Sabtu, 25 Oktober 2008

TINGKAH SANG AUDITOR

Sang auditor akan melakukan pemeriksaan belanja daerah. Belanja apapun harus diperiksa. Sekecil apapun, apalagi gede, itu mah kudu’. Nah sewaktu Sang Auditor akan datang ke daerah yang akan diperiksa, eh… ternyata di sana masih ada bau-bau lebarannya. Halal bi halal sedang berlangsung (Gila’ lebarannya kok ga’ abis-abis ya’. Secara ini udah memasuki tanggal 27 Syawal gituh loh…). So… Ikut maap-maapan dah kita, gabung ama orang Pemda sono. Eh ada kata sambutan pula yang khusus diberikan kesempatan kepada Tim Sang Auditor dengan mengatasnamakan stakeholders-nya pemda (Maksa banget… ). Sambutan disampaikan oleh Sang Ketua Tim Auditor yang intinya berisi mohon maap lahir batin apabila selama ini ada salah. (loh??? Kapan buat salahnya??? Ketemu aja baru kali ini…)
Karena belum pada kenal, so point pertama pada pembukaan pertemuan ini (entry briefing) adalah saling kenalan dulu. Eh ternyata di sana banyak yang single di sini pun banyak yang single. So, ingle-single lan oi… single-single lan… cubit-cubitan oi… (loh?!). Yang pastinya, yang dah merasa tua usil untuk jodoh-jodohin sesama single tapi dengan yang beda jenis kelaminnya pastinya (ya iyalah….)
Tuing…. Tuing…. Tuing…. Jalan menuju hotel kok banyak yang bolong. So Joget-jogetan oi… joget-jogetan… (mobilnya maksudnya).
“Nah ini bisa jadi bahan pertama pemeriksaan”, ide gila Sang Auditor dalam pencarian objek pemeriksaan mulai kumat.
Liat kanan kiri, “kok banyak kubangan di jalanan yah? Wah ini kagak bener neh!” Pas ngeliat saluran pembuangan airnya, ”kok kecil amir yak? Ini nih yang buat jalan mudah rusak. Satu lagi bahan pemeriksaan guwe!” Jreng… Jreng… Jreng…

***

Hari ke sekian dari pemeriksaan.
“Ah… pengen ngecek jalan yang kemaren rusak. Secara teori guwe dah tau. Sekarang pengen ngecek secara nyatanya.”
Sang Auditor lalu meminta seseorang untuk menggali jalan tersebut beberapa meter untuk mengecek ketebalan aspal yang telah dibuat.
“Bener gak struktur tanah dan memang cocok gak dengen kontraknya?”
Setelah menggali, Sang Penggali berteriak bahwa ada yang keras-keras di bawahnya sehingga agak sulit untuk digali. Pas Sang Auditor meneliti tiba-tiba Sang Auditor menjerit, “HARTA KARUUUUNNNN…!!!”
Dan Sang Penggali pun ikut-ikutan histeris, “Wuaaaaa….. Kita kaya!!!”
Ternyata sekarang mereka kompak, bekerja sama menggali tanah, bahkan Sang Auditor yang lebih giat menggali dibanding Sang Penggali. Penggalian makin dalam dan makin lebar kemudian dapat diangkatlah peti besi itu. Sambil menghilangkan peluh demi peti itu, Sang Auditor tiba-tiba kaget dengan kondisi jalan yang berlobang luar biasa guwede karena semangat penggalian yang luar biasa tadi.
“Ah… Bodo’ amat. Gampang ditimbun dan diaspal lagi dengan duit hasil harta karun ini,” pikir Sang Auditor.
Eh... Terlupakanlah tujuan utama Sang Auditor singgah di kota itu akibat dari ulah Sang Penggali yang menemukan peti itu.
Karena sulit dibuka akhirnya Sang Penggali dan Sang Auditor sepakat untuk membuka segel garansi peti itu (LOH?!) dan rusaklah peti itu akibat dari tindak kekerasan yang luar biasa brutal. Semua terpaku pada Sang Peti ketika Sang Auditor membuka perlahan-lahan membuka peti itu. Setelah dibuka…. Jreng….. Jreng…. Jreng….. Ternyata isinya kertas-kertas dan buku-buku tua. Kecewalah mereka semua. Namun Sang Ketua Auditor malah berbinar-binar matanya ketika melihat tulisan pada kertas itu. Ternyata itu adalah dokumen-dokumen pengadaan pembuatan jalan yang asli. Lengkap….kap….kap…. Dan dokumen yang mereka terima dari Dinas PU pada waktu sebelumnya adalah dokumen yang palsu…su…su….
“Cihuy…. Bahan laporan temuan pemeriksaan kita dapat banyak neh...!! Hore…!!” Menari dan Bergembiralah semua Sang Auditor yang berjumlah lima orang itu walaupun peti itu bukanlah berisi harta karun yang diidamkan sebelumnya.

***

Menuju ke Dinas PU, Sang Auditor tampak sangat riang gembira. Mereka langsung menanyakan (lebih tepatnya mengklarifikasi) hal-hal yang berkaitan dengan dokumen yang ditemukan tersebut. Karena merasa terpojok, Sang Pemain di Dinas PU menawarkan pada Sang Auditor voucher belanja 5 (lima) hari di Matahari, liburan ke Bali 1 (satu) minggu, dan penginapan di hotel berbintang tujuh, serta tiket pulang pergi Lampung-Jakarta (Jakarta-Bali-Jakartanya biaya sendiri karena dananya sudah tidak cukup lagi).
Ditawarin seperti itu, terang saja Sang Auditor langsung berdiri dengan muka yang merah padam dengan mata yang ikut memerah (karena ngantuk…) lalu berteriak lantang,
“Apa-apaan ini!!! Masak Jakarta-Bali-Jakartanya beli sendiri. Jangan Gila dong!!!”
Orang-orang PU sontak langsung keblingsatan memikirkan cara lain dan menawarkan bagaimana kalau vouchernya digantikan untuk tiket tersebut. Sang Auditor tersenyum dan berkata,
“Semua masalah tersebut akan saya laporkan pada Temuan Pemeriksaan kami.”
Terang saja Sang Kepala PU sontak memegang dadanya karena penyakit jantungnya yang tiba-tiba kumat…nyut….nyut…nyut…. Kemudian dengan menahan sakit lalu ia berkata,
“Oke. Kalau begitu semua akan kami penuhi dengan tanpa ada yang kami kurangi, malah akan kami tambah dengan oleh-oleh sebagai kenang-kenanganan dari Bali untuk keluarga kalian di rumah. Dan untuk pegawai PU seluruhnya diharapkan untuk prihatin di bulan ini karena gaji kalian semua akan dipotong 90% untuk biaya Sang Auditor berlibur ke Bali.”
Mendengar perkataan Sang Kepala PU, Sang Auditor langsung menyalaminya dengan berkata, “Kau memang tiada duanya.” Dan tak lupa ia berkata, “terima kasih ya.”
Namun, di ruangan lain, di klinik di lingkungan Pemda tiba-tiba mendadak sibuk kebanjiran pasien dari Dinas PU karena mendengar ucapan atasan mereka tadi yang langsung semaput (pingsan).”

***

Dengan santai, Sang Auditor menikmati liburan yang diberikan oleh penghuni Dinas PU dengan melupakan segala beban yang ada pada pemeriksaan di Dinas PU tersebut. Waktu pemeriksaan telah berakhir seiring dengan berakhir pula liburan Sang Auditor. Terlihat setelah Tugas Pemeriksaan wajah yang cerah pada Sang Auditor dengan raut muka yang sangat….sangat… sumringah. Sangat tidak terlihat raut muka kelelahan yang jelas tampak pada Tim Sang Auditor yang bertugas di daerah lainnya. Setelah tiba waktu untuk pembuatan laporan, Sang Auditor bekerja dengan senang riang gembira karena seluruh pembuatannya telah dilakukan oleh Pegawai Pemda di Dinas PU yang diperiksanya tersebut sehingga Sang Auditor hanya melakukan editting seperlunya sesuai dengan format yang diminta oleh instansi tempat Sang Auditor mengabdi.
“Ah… Nikmatnya hidup,” pikir Sang Auditor.
Selebihnya, Sang Auditor berselancar bebas di dunia maya yang memang disediakan oleh instansi Sang Auditor sebagai fasilitas kantor dengan alasan menjalin silaturahim dengan orang-orang, yang baik dikenal maupun tidak. Sang Auditor ber-ceting ria mulai dari obrolan yang tidak penting, sangat tidak penting, sampai ke obrolan yang benar-benar sangat tidak penting sekali.

Ketika hampir tiba jadwal review oleh atasan atas temuan yang dibuat dengan keharusan adanya pemaparan temuan dari Sang Auditor, Sang Auditor baru mearasakan pusing tujuh keliling kampung (Loh kok bisa? Ya iyalah masak iya pun). Ia sadar memang ia tidak mengerti dengan yang ada pada laporan pemeriksaan yang diserahkannya tersebut. Tiba-tiba ia merasa panas dingin…. karena ia berada di dekat kompor yang di sampingnya ada kulkas yang pintunya lupa ditutup. (Halagh… Gubrak…)
Tiba-tiba Sang Auditor baru menyadari bahwa dokumen yang diberikan sebagai laporan temuan tersebut sempat ia copy terlebih dahulu. Ia lalu mengorek-ngorek kembali tas kerjanya. Ternyata barang yang dimaksud untuk ia pelajari untuk presentasi ke atasannya masih setia berada di sana. Tersenyum manislah Sang Auditor. Oh….

Rabu, 15 Oktober 2008

Tersenyum

Bahagia di kala ceria
Tak terhingga akan keindahan dunia
Berkata untuk memuja
Di mana semua akan bertindak
Berlaku dalam pelaksanaan baku
Tak sanggup untuk menggapai
Namun...
Semua telah memberi
Semua telah berbaik hati
Akankah aku akan membalas ini semua
Belum tentu bisa
Bahkan tidak mungkin
Karena semua itu membahana dan berkelanjutan
Terima kasih hanya mampu ku ucap
Kepada insan yang berbaik hati

Bermain dalam Kehidupan

Terkadang kebisingan dunia membuat kita jengah akan peradaban yang saat ini sedang kita jalani. Kita dengan sangat menginginkan hilangnya kepenatan dalam diri sehingga jalanya roda kehidupan ini dapat terlaksana dengan penuh keikhlasan dan kesejukan di hati. Namun, apa yang diharapkan terkadang tak jua sirna. Peluh semakin tertumpuk bagai dedaunan pada belantara hutan rimba. Dan juga kelamnya Sang Malam tak jua menunjukkan tanda-tanda akan datangnya Sang Pagi. Perasaan itulah yang membuat datangnya Sang Keputusasaan. Dengan merajai jiwa, ia terus mengikis jiwa dan semangat manusia untuk terus berjuang. Apakah manusia tak dapat bertindak lagi?
Yah… pertanyaan inilah yang terus menjadi pertanyaan ‘klise’ di saat pertanyaan-pertanyaan lain tidak terpikirkan di dalam suatu forum diskusi para mahasiswa ataupun para profesional. Seyogyanya memang sangat mudah memperoleh tips hidup karena jaringan komunikasi yang telah sangat canggih di zaman ini. Dengan mudahnya kita berselancar pada dunia maya, internet. Ataupun dengan tidak mengenal batas jarak, kita dapat menghungi teman, sahabat, maupun saudara kita setiap saat untuk berbagi saran ataupun nasehat agar terus menyemangati kehidupan kita. Tapi bukan itu yang menjadi hambatan apakah rasa manisnya hidup itu dapat terus kita nikmati atau tidak. Bukanlah menjadi inti.
Sepatutnya manusia sadar diri akan keberadaan dirinya pribadi. Apakah ia hanya menggantungkan kehidupan pribadi sepenuhnya pada sarana dan prasarana kehidupan yang ia miliki saat ini atau tidak? Itulah yang menjadi hambatan dalam hidup. Manusia memang layak untuk memperoleh sejumlah nilai, baik itu uang, kehormatan, jabatan, ataupun bentuk lainnya atas usaha yang telah ia laksanakan. Namun, tidak patut menjadi sebuah alasan bila manusia menjadikan semua itu sebagai nilai kebanggaan dirinya, bahkan menjadi suatu nilai candu bagi dirinya.
Kita hanyalah manusia yang dengan akal logika menyadari bahwa kekuatan alam itu selalu berlaku. Perputaran roda kehidupan itu akan terjadi pada setiap jiwa yang memiliki nyawa. Sebesar apapun tenaga yang kita kerahkan untuk membentengi diri tidak akan melunturkan apa yang menjadi ketentuan bagi dirinya. Semua memiliki kendali dan pengatur yang dikuasai seluruhnya oleh Sang Pemilik Kekuatan yang Maha Dahsyat.
Dalam diri manusia memiliki panggilan jiwa untuk bertahan. Namun, bila semua ketidakberdayaan menyelimuti diri dan keterpurukan yang menjadi bisikan utama, kita tidak dapat berpikir jernih apakah semua ini berlaku baik atau tidak, yang terpenting adalah semua beban terpecahkan sempurna walau hanya untuk sementara.
Di sinilah letak titik pertentangan antara manusia yang dapat berpikir bijak dengan manusia yang dijajah oleh rasa kekalutan. Manusia bijak menyadari sepenuhnya bahwa manusia hidup tidak akan lepas dari masalah, baik itu masalah kecil ataupun masalah yang serasa dapat mengakhiri hidup ini. Bila satu masalah hidup terselesaikan, tidak akan pernah terjadi bahwa masalah lain menolak untuk menghampiri. Semakin tinggi perjuangan yang ia kerahkan, semakin besar pula terjangan yang akan ia hadapi. Yang menjadi kunci permasalahan hidup di sini adalah sikap hidup kita dalam menghadapinya.
Banyak manusia yang hidupnya penuh dengan sumpah serapah dalam ucapannya walaupun ia menghadapi kebaikan bagi dirinya. Banyak pula manusia yang hanya berdiam diri dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan namun ia ledakkan sewaktu-waktu apabila dirasa telah sangat membebani. Dan banyak pula manusia dengan santainya menikmati setiap liku kehidupan dengan jiwa menerima apa adanya. Bukan karena ia tak mampu untuk membentengi diri tapi ia ingin terus hidup dengan konsekuensi ia harus terus menyelami semua liku kehidupan tersebut.
Tidak dapat dipungkiri bahwa semua yang kita miliki dapat menjadi sarana dalam memperindah kehidupan ini namun hanya memiliki sifat yang sementara. Hakekat perjuangan ini adalah apakah manusia memiliki semangat yang tinggi, yang tak akan lekang pada kuatnya terjangan badai yang menghampiri. Pasang surut semua itu yang dapat terjadi karena permasalahan hidup memang tidak dapat terelakkan. Tapi, yang pastinya kita memiliki sandaran hidup yang memiliki jiwa penyemangat. Hampirilah ia. Jangan kita lupakan keberadaannya. Kapanpun itu, pastinya kita akan menyadari bahwa keberadaannya sangat kita butuhkan. Hakekat kehidupan terletak pada manusia itu sendiri yang bersumber pada Tuhan yang wajib menjadi Penopang kehidupan kita, tempat berserah diri kita. Dialah Sang Hakiki. Tak kenal waktu dan zaman karena Dia yang menguasainya. Ingatlah kapanpun itu, walaupun sekarang kita tidak menyadarinya, panggilan jiwa ketuhanan kita pasti akan berbisik tajam untuk segera terpenuhi. Kembailikanlah semua pada-Nya. Jalani kehidupan kita sewajarnya dan seoptimal mungkin. Karena hakekatnya kita wajib berusaha tanpa tahu kapan usaha kita akan berakhir. Ingatlah, sekali lagi ingatlah, bahwa hidup tak hanya sekali. Dunia ini hanyalah tempat permainan, seutuhnya hidup adalah pada akhirat kelak. Layakkah kita hanya bermain dan bersenang-senang di sini tanpa ada pelajaran yang kita ambil dari permainan tersebut. Hanya diri kita pribadi yang hanya bisa menjawabnya? Sedini mungkin semua itu harus tertanam dalam jiwa pribadi manusia seutuhnya.
Selamat menjalani kehidupan dengan rasa optimis akan manisnya kehidupan di akhirat kelak. Seperti apa itu? Bahkan akal pikiran pun tak dapat membayanginya.