Memeluk diri
Dan
Membelai kasih
Minggu, 22 Juni 2008
Tak Berdaya
Bertahta pada pemikiran
Lenyap pengabdian disusul pertanyaan
Apakah harus semua ku buang?
Aku tak akan terus berdiri dan terhenti
Aku tak mampu...
Dunia menyesakkan
Dan...
Mendorongku menjauh
Menjauh dari segala
Yang telah ku rengkuh
Yang telah ku genggam
Aku harus berlari
Menjauh pergi
Menyusuri pelangi
Tuk menyejukkan hati
Lenyap pengabdian disusul pertanyaan
Apakah harus semua ku buang?
Aku tak akan terus berdiri dan terhenti
Aku tak mampu...
Dunia menyesakkan
Dan...
Mendorongku menjauh
Menjauh dari segala
Yang telah ku rengkuh
Yang telah ku genggam
Aku harus berlari
Menjauh pergi
Menyusuri pelangi
Tuk menyejukkan hati
Tumpuan Hidupku
Mengapa dunia menggelora
Mengapa jiwa selalu tak bersahaja
Lepaskan...
Bebaskan aku dari belenggu itu
Runtuhkan candu itu
Memuakkan!!
Ingin ku tinggalkan pertanyaan 'mengapa'
Menambah sesak diri
Meruntuhkan pertahanan hati
Tak hendak aku membangkang
Tak hendak aku berteriak
Bahwa aku putus asa
Diamlah...
Biarkanlah aku menangis
Biarkanlah aku curahkan kepada mu
Sesak dada ini
Sakit kepala ini
Perih hati ini
Semoga petunjuk-Mu selalu menyertai langkah perjuanganku ini.
Mengapa jiwa selalu tak bersahaja
Lepaskan...
Bebaskan aku dari belenggu itu
Runtuhkan candu itu
Memuakkan!!
Ingin ku tinggalkan pertanyaan 'mengapa'
Menambah sesak diri
Meruntuhkan pertahanan hati
Tak hendak aku membangkang
Tak hendak aku berteriak
Bahwa aku putus asa
Diamlah...
Biarkanlah aku menangis
Biarkanlah aku curahkan kepada mu
Sesak dada ini
Sakit kepala ini
Perih hati ini
Semoga petunjuk-Mu selalu menyertai langkah perjuanganku ini.
Ketakutan Diri
Hari ini tersenyum kembali
Walau tak terobati
Ku ceriakan diri ini
Ku hidupkan hati ini
Kebahagian ada di depan mata
Kenikmatan telah menganga
Namun...
Semua semu
Semua tak menentramkan hati
Haruskah terus menerus menentang
Atau...
Mengikuti perintah dunia asing
Ketakutan terus membahana
Karena perkataannya
Yang terus meragukanku...
Aku...
Ingin terus bertahan
Sampai jiwa menyerang
Tuk menyudahkan
Masa hidupku
Walau tak terobati
Ku ceriakan diri ini
Ku hidupkan hati ini
Kebahagian ada di depan mata
Kenikmatan telah menganga
Namun...
Semua semu
Semua tak menentramkan hati
Haruskah terus menerus menentang
Atau...
Mengikuti perintah dunia asing
Ketakutan terus membahana
Karena perkataannya
Yang terus meragukanku...
Aku...
Ingin terus bertahan
Sampai jiwa menyerang
Tuk menyudahkan
Masa hidupku
Langganan:
Postingan (Atom)
