Tak selamanya hidup ini penuh dengan derita. Karena suka pun selalu menghiasi kehidupan yang indah ini.
“kapan sampe di sini, Pras” pagi itu ia menegur diri.
“kemaren pagi pak” sambil berjalan pulang dari sholat shubuh meninggalkan masjid dengan setengah kaget dan bingung “ kok bapak itu tahu namaku ya?” bisikku
“dah langsung ditempatkan kerja kan?” tanyanya kembali .
“alhamdulillah sudah Pak” sambil menundukkan diri, tak mampu menatap tatapannya yang dapat membuat hati menjadi riya.
***
Suasana baru dalam kehidupan yang baru telah ku raih. Setelah perjuangan menentang segala apa yang diidam-idamkan selama ini. berpenghujung pada kebahagiaan. Perjuangan itu menjadi sangat berarti.
“Pras, mau mengambil jurusan apa nanti untuk SPMB?”
”pengen banget sih masuk jurusan matematika. Tapi aku bingung, Wan, ke depannya kok gak ada harapan ya. Yah.. paling-paling jadi guru. Makanya kuberalih pengen masuk tehnik kimia ajalah” jawabku pada Iwan teman sekelasku.
“Yah enak kamu, masih nyambung dengan semua materi di sekolah. Lah aku ngitung aja susah banget. Nih liat nilai ujian matematikaku gak ada yang gede. Semua jeblok.”
Iya juga ya ku pikir. Aku harus bersyukur dengan apa yang kudapat saat ini. Tapi itu semua tak cukup membuatku berbangga hati.
“Tapi disisi lain kamu kan punya banyak sekali kelebihan dari ku, Wan. Dalam organisasi, kamu dah pernah jadi ketua OSIS. Sekarang juga organisasi tak pernah Kau tinggalkan. Kamu juga adalah sang orator ulung, terbukti dengan kamu selalu menjuarai lomba pidato yang kamu ikuti. Iya kan?!”
“Yah Pras.. itu kan gak di pake dalam ujian SPMB nanti…!!”
“Ye.. emangnya kamu mau pidato di SPMB nanti. Yang kumaksud itu kamu bisa mengembangkan itu semua yang dapat dijadikan modal untuk kehidupanmu kelak. Kita kan wajib berusaha. Toh yang nentuin juga kan Allah. Karena dialah yang punya otoritas akan semua itu.”
“ Okeh Bos,, thanks kawan..” senyum simpulnya menghiasi raut mukanya.
***
Tapi keadaan berbalik arah setelah Aku mengetahui hakekat dari kemandirian. Aku tak ingin menyusahkan orang lain , sekalipun itu orang tuaku.
“Bu, kan Pras bisa jualan sambil kuliah nantinya.” Pintaku padanya.
“Yah Ibu ngerti tekadmu Pras. Tapi Ibu tetap khawatir dengan keadaanmu nantinya. Ibu juga gak mau melepas mu dengan keadaan seperti itu.” Jawaban yang bijaksana dari Ibu setelah kunyatakan niatku yang ingin memasuki suatu perguruan tinggi ternama di luar kota.
“Masalah kos gak usah dipikirin banget. Nanti kan bisa nginep di masjid aja, jadi marbotnya gituh. Bu,,!!” jawabku dengan sambil tersenyum, tetapi dalam hati itu telah menjadi tekadku.
“Ye.. emangnya kamu mau kayak gituh. Lagian juga hidup terpisah itu mahal, Pras. Kamu tahu kan gaji ayah mu berapa sekarang. Kamu udah bisa makan dan sekolah tinggi aja udah syukur. Kalo orang lain belum tentu seperti kamu dengan gaji orang tuanya yang segitu..”
Ibu dengan bijak memaparkan yang telah menjadi pikirannya selama ini. Terpikirku untuk menjawab semua itu. Tapi aku tak tega dengan itu semua. Ibu, tak ingin kulukai hatimu. Tak ingin ku menjadi bebanmu untuk ke depannya. Tak ingin berkepanjangan hidupku selalu tergantung dengan mu.
Yah biarlah semua itu, yang telah ada kesempatan di depan mata, ku buang jauh. Karena aku harus beralih pada kehidupan baruku. Yang tak ada sama sekali dalam pikiranku sebelumnya. Sedikit pun tidak ada. Tapi demi berbakti ku pada mereka. Aku rela melepas itu semua. Walau sakit untuk dilalui.
***
“Pras kamu lulus,, selamat ya..!” telepon dari temanku setelah melihat pengumuman terlebih dahulu.
“Yang bener Yan?!”
“Iya, masak Aku tega bohongin Kamu sih”
“Alhamdulillah. Kamu gimana? Lulus juga kan?!” tanya ku balik kepadanya.
“Gak Pras, ah.. gak papalah, gak masalah kok.” Jawabnya dengan disertai tawa yang terdengar dari teleponku yang sangat terasa untuk menutupi kekecewaan diri.
“Mungkin rezeki kita berbeda yah Yan. Kamu pasti akan dapat tempat yang terbaik dari Allah pastinya ya..!”
Sangat jelas sekali perjalanan panjang itu yang kulalui. Dialah yang sangat berantusias sekali untuk memasuki “dunia aneh” itu. Aku pun tahu bukaan pendaftaran itu pun dari dia. Tapi mengapa aku yang terjerumus disini ya?! Ada tangan ALLAH SWT yang ikut andil dalam penentuan semua ini.
***
Ayahku memanggil ku dengan suara yang sedikit agak berbeda saat itu. Ia terlihat sangat berbahagia sekali. Setelah aku menghampirinya. Ia mengulurkan tangannya kepadaku, memberiku sepucuk surat.
“Apaan ini?” tanya ku.
“Surat dari Universitas yang Kau ajukan. Kamu lulus tanpa tes disana Pras.”
Muka ku merah. Besegera tanganku membuka amplop tersebut. dan tertulis jelas, dengan font paling besar dan dihitamkan yang berada pada posisi center tertuliskan LULUS. Baru kuperhatikan nama yang tertera di situ siapa tahu bukan namaku. Jantungku tambah berdebar kencang setelah namaku tertera disitu. Prastyawan Pramudya. Ya Allah rahasia apa lagi yang Kau anugerahkan padaku. Disisi lain itu merupakan kenikmatan yang patut ku syukuri. Namun di sisi lain ini, membuat ku bimbang dengan pilihan mana yang harus ku ambil.
***
Perjalanan perjuangan menuju masa depanku tak berhenti sampai di situ saja. Selama ku tak tahu harus kemana dan sebelum kepastian Aku masuk ke mana, ku ikuti tes yang bisa memenuhi syarat bagiku...(bersambung)
Senin, 31 Desember 2007
Perjuangan Masa Lalu (2)
Perjalanan perjuangan menuju masa depanku tak berhenti sampai di situ saja. Selama ku tak tahu harus kemana dan sebelum kepastian Aku masuk ke mana, ku ikuti tes yang bisa memenuhi syarat bagiku. Dan syukur alhamdulillah di saat yang sama pula aku lulus tes di universitas kedinasan yang berbasis Matematia. Tambah bingung pula Aku jadinya. Ada tiga plihan yang telah diberi-NYA untukku. Namun untuk yang terakhir ini harus mengikuti tes selanjutnya. Tes tahap ke-dua. Dan apabila ku mengikutinya. Aku harus rela meninggalkan salah satunya. Yang belum tentu aku lulus dalam mengikuti tes ini.
***
Yah
Kutinggalkan semua itu dengan penuh kerelaan. Allahlah yang punya rencana, manusia hanya wajib berusaha.
Ku mantapkan untuk mengambil yang telah pasti adanya. Sekolah kedinasan yang berbasis ekonomnilah yang kuambil. Yang sama sekali pada waktu di bangku sekolah tak ku hiraukan pelajaran itu.
Sangat sedikit sekali pelajaran dari perkuliahan yang ku dapat di sini. Namun aku juga harus dengan sekuat tenaga untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang, sehingga walupun tidak terlalu memuaskan, nilai ku tidak jelek-jelek banget. Minimal memenuhi syarat untuk tidak dikeluarkan karena dibawah standar nilai.
Kudapati perubahan jalan hidupku di sini. Walau dahulu ku kenal adanya jalan kehidupan indah di bangku sekolah. Tapi ruh itu belum ku dapat.
Yah..
Ruh kehidupan Islami (seperti itulah aku menyebutnya)
Pada awalnya aku membodohi diriku sendiri. Menganggap bahwa aku egois terhadap diriku sendiri. Yang berdampak pada rusaknya semua mata kuliah ku di semester awal (yang natinya berdampak pada semester selanjutnya). Namun penghibur, penyemangat hidup, yang pastinya guru pribadi kehidupan, ku dapatkan disini. Yah di jalan yang telah menyesatkan ku ini ke jalan yang menetramkan hati.
Terlepas dari semua itu. Pelajaran kehidupanlah yang banyak kudapat dijalan ini. Jalan dakwah lambat laun dapat ku kenal (walaupun sampai saat ini diri ini belum terjun bebas ke dalamnya). Namun perlahan dan pasti diri yakin untuk terjun secara penuh ke dalamnya.
***
Tak kusadari waktu berlari dengan kencangnya meninggalkanku yang terus menerus meraba jalan baru ku. Disaat orang-orang disekitarku melesat tajam. Aku masih terus meraba. Tapi dari itu semua. Aku bertekad untuk tetap berkomitmen di jalan indah ini. Jalan penuh dengan persaudaraan. Jalan penuh dengan saling mengingatkan. Jalan penuh dengan tarbiyah yang menunjang. Jalan yang penuh dengan perjuangan. Semoga idealis diri ini tak akan hilang untuk selamanya. Karena Aku yakin inilah Islamku. Agama yang sempurna, agama yang indah, yang tentunya agama yang mengarahkan manusia pada kebenaran yang hakiki, keselamatan dunia dan akhirat.
***
Yah
Kutinggalkan semua itu dengan penuh kerelaan. Allahlah yang punya rencana, manusia hanya wajib berusaha.
Ku mantapkan untuk mengambil yang telah pasti adanya. Sekolah kedinasan yang berbasis ekonomnilah yang kuambil. Yang sama sekali pada waktu di bangku sekolah tak ku hiraukan pelajaran itu.
Sangat sedikit sekali pelajaran dari perkuliahan yang ku dapat di sini. Namun aku juga harus dengan sekuat tenaga untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang, sehingga walupun tidak terlalu memuaskan, nilai ku tidak jelek-jelek banget. Minimal memenuhi syarat untuk tidak dikeluarkan karena dibawah standar nilai.
Kudapati perubahan jalan hidupku di sini. Walau dahulu ku kenal adanya jalan kehidupan indah di bangku sekolah. Tapi ruh itu belum ku dapat.
Yah..
Ruh kehidupan Islami (seperti itulah aku menyebutnya)
Pada awalnya aku membodohi diriku sendiri. Menganggap bahwa aku egois terhadap diriku sendiri. Yang berdampak pada rusaknya semua mata kuliah ku di semester awal (yang natinya berdampak pada semester selanjutnya). Namun penghibur, penyemangat hidup, yang pastinya guru pribadi kehidupan, ku dapatkan disini. Yah di jalan yang telah menyesatkan ku ini ke jalan yang menetramkan hati.
Terlepas dari semua itu. Pelajaran kehidupanlah yang banyak kudapat dijalan ini. Jalan dakwah lambat laun dapat ku kenal (walaupun sampai saat ini diri ini belum terjun bebas ke dalamnya). Namun perlahan dan pasti diri yakin untuk terjun secara penuh ke dalamnya.
***
Tak kusadari waktu berlari dengan kencangnya meninggalkanku yang terus menerus meraba jalan baru ku. Disaat orang-orang disekitarku melesat tajam. Aku masih terus meraba. Tapi dari itu semua. Aku bertekad untuk tetap berkomitmen di jalan indah ini. Jalan penuh dengan persaudaraan. Jalan penuh dengan saling mengingatkan. Jalan penuh dengan tarbiyah yang menunjang. Jalan yang penuh dengan perjuangan. Semoga idealis diri ini tak akan hilang untuk selamanya. Karena Aku yakin inilah Islamku. Agama yang sempurna, agama yang indah, yang tentunya agama yang mengarahkan manusia pada kebenaran yang hakiki, keselamatan dunia dan akhirat.
Kebersamaan Yang Merayap Pergi (2)
Setelah itu adzan menghantarkan kami dalam pulang perjalanan menuju rumah masing-masing, sehingga aku mengajaknya untuk singgah ke masid untuk menunaikan shalat isya terlebih dahulu. Ia pun memnuhinya tak merasa keberatan sedikit pun.
Di penghujung gang masuk menuju rumahku, yang juga sebagai jalan yang harus ia lewati menuju ke rumahnya, aku memberikan suatu yang sangat berharga bagiku. Suatu yang seharusnya menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagiku. Tak apalah. Dia pun sangat bahagia sekali dengan sesuatu yang ku berikan tersebut.
Itu awal keterpautan hatiku terhadap mereka. rasa cintaku kepada merka. Rasa cinta yang bukan hanya karena nafsu duniawi semata. Cinta yang benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam. Cinta yang tertuju hanya karena ALLAH semata. Mudah-mudahan perasaan cinta ini tak pudar dimakan waktu. Dan niat cinta ini terus tertuju kepada Sang Pemilik Cinta yang Hakiki semata.
Dan alhamdulillah perjumpaan tersebut dapat berlanjut ke perjumpaan tiap pekan kami. Walaupun aku tak sepenuhnya baik dalam pengetahuan dan ilmu, tapi forum perjumpaan tersebut ku usahakan untuk terus eksis dan berisikan materi-materi yang sebisanya aku sampaikan.
Dengan adanya perjumpaan tersebut aku termotivasi untuk terus menggali ilmu. Aku terus memotivasi diri untuk terus memperbaiki diri. Karena dengan penyampaianku kepada mereka, otomatis harus aku aplikasikan dalam perbuatanku yang tidak hanya sekedar ucapan belaka. Karena perkataan tanpa aplikasi perbuatan, akan menjadikan perkataan yang kering, tak berbobot, sepenting apapun itu.
Setiap perjumpaan dengan merekalah yang menjadikan penyemangat diri dalam beribadah. Wajah-wajah yang penuh dengan semangat. Wajah-wajah yang penuh dengan harapan.
Walaupun makin kini, makin berkurang jumlah tiap orangnya, tak membuatku surut dalam membimbing mereka. Walaupun satu orang pun tetap aku bertekad akan tetap kujalankan. Karena ALLAH sajalah yang berhak atas hidayah kepada umat-Nya. Aku hanyalah penyampai semua itu. Aku terus berusaha agar mereka terus dapat merasakan nikmatnya ber-Islam. Damainya ber-Islam. Tenang-Nya ber-Islam.
Dipertengahan perjalanan kulihat sosok yang mempunyai potensi yang patut untuk terus dikembangkan, sehingga aku menariknya untuk ikut dalam kelompokku. Dan alhamdulillah kelompokku jumlahnya bertambah satu.
Saat ini, alhamdulillah semua kurasa telah ada perubahan. Yang sekali lagi itu semua karena hidayah-Nya jua. Pertemuan rutin tetap berjalan walau sulitnya untuk membuat mereka semua untuk datang secara lengkap. Memang tiap pertemuan seringnya pasti ada yang absen. Itu tak menjadi masalah. Yang terpenting, hubunganku dengan mereka terus berlanjut.
Makin kini hubungan kami makin terasa bertambah rasa cinta itu dan memang waktu telah membatasi perjumpaanku dengan mereka. Hingga di malam iti aku pun harus menyerahkan kelompokku untuk dibina oleh orang lain, temanku. Serasa sulit sekali untuk melepas mereka. Karena mereka adalah salah satu lahan dakwahku yang ingin terus ku garap sampai benar-benar terlihat hasilnya.
Tapi memang ALLAH mempunyai skenario tersendiri atas hidup ku dan mereka. kuharap kelak perkembang mereka semakin melesat dengan berada dalam binaan temanku tersebut. dan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Cinta ini tak akan lepas. Kenangan ini tak akan hilang. Semoga perjumpaan kita akan terus berlanjut kelak. Walaupun tidak ada perjumpaan kita di dunia ini, semoga ALLAH mempertemukan kita di syurga-Nya kelak.
Di penghujung gang masuk menuju rumahku, yang juga sebagai jalan yang harus ia lewati menuju ke rumahnya, aku memberikan suatu yang sangat berharga bagiku. Suatu yang seharusnya menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagiku. Tak apalah. Dia pun sangat bahagia sekali dengan sesuatu yang ku berikan tersebut.
Itu awal keterpautan hatiku terhadap mereka. rasa cintaku kepada merka. Rasa cinta yang bukan hanya karena nafsu duniawi semata. Cinta yang benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam. Cinta yang tertuju hanya karena ALLAH semata. Mudah-mudahan perasaan cinta ini tak pudar dimakan waktu. Dan niat cinta ini terus tertuju kepada Sang Pemilik Cinta yang Hakiki semata.
Dan alhamdulillah perjumpaan tersebut dapat berlanjut ke perjumpaan tiap pekan kami. Walaupun aku tak sepenuhnya baik dalam pengetahuan dan ilmu, tapi forum perjumpaan tersebut ku usahakan untuk terus eksis dan berisikan materi-materi yang sebisanya aku sampaikan.
Dengan adanya perjumpaan tersebut aku termotivasi untuk terus menggali ilmu. Aku terus memotivasi diri untuk terus memperbaiki diri. Karena dengan penyampaianku kepada mereka, otomatis harus aku aplikasikan dalam perbuatanku yang tidak hanya sekedar ucapan belaka. Karena perkataan tanpa aplikasi perbuatan, akan menjadikan perkataan yang kering, tak berbobot, sepenting apapun itu.
Setiap perjumpaan dengan merekalah yang menjadikan penyemangat diri dalam beribadah. Wajah-wajah yang penuh dengan semangat. Wajah-wajah yang penuh dengan harapan.
Walaupun makin kini, makin berkurang jumlah tiap orangnya, tak membuatku surut dalam membimbing mereka. Walaupun satu orang pun tetap aku bertekad akan tetap kujalankan. Karena ALLAH sajalah yang berhak atas hidayah kepada umat-Nya. Aku hanyalah penyampai semua itu. Aku terus berusaha agar mereka terus dapat merasakan nikmatnya ber-Islam. Damainya ber-Islam. Tenang-Nya ber-Islam.
Dipertengahan perjalanan kulihat sosok yang mempunyai potensi yang patut untuk terus dikembangkan, sehingga aku menariknya untuk ikut dalam kelompokku. Dan alhamdulillah kelompokku jumlahnya bertambah satu.
Saat ini, alhamdulillah semua kurasa telah ada perubahan. Yang sekali lagi itu semua karena hidayah-Nya jua. Pertemuan rutin tetap berjalan walau sulitnya untuk membuat mereka semua untuk datang secara lengkap. Memang tiap pertemuan seringnya pasti ada yang absen. Itu tak menjadi masalah. Yang terpenting, hubunganku dengan mereka terus berlanjut.
Makin kini hubungan kami makin terasa bertambah rasa cinta itu dan memang waktu telah membatasi perjumpaanku dengan mereka. Hingga di malam iti aku pun harus menyerahkan kelompokku untuk dibina oleh orang lain, temanku. Serasa sulit sekali untuk melepas mereka. Karena mereka adalah salah satu lahan dakwahku yang ingin terus ku garap sampai benar-benar terlihat hasilnya.
Tapi memang ALLAH mempunyai skenario tersendiri atas hidup ku dan mereka. kuharap kelak perkembang mereka semakin melesat dengan berada dalam binaan temanku tersebut. dan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Cinta ini tak akan lepas. Kenangan ini tak akan hilang. Semoga perjumpaan kita akan terus berlanjut kelak. Walaupun tidak ada perjumpaan kita di dunia ini, semoga ALLAH mempertemukan kita di syurga-Nya kelak.
Kebersamaan Yang Merayap Pergi (1)
Telah jauh dalam jarak tuk menggapai semua yang ku inginkan.
Kecintaan tarhadap sesuatu menjadikan ku sulit melepas semua itu. Begitupun juga terhadap mereka. Sulit ku untuk menjauhi mereka. Hati telah terpaut bersama mereka. Semua kenangan masih melekat dalam pikiran. Awal perjuanganku diawali kebersamaan dengan mereka. Semua sulit dan mungkin tak akan terlupakan.
Kebersamaan itu berawal pada pertemuan akbar yang hanya dilaksanakan satu tahun sekali. Aku yang saat itu tak terpikir akan masuk menjadi bagian dari orang yang bergelut dalam acara itu, tiba-tiba secara mendadak ditarik oleh temanku, yang juga baru kenal pada saat itu. Dengan berbekal keyakinan bahwa ini adalah kesempatan untukku dengan tanpa pengalaman apapun, aku menerima semua itu. Aku yakin ALLAH pasti akan menlongku.
Keesokan harinya adalah pertemuan pertamaku dengan mereka. Aku masih belum paham tentang semua yang harus aku lakukan pada saat itu. Yang pastinya aku harus memimpin dan juga menuntun mereka selama kurang lebih satu minggu dalam mengikuti acara �wajib� mereka tersebut. kadang terbersit perasaan tak yakin akan apa yang harus aku lakukan karena teman-temanku yang mengemban tugas yang sama sepertiku saat ini telah mendapat pelatihan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan berbulan-bulan yang lalu. Lah.. aku saat ini belum ada basic apapun, tiba-tiba saja harus siap untuk menjadi pemimpin bagi mereka. secara mental aku telah memaksakan diri untuk siap sepenuhnya. Tapi tidak mungkin bermodal semangat saja, tanpa tahu konsep acara sepenuhnya. Apa yang harus dan sebaiknya aku lakukan untuk mereka, aku masih belum jelas.
Untungnya aku masih bisa bertanya kepada temanku yang mengemban tugas yang sama dengan ku. Hampir tiap konsep acara aku bertanya kepadanya. Alhamdulillah.. ini memang benar-benar suatu mukjizat yang diberikan ALLAH kepadaku. Aku yang saat itu juga baru mengenalnya, tetapi aku merasa telah sangat lama mengenalnya dan kami pun bergelut dalam acara itu dengan tak ada kecanggungan layaknya perlakuan terhadap orang asing. Bahkan hubungan kami dapat dikatakan sangat dekat. Mungkin semua itu karena ada perasaan saling membutuhkan dan yang yang pastinya ada perasaan hubungan yang lebih hakiki antara aku dan dia, kami adalah saudara seiman.
Entah mengapa aku sering merasa terharu atas apa yang mereka perlakukan terhadapku. Aku diperlakukan selayaknya pemimpin yang benar-benar layak untuk memimpin mereka. Mereka tak tahu padahal aku hanyalah sebagai seorang pengganti, yang tentunya telah melalui seleksi yang ketat, buat mereka. Sedang aku hanya melalui jalur �penjerumusan�. Tetapi aku berusaha untuk menjadikan diriku yang terbaik untuk mereka. Amanah yang ku emban ini harus terlaksana dengan seoptimal mungkin. Dan yang pastinya semua harus diniatkan hanya untuk ALLAH semata.
Hari-hari ku lalui dengan rasa kebersamaan yang sangat kental. Walaupun memang rasa itu karena kami saling membutuhkan, tetapi semoga saja rasa itu tak lekang dimakan waktu. Rasa lelah, ngantuk, sakit mewarnai perjuangan kami demi melewati masa untuk memasuki pintu gerbang menuju kehidupan baru bagi mereka. Satu hari penuh selalu kami lewati bersama dengan kegiatan yang harus penuh dengan semangat. Malamnya pun harus dilalui dengan tugas yang dapat dibilang tidak sedikit. Akupun dengan semangat yang lebih pula harus menemi mereka untuk mengerjakan itu semua. Dan terkadang juga harus ikut terjun membantu mereka mengerjakan tugas-tugas itu, walaupupun tidak sering. Satu yang menjadi penyemangat diri dalam melewati ini semua, karena aku melihat pancaran semangat mereka yang tinggi dan juga karena perlakuan mereka yang sangat berpendidikan.
Terkadang disela-sela letihnya kami melewati semua yang harus dilewati, ada satu anggota kelompokku yang tak henti-hentinya membuat lelucon yang harus membuat kami tertawa karena tak tahan dengan kelucuan sikapnya tersebut, sehingga keletihan dan peluh kami pun sedikit terobati karena leluconnya. Bahkan ia sempat membuat istilah aneh kepada teman-temannya yang melakukan tindakan �bodoh� karena khilaf dengan menyebutnya bahwa �otaknya lagi dirental�.
Yah semua itu dilalui dengan penuh warna. Letih, bosan, ngantuk, suka, haru, dan yang paling dominan adalah ceria. Kami menjuluki kelompok kami, kelompok yang ku pimpin, dengan istilah �kelompok yang paling aneh dan paling gila�. Yang pastinya bukan aku yang masuk di dalamnya He.. He..
Satu minggu dilalui sudah. Akhir pertemuan kami dilaksanakan dengan suatu ceremony akbar yang mengharukan, yang kalau diperkenankan untuk menangis aku melakukannya saat itu. Kuajak mereka semua yang muslim untuk mengerjakan sholat magrib berjamaah di masjid. Setelah itu mereka pulang. Sedang aku dan salah satu anggota kelompokku yang rumahnya satu arah denganku masih berada di tempat itu. Aku lupa bahwa mereka harus menukarkan kado masing-masing yang mereka bawa. Tapi dia mengeluarkan kadonya, yaitu satu kotak kembang api. Yah mainan anak kecil, tapi kami menghidupkannya di situ dan kami berdua menikmati keindahan pancaran cahaya yang ditimbulkannya di saat waktu yang mulai merayap menuju pada kegelapan malam. Dengan perasaan yang sulit untuk dingkapkan, kami berdua duduk dan saling berbincang dengan dihiasi tawa dan canda. Yah.. hanya kami berdua, layaknya sang adik yang sedang bersenda gurau bersama sang kakak. Setelah itu adzan menghantarkan kami dalam pulang perjalanan menuju rumah masing-masing, sehingga aku mengajaknya untuk singgah ke masid untuk menunaikan shalat isya terlebih dahulu. (bersambung)
Kecintaan tarhadap sesuatu menjadikan ku sulit melepas semua itu. Begitupun juga terhadap mereka. Sulit ku untuk menjauhi mereka. Hati telah terpaut bersama mereka. Semua kenangan masih melekat dalam pikiran. Awal perjuanganku diawali kebersamaan dengan mereka. Semua sulit dan mungkin tak akan terlupakan.
Kebersamaan itu berawal pada pertemuan akbar yang hanya dilaksanakan satu tahun sekali. Aku yang saat itu tak terpikir akan masuk menjadi bagian dari orang yang bergelut dalam acara itu, tiba-tiba secara mendadak ditarik oleh temanku, yang juga baru kenal pada saat itu. Dengan berbekal keyakinan bahwa ini adalah kesempatan untukku dengan tanpa pengalaman apapun, aku menerima semua itu. Aku yakin ALLAH pasti akan menlongku.
Keesokan harinya adalah pertemuan pertamaku dengan mereka. Aku masih belum paham tentang semua yang harus aku lakukan pada saat itu. Yang pastinya aku harus memimpin dan juga menuntun mereka selama kurang lebih satu minggu dalam mengikuti acara �wajib� mereka tersebut. kadang terbersit perasaan tak yakin akan apa yang harus aku lakukan karena teman-temanku yang mengemban tugas yang sama sepertiku saat ini telah mendapat pelatihan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan berbulan-bulan yang lalu. Lah.. aku saat ini belum ada basic apapun, tiba-tiba saja harus siap untuk menjadi pemimpin bagi mereka. secara mental aku telah memaksakan diri untuk siap sepenuhnya. Tapi tidak mungkin bermodal semangat saja, tanpa tahu konsep acara sepenuhnya. Apa yang harus dan sebaiknya aku lakukan untuk mereka, aku masih belum jelas.
Untungnya aku masih bisa bertanya kepada temanku yang mengemban tugas yang sama dengan ku. Hampir tiap konsep acara aku bertanya kepadanya. Alhamdulillah.. ini memang benar-benar suatu mukjizat yang diberikan ALLAH kepadaku. Aku yang saat itu juga baru mengenalnya, tetapi aku merasa telah sangat lama mengenalnya dan kami pun bergelut dalam acara itu dengan tak ada kecanggungan layaknya perlakuan terhadap orang asing. Bahkan hubungan kami dapat dikatakan sangat dekat. Mungkin semua itu karena ada perasaan saling membutuhkan dan yang yang pastinya ada perasaan hubungan yang lebih hakiki antara aku dan dia, kami adalah saudara seiman.
Entah mengapa aku sering merasa terharu atas apa yang mereka perlakukan terhadapku. Aku diperlakukan selayaknya pemimpin yang benar-benar layak untuk memimpin mereka. Mereka tak tahu padahal aku hanyalah sebagai seorang pengganti, yang tentunya telah melalui seleksi yang ketat, buat mereka. Sedang aku hanya melalui jalur �penjerumusan�. Tetapi aku berusaha untuk menjadikan diriku yang terbaik untuk mereka. Amanah yang ku emban ini harus terlaksana dengan seoptimal mungkin. Dan yang pastinya semua harus diniatkan hanya untuk ALLAH semata.
Hari-hari ku lalui dengan rasa kebersamaan yang sangat kental. Walaupun memang rasa itu karena kami saling membutuhkan, tetapi semoga saja rasa itu tak lekang dimakan waktu. Rasa lelah, ngantuk, sakit mewarnai perjuangan kami demi melewati masa untuk memasuki pintu gerbang menuju kehidupan baru bagi mereka. Satu hari penuh selalu kami lewati bersama dengan kegiatan yang harus penuh dengan semangat. Malamnya pun harus dilalui dengan tugas yang dapat dibilang tidak sedikit. Akupun dengan semangat yang lebih pula harus menemi mereka untuk mengerjakan itu semua. Dan terkadang juga harus ikut terjun membantu mereka mengerjakan tugas-tugas itu, walaupupun tidak sering. Satu yang menjadi penyemangat diri dalam melewati ini semua, karena aku melihat pancaran semangat mereka yang tinggi dan juga karena perlakuan mereka yang sangat berpendidikan.
Terkadang disela-sela letihnya kami melewati semua yang harus dilewati, ada satu anggota kelompokku yang tak henti-hentinya membuat lelucon yang harus membuat kami tertawa karena tak tahan dengan kelucuan sikapnya tersebut, sehingga keletihan dan peluh kami pun sedikit terobati karena leluconnya. Bahkan ia sempat membuat istilah aneh kepada teman-temannya yang melakukan tindakan �bodoh� karena khilaf dengan menyebutnya bahwa �otaknya lagi dirental�.
Yah semua itu dilalui dengan penuh warna. Letih, bosan, ngantuk, suka, haru, dan yang paling dominan adalah ceria. Kami menjuluki kelompok kami, kelompok yang ku pimpin, dengan istilah �kelompok yang paling aneh dan paling gila�. Yang pastinya bukan aku yang masuk di dalamnya He.. He..
Satu minggu dilalui sudah. Akhir pertemuan kami dilaksanakan dengan suatu ceremony akbar yang mengharukan, yang kalau diperkenankan untuk menangis aku melakukannya saat itu. Kuajak mereka semua yang muslim untuk mengerjakan sholat magrib berjamaah di masjid. Setelah itu mereka pulang. Sedang aku dan salah satu anggota kelompokku yang rumahnya satu arah denganku masih berada di tempat itu. Aku lupa bahwa mereka harus menukarkan kado masing-masing yang mereka bawa. Tapi dia mengeluarkan kadonya, yaitu satu kotak kembang api. Yah mainan anak kecil, tapi kami menghidupkannya di situ dan kami berdua menikmati keindahan pancaran cahaya yang ditimbulkannya di saat waktu yang mulai merayap menuju pada kegelapan malam. Dengan perasaan yang sulit untuk dingkapkan, kami berdua duduk dan saling berbincang dengan dihiasi tawa dan canda. Yah.. hanya kami berdua, layaknya sang adik yang sedang bersenda gurau bersama sang kakak. Setelah itu adzan menghantarkan kami dalam pulang perjalanan menuju rumah masing-masing, sehingga aku mengajaknya untuk singgah ke masid untuk menunaikan shalat isya terlebih dahulu. (bersambung)
Jenuh
Saat diri tak tahu harus berbuat apa. Saat diri tak memiliki arah kemana harus kulangkahkan kaki ini. Saat diri ingin benar-benar mengembangkan kemampuan diri, malah semua menjadi musnah dan punah karena semua hanya tinggal harapan. Ingin ku bangkitkan diri dalam kesibukan yang mengarahkanku pada pengembangan diri, yang tentunya terus menuju pada perbaikan, namun aku tak mampu tuk berbuat itu. Suasana di sekitarku sangatlah tidak mendukung langkah ini. Aku tak ingin dianggap ekstrimis namun aku pun tak ingin menjadi manusia bodoh yang terus terjerumus pada kekufuran. Dengan tindak tandukku yang dianggap aneh oleh mereka, sehingga mengakibatkan mereka terus berusaha menjauh dari ku. Padahal itu semua itu sangatlah tidak ku ingin. Aku ingin terus menjadi dekat dengan mereka, sehingga aku dapat terus dapat memberikan pencerahan akan indahnya hidup, hakekat hidup, dan tujuan hidup. Hidup tak hanya sekedar hidup saat ini. Masih panjang perjalanan. Masih butuh perjuangan yang sangat. Perjuangan itulah yang harus aku dan mereka arungi. Dan aku ingin kami dapat bersama-sama mengarunginya.Cukup sudah orang-orang terdekatku terus perlahan menjauh dari ku. Mereka memberikan kesan aneh untukku. Aku sebenarnya merasa sangat tertekan dengan semua tingkah mereka itu tetapi aku tak dapat menentang apalagi berontak dengan sikap itu semua. Aku hanya bisa pasrah karena semua ini adalah konsekuensi perubahanku saat ini.
Aku terus dan terus untuk menjadi dekat dengan mereka namun aku pun tak mau terjerumus masuk ke dalam kehidupan mereka. Yang intinya aku ingin menjadi yang terbaik buat mereka. Baik sebagai teman, mitra, bahkan secara tidak langsung, aku ingin menjadi Saudara hidup mereka.
Aku terus dan terus untuk menjadi dekat dengan mereka namun aku pun tak mau terjerumus masuk ke dalam kehidupan mereka. Yang intinya aku ingin menjadi yang terbaik buat mereka. Baik sebagai teman, mitra, bahkan secara tidak langsung, aku ingin menjadi Saudara hidup mereka.
Cahaya Yang Datang Tiba-Tiba (2)
Namun dia bertanya kepadaku, "Kamu sakit ya?"
Aku tetap ingin dia tak menanggung beban yang ku rasa saat ini, namun di sisi lain aku tak mampu untuk berbohong kepadanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa ku utarakan keadaanku saat ini kepadanya. Dan ia pun dengan penuh kasih sayang menyarankanku untuk berobat ke suatu klinik yang berada tidak jauh dari rumahku. Awalnya aku enggan memenuhi permintaannya karena aku telah berobat di klinik layanan gratis tertuju untuk mahasiswa sepertiku. Namun ia berkilah, kalau pemeriksaan di sana tidak serius dan sangat tidak komprehensif. Akhirnya aku berterima kasih dan mempertimbangkan sarannya tersebut. Setelah ku serahkan draft konsep lomba itu, aku meminta maaf hanya bisa melakukan itu, dan tidak bisa membina mereka. Ia sangat memaklumi semua itu dan malah menyarankanku untuk terus istirahat.
Jadwal kuliah ku tak ku hentikan karena aku tak betah dengan terus berada dalam rumah. Dan juga karena kuliahku sangat terikat pada absen, sehingga untuk tidak masuk kuliah itu sangat dibatasi jumlahnya. Aku seringnya tak memperhatikan penjelasan yang diberikan sang dosen karena kepalaku seakan tak mampu lagi untuk dimasukkan materi-materi itu dan juga kepalaku seakan terus bergoncang dan membatu, sehingga, kalau bisa, ingin ku lempar saja kepala ini dan ku gantikan dengan yang baru yang lebih nyaman.
Di sela-sela pemberian materi oleh dosen, aku terpikir untuk memenuhi saran temanku. Akhirnya aku meng-SMS-inya dan menanyakan kesediaannya untuk mengantarku ke klinik yang ia sarankan nanti malam karena aku belum tahu pasti tempatnya. Alhamdulillah, ia bersedia untuk itu.
Akhirnya malam itu kami berdua menuju ke klinik. Seperti dugaanku, setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sang dokter menyarankan ku untuk check darah karena demamku yang telah lama dan tak kunjung turun. Kami menunggu beberapa saat untuk melihat hasil dari pemeriksaan darahku yang telah diambil tadi. Aku pun dipanggil ke ruangannya kembali oleh sang dokter dan menjelaskan kepadaku tentang hasilnya, yang intinya aku terserang penyakit Tifus.
Setelah menerima resep darinya, aku menuju ruang obat yang masih dalam satu ruangan dengan klinik tersebut. Lalu ku selesaikan semua administrasi termasuk pembayaran biaya-biaya yang ku nilai sangat tidak sedikit.
Alhamdulillah, Allah masih sayang kepadaku. Dengan penyakitku ini Allah telah menegurku untuk evaluasi segala kesalahan-kesalahanku. Dan dengan penyakit ini pula semoga Allah menggugurkan dosa-dosa kecilku.
"Apabila seorang muslim diberi kenikmatan maka ia bersyukur. Dan apabila ia diberi cobaan maka ia bersabar."
Aku disarankan untuk istirahat melakukan segala kegiatan, termasuk kuliahku, dengan diberikannya surat keterangan dokter kepadaku. Tapi aku bertekad dalam hati, itu semua tak akan kulakukan.
Sesampainya di rumah aku kembali berbaring untuk memberikan kenyamanan pada tubuh yang terus mengerang ini.
***
Seperti biasa aku keluar untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu sholat berjamaah di masjid. Tiba-tiba temanku menghampiriku pada waktu perjalanan menuju pulang ke rumahku. Dengan sikap kepeduliannya, ia menanyai kondisiku saat ini. Seperti biasa, ku jawab "Alhamdulillah, baik".
Namun sangat terlihat sekali tubuhku yang kokoh dengan paksaan. Kuat dengan dorongan. Sesampainya di perempatan jalan, aku mengucapkan salam untuk berpisah kepadanya, perlakuan yang biasa kami lakukan. Aku kaget tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah amplop, yang tak ku ketahui isinya, lalu menyodorkannya kepada ku sambil berkata, "Nih buat mu."
Dengan tergesa-gesa ia meninggalkanku begitu saja. Aku masih tercengang dengan semua itu. Ku simpan amplop itu ke dalam sakuku.
Sesampainya di rumah, dengan penuh penasaran, ku buka amplop tersebut. Kembali diri terkejut saat melihat isinya. Sepucuk surat dan sejumlah uang.
Ya... Allah siapakah sosok ini. Yang begitu peduli terhadap diri. Dia sangat mengetahui kondisi diri yang benar-benar sedang membutuhkan seseorang sebagai tempat sandaran dan juga sedang membutuhkan sejumlah uang untuk menutupi biaya-biaya pengobatanku itu.
Ya... Allah jadikan hubungan persaudaraan kami suci dan hanya tertuju kepada-Mu semata. Terus tumbuhkan rasa cinta antara kami, rasa cinta yang tak lekang dimakan waktu, rasa cinta karena adanya jiwa-jiwa yang beriman.
Ya... Allah tetapkanlah kami selalu di jalan-Mu. Kuatkanlah kami untuk selalu berjuang di jalan-Mu dan jadikanlah kami sebagai syuhada-Mu.
Hangatnya air mata tak terasa terus mengalir dan membasahi wajah yang tampak sayu sekaligus bangga karena bahagia.
***
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Akh...
Semoga cepet sembuh ye... Mungkin dengan sakit ini, Allah mengingatkan antum untuk senantiasa menjaga kondisi tubuh. Coz tubuh kita juga ada haknya lho..!! Banyak hikmahnya kok kalau kita lagi sakit.. Di sela2 istirahat, antum bisa lebih banyak tilawah ato menghafal Al-Qur'an yang mungkin ga' sempet antum lakukan di kala antum sehat + sedang sibuk2nya...
Ingat!!! Banyak karya2 besar yang lahir dari ulama2 justru di saat mereka sedang tertimpa masalah ato cobaan2...
Ane yakin kalo Allah pasti mengingat antum di kala susah. Coz antum juga sering mengingat Allah di saat senang.. So serahkan semuanya aja ama Allah, banyak bersabar, & sering2 berdoa agar diberi kesembuhan dan kekuatan untuk menjalani lika-liku kehidupan ini...
Duh!!! Afwan, ane terlalu banyak omong.. Eh banyak tulis. Yang penting semoga cepet sembuh aja dech.. Syafakallah syifaan ajilan syifaan laa yughoidiru ba'dahu saqaman...
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Aku tetap ingin dia tak menanggung beban yang ku rasa saat ini, namun di sisi lain aku tak mampu untuk berbohong kepadanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa ku utarakan keadaanku saat ini kepadanya. Dan ia pun dengan penuh kasih sayang menyarankanku untuk berobat ke suatu klinik yang berada tidak jauh dari rumahku. Awalnya aku enggan memenuhi permintaannya karena aku telah berobat di klinik layanan gratis tertuju untuk mahasiswa sepertiku. Namun ia berkilah, kalau pemeriksaan di sana tidak serius dan sangat tidak komprehensif. Akhirnya aku berterima kasih dan mempertimbangkan sarannya tersebut. Setelah ku serahkan draft konsep lomba itu, aku meminta maaf hanya bisa melakukan itu, dan tidak bisa membina mereka. Ia sangat memaklumi semua itu dan malah menyarankanku untuk terus istirahat.
Jadwal kuliah ku tak ku hentikan karena aku tak betah dengan terus berada dalam rumah. Dan juga karena kuliahku sangat terikat pada absen, sehingga untuk tidak masuk kuliah itu sangat dibatasi jumlahnya. Aku seringnya tak memperhatikan penjelasan yang diberikan sang dosen karena kepalaku seakan tak mampu lagi untuk dimasukkan materi-materi itu dan juga kepalaku seakan terus bergoncang dan membatu, sehingga, kalau bisa, ingin ku lempar saja kepala ini dan ku gantikan dengan yang baru yang lebih nyaman.
Di sela-sela pemberian materi oleh dosen, aku terpikir untuk memenuhi saran temanku. Akhirnya aku meng-SMS-inya dan menanyakan kesediaannya untuk mengantarku ke klinik yang ia sarankan nanti malam karena aku belum tahu pasti tempatnya. Alhamdulillah, ia bersedia untuk itu.
Akhirnya malam itu kami berdua menuju ke klinik. Seperti dugaanku, setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sang dokter menyarankan ku untuk check darah karena demamku yang telah lama dan tak kunjung turun. Kami menunggu beberapa saat untuk melihat hasil dari pemeriksaan darahku yang telah diambil tadi. Aku pun dipanggil ke ruangannya kembali oleh sang dokter dan menjelaskan kepadaku tentang hasilnya, yang intinya aku terserang penyakit Tifus.
Setelah menerima resep darinya, aku menuju ruang obat yang masih dalam satu ruangan dengan klinik tersebut. Lalu ku selesaikan semua administrasi termasuk pembayaran biaya-biaya yang ku nilai sangat tidak sedikit.
Alhamdulillah, Allah masih sayang kepadaku. Dengan penyakitku ini Allah telah menegurku untuk evaluasi segala kesalahan-kesalahanku. Dan dengan penyakit ini pula semoga Allah menggugurkan dosa-dosa kecilku.
"Apabila seorang muslim diberi kenikmatan maka ia bersyukur. Dan apabila ia diberi cobaan maka ia bersabar."
Aku disarankan untuk istirahat melakukan segala kegiatan, termasuk kuliahku, dengan diberikannya surat keterangan dokter kepadaku. Tapi aku bertekad dalam hati, itu semua tak akan kulakukan.
Sesampainya di rumah aku kembali berbaring untuk memberikan kenyamanan pada tubuh yang terus mengerang ini.
***
Seperti biasa aku keluar untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu sholat berjamaah di masjid. Tiba-tiba temanku menghampiriku pada waktu perjalanan menuju pulang ke rumahku. Dengan sikap kepeduliannya, ia menanyai kondisiku saat ini. Seperti biasa, ku jawab "Alhamdulillah, baik".
Namun sangat terlihat sekali tubuhku yang kokoh dengan paksaan. Kuat dengan dorongan. Sesampainya di perempatan jalan, aku mengucapkan salam untuk berpisah kepadanya, perlakuan yang biasa kami lakukan. Aku kaget tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah amplop, yang tak ku ketahui isinya, lalu menyodorkannya kepada ku sambil berkata, "Nih buat mu."
Dengan tergesa-gesa ia meninggalkanku begitu saja. Aku masih tercengang dengan semua itu. Ku simpan amplop itu ke dalam sakuku.
Sesampainya di rumah, dengan penuh penasaran, ku buka amplop tersebut. Kembali diri terkejut saat melihat isinya. Sepucuk surat dan sejumlah uang.
Ya... Allah siapakah sosok ini. Yang begitu peduli terhadap diri. Dia sangat mengetahui kondisi diri yang benar-benar sedang membutuhkan seseorang sebagai tempat sandaran dan juga sedang membutuhkan sejumlah uang untuk menutupi biaya-biaya pengobatanku itu.
Ya... Allah jadikan hubungan persaudaraan kami suci dan hanya tertuju kepada-Mu semata. Terus tumbuhkan rasa cinta antara kami, rasa cinta yang tak lekang dimakan waktu, rasa cinta karena adanya jiwa-jiwa yang beriman.
Ya... Allah tetapkanlah kami selalu di jalan-Mu. Kuatkanlah kami untuk selalu berjuang di jalan-Mu dan jadikanlah kami sebagai syuhada-Mu.
Hangatnya air mata tak terasa terus mengalir dan membasahi wajah yang tampak sayu sekaligus bangga karena bahagia.
***
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Akh...
Semoga cepet sembuh ye... Mungkin dengan sakit ini, Allah mengingatkan antum untuk senantiasa menjaga kondisi tubuh. Coz tubuh kita juga ada haknya lho..!! Banyak hikmahnya kok kalau kita lagi sakit.. Di sela2 istirahat, antum bisa lebih banyak tilawah ato menghafal Al-Qur'an yang mungkin ga' sempet antum lakukan di kala antum sehat + sedang sibuk2nya...
Ingat!!! Banyak karya2 besar yang lahir dari ulama2 justru di saat mereka sedang tertimpa masalah ato cobaan2...
Ane yakin kalo Allah pasti mengingat antum di kala susah. Coz antum juga sering mengingat Allah di saat senang.. So serahkan semuanya aja ama Allah, banyak bersabar, & sering2 berdoa agar diberi kesembuhan dan kekuatan untuk menjalani lika-liku kehidupan ini...
Duh!!! Afwan, ane terlalu banyak omong.. Eh banyak tulis. Yang penting semoga cepet sembuh aja dech.. Syafakallah syifaan ajilan syifaan laa yughoidiru ba'dahu saqaman...
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Cahaya Yang Datang Tiba-Tiba (1)
Entah siapakah gerangan, yang datang tiba-tiba menghampiri diri.
Ketidaklayakan diri dalam berbuat, merasakan diri enggan tuk bertindak. Terkadang diri merasa malu dengan semua apa yang dilakukan. Datang dengan lagak memerintah, berlapiskan topeng kesucian, dan menjadikan diri yang serasa serba tahu segalanya. Padahal di balik semua itu, diri ini hanyalah seonggok diri yang hina, yang tak layak untuk dipuji dan dihormati. Diri ini penuh dengan kotoran dosa yang melekat tak nampak. Diri ini penuh dengan kepalsuan.
Saat kekesalan hinggap di jiwa karena keadaan yang sangat tidak mendukung dengan tujuan diri, jiwa pun berontak. Memecahkan kesunyian yang selama ini kubuat.
Aku tak tahan akan semua ini!
Perlahan diri terus menghindar dari kehidupan mereka. Mereka yang selama ini sangat dekat denganku. Yang selama ini telah banyak mengisi lembar-lembar kehidupanku. Yah... Itu harus kulakukan. Karena telah ku ketahui makna hidup. Telah ku dapati arti kedamaian. Telah ku rengkuh hakekat cinta sejati. Yang kesemuanya itu harus ku bayar mahal. Harus ku relakan semua yang ada pada diriku tuk meraih kebahagian itu, ketenangan itu, kedamaian itu. Yah... Salah satunya harus ku relakan diri untuk perlahan menjauh dari kehidupan orang-orang yang telah sangat dekat dengan ku. Telah ku relakan diri tuk menjauhi kenikmatan fana itu, walau terlihat seperti surga di mata dunia. Semua itu harus ku relakan. Namun, hakekatnya aku tak dapat berdiri sendiri. Aku masih membutuhkan manusia lain sebagai penyanggah diri. Di saat itulah diri terus meraba, diri terus melata, diri terus berkelana mencari sosok yang dapat terus mengokohkan diri.
Kejenuhan tubuh pun tiba. Tubuh seakan tak mampu menahan semua beban dan semua yang dipikirkan oleh diri, sehingga ia memberontak. Yah... Diri ini telah sakit. Aku yang selama ini terus berkutat di luar tempat kediamanku, demi untuk melupakan kehidupan kelam di sana. Terus berusaha tuk terus giat dalam berbagai kegiatan, demi untuk mengembangkan diri bodoh ini. Namun diri melupakan hakekat dari jiwa yang lelah, jiwa yang letih, jiwa yang penuh dengan peluh.
Diri telah terjatuh pada kelemahan, sehingga tak mampu memenuhi semangat yang membara dalam jiwa tuk terus bergerak dan bertindak. Yah... Diri hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur yang juga biasa sebagai tempat ku melakukan segala kegiatan. Namun diri tak ingin memanjakan kelemahan yang ada padanya. Untuk kegiatan yang harus aku lakukan, sebisa mungkin akan tetap aku lakukan walaupun dengan penuh kepayahan. Perjalanan yang ku tempuh dalam mencapai kekhusyuk'an beribadah dan demi mencapai kesempurnaan sholat pun harus terus ku laksanakan dengan sekuat tenaga dilakukan secara berjamaah di masjid. Sehingga aku pun masih dapat bertemu jiwa-jiwa tobat, jiwa-jiwa penuh dengan semangat, jiwa-jiwa suci yang berketuhanan. Semua itu dapat menguatkan diri. Sesampainya diri kembali di rumah, hanya kasur kembali sebagai tempat tujuan. Diri terasa lelah dalam perjalanan yang walaupun hanya ditempuh dalam hitungan menit. Tapi itulah,, tubuh yang yang berontak. Orang di sekitarku tak tahu menahu dengan semua yang ku alami karena telah menjadi kebiasaan diri tuk tak banyak berkata-kata kepada mereka. Aku berbicara pun hanya seperlunya saja kepada mereka, yang sangat jarang sekali disertai dengan basa-basi. Sehingga diamnya aku kepada mereka, dianggap sebagai hal yang biasa. Diri tak hendak berkeluh kesah kepada mereka dan diri pun tak ingin membebani mereka, sehingga kelemahanku saat ini hanya aku seorang yang mengetahui sebagai orang yang langsung mengalami.
Hari-hari kulalui dengan penuh ketiadaan tindakan. Diri hanya terus dan terus berbaring di tempat peristirahatan. Hanya diselingi keluar untuk mencari makan dan sholat berjamaah ke masjid. Selebihnya diri hanya berbaring. Terkadang bosan diri dengan keadaan seperti ini, sehingga diri memaksakan tubuh ini untuk keluar melakukan kegiatan yang biasa aku lakukan di waktu diri kokoh. Diri rindu dengan tingkah polos bocah-bocah kecil itu. Bocah yang terus mengeja dengan bersusah payah demi melangkahi lembar demi lembar tingkatan IQRO' yang lebih tinggi.
Ketika mereka menghampiri tubuh yang sedang tak berdaya ini. Dengan serta merta mereka meloncat kearah ku dan berusaha tuk meraih pundakku. Yah... seperti anak monyet yang sedang bergelantungan di tubuh induknya. Itulah kemanjaan mereka. Itulah keluguan mereka. Itulah keceriaan mereka. Yang membuat diri tiba-tiba kembali kuat dan terus menampilkan pada wajah ini senyuman yang hangat kepada mereka serta perkataan yang lembut dengan dijiwai rasa kasih sayang yang hakiki, agar kepolosan mereka tak ternodai jiwa-jiwa kotor yang terus menyerang mereka setiap saat.
Namun diri tak seperti manusia baja yang tahan akan segala hantaman dari luar. Tubuh kembali mengerang sesampainya di tempat pembaringan. Mengapa ini terus terjadi?
Yah... Aku bertekad berhenti sejenak untuk menambah kekuatan yang baru. Perlahan aku menghilang dari penglihatan semua temanku. Aku, lagi-lagi tak berucap kepada mereka semua tentang keadaanku saat ini.
Namun tiba-tiba teman satu perjuanganku, meng-SMS-i ku. Dia memintaku untuk melatih salah satu anak di TPA tersebut dalam rangka persiapan mengikuti lomba yang diselenggarakan TPA tetangga. Aku tidak serta merta menolaknya namun aku memintanya untuk mengambil draftnya di rumahku. Sebisa mungkin aku menyambutnya dengan perlakuanku yang biasa. Namun dia bertanya kepadaku, "Kamu sakit ya?"
(bersambung)
Ketidaklayakan diri dalam berbuat, merasakan diri enggan tuk bertindak. Terkadang diri merasa malu dengan semua apa yang dilakukan. Datang dengan lagak memerintah, berlapiskan topeng kesucian, dan menjadikan diri yang serasa serba tahu segalanya. Padahal di balik semua itu, diri ini hanyalah seonggok diri yang hina, yang tak layak untuk dipuji dan dihormati. Diri ini penuh dengan kotoran dosa yang melekat tak nampak. Diri ini penuh dengan kepalsuan.
Saat kekesalan hinggap di jiwa karena keadaan yang sangat tidak mendukung dengan tujuan diri, jiwa pun berontak. Memecahkan kesunyian yang selama ini kubuat.
Aku tak tahan akan semua ini!
Perlahan diri terus menghindar dari kehidupan mereka. Mereka yang selama ini sangat dekat denganku. Yang selama ini telah banyak mengisi lembar-lembar kehidupanku. Yah... Itu harus kulakukan. Karena telah ku ketahui makna hidup. Telah ku dapati arti kedamaian. Telah ku rengkuh hakekat cinta sejati. Yang kesemuanya itu harus ku bayar mahal. Harus ku relakan semua yang ada pada diriku tuk meraih kebahagian itu, ketenangan itu, kedamaian itu. Yah... Salah satunya harus ku relakan diri untuk perlahan menjauh dari kehidupan orang-orang yang telah sangat dekat dengan ku. Telah ku relakan diri tuk menjauhi kenikmatan fana itu, walau terlihat seperti surga di mata dunia. Semua itu harus ku relakan. Namun, hakekatnya aku tak dapat berdiri sendiri. Aku masih membutuhkan manusia lain sebagai penyanggah diri. Di saat itulah diri terus meraba, diri terus melata, diri terus berkelana mencari sosok yang dapat terus mengokohkan diri.
Kejenuhan tubuh pun tiba. Tubuh seakan tak mampu menahan semua beban dan semua yang dipikirkan oleh diri, sehingga ia memberontak. Yah... Diri ini telah sakit. Aku yang selama ini terus berkutat di luar tempat kediamanku, demi untuk melupakan kehidupan kelam di sana. Terus berusaha tuk terus giat dalam berbagai kegiatan, demi untuk mengembangkan diri bodoh ini. Namun diri melupakan hakekat dari jiwa yang lelah, jiwa yang letih, jiwa yang penuh dengan peluh.
Diri telah terjatuh pada kelemahan, sehingga tak mampu memenuhi semangat yang membara dalam jiwa tuk terus bergerak dan bertindak. Yah... Diri hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur yang juga biasa sebagai tempat ku melakukan segala kegiatan. Namun diri tak ingin memanjakan kelemahan yang ada padanya. Untuk kegiatan yang harus aku lakukan, sebisa mungkin akan tetap aku lakukan walaupun dengan penuh kepayahan. Perjalanan yang ku tempuh dalam mencapai kekhusyuk'an beribadah dan demi mencapai kesempurnaan sholat pun harus terus ku laksanakan dengan sekuat tenaga dilakukan secara berjamaah di masjid. Sehingga aku pun masih dapat bertemu jiwa-jiwa tobat, jiwa-jiwa penuh dengan semangat, jiwa-jiwa suci yang berketuhanan. Semua itu dapat menguatkan diri. Sesampainya diri kembali di rumah, hanya kasur kembali sebagai tempat tujuan. Diri terasa lelah dalam perjalanan yang walaupun hanya ditempuh dalam hitungan menit. Tapi itulah,, tubuh yang yang berontak. Orang di sekitarku tak tahu menahu dengan semua yang ku alami karena telah menjadi kebiasaan diri tuk tak banyak berkata-kata kepada mereka. Aku berbicara pun hanya seperlunya saja kepada mereka, yang sangat jarang sekali disertai dengan basa-basi. Sehingga diamnya aku kepada mereka, dianggap sebagai hal yang biasa. Diri tak hendak berkeluh kesah kepada mereka dan diri pun tak ingin membebani mereka, sehingga kelemahanku saat ini hanya aku seorang yang mengetahui sebagai orang yang langsung mengalami.
Hari-hari kulalui dengan penuh ketiadaan tindakan. Diri hanya terus dan terus berbaring di tempat peristirahatan. Hanya diselingi keluar untuk mencari makan dan sholat berjamaah ke masjid. Selebihnya diri hanya berbaring. Terkadang bosan diri dengan keadaan seperti ini, sehingga diri memaksakan tubuh ini untuk keluar melakukan kegiatan yang biasa aku lakukan di waktu diri kokoh. Diri rindu dengan tingkah polos bocah-bocah kecil itu. Bocah yang terus mengeja dengan bersusah payah demi melangkahi lembar demi lembar tingkatan IQRO' yang lebih tinggi.
Ketika mereka menghampiri tubuh yang sedang tak berdaya ini. Dengan serta merta mereka meloncat kearah ku dan berusaha tuk meraih pundakku. Yah... seperti anak monyet yang sedang bergelantungan di tubuh induknya. Itulah kemanjaan mereka. Itulah keluguan mereka. Itulah keceriaan mereka. Yang membuat diri tiba-tiba kembali kuat dan terus menampilkan pada wajah ini senyuman yang hangat kepada mereka serta perkataan yang lembut dengan dijiwai rasa kasih sayang yang hakiki, agar kepolosan mereka tak ternodai jiwa-jiwa kotor yang terus menyerang mereka setiap saat.
Namun diri tak seperti manusia baja yang tahan akan segala hantaman dari luar. Tubuh kembali mengerang sesampainya di tempat pembaringan. Mengapa ini terus terjadi?
Yah... Aku bertekad berhenti sejenak untuk menambah kekuatan yang baru. Perlahan aku menghilang dari penglihatan semua temanku. Aku, lagi-lagi tak berucap kepada mereka semua tentang keadaanku saat ini.
Namun tiba-tiba teman satu perjuanganku, meng-SMS-i ku. Dia memintaku untuk melatih salah satu anak di TPA tersebut dalam rangka persiapan mengikuti lomba yang diselenggarakan TPA tetangga. Aku tidak serta merta menolaknya namun aku memintanya untuk mengambil draftnya di rumahku. Sebisa mungkin aku menyambutnya dengan perlakuanku yang biasa. Namun dia bertanya kepadaku, "Kamu sakit ya?"
(bersambung)
Bukan Basa Basi
Teman… jangan sekali-sekali Kau biarkan sahabat di sekitarmu terdiam terpaku pada saat Kau tertawa riang dengan orang-orang di dekatmu.
***
Entah apa yang terpikir dalam pikiran. Terkadang terpikir bahwa setiap orang memiliki watak yang sangat unik, masing-masing tidak pernah memiliki sifat dan sikap yang sama persis. Maka dari itu, sangat sulit untuk mengetahui apa yang tersembunyi dari tindak tanduk seseorang. Terkadang Kau hanya dapat menduga-duga terhadap sikap “aneh” yang Ia tunjukkan. Namun mungkin Ia mempunyai pikiran lain dari sikapnya tersebut, bahkan tidak jarang kemuliaan di balik sikap yang ditunjukkan tersebut muncul pada saat akhir masa, ketika Ia tak mampu bersikap demikian lagi atau bahkan ketika Kau tak dapat melihat sikapnya tersebut karena Ia tidak lagi berada di sisimu.
Mari teman! Mari kita sama-sama membuka mata, telinga, dan yang paling penting adalah bukalah hati Kalian. Perhatikanlah teman kita walau Ia tidak untuk selalu diperhatikan atau bahkan Ia yang Kau rasa sangat tidak layak untuk diperhatikan. TIDAK… sekali-sekali TIDAK teman. Kau telah memberikan yang terbaik pada orang-orang yang dianggap layak untuk diberi. Tapi apakah Kau benar-benar tahu, Ia layak Kau beri ataukah tidak, akan perhatianmu tersebut. Marilah teman! Mari kita lihat ulang jalur yang kita lalui. Apakah semua orang pada jalur tersebut telah Kau sapa, atau setidaknya sudahkah Kau tersenyum pada mereka semua? Terkadang Kau melupakan itu, atau bahkan Kau menganggap itu sangatlah tidak penting karena hanya akan membuang-buang waktu saja. Tidak teman, sekali kau tersenyum terhadap mereka, maka mereka akan dapat menularkan pada orang lain dengan perlakuan yang lebih manis dari yang Kau lakukan terhadapnya.
Dalam menunjukkan sikap pun, jangan perlakukan orang, yang Kau anggap beda, dengan perlakuan standar, bahkan dapat dikatakan hanya basa-basi. Tidak, itu hanya dibutuhkan untuk beberapa saat saja, Teman. Karena basa-basi itu sangat nyata tampak bedanya dengan perlakuan yang benar-benar peduli ataupun perlakuan dari hati. Semua dapat membekas di hati. Tunjukkan sikap itu walau orang di sekitar tak melihat sikap indah itu. Perlakukan mereka ibarat mereka adalah sahabatmu yang benar-benar berjasa bagimu. Sikap yang tidak dibuat-buat, sikap apa adanya, sikap yang bukan hanya sekedar basa-basi belaka.Karena dengan itu, hati mereka dapat luluh, tersentuh, dan bahkan dapat kagum akan sikap itu.
Tak dapat dipungkiri kadang bahwa basa-basi telah menjadi darah daging bagi bangsa kita. Itu memang terkadang dibutuhkan. Tapi tidak di setiap waktu. Tidak di setiap tempat. Juga tidak pada setiap orang. Karena temanmu membutuhkan dirimu apa adanya. Temanmu membutuhkan dirimu yang tak menjerumuskan. Yang pastinya, temanmu membutuhkanmu.
Maka, jangan membuat Ia bingung dengan sikap palsumu. Jangan membuatnya resah ketika Ia melihat dirimu yang sebenarnya tiba-tiba muncul. Kutahu, Kau pasti lelah dengan sikap palsu itu. Maka dari itu lepaskan sayap patah itu. Karena percuma, tidak dapat dipakai lagi untuk terbang. Tidak dapat lagi memperindah penampilan. Bahkan, hanya dapat menambah beban bagi hidup mu.
Ingat, sewaktu-waktu Kau pun pasti membutuhkan mereka. Karena Kau juga adalah manusia biasa, sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tak lekang zaman, selalu membutuhkan manusia lain untuk hidupnya. Tetapi dari semua sikapmu itu, jangan sekali-kali Kau banggakan kemaksiatanmu. Jangan Kau bangga akan aib mu. Jangan Kau bangga akan dosa mu. Hingga Kau pun membombardir semua sikap negatif mu. Dengan berdalih, inilah Aku apa adanya. Tidak selai-kali tidak. Yang perlu ditekankan adalah jangan sekali-kali Kau perlakuan orang dengan perlakuan yang berbeda-beda sesuai dengan seleramu sendiri. Tanpa perlu Kau perhatikan hatinya, tanpa perlu Kau perhatikan sifatnya, tanpa perlu Kau perhatikan sikapnya. TIDAK sekali-kali tidak Teman. Semua itu sangat tidak dibutuhkan.
Mereka saat ini membutuhkan dirimu menjadi super heronya. Menjadi orang yang selalu di sampingnya. Menjadi orang yang selalu menyapanya.
Memang ku akui itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Semua butuh perjuangan. Tapi ingat teman, semua hal yang dinilai oleh ALLAH adalah usaha dan proses kita menuju jalan ketakwaan. Bukan hasil. Sekali lagi ingat, BUKANLAH HASIL.
Maka jangan heran jika toh perlakuan itu menjadi cibiran orang-orang dengan berdalih “mencari muka”. Biarkan.. biarkan mereka berucap. Biarkan mereka menanggapi. Ambil sisi positif bahwa mereka telah peduli pada sikap kita yang memang berasal dari lubuk hati kita.
Selamat berjuang teman… jalan yang Kau lalui tidaklah luas, juga tidaklah sempit. Karena jalan yang Kau lalui masih sangat panjang. Laluilah setiap jalan yang memang dapat Kau lalui. Bukan yang dapat menyesatkanmu. Tapi jangan sampai Kau lupakan arahnya. Karena hanya ALLAH lah tujuan kita. Ketika kau menemukan alternatif jalan lain, silahkan lalui jalan alternatif tersebut. Tapi harus dengan tujuan yang sama. Karena semua itu dapat menambah pengalamanmu terhadap medan dakwahmu. Dapat mengetahui kondisi setiap lingkungan yang mempunyai posisi tidak “setrategis” bagi posisimu saat ini.
Mungkin mereka belum tahu indahnya “cahaya” itu teman. Maka dari itu, jangan Kau jauhi dia. Jangan Kau hinakan Dia karena keingkarannya. Bahkan jangan kau usir Ia, karena telah tidak sependapat lagi dengan mu. Karena Kau tak tahu nasibnya ke depan. Karena “cahaya”-Nya hanya akan dapat didapat dengan seizin yang Punya Cahaya pula, ALLAH swt.
***
Entah apa yang terpikir dalam pikiran. Terkadang terpikir bahwa setiap orang memiliki watak yang sangat unik, masing-masing tidak pernah memiliki sifat dan sikap yang sama persis. Maka dari itu, sangat sulit untuk mengetahui apa yang tersembunyi dari tindak tanduk seseorang. Terkadang Kau hanya dapat menduga-duga terhadap sikap “aneh” yang Ia tunjukkan. Namun mungkin Ia mempunyai pikiran lain dari sikapnya tersebut, bahkan tidak jarang kemuliaan di balik sikap yang ditunjukkan tersebut muncul pada saat akhir masa, ketika Ia tak mampu bersikap demikian lagi atau bahkan ketika Kau tak dapat melihat sikapnya tersebut karena Ia tidak lagi berada di sisimu.
Mari teman! Mari kita sama-sama membuka mata, telinga, dan yang paling penting adalah bukalah hati Kalian. Perhatikanlah teman kita walau Ia tidak untuk selalu diperhatikan atau bahkan Ia yang Kau rasa sangat tidak layak untuk diperhatikan. TIDAK… sekali-sekali TIDAK teman. Kau telah memberikan yang terbaik pada orang-orang yang dianggap layak untuk diberi. Tapi apakah Kau benar-benar tahu, Ia layak Kau beri ataukah tidak, akan perhatianmu tersebut. Marilah teman! Mari kita lihat ulang jalur yang kita lalui. Apakah semua orang pada jalur tersebut telah Kau sapa, atau setidaknya sudahkah Kau tersenyum pada mereka semua? Terkadang Kau melupakan itu, atau bahkan Kau menganggap itu sangatlah tidak penting karena hanya akan membuang-buang waktu saja. Tidak teman, sekali kau tersenyum terhadap mereka, maka mereka akan dapat menularkan pada orang lain dengan perlakuan yang lebih manis dari yang Kau lakukan terhadapnya.
Dalam menunjukkan sikap pun, jangan perlakukan orang, yang Kau anggap beda, dengan perlakuan standar, bahkan dapat dikatakan hanya basa-basi. Tidak, itu hanya dibutuhkan untuk beberapa saat saja, Teman. Karena basa-basi itu sangat nyata tampak bedanya dengan perlakuan yang benar-benar peduli ataupun perlakuan dari hati. Semua dapat membekas di hati. Tunjukkan sikap itu walau orang di sekitar tak melihat sikap indah itu. Perlakukan mereka ibarat mereka adalah sahabatmu yang benar-benar berjasa bagimu. Sikap yang tidak dibuat-buat, sikap apa adanya, sikap yang bukan hanya sekedar basa-basi belaka.Karena dengan itu, hati mereka dapat luluh, tersentuh, dan bahkan dapat kagum akan sikap itu.
Tak dapat dipungkiri kadang bahwa basa-basi telah menjadi darah daging bagi bangsa kita. Itu memang terkadang dibutuhkan. Tapi tidak di setiap waktu. Tidak di setiap tempat. Juga tidak pada setiap orang. Karena temanmu membutuhkan dirimu apa adanya. Temanmu membutuhkan dirimu yang tak menjerumuskan. Yang pastinya, temanmu membutuhkanmu.
Maka, jangan membuat Ia bingung dengan sikap palsumu. Jangan membuatnya resah ketika Ia melihat dirimu yang sebenarnya tiba-tiba muncul. Kutahu, Kau pasti lelah dengan sikap palsu itu. Maka dari itu lepaskan sayap patah itu. Karena percuma, tidak dapat dipakai lagi untuk terbang. Tidak dapat lagi memperindah penampilan. Bahkan, hanya dapat menambah beban bagi hidup mu.
Ingat, sewaktu-waktu Kau pun pasti membutuhkan mereka. Karena Kau juga adalah manusia biasa, sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tak lekang zaman, selalu membutuhkan manusia lain untuk hidupnya. Tetapi dari semua sikapmu itu, jangan sekali-kali Kau banggakan kemaksiatanmu. Jangan Kau bangga akan aib mu. Jangan Kau bangga akan dosa mu. Hingga Kau pun membombardir semua sikap negatif mu. Dengan berdalih, inilah Aku apa adanya. Tidak selai-kali tidak. Yang perlu ditekankan adalah jangan sekali-kali Kau perlakuan orang dengan perlakuan yang berbeda-beda sesuai dengan seleramu sendiri. Tanpa perlu Kau perhatikan hatinya, tanpa perlu Kau perhatikan sifatnya, tanpa perlu Kau perhatikan sikapnya. TIDAK sekali-kali tidak Teman. Semua itu sangat tidak dibutuhkan.
Mereka saat ini membutuhkan dirimu menjadi super heronya. Menjadi orang yang selalu di sampingnya. Menjadi orang yang selalu menyapanya.
Memang ku akui itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Semua butuh perjuangan. Tapi ingat teman, semua hal yang dinilai oleh ALLAH adalah usaha dan proses kita menuju jalan ketakwaan. Bukan hasil. Sekali lagi ingat, BUKANLAH HASIL.
Maka jangan heran jika toh perlakuan itu menjadi cibiran orang-orang dengan berdalih “mencari muka”. Biarkan.. biarkan mereka berucap. Biarkan mereka menanggapi. Ambil sisi positif bahwa mereka telah peduli pada sikap kita yang memang berasal dari lubuk hati kita.
Selamat berjuang teman… jalan yang Kau lalui tidaklah luas, juga tidaklah sempit. Karena jalan yang Kau lalui masih sangat panjang. Laluilah setiap jalan yang memang dapat Kau lalui. Bukan yang dapat menyesatkanmu. Tapi jangan sampai Kau lupakan arahnya. Karena hanya ALLAH lah tujuan kita. Ketika kau menemukan alternatif jalan lain, silahkan lalui jalan alternatif tersebut. Tapi harus dengan tujuan yang sama. Karena semua itu dapat menambah pengalamanmu terhadap medan dakwahmu. Dapat mengetahui kondisi setiap lingkungan yang mempunyai posisi tidak “setrategis” bagi posisimu saat ini.
Mungkin mereka belum tahu indahnya “cahaya” itu teman. Maka dari itu, jangan Kau jauhi dia. Jangan Kau hinakan Dia karena keingkarannya. Bahkan jangan kau usir Ia, karena telah tidak sependapat lagi dengan mu. Karena Kau tak tahu nasibnya ke depan. Karena “cahaya”-Nya hanya akan dapat didapat dengan seizin yang Punya Cahaya pula, ALLAH swt.
Aku Benci Perpisahan
Kadang terpikir tuk membencinya, tapi mengapa itu sulit sekali dilakukan. Ketika diri berkata kasar padanya, dia malah menyikapinya dengan lembut dan penuh dengan kesabaran. Ketika diri bersikap baik padanya, dia makin sangat menghormati diri. Ketika diri meminta pertolongan padanya, ia segera menanggapinya dengan sangat antusias, tanpa pikir panjang apakah aku sedang sibuk ataukah tidak, seolah dia bersedia tunduk dan patuh akan semua permintaan diri. Tingkah laku sopannya sangat membuat diri malu pada diri sendiri. Keceriaannya membuncahkan jiwa, bergemuruh dalam dada tuk ikut masuk dalam dunia indahnya. Sekalipun ia dalam keadaan duka, semua tak ditampilkan pada sikap, ucapan, maupun raut mukanya. Bebannya hanya dia dan orang tertentu yang dapat mengetahuinya. Ibadahnya menjadi penyemangat diri tuk terus memperbaiki kualitasnya. Kesibukannya menjadikan diri terlupakan akan sifat malas yang dahulu terus menjajah diri. Diri terus terlunta-lunta ketika berada di hadapnya. Semangatnya itulah yang menjadikan cerminan bagi hidupku dalam mengarungi samudera hidup yang penuh aral demi pencapaian keredhoan Ilahi.
***
"Masuk sini, jangan malu-malu..." dia menarik tanganku menuju kamarnya, yang bagiku sulit berkata nyaman untuk berbagi bersama dua orang di dalamnya.
Kulihat di kamarnya berdiri gagah sebuah piala yang menandakan ia bukan manusia biasa, manusia berprestasi. Dan terdapat pula beberapa kaset dengan penyanyi yang aku lupa namanya siapa ketika ia menjelaskannya. Dia sibuk memperlakukan ku selayaknya tamu agung. Padahal siapalah aku.
Kesan pertama begitu menggoda,, yah itulah aku sangat terpikat akan kepribadian yang dimilikinya, yang sebelumya tak ku ketahui sama sekali sosok itu.
***
"Mengapa kamu puasa ya,,? ya udah buka di sini aja.." tawaranku kepadanya ketika ia bersilaturahim ke kos ku.
"Subhanallah.. makasih banget" raut muka ceria itu tak hilang dari ingatanku ketika ku suguhkan kepadanya hanya air putih dan kue kecil.
"Salut loh.. aku masih belum sanggup untuk istiqomah puasa senin kamis sepertimu" ia menanggapinya hanya dengan tersenyum.
Memang jujur aku merasa dipermalukan, seolah-olah ada yang berkata di depan telingku, "ibadahmu yang kau anggap baik itu belum ada apa-apanya, jek!"
Adzan berkumandang
"Subhanallah.. enak kuenya.. sampe abis nih."
"Yok shalat magrib di masjid ajak ku" setelah kulihat ia sangat puas dengan sedikit makanan yang kusajikan.
"Wah makasih banget ya" lagi-lagi ia berkata itu dengan disertai raut muka ceria khasnya.
***
Lagi-lagi ia mengunjungi kosku ba'da shubuh di masjid, padahal kebiasaan ku adalah tidur ba'da shubuh. Yah gak papalah, lagian juga aku suka banget ketika ia terlihat sangat sumringah berjumpa denganku, seolah kami sudah lama sekali tidak saling jumpa. Dan kami mengobrol, bisa juga dibilang diskusi santai, tentang topik-topik yang ada di berita pagi yang kami tonton.
Dia kemudian pamit setelah matahari pagi mulai menunjukkan dirinya, "aku pulang ya,, mau dhuha dulu karena nanti ada kuliah statistik jam 8."
Lagi-lagi muka ku serasa panas seolah abis ditampar bolak balik saking malunya. "Kapan ya aku terakhir mengerjakan sholat Dhuha??" Bisikan itu terus menggema di telingaku sampai-sampai ku segerakan diriku ambil air wudhu tuk melakukan shalat Dhuha setelah ia beranjak pergi dari kos ku.
***
Ketika ia sedang menonton TV karena kebetulan pagi itu ia gak ada kuliah,
"Aku mau ngomong bentar, boleh nggak?" selaku padanya.
"Ngomong aja,," perhatiannya langsung beralih ia tujukan kepadaku.
"Aku sering merasa lonely in the crowded,,,mau nggak kamu jadi saudaraku?" tanpa basa-basi aku langsung menuju inti pembicaraan.
"Ha..ha.. kita dah lama jadi saudara,, karena setiap muslim itu bersaudara." Dengan santai ia menanggapi permintaanku itu namun begitu mengena di diriku.
Kemudian kami pun saling berpelukan. (kayak Thelethubis jadinya) Setelah itu hubungan kami terasa sangatlah berbeda dari sebelumnya, saling perhatian walau tanpa ucapan, saling menasehati walau hanya dengan perbuatan. Nilai ibadah kami pun terasa terus membaik kualitasnya karena adanya saling memotivasi dengan teladan sikap perbuatan langsung. Yang intinya kami terus saling memotivasi untuk terus memperbaiki diri.
***
Kini,,, ia akan beranjak pergi dari kehidupanku yang aku yakin itulah kemenangan baginya. Dibalik itu semua adalah terbaik untuknya dari ALLAH SWT. Ku yakin dengan jiwa ikhlasnya, dengan istiqomah-nya dalam kualitas ibadahnya yang mantap, terus menebar keceriaan, dan sebagai pelaku teladan dalam tindakan, insya ALLAH akan membuatnya terus mulia, yang tentunya juga mulia di sisi ALLAH SWT.
Ingat,, saudaraku diri ini pastinya akan sulit menemukan sosok sepertimu. Diri ini akan merindukan tingkah lakumu, keceriaanmu, kesabaranmu, ketegaranmu, optimis hidupmu, sikap diammu, yang semuanya membuat ku nyaman, tenang dalam kehidupan. Pelajaran hidup banyak ku dapat dari dirimu. Yang semua itu menjadi bekal hidup kita kelak menuju jalan keabadian-NYA.
Suatu hal yang pastinya terus menjadi penyesalanku sepanjang waktu adalah sikap burukku, egoisku, keras kepalaku, prasangka burukku terhadapmu. Maafkan diri bodoh ini Saudaraku!
Aku mencintaimu karena ALLAH SWT!
***
"Masuk sini, jangan malu-malu..." dia menarik tanganku menuju kamarnya, yang bagiku sulit berkata nyaman untuk berbagi bersama dua orang di dalamnya.
Kulihat di kamarnya berdiri gagah sebuah piala yang menandakan ia bukan manusia biasa, manusia berprestasi. Dan terdapat pula beberapa kaset dengan penyanyi yang aku lupa namanya siapa ketika ia menjelaskannya. Dia sibuk memperlakukan ku selayaknya tamu agung. Padahal siapalah aku.
Kesan pertama begitu menggoda,, yah itulah aku sangat terpikat akan kepribadian yang dimilikinya, yang sebelumya tak ku ketahui sama sekali sosok itu.
***
"Mengapa kamu puasa ya,,? ya udah buka di sini aja.." tawaranku kepadanya ketika ia bersilaturahim ke kos ku.
"Subhanallah.. makasih banget" raut muka ceria itu tak hilang dari ingatanku ketika ku suguhkan kepadanya hanya air putih dan kue kecil.
"Salut loh.. aku masih belum sanggup untuk istiqomah puasa senin kamis sepertimu" ia menanggapinya hanya dengan tersenyum.
Memang jujur aku merasa dipermalukan, seolah-olah ada yang berkata di depan telingku, "ibadahmu yang kau anggap baik itu belum ada apa-apanya, jek!"
Adzan berkumandang
"Subhanallah.. enak kuenya.. sampe abis nih."
"Yok shalat magrib di masjid ajak ku" setelah kulihat ia sangat puas dengan sedikit makanan yang kusajikan.
"Wah makasih banget ya" lagi-lagi ia berkata itu dengan disertai raut muka ceria khasnya.
***
Lagi-lagi ia mengunjungi kosku ba'da shubuh di masjid, padahal kebiasaan ku adalah tidur ba'da shubuh. Yah gak papalah, lagian juga aku suka banget ketika ia terlihat sangat sumringah berjumpa denganku, seolah kami sudah lama sekali tidak saling jumpa. Dan kami mengobrol, bisa juga dibilang diskusi santai, tentang topik-topik yang ada di berita pagi yang kami tonton.
Dia kemudian pamit setelah matahari pagi mulai menunjukkan dirinya, "aku pulang ya,, mau dhuha dulu karena nanti ada kuliah statistik jam 8."
Lagi-lagi muka ku serasa panas seolah abis ditampar bolak balik saking malunya. "Kapan ya aku terakhir mengerjakan sholat Dhuha??" Bisikan itu terus menggema di telingaku sampai-sampai ku segerakan diriku ambil air wudhu tuk melakukan shalat Dhuha setelah ia beranjak pergi dari kos ku.
***
Ketika ia sedang menonton TV karena kebetulan pagi itu ia gak ada kuliah,
"Aku mau ngomong bentar, boleh nggak?" selaku padanya.
"Ngomong aja,," perhatiannya langsung beralih ia tujukan kepadaku.
"Aku sering merasa lonely in the crowded,,,mau nggak kamu jadi saudaraku?" tanpa basa-basi aku langsung menuju inti pembicaraan.
"Ha..ha.. kita dah lama jadi saudara,, karena setiap muslim itu bersaudara." Dengan santai ia menanggapi permintaanku itu namun begitu mengena di diriku.
Kemudian kami pun saling berpelukan. (kayak Thelethubis jadinya) Setelah itu hubungan kami terasa sangatlah berbeda dari sebelumnya, saling perhatian walau tanpa ucapan, saling menasehati walau hanya dengan perbuatan. Nilai ibadah kami pun terasa terus membaik kualitasnya karena adanya saling memotivasi dengan teladan sikap perbuatan langsung. Yang intinya kami terus saling memotivasi untuk terus memperbaiki diri.
***
Kini,,, ia akan beranjak pergi dari kehidupanku yang aku yakin itulah kemenangan baginya. Dibalik itu semua adalah terbaik untuknya dari ALLAH SWT. Ku yakin dengan jiwa ikhlasnya, dengan istiqomah-nya dalam kualitas ibadahnya yang mantap, terus menebar keceriaan, dan sebagai pelaku teladan dalam tindakan, insya ALLAH akan membuatnya terus mulia, yang tentunya juga mulia di sisi ALLAH SWT.
Ingat,, saudaraku diri ini pastinya akan sulit menemukan sosok sepertimu. Diri ini akan merindukan tingkah lakumu, keceriaanmu, kesabaranmu, ketegaranmu, optimis hidupmu, sikap diammu, yang semuanya membuat ku nyaman, tenang dalam kehidupan. Pelajaran hidup banyak ku dapat dari dirimu. Yang semua itu menjadi bekal hidup kita kelak menuju jalan keabadian-NYA.
Suatu hal yang pastinya terus menjadi penyesalanku sepanjang waktu adalah sikap burukku, egoisku, keras kepalaku, prasangka burukku terhadapmu. Maafkan diri bodoh ini Saudaraku!
Aku mencintaimu karena ALLAH SWT!
Saat Penantian Menjelang
Dalam penantian terkadang semua tak sesuai keinginan. Tindakan dalam penantian terkadang sulit tuk dilakukan. Di satu sisi, merasa segan tuk bertindak sesuai keinginan diri. Namun di sisi lain, kegiatan yang umum di sini merupakan kegiatan yang sangat tidak penting bagiku dalam mengisi waktu dalam penantian tersebut. Ku hanya ingin semua yang kulakukan adalah berguna, minimal untuk diriku pribadi. Kalaupun tidak, aku tak ingin melakukan kegiatan yang sia-sia. Apalagi yang merugikan, sangatlah tak ingin ku lakukan.
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk itu.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang sering mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia mensibukkan dirinya hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semalaman dengan dalih hanya untuk menghilangkan penat. Namun di sisi lain, ada manusia mensibukkan dirinya dengan bermuara pada kehidupan untuk masa depannya. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik binaannya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) pada saat ia tak sempat lagi untuk berjumpa pada mereka.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satu nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk itu.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang sering mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia mensibukkan dirinya hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semalaman dengan dalih hanya untuk menghilangkan penat. Namun di sisi lain, ada manusia mensibukkan dirinya dengan bermuara pada kehidupan untuk masa depannya. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik binaannya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) pada saat ia tak sempat lagi untuk berjumpa pada mereka.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satu nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!
Pola Pikir
Dia penunjang dalam kesempatanku tuk berpikir. Walau kadang jauh dari pikiranku tuk bertindak seperti apa sebenarnya yang aku inginkan. Aku pun tak ingin dia mengetahui hakekat sebenarnya dari pikiranku. Biarlah aku yang tahu, dan tak ada seorang pun yang tahu. Bukanlah suatu aib diriku. Tapi itu sangat berat tuk diungkap. Itu merupakan bagian dari perjuangan hidupku. Bagian dari jiwaku. Bagian dari seluruh takdirku kemarin, sekarang, dan kelak di kehidupan yang akan datang.
Perjuanganku sangatlah sakit ku rasa. Sangat pedih ku merintih, merayapi jalan terjal ini, sangat tak indah untuk dilihat dari dalam. Karena itu, biarlah mereka hanya tahu keindahan diri, senyuman diri, tertawanya diri. Dibalik semua itu biarlah aku yang mengetahui, biarlah aku yang berjuang,. Tak ingin ku menjadi orang yang lemah. Selalu mengeluh dalam keadaan apapun, tak ingin menjadi anak manja yang selalu tergantung pada seluruh makhluk.
Di balik semua itu kelebihan diri pun pasti dimiliki. Tapi itu juga sulit terungkap, sehingga terkadang diri pun tak ubahnya seperti milik orang lain yang tak tahu harus diterjunkan ke daerah mana diri ini. Tentunya orang pun tak mengetahui kelebihan diri karena sangat jarangnya muncul ke permukaan. Tak ubahnya sebuah bunga yang mekar di puncak kaki gunung terjal yang hanya bisa dilihat jika kita mendaki gunung tersebut. Yah itulah, perlu pendalaman diri, perlu pengenalan yang lebih untuk itu.
Aku tak ingin menjadi manusia misterius karena aku pun ingin menjadi orang familiar di mata mereka. Aku butuh mereka. Aku ingin berbagi cerita. Aku ingin mengungkapkan semua isi hatiku. Tapi tidakkah mereka akan mengetahui kelemahan diri yang banyak ini. Tidakkah dia tahu pikiranku kelak. Tidakkah dia tahu akan ku bawa kemana diri ini. Apakah mereka akan mengetahui itu semua dan memberi tahuku sesuatu dibalik itu semua sebagai bekal hidupku yang benar-benar bisa ku bawa pada kehidupanku sepanjang jaman? Ataukah hanya sekedar ingin tahu. Dan bercerita kepada manusia lain? Itu yang sangat tidak ku inginkan. Ingat kepedulian diri sangatlah ku junjung antar sesama manusia. Karena tanpa adanya rasa kemanusiaan, kemana lagi diri ini akan hidup. Karena semua manusia telah tidak memiliki hati untuk bertindak.
Tapi diri ini pun tak ingin menjadi manusia idaman yang selalu menjadi pusat perhatian. Yang selalu dibanggakan, yang selalu menjadi panutan. Siapalah diri ini? Siapalah? Sungguh sangat tak layak. Karena diri ini pun penuh dengan kekurangan. Diri ini masih butuh banyak pembelajaran dari kalian. Jika dibandingkan dari kalian. Tak ada bandingannya sama sekali.
Tetapi diri hanya berusaha untuk bertindak sesuai dengan ilmu yang kumiliki. Satu ilmu yang kudapat. Satu ilmu itu pula ku usahakan sekuat tenaga untuk ku terapkan. Walaupun tidak semuanya benar. Tapi selalu diusahakan mencari hakekat kebenarannya. Tak selamanya ku bertindak pada satu arah. Aku bukanlah manusia monotan, yang bertindak dengan tindakan selalu itu-itu saja. Aku dinamis. Tak betah dengan keadaan statis. Dan pembelajaran satu arah sangatlah sulit tuk dilakukan.
Yah.. itulah diri. Yang masih perlu banyak belajar. Yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Yang selalu tak puas dengan apa yang didapat selama ini. Dan juga yang selalu berusaha untuk mensyukuri dengan apa yang didapat saat ini.
Perjuanganku sangatlah sakit ku rasa. Sangat pedih ku merintih, merayapi jalan terjal ini, sangat tak indah untuk dilihat dari dalam. Karena itu, biarlah mereka hanya tahu keindahan diri, senyuman diri, tertawanya diri. Dibalik semua itu biarlah aku yang mengetahui, biarlah aku yang berjuang,. Tak ingin ku menjadi orang yang lemah. Selalu mengeluh dalam keadaan apapun, tak ingin menjadi anak manja yang selalu tergantung pada seluruh makhluk.
Di balik semua itu kelebihan diri pun pasti dimiliki. Tapi itu juga sulit terungkap, sehingga terkadang diri pun tak ubahnya seperti milik orang lain yang tak tahu harus diterjunkan ke daerah mana diri ini. Tentunya orang pun tak mengetahui kelebihan diri karena sangat jarangnya muncul ke permukaan. Tak ubahnya sebuah bunga yang mekar di puncak kaki gunung terjal yang hanya bisa dilihat jika kita mendaki gunung tersebut. Yah itulah, perlu pendalaman diri, perlu pengenalan yang lebih untuk itu.
Aku tak ingin menjadi manusia misterius karena aku pun ingin menjadi orang familiar di mata mereka. Aku butuh mereka. Aku ingin berbagi cerita. Aku ingin mengungkapkan semua isi hatiku. Tapi tidakkah mereka akan mengetahui kelemahan diri yang banyak ini. Tidakkah dia tahu pikiranku kelak. Tidakkah dia tahu akan ku bawa kemana diri ini. Apakah mereka akan mengetahui itu semua dan memberi tahuku sesuatu dibalik itu semua sebagai bekal hidupku yang benar-benar bisa ku bawa pada kehidupanku sepanjang jaman? Ataukah hanya sekedar ingin tahu. Dan bercerita kepada manusia lain? Itu yang sangat tidak ku inginkan. Ingat kepedulian diri sangatlah ku junjung antar sesama manusia. Karena tanpa adanya rasa kemanusiaan, kemana lagi diri ini akan hidup. Karena semua manusia telah tidak memiliki hati untuk bertindak.
Tapi diri ini pun tak ingin menjadi manusia idaman yang selalu menjadi pusat perhatian. Yang selalu dibanggakan, yang selalu menjadi panutan. Siapalah diri ini? Siapalah? Sungguh sangat tak layak. Karena diri ini pun penuh dengan kekurangan. Diri ini masih butuh banyak pembelajaran dari kalian. Jika dibandingkan dari kalian. Tak ada bandingannya sama sekali.
Tetapi diri hanya berusaha untuk bertindak sesuai dengan ilmu yang kumiliki. Satu ilmu yang kudapat. Satu ilmu itu pula ku usahakan sekuat tenaga untuk ku terapkan. Walaupun tidak semuanya benar. Tapi selalu diusahakan mencari hakekat kebenarannya. Tak selamanya ku bertindak pada satu arah. Aku bukanlah manusia monotan, yang bertindak dengan tindakan selalu itu-itu saja. Aku dinamis. Tak betah dengan keadaan statis. Dan pembelajaran satu arah sangatlah sulit tuk dilakukan.
Yah.. itulah diri. Yang masih perlu banyak belajar. Yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Yang selalu tak puas dengan apa yang didapat selama ini. Dan juga yang selalu berusaha untuk mensyukuri dengan apa yang didapat saat ini.
Menunggu
Dalam penantian terkadang semua tak sesuai keinginan. Tindakan dalam penantian terkadang sulit tuk dilakukan. Di satu sisi, merasa segan tuk bertindak sesuai keinginan diri. Namun di sisi lain, kegiatan yang umum di sini merupakan kegiatan yang sangat tidak penting bagiku dalam mengisi waktu dalam penantian tersebut. Ku hanya ingin semua yang kulakukan adalah berguna, minimal untuk diriku pribadi. Kalaupun tidak, aku tak ingin melakukan kegiatan yang sia-sia. Apalagi yang merugikan, sangatlah tak ingin ku lakukan.
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia sibuk hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semaleman dengan dalih menghilangkan penat. Namun di sisi lain, kesibukan manusia bermuara pada kehidupan di masa depan. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik kecilnya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di saat waktu sibuknya.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satunya nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia sibuk hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semaleman dengan dalih menghilangkan penat. Namun di sisi lain, kesibukan manusia bermuara pada kehidupan di masa depan. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik kecilnya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di saat waktu sibuknya.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satunya nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!
Syukurku
Jiwa kedamaian telah diraih di penghujung masa-masa perjuangan pahit ini.
Dilema hidup pernah dihadapi saat diri bimbang, jalan mana yang harus diraih. Semua itu penuh dengan tanya. Semua itu penuh dengan ketidak pastian. Namun semua itu telah menjadi pelajaran berharga buatku dalam menapaki perjalanan yang "singkat" ini.
Dilema hidup pernah dihadapi saat diri bimbang, jalan mana yang harus diraih. Semua itu penuh dengan tanya. Semua itu penuh dengan ketidak pastian. Namun semua itu telah menjadi pelajaran berharga buatku dalam menapaki perjalanan yang "singkat" ini.
Aku
Aku...
Yang berjalan dalam kelam
Yang menyusuri sinar malam
Yang merintih dalam diam
Tak tentu langkah tuk dituju
Hanya mengikuti arah angin menerpa
Sinar dunia petunjuk arah
Langit merah senja sang pelipur lara
Terdiam ku bertanya
Mengapa ku tak seperti badai
Yang mampu menerjang penghalang
Tak mudah terkalahkan oleh kokohnya beton
Yah...
Karena memang aku bukanlah mereka
Karena aku adalah aku
Dan tetap akan menjadi aku
Yang berjalan dalam kelam
Yang menyusuri sinar malam
Yang merintih dalam diam
Tak tentu langkah tuk dituju
Hanya mengikuti arah angin menerpa
Sinar dunia petunjuk arah
Langit merah senja sang pelipur lara
Terdiam ku bertanya
Mengapa ku tak seperti badai
Yang mampu menerjang penghalang
Tak mudah terkalahkan oleh kokohnya beton
Yah...
Karena memang aku bukanlah mereka
Karena aku adalah aku
Dan tetap akan menjadi aku
Butuh Jiwa Beriman
Hilang
Pecah beribu
Ketenanganku terusik
Merajai kegalauan diri
Tak kuat aku menopang kehidupan hitam nan panjang ini
Penarik dan penyimpul tali itu telah pergi
Sulit untuk giat bersama menyambung semuanya
Karena ia telah pergi
Aku yang kini terpuruk
Tak mampu berucap dan bertindak
Seolah kaku diri dibuat
Salam, senyum, sapa, dan kata bijakmu sangat ku butuh
Tuk menguatkan diri lemah ini
Sabar pilihan utama
Dan...
Kerinduan kehadirannya terus terbina dalam diri
Pecah beribu
Ketenanganku terusik
Merajai kegalauan diri
Tak kuat aku menopang kehidupan hitam nan panjang ini
Penarik dan penyimpul tali itu telah pergi
Sulit untuk giat bersama menyambung semuanya
Karena ia telah pergi
Aku yang kini terpuruk
Tak mampu berucap dan bertindak
Seolah kaku diri dibuat
Salam, senyum, sapa, dan kata bijakmu sangat ku butuh
Tuk menguatkan diri lemah ini
Sabar pilihan utama
Dan...
Kerinduan kehadirannya terus terbina dalam diri
Perpisahan Yang Bahagia
Bertemu wajah bahagia
Saat penghujung hari itu tiba
Mereka tertawa sambil tersenyum
Dan mengucapkan selamat tinggal
Telah menyemai suka dalam hati
Tuk jumpa tanah
Yang telah lama tak dijejaki
Salam bahagia padanya
Agar senyum merekah itu terus berkibar
Tak menjadi sisa
Di penghujung tahun
Di penghujung waktu
Dengan macam tanggung jawab kehidupan yang terus menanti
Salam bahagia untuk semua
Saat penghujung hari itu tiba
Mereka tertawa sambil tersenyum
Dan mengucapkan selamat tinggal
Telah menyemai suka dalam hati
Tuk jumpa tanah
Yang telah lama tak dijejaki
Salam bahagia padanya
Agar senyum merekah itu terus berkibar
Tak menjadi sisa
Di penghujung tahun
Di penghujung waktu
Dengan macam tanggung jawab kehidupan yang terus menanti
Salam bahagia untuk semua
Dialah Jiwa Bijak
Aku baru tersadar dengan semua ucapannya kemarin
Bahwa...
Dia terlalu tegar
Dia terlalu bijaksana
Yang pastinya dia lebih dari segala yang kuperkiran
Bahkan...
Sangat jauh dibanding denganku
Aku yang merasa telah berilmu
Aku yang merasa telah bijaksana
Aku yang merasa telah tabah
Yang intinya aku merasa lebih baik darinya
Telak telah menjadi angan-angan belaka
Sangat jauh perbandingannya secara nyata
Malu diri dibuatnya
Tertunduk diri menatapnya
Tak henti diri meratapi keangkuhan diri
Mengapa aku menolak kenyataan itu?
Yah... Itu semua karena keangkuhan diri
Tak ingin ada yang lebih baik dari diri
Hei... Kawan...
Tidakkah kau masih terpejam
Menikmati semua mimpi-mimpimu itu
Terpedaya akan nyenyaknya tidurmu
Hingga kau terlupa akan dunia nyata yang telah dan akan kau hadapi
Ayolah... Kawan...
Buka matamu
Lihat semua yang ada di hadapanmu
Buka pikiranmu
Tidakkah itu adalah alur wajar kehidupan
Buka hatimu
Tuk terima semua kehidupan ini
Sepahit apa pun itu
Karena semua bisa menjadi jembatan bagimu
Dalam mencapai ketaqwaan kepada ALLAH SWT
Bahwa...
Dia terlalu tegar
Dia terlalu bijaksana
Yang pastinya dia lebih dari segala yang kuperkiran
Bahkan...
Sangat jauh dibanding denganku
Aku yang merasa telah berilmu
Aku yang merasa telah bijaksana
Aku yang merasa telah tabah
Yang intinya aku merasa lebih baik darinya
Telak telah menjadi angan-angan belaka
Sangat jauh perbandingannya secara nyata
Malu diri dibuatnya
Tertunduk diri menatapnya
Tak henti diri meratapi keangkuhan diri
Mengapa aku menolak kenyataan itu?
Yah... Itu semua karena keangkuhan diri
Tak ingin ada yang lebih baik dari diri
Hei... Kawan...
Tidakkah kau masih terpejam
Menikmati semua mimpi-mimpimu itu
Terpedaya akan nyenyaknya tidurmu
Hingga kau terlupa akan dunia nyata yang telah dan akan kau hadapi
Ayolah... Kawan...
Buka matamu
Lihat semua yang ada di hadapanmu
Buka pikiranmu
Tidakkah itu adalah alur wajar kehidupan
Buka hatimu
Tuk terima semua kehidupan ini
Sepahit apa pun itu
Karena semua bisa menjadi jembatan bagimu
Dalam mencapai ketaqwaan kepada ALLAH SWT
Hentakan Tajam
Tak hendak tuk mengeluh
Tak hendak tuk meringkuh
Diri kecil tak berarti apa-apa
Bahkan bertindak pun terbatas pada angan-angan
Kebodohan diri terus mempesona masa
Yang membuat hati terluka
Tak ingin diri menghilang
Tak ingin diri diterjang
Diri ingin terus melayang bebas
Melanglang buana ke alam terbuka
Tak ada hentakan
Tak ada makian
Tak ada kata tuk mengusir tubuh ini
Diri ingin menjadi yang terbaik
Tak hendak tuk meringkuh
Diri kecil tak berarti apa-apa
Bahkan bertindak pun terbatas pada angan-angan
Kebodohan diri terus mempesona masa
Yang membuat hati terluka
Tak ingin diri menghilang
Tak ingin diri diterjang
Diri ingin terus melayang bebas
Melanglang buana ke alam terbuka
Tak ada hentakan
Tak ada makian
Tak ada kata tuk mengusir tubuh ini
Diri ingin menjadi yang terbaik
Jiwa Munafik
Berawal dalam keheningan
Menyusuri lembah belukar yang hitam
Menjauh meninggalkan riak sungai
Tak diam menyongsong fajar
Menggelayuti malam yang makin membahana
Tertusuk luka lama
Membuka kembali kehadiran Sang pendusta
Mendustai sore hari yang ditinggalkan
Ratapan tak jua usai
Menyelubungi riang tawa
Hai...
Sang muka manis
Menyusuri lembah belukar yang hitam
Menjauh meninggalkan riak sungai
Tak diam menyongsong fajar
Menggelayuti malam yang makin membahana
Tertusuk luka lama
Membuka kembali kehadiran Sang pendusta
Mendustai sore hari yang ditinggalkan
Ratapan tak jua usai
Menyelubungi riang tawa
Hai...
Sang muka manis
Khusnul Khotimah
Terasa bintang gemerlap menyapu gelapnya malam
Memeriahkan suasana sunyi kelam
Tak pelak diri berguncang
Bertandang pada kedamaian
Menikmati dinginnya kesejukan
Matipun terasa nikmat jika terus dalam kedamaian
Damai yang terang benderang
Damai yang membawa pada kebahagiaan hakiki
Kebahagiaan bertemu Ilahi
Terus memberi petunjuk sang bintang
Pada insan yang meradang
Karena ia tak ingin keindahannya menghilang
Dengan menyertai perjuangan yang bertandang tajam
Tuk menikmati jiwa ibadah kepada Sang Penciptanya
Memeriahkan suasana sunyi kelam
Tak pelak diri berguncang
Bertandang pada kedamaian
Menikmati dinginnya kesejukan
Matipun terasa nikmat jika terus dalam kedamaian
Damai yang terang benderang
Damai yang membawa pada kebahagiaan hakiki
Kebahagiaan bertemu Ilahi
Terus memberi petunjuk sang bintang
Pada insan yang meradang
Karena ia tak ingin keindahannya menghilang
Dengan menyertai perjuangan yang bertandang tajam
Tuk menikmati jiwa ibadah kepada Sang Penciptanya
Insan Impian
Sosok yang dicari terus pergi
Yang tak jelas kapan kembali
Ia terus hadir dalam mimpi
Membuat risaunya hati
Ingin terus menatapi
Dan...
Terus berkelana bersama menjalani
Jalan panjang terus ku daki
Demi meraih sosok ini
Sosok yang ku cintai
Sosok yang membuat hidup terasa nikmat abadi
Karena semuanya adalah berkah Ilahi
Yang terus tertanam dalam diri
Tuk mencari sosok ini...
Yang tak jelas kapan kembali
Ia terus hadir dalam mimpi
Membuat risaunya hati
Ingin terus menatapi
Dan...
Terus berkelana bersama menjalani
Jalan panjang terus ku daki
Demi meraih sosok ini
Sosok yang ku cintai
Sosok yang membuat hidup terasa nikmat abadi
Karena semuanya adalah berkah Ilahi
Yang terus tertanam dalam diri
Tuk mencari sosok ini...
Musnahlah Diam
Berpikir diam menjembatani ruang
Tak bermakna dalam hidup jika diam
Tak berpenghasilan diri jika terbengkalai
Gerakan tindakan harus terus menuai
Dengan harapan impian yang akan dapat dicapai
Perpanjangkan angan-angan
Karena akan membuat semangat terus dibelai
Bakar musnah layu tak berdaya
Karena hanya akan menjadikan alasan
Tuk terus berdiam diri
Sampai diri tak mampu lagi bergerak untuk selamanya
Tak bermakna dalam hidup jika diam
Tak berpenghasilan diri jika terbengkalai
Gerakan tindakan harus terus menuai
Dengan harapan impian yang akan dapat dicapai
Perpanjangkan angan-angan
Karena akan membuat semangat terus dibelai
Bakar musnah layu tak berdaya
Karena hanya akan menjadikan alasan
Tuk terus berdiam diri
Sampai diri tak mampu lagi bergerak untuk selamanya
Sepi
Kadang diri tak mampu menguasai perjalan hati
Menuju terbang bebas tak terkendali
Berkelana sendiri melintasi hari
Dan tak mampu untuk menghindari sepi
Mata pun berkelana dalam perjalanan panjang
Tak ingin menoleh orang-orang yang terdampar
Tersingkir tak dapat bertindak
Mati karena diterjang
Kaku karena tak berkemampuan
Dalam hening mungkin mereka melihat
Namun...
Lari kembali meninggalkan kebodohan itu
Kebodohan yang tak hendak dicapai
Tak hendak diakui namun terus tampak tak terkendali
Menuju terbang bebas tak terkendali
Berkelana sendiri melintasi hari
Dan tak mampu untuk menghindari sepi
Mata pun berkelana dalam perjalanan panjang
Tak ingin menoleh orang-orang yang terdampar
Tersingkir tak dapat bertindak
Mati karena diterjang
Kaku karena tak berkemampuan
Dalam hening mungkin mereka melihat
Namun...
Lari kembali meninggalkan kebodohan itu
Kebodohan yang tak hendak dicapai
Tak hendak diakui namun terus tampak tak terkendali
Kamis, 27 Desember 2007
AYAH
Terkadang tak terpikir dalam menjalankan hidup ini akan peran besarnya terhadap diri. Bahkan terkadang ku seolah menutup mata dan melupakan jasa besarnya.
Tidakkah menjadi perhatian, diri ini tumbuh dan berkembang dengan hampir sangat sempurna karena salah satunya atas usahanya atas diri ini. Dan lihatlah posisi yang diraih saat ini, apakah itu terlepas dari jasa beliau? Tidak sama sekali tidak
Beliau dahulu selalu berada di sampingku, bahkan ku menangisinya ketika tak berada di pangkuanku. Tapi sekarang apakah aku berlaku demikian? Belum tentu Tapi di balik itu semua, aku dahulu merindukan keberadaanya, mendambakan rasa kasih sayangnya, dan pastinya, merasa tenang dan damai bila berada dalam pelukan hangatnya.
Dia lah sosok kuat nan tegar dalam menghidupi suasana rumah. Dialah sang pemimpin yang sangat perkasa. Sang manager keluarga yang super profesional, sehingga dapat menghasilkan sosok diri ini. Sosok yang mungkin didambakan beliau dahulu. Sosok yang beliau saat ini banggakan.
Yah dialah AYAH
Sangat jelas diingatan. Kau dahulu mampu menggendongku dan kakakku sekaligus di atas bahumu. Bahkan sesekali ku menarik rambutmu hanya untuk memberi keseimbangan diriku. Yang kesemuanya hanya untuk membuatku tertawa. Hanya tuk membuatku bahagia. Hanya untuk memberi pengetahuan kepadaku bagaimana rasanya berada pada posisi ketinggian.
AYAH
Ku ingat Kau membawa ku ke suatu tempat bersama dengan kakak. Yah Kau sendiri yang membawa kami berdua menaiki bus angkutan umum dan menyeberangi sungai dengan sebuah kapal angkutan umum tuk menunjukkan kepada kami dunia luar. Seolah saat itu Kau berkata, Nak, dunia tak sebatas di dalam rumahmu, di keluargamu, atau bahkan disekitarmu saat ini. Lihatlah duniamu ada daratan. Tapi jangan lupakan duniamu juga ada perairan.
AYAH
Tiap pagi Kau berangkat kerja tuk menafkahi keluargamu dengan sepeda tuamu, kendaraan kesayanganmu satu-satunya, senjata hidupmu. Padahal ku tahu, jarak yang Kau tempuh tak dekat. Butuh waktu lama tuk menjangkaunya. Namun Kau tetap teguh pendirian tuk setia pada senjata hidupmu itu. Demi istrimu, demi anak-anakmu, demi seluruh keluargamu. Yang Kau lupakan dirimu demi semua itu.
Setelah pulangnya dari tempat kerja, Kau tertidur pulas di bilik keluarga. Bahkan terkadang keringatmu menyertai nyenyaknya tidurmu. Nafasmu terengah. Kulitmu kuperhatikan memerah karena teriknya sinar sang mentari menyapamu. Semua itu Kau relakan demi keluargamu.
Padahal dengan uang yang Kau raih, Kau dapat membeli kendaraan bermesin yang tidak melelahkanmu. Atau setidaknya Kau dapat naik angkutan umum yang tidak membuat kulitmu berteriak kepanasan. Tidak Tidak Semua itu tak Kau lakukan. Karena cerdasnya manajemen keluargamu. Kuatnya rasa khawatirmu terhadap kebutuhan keluarga. Terlebih terhadap Kami, anak-anakmu.
AYAH
Kulihat ada orang yang rela menjerumuskan dirinya dalam dosa demi menafkan keluarganya. Yah.. demi kecintaaanya terhadap keluarganya, tentunya. Namun Kau kulihat, tak rela membiarkan diri-diri Kami dalam keluargamu menyentuh panasnya nafkah setan, tak berkahnya harta haram. Padahal ku tahu, semua itu disertai dengan konsekuensi yang berat. Kau harus bekerja banting tulang. Demi semua itu, ku salut, Kau merelakannya.
AYAH
Kau tak henti-hentinya menunjukkan ketegaranmu di hadapan anggota keluragamu. Padahal ku tahu Kau lelah, Kau letih, Kau sangat butuh pertolongan kami. Ku tahu beban itu sangat berat sekali untuk Kau pikul sendiri. Tapi Kau tersenyum dan dengan hangatnya Kau memeluk dan menciumku. Yah mungkin dengan ulah manjaku semua rasa itu dapat lenyap.
AYAH
Terlihat sekarang Kau telah banyak berubah. Setelah sekian lama tak berjumpa. Kulitmu tak sekencang dulu, saat Kau masih berjiwa muda. Satu per satu rambutmu dipenuhi hiasan putih yang menandakan saat ini Kau tak muda lagi. Tubuhmu seolah tak mampu lagi menopang jiwa semangatmu yang masih menggebu, sehingga terkadang lelah dengan mudahnya menyerangmu. Rentamu terselimuti penyakitmu yang silih berganti pergi.
Ayah sekarang Kau telah banyak berubah. Masamu tak lagi seperti dahulu. Saat semua penuh semangat, penuh gairah, penuh dengan perjuang keras. Kau tetap tuk meraih semua itu. Kau tunjukkan padaku bahwa dirimu tak kalah dengan usiamu.
Ku tahu, AYAH semua itu adalah pelajaran yang diperuntukkan kepadaku. Namun rasa egoisku terkadang enggan tuk menerimanya, enggan tuk melakukannya, bahkan terkadang menentangnya dengan tindakan. Yang semua itu membuatmu sedikit kecewa terhadap diri walau tak Kau nampakkan secara nyata di wajahmu.
Aku yang telah beranjak dewasa, merasa tak pantas lagi berjalan berdampingan dengan mu. Yah dengan berdalih aku telah dewasa. Padahal saat ini, dialah yang membutuhknku, butuh tuntunanku saat ia berjalan, butuh arahanku saat matanya tak awas lagi melihat dunia yang seolah telah Kau telan mentah-mentah. Bahkan terkadang Kau dengan bersusah payah pergi ke tempat tujuanmu sendiri karena Kau tak ingin menyusahkan orang lain. AYAH kumohon,, katakanlah kalimat itu. Tolong Nak!
Sekarang hanya dapat ku bayangkan wajah tegarmu, tubuh perkasamu, jiwa sejukmu. Karena Kau telah berada jauh dariku. Karena Kau tak lagi di sampingku.
Jasamu kan selalu kukenang, kan selalu ku abdikan, kan selalu ku terapkan untuk kehidupanku. Karena itulah yang Kau ingin selama ini. Kau ingin ku tegar sepertimu, perkasa sepertimu, kuat sepertimu. Akan dan selalu akan kulakukan semua.
Terima kasih AYAH. Smg semua jasamu beriringan dg kebaikanmu, semuanya diterima sbg amalan bekalmu di Hari Pertimbangan kelak.
Tidakkah menjadi perhatian, diri ini tumbuh dan berkembang dengan hampir sangat sempurna karena salah satunya atas usahanya atas diri ini. Dan lihatlah posisi yang diraih saat ini, apakah itu terlepas dari jasa beliau? Tidak sama sekali tidak
Beliau dahulu selalu berada di sampingku, bahkan ku menangisinya ketika tak berada di pangkuanku. Tapi sekarang apakah aku berlaku demikian? Belum tentu Tapi di balik itu semua, aku dahulu merindukan keberadaanya, mendambakan rasa kasih sayangnya, dan pastinya, merasa tenang dan damai bila berada dalam pelukan hangatnya.
Dia lah sosok kuat nan tegar dalam menghidupi suasana rumah. Dialah sang pemimpin yang sangat perkasa. Sang manager keluarga yang super profesional, sehingga dapat menghasilkan sosok diri ini. Sosok yang mungkin didambakan beliau dahulu. Sosok yang beliau saat ini banggakan.
Yah dialah AYAH
Sangat jelas diingatan. Kau dahulu mampu menggendongku dan kakakku sekaligus di atas bahumu. Bahkan sesekali ku menarik rambutmu hanya untuk memberi keseimbangan diriku. Yang kesemuanya hanya untuk membuatku tertawa. Hanya tuk membuatku bahagia. Hanya untuk memberi pengetahuan kepadaku bagaimana rasanya berada pada posisi ketinggian.
AYAH
Ku ingat Kau membawa ku ke suatu tempat bersama dengan kakak. Yah Kau sendiri yang membawa kami berdua menaiki bus angkutan umum dan menyeberangi sungai dengan sebuah kapal angkutan umum tuk menunjukkan kepada kami dunia luar. Seolah saat itu Kau berkata, Nak, dunia tak sebatas di dalam rumahmu, di keluargamu, atau bahkan disekitarmu saat ini. Lihatlah duniamu ada daratan. Tapi jangan lupakan duniamu juga ada perairan.
AYAH
Tiap pagi Kau berangkat kerja tuk menafkahi keluargamu dengan sepeda tuamu, kendaraan kesayanganmu satu-satunya, senjata hidupmu. Padahal ku tahu, jarak yang Kau tempuh tak dekat. Butuh waktu lama tuk menjangkaunya. Namun Kau tetap teguh pendirian tuk setia pada senjata hidupmu itu. Demi istrimu, demi anak-anakmu, demi seluruh keluargamu. Yang Kau lupakan dirimu demi semua itu.
Setelah pulangnya dari tempat kerja, Kau tertidur pulas di bilik keluarga. Bahkan terkadang keringatmu menyertai nyenyaknya tidurmu. Nafasmu terengah. Kulitmu kuperhatikan memerah karena teriknya sinar sang mentari menyapamu. Semua itu Kau relakan demi keluargamu.
Padahal dengan uang yang Kau raih, Kau dapat membeli kendaraan bermesin yang tidak melelahkanmu. Atau setidaknya Kau dapat naik angkutan umum yang tidak membuat kulitmu berteriak kepanasan. Tidak Tidak Semua itu tak Kau lakukan. Karena cerdasnya manajemen keluargamu. Kuatnya rasa khawatirmu terhadap kebutuhan keluarga. Terlebih terhadap Kami, anak-anakmu.
AYAH
Kulihat ada orang yang rela menjerumuskan dirinya dalam dosa demi menafkan keluarganya. Yah.. demi kecintaaanya terhadap keluarganya, tentunya. Namun Kau kulihat, tak rela membiarkan diri-diri Kami dalam keluargamu menyentuh panasnya nafkah setan, tak berkahnya harta haram. Padahal ku tahu, semua itu disertai dengan konsekuensi yang berat. Kau harus bekerja banting tulang. Demi semua itu, ku salut, Kau merelakannya.
AYAH
Kau tak henti-hentinya menunjukkan ketegaranmu di hadapan anggota keluragamu. Padahal ku tahu Kau lelah, Kau letih, Kau sangat butuh pertolongan kami. Ku tahu beban itu sangat berat sekali untuk Kau pikul sendiri. Tapi Kau tersenyum dan dengan hangatnya Kau memeluk dan menciumku. Yah mungkin dengan ulah manjaku semua rasa itu dapat lenyap.
AYAH
Terlihat sekarang Kau telah banyak berubah. Setelah sekian lama tak berjumpa. Kulitmu tak sekencang dulu, saat Kau masih berjiwa muda. Satu per satu rambutmu dipenuhi hiasan putih yang menandakan saat ini Kau tak muda lagi. Tubuhmu seolah tak mampu lagi menopang jiwa semangatmu yang masih menggebu, sehingga terkadang lelah dengan mudahnya menyerangmu. Rentamu terselimuti penyakitmu yang silih berganti pergi.
Ayah sekarang Kau telah banyak berubah. Masamu tak lagi seperti dahulu. Saat semua penuh semangat, penuh gairah, penuh dengan perjuang keras. Kau tetap tuk meraih semua itu. Kau tunjukkan padaku bahwa dirimu tak kalah dengan usiamu.
Ku tahu, AYAH semua itu adalah pelajaran yang diperuntukkan kepadaku. Namun rasa egoisku terkadang enggan tuk menerimanya, enggan tuk melakukannya, bahkan terkadang menentangnya dengan tindakan. Yang semua itu membuatmu sedikit kecewa terhadap diri walau tak Kau nampakkan secara nyata di wajahmu.
Aku yang telah beranjak dewasa, merasa tak pantas lagi berjalan berdampingan dengan mu. Yah dengan berdalih aku telah dewasa. Padahal saat ini, dialah yang membutuhknku, butuh tuntunanku saat ia berjalan, butuh arahanku saat matanya tak awas lagi melihat dunia yang seolah telah Kau telan mentah-mentah. Bahkan terkadang Kau dengan bersusah payah pergi ke tempat tujuanmu sendiri karena Kau tak ingin menyusahkan orang lain. AYAH kumohon,, katakanlah kalimat itu. Tolong Nak!
Sekarang hanya dapat ku bayangkan wajah tegarmu, tubuh perkasamu, jiwa sejukmu. Karena Kau telah berada jauh dariku. Karena Kau tak lagi di sampingku.
Jasamu kan selalu kukenang, kan selalu ku abdikan, kan selalu ku terapkan untuk kehidupanku. Karena itulah yang Kau ingin selama ini. Kau ingin ku tegar sepertimu, perkasa sepertimu, kuat sepertimu. Akan dan selalu akan kulakukan semua.
Terima kasih AYAH. Smg semua jasamu beriringan dg kebaikanmu, semuanya diterima sbg amalan bekalmu di Hari Pertimbangan kelak.
Langganan:
Postingan (Atom)
