Rabu, 23 Juli 2008

Aku Harus Hidup Hari Ini

Terkdang untuk menatap ke depan itu sangatlah sulit karena diri sangatlah merasa kecil yang membuat diri merasa tak mampu untuk menginjakkan kaki tuk meidupan napaki kehidupan di masa dating. Tapi semua itu hanyalah sebuah kecemasan diri untuk tak bergerak dan tak bertindak dalam memecahkan permasalahan hidup ini. Aku yang di sini terus menentang diri untuk tak menghidupkan perasaan Sang Pengecut dalam menghiupkan kehidupan ini. Tak peduli apa kata pikiranku bahwa yang ku lalui akan sangat tak mungkin terlewati. Toh, aku masih punya Tuhanku yang pastinya akan membantuku dalam menjelajahi dunia yang telah digariskannya kepadaku yang aku tak tahu akan jadi apa aku di di dalam dunia hasil rancangan-Nya ini. Yang pastinya, aku diwajibkan untuk berusaha dan berusaha. Selebihnya hanya Tuhanku yang berhak menentukan apakah aku berhak atas hasil yang ku peroleh ata usaha ku tersebut. Ataukah aku harus memperoleh penundaan atas keberhasilan atas usaha ku tersebut. Aku yakin Tuhanku Maha Penyayang dan Maha Tahu atas segala makhluk-Nya. Ia tahu segala yang terbaik untuk hambanya sehingga dengan Kemahasayangan-Nya tersebut ia memberikan yang terbaik untuk hambanya tersebut, baik itu berupa keberhasilan ataupun berupa kegagalan (dibaca: penundaan keberhasilan).
Dengan perjuangan gigih, seseorang dapat serta merta memperoleh hasil yang memuaskan karena ia berhak atas hal tersebut. Tetapi dengan perjuangan yang tidak kalah gigihnya, kadang kala manusia memperoleh kegagalan yang telak, terpuruk jatuh tak berdaya. Bukan karena ia tak ingin keberhasilan ataupun karena usahanya yang setengah-setengah namun Tuhannya tahu bahwa keberhasilan belum layak untuk nya pada hari itu. Karena mungkin akan ada keberhasilan yang lebih besar lagi di hari esok jika ia berusaha kembali. Ataupun penundaan keberhasilan karena dengan keberhasilannya tersebut, ia mungkin akan menjadi lupa diri sehingga tak ingin berusaha kembali di hari berikutnya.
“Maka, apabila kamu telah selesai (dari segala suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah [94]:7-8).
Selalulah berbaik sangka terhadap Tuhan Yang Maha Bijak ini. Apapun yang telah kita peroleh, baik itu yang kita inginkan ataupun yag kita benci sekalipun, yakinlah itu merupakan yang terbaik untuk kita.
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada Ku.” (H.R. Syaikhani dan Turmudzi)
Namun dengan langkah bijak juga harus kita olah hal yang telah kita raih tersebut untuk menjadi hal yag sangat mengesankan di mata kita sendiri, di mata masyarakat sekitar, di mata dunia, dan yang intinya pergerakan kita harus memberikan kesan di mata agama.
“Orang yang berilmu itu bukanlah orang yang banyak ilmu agamanya. Tetapi orang yang berilmu itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya daqn dengan ilmunya itu ia menjauhi apa-apa yang tidak disukai Alloh Azza wa Jalla.”

Jumat, 18 Juli 2008

Pulkam ke Musi

Alhamdulillah...
Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju tempat kelahiran yang setelah beberapa bulan ini ku tinggalkan... Caela segitunya... Ya iyalah masak ya iya dong...
Penuh perjuangan pada sore setelah pulang kerja karena harus mengantarkan lembaran pengumuman muqoyam ke rumah Pak Ansyori. Sebelumnya memang aku ditugaskan untuk memfoto copy pengumuman agar masing-masing temanku dapat satu. So, jadinya hari ini seharusnya ku bagikan kertas itu. Namun, karena niatku yang sudah bulat-bulat untuk pulang ke Palembang, aku harus bolos untuk pertemuan kali ini. Pastinya bolos dengan izin Pak Ansyori nya duongs...
Setelah lembaran itu, aku masih bersama Tedy dan motre'nya pulang ke kosku. So pasti Tedy hanya mengantar doanks. Dari kemarin diriku ini keliling-keliling mulu'. Sebelumnya aku bersama Fitra dan Mas Syarif keliling. Niatnya sih beli Clear Holder untuk data pegawai. Namun, karena barangnya tidak ada jadinya melakukan efek samping nya saja, yaitu beli tiket ku pulang ke Palembang, ya iya ini. Terus besoknya lagi aku keliling sama Fitra beli barang yang sama dan alhamdulillah perjuangan kami membuahkan hasil. Lagi-lagi besoknya lagi, tepatnya hari ini, aku harus ngider lagi karena barang yang dibeli kemarin tidak sesuai dengan pesanan. So, complain lah kita ke toko nya, De Oni, di Way Halim. Untungnya mereka mau nukerin ntuh barang walaupun dengan barang yang tidak sama persis. Yang penting warnanya sama (Kata Bu'Evi).
Dan sekarang aku dan orang-orang di sekitarku lagi terjebak macet di Lampung Tengah. Entah ada masalah apa di jalan ini, hingga mobil pun tidak bisa jalan, berhenti total Bro'.
Semoga dapat yang terbaiklah dari-Nya dalam menjalankan perjuangan ini. Amin.

Blas Pas....

Tak mengerti
Perjalanan terus berjalan
Kehidupan terus hidup
Namun arah tak tentu akan ke mana
Semua mendera
Mempertanyakan...
Akan ke mana semua itu bermuara

Tentukan langkah
Tentukan arah
Karena diri tak selamanya di sini
Diri harus pergi
Menjauh meninggalkan kenangan panjang
Nan manis menyejukkan

Selamat malam, Siang
Selamat sore, Fajar
Selamat tinggal kegelapan