Tak selamanya hidup ini penuh dengan derita. Karena suka pun selalu menghiasi kehidupan yang indah ini.
“kapan sampe di sini, Pras” pagi itu ia menegur diri.
“kemaren pagi pak” sambil berjalan pulang dari sholat shubuh meninggalkan masjid dengan setengah kaget dan bingung “ kok bapak itu tahu namaku ya?” bisikku
“dah langsung ditempatkan kerja kan?” tanyanya kembali .
“alhamdulillah sudah Pak” sambil menundukkan diri, tak mampu menatap tatapannya yang dapat membuat hati menjadi riya.
***
Suasana baru dalam kehidupan yang baru telah ku raih. Setelah perjuangan menentang segala apa yang diidam-idamkan selama ini. berpenghujung pada kebahagiaan. Perjuangan itu menjadi sangat berarti.
“Pras, mau mengambil jurusan apa nanti untuk SPMB?”
”pengen banget sih masuk jurusan matematika. Tapi aku bingung, Wan, ke depannya kok gak ada harapan ya. Yah.. paling-paling jadi guru. Makanya kuberalih pengen masuk tehnik kimia ajalah” jawabku pada Iwan teman sekelasku.
“Yah enak kamu, masih nyambung dengan semua materi di sekolah. Lah aku ngitung aja susah banget. Nih liat nilai ujian matematikaku gak ada yang gede. Semua jeblok.”
Iya juga ya ku pikir. Aku harus bersyukur dengan apa yang kudapat saat ini. Tapi itu semua tak cukup membuatku berbangga hati.
“Tapi disisi lain kamu kan punya banyak sekali kelebihan dari ku, Wan. Dalam organisasi, kamu dah pernah jadi ketua OSIS. Sekarang juga organisasi tak pernah Kau tinggalkan. Kamu juga adalah sang orator ulung, terbukti dengan kamu selalu menjuarai lomba pidato yang kamu ikuti. Iya kan?!”
“Yah Pras.. itu kan gak di pake dalam ujian SPMB nanti…!!”
“Ye.. emangnya kamu mau pidato di SPMB nanti. Yang kumaksud itu kamu bisa mengembangkan itu semua yang dapat dijadikan modal untuk kehidupanmu kelak. Kita kan wajib berusaha. Toh yang nentuin juga kan Allah. Karena dialah yang punya otoritas akan semua itu.”
“ Okeh Bos,, thanks kawan..” senyum simpulnya menghiasi raut mukanya.
***
Tapi keadaan berbalik arah setelah Aku mengetahui hakekat dari kemandirian. Aku tak ingin menyusahkan orang lain , sekalipun itu orang tuaku.
“Bu, kan Pras bisa jualan sambil kuliah nantinya.” Pintaku padanya.
“Yah Ibu ngerti tekadmu Pras. Tapi Ibu tetap khawatir dengan keadaanmu nantinya. Ibu juga gak mau melepas mu dengan keadaan seperti itu.” Jawaban yang bijaksana dari Ibu setelah kunyatakan niatku yang ingin memasuki suatu perguruan tinggi ternama di luar kota.
“Masalah kos gak usah dipikirin banget. Nanti kan bisa nginep di masjid aja, jadi marbotnya gituh. Bu,,!!” jawabku dengan sambil tersenyum, tetapi dalam hati itu telah menjadi tekadku.
“Ye.. emangnya kamu mau kayak gituh. Lagian juga hidup terpisah itu mahal, Pras. Kamu tahu kan gaji ayah mu berapa sekarang. Kamu udah bisa makan dan sekolah tinggi aja udah syukur. Kalo orang lain belum tentu seperti kamu dengan gaji orang tuanya yang segitu..”
Ibu dengan bijak memaparkan yang telah menjadi pikirannya selama ini. Terpikirku untuk menjawab semua itu. Tapi aku tak tega dengan itu semua. Ibu, tak ingin kulukai hatimu. Tak ingin ku menjadi bebanmu untuk ke depannya. Tak ingin berkepanjangan hidupku selalu tergantung dengan mu.
Yah biarlah semua itu, yang telah ada kesempatan di depan mata, ku buang jauh. Karena aku harus beralih pada kehidupan baruku. Yang tak ada sama sekali dalam pikiranku sebelumnya. Sedikit pun tidak ada. Tapi demi berbakti ku pada mereka. Aku rela melepas itu semua. Walau sakit untuk dilalui.
***
“Pras kamu lulus,, selamat ya..!” telepon dari temanku setelah melihat pengumuman terlebih dahulu.
“Yang bener Yan?!”
“Iya, masak Aku tega bohongin Kamu sih”
“Alhamdulillah. Kamu gimana? Lulus juga kan?!” tanya ku balik kepadanya.
“Gak Pras, ah.. gak papalah, gak masalah kok.” Jawabnya dengan disertai tawa yang terdengar dari teleponku yang sangat terasa untuk menutupi kekecewaan diri.
“Mungkin rezeki kita berbeda yah Yan. Kamu pasti akan dapat tempat yang terbaik dari Allah pastinya ya..!”
Sangat jelas sekali perjalanan panjang itu yang kulalui. Dialah yang sangat berantusias sekali untuk memasuki “dunia aneh” itu. Aku pun tahu bukaan pendaftaran itu pun dari dia. Tapi mengapa aku yang terjerumus disini ya?! Ada tangan ALLAH SWT yang ikut andil dalam penentuan semua ini.
***
Ayahku memanggil ku dengan suara yang sedikit agak berbeda saat itu. Ia terlihat sangat berbahagia sekali. Setelah aku menghampirinya. Ia mengulurkan tangannya kepadaku, memberiku sepucuk surat.
“Apaan ini?” tanya ku.
“Surat dari Universitas yang Kau ajukan. Kamu lulus tanpa tes disana Pras.”
Muka ku merah. Besegera tanganku membuka amplop tersebut. dan tertulis jelas, dengan font paling besar dan dihitamkan yang berada pada posisi center tertuliskan LULUS. Baru kuperhatikan nama yang tertera di situ siapa tahu bukan namaku. Jantungku tambah berdebar kencang setelah namaku tertera disitu. Prastyawan Pramudya. Ya Allah rahasia apa lagi yang Kau anugerahkan padaku. Disisi lain itu merupakan kenikmatan yang patut ku syukuri. Namun di sisi lain ini, membuat ku bimbang dengan pilihan mana yang harus ku ambil.
***
Perjalanan perjuangan menuju masa depanku tak berhenti sampai di situ saja. Selama ku tak tahu harus kemana dan sebelum kepastian Aku masuk ke mana, ku ikuti tes yang bisa memenuhi syarat bagiku...(bersambung)
Senin, 31 Desember 2007
Perjuangan Masa Lalu (2)
Perjalanan perjuangan menuju masa depanku tak berhenti sampai di situ saja. Selama ku tak tahu harus kemana dan sebelum kepastian Aku masuk ke mana, ku ikuti tes yang bisa memenuhi syarat bagiku. Dan syukur alhamdulillah di saat yang sama pula aku lulus tes di universitas kedinasan yang berbasis Matematia. Tambah bingung pula Aku jadinya. Ada tiga plihan yang telah diberi-NYA untukku. Namun untuk yang terakhir ini harus mengikuti tes selanjutnya. Tes tahap ke-dua. Dan apabila ku mengikutinya. Aku harus rela meninggalkan salah satunya. Yang belum tentu aku lulus dalam mengikuti tes ini.
***
Yah
Kutinggalkan semua itu dengan penuh kerelaan. Allahlah yang punya rencana, manusia hanya wajib berusaha.
Ku mantapkan untuk mengambil yang telah pasti adanya. Sekolah kedinasan yang berbasis ekonomnilah yang kuambil. Yang sama sekali pada waktu di bangku sekolah tak ku hiraukan pelajaran itu.
Sangat sedikit sekali pelajaran dari perkuliahan yang ku dapat di sini. Namun aku juga harus dengan sekuat tenaga untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang, sehingga walupun tidak terlalu memuaskan, nilai ku tidak jelek-jelek banget. Minimal memenuhi syarat untuk tidak dikeluarkan karena dibawah standar nilai.
Kudapati perubahan jalan hidupku di sini. Walau dahulu ku kenal adanya jalan kehidupan indah di bangku sekolah. Tapi ruh itu belum ku dapat.
Yah..
Ruh kehidupan Islami (seperti itulah aku menyebutnya)
Pada awalnya aku membodohi diriku sendiri. Menganggap bahwa aku egois terhadap diriku sendiri. Yang berdampak pada rusaknya semua mata kuliah ku di semester awal (yang natinya berdampak pada semester selanjutnya). Namun penghibur, penyemangat hidup, yang pastinya guru pribadi kehidupan, ku dapatkan disini. Yah di jalan yang telah menyesatkan ku ini ke jalan yang menetramkan hati.
Terlepas dari semua itu. Pelajaran kehidupanlah yang banyak kudapat dijalan ini. Jalan dakwah lambat laun dapat ku kenal (walaupun sampai saat ini diri ini belum terjun bebas ke dalamnya). Namun perlahan dan pasti diri yakin untuk terjun secara penuh ke dalamnya.
***
Tak kusadari waktu berlari dengan kencangnya meninggalkanku yang terus menerus meraba jalan baru ku. Disaat orang-orang disekitarku melesat tajam. Aku masih terus meraba. Tapi dari itu semua. Aku bertekad untuk tetap berkomitmen di jalan indah ini. Jalan penuh dengan persaudaraan. Jalan penuh dengan saling mengingatkan. Jalan penuh dengan tarbiyah yang menunjang. Jalan yang penuh dengan perjuangan. Semoga idealis diri ini tak akan hilang untuk selamanya. Karena Aku yakin inilah Islamku. Agama yang sempurna, agama yang indah, yang tentunya agama yang mengarahkan manusia pada kebenaran yang hakiki, keselamatan dunia dan akhirat.
***
Yah
Kutinggalkan semua itu dengan penuh kerelaan. Allahlah yang punya rencana, manusia hanya wajib berusaha.
Ku mantapkan untuk mengambil yang telah pasti adanya. Sekolah kedinasan yang berbasis ekonomnilah yang kuambil. Yang sama sekali pada waktu di bangku sekolah tak ku hiraukan pelajaran itu.
Sangat sedikit sekali pelajaran dari perkuliahan yang ku dapat di sini. Namun aku juga harus dengan sekuat tenaga untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang, sehingga walupun tidak terlalu memuaskan, nilai ku tidak jelek-jelek banget. Minimal memenuhi syarat untuk tidak dikeluarkan karena dibawah standar nilai.
Kudapati perubahan jalan hidupku di sini. Walau dahulu ku kenal adanya jalan kehidupan indah di bangku sekolah. Tapi ruh itu belum ku dapat.
Yah..
Ruh kehidupan Islami (seperti itulah aku menyebutnya)
Pada awalnya aku membodohi diriku sendiri. Menganggap bahwa aku egois terhadap diriku sendiri. Yang berdampak pada rusaknya semua mata kuliah ku di semester awal (yang natinya berdampak pada semester selanjutnya). Namun penghibur, penyemangat hidup, yang pastinya guru pribadi kehidupan, ku dapatkan disini. Yah di jalan yang telah menyesatkan ku ini ke jalan yang menetramkan hati.
Terlepas dari semua itu. Pelajaran kehidupanlah yang banyak kudapat dijalan ini. Jalan dakwah lambat laun dapat ku kenal (walaupun sampai saat ini diri ini belum terjun bebas ke dalamnya). Namun perlahan dan pasti diri yakin untuk terjun secara penuh ke dalamnya.
***
Tak kusadari waktu berlari dengan kencangnya meninggalkanku yang terus menerus meraba jalan baru ku. Disaat orang-orang disekitarku melesat tajam. Aku masih terus meraba. Tapi dari itu semua. Aku bertekad untuk tetap berkomitmen di jalan indah ini. Jalan penuh dengan persaudaraan. Jalan penuh dengan saling mengingatkan. Jalan penuh dengan tarbiyah yang menunjang. Jalan yang penuh dengan perjuangan. Semoga idealis diri ini tak akan hilang untuk selamanya. Karena Aku yakin inilah Islamku. Agama yang sempurna, agama yang indah, yang tentunya agama yang mengarahkan manusia pada kebenaran yang hakiki, keselamatan dunia dan akhirat.
Kebersamaan Yang Merayap Pergi (2)
Setelah itu adzan menghantarkan kami dalam pulang perjalanan menuju rumah masing-masing, sehingga aku mengajaknya untuk singgah ke masid untuk menunaikan shalat isya terlebih dahulu. Ia pun memnuhinya tak merasa keberatan sedikit pun.
Di penghujung gang masuk menuju rumahku, yang juga sebagai jalan yang harus ia lewati menuju ke rumahnya, aku memberikan suatu yang sangat berharga bagiku. Suatu yang seharusnya menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagiku. Tak apalah. Dia pun sangat bahagia sekali dengan sesuatu yang ku berikan tersebut.
Itu awal keterpautan hatiku terhadap mereka. rasa cintaku kepada merka. Rasa cinta yang bukan hanya karena nafsu duniawi semata. Cinta yang benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam. Cinta yang tertuju hanya karena ALLAH semata. Mudah-mudahan perasaan cinta ini tak pudar dimakan waktu. Dan niat cinta ini terus tertuju kepada Sang Pemilik Cinta yang Hakiki semata.
Dan alhamdulillah perjumpaan tersebut dapat berlanjut ke perjumpaan tiap pekan kami. Walaupun aku tak sepenuhnya baik dalam pengetahuan dan ilmu, tapi forum perjumpaan tersebut ku usahakan untuk terus eksis dan berisikan materi-materi yang sebisanya aku sampaikan.
Dengan adanya perjumpaan tersebut aku termotivasi untuk terus menggali ilmu. Aku terus memotivasi diri untuk terus memperbaiki diri. Karena dengan penyampaianku kepada mereka, otomatis harus aku aplikasikan dalam perbuatanku yang tidak hanya sekedar ucapan belaka. Karena perkataan tanpa aplikasi perbuatan, akan menjadikan perkataan yang kering, tak berbobot, sepenting apapun itu.
Setiap perjumpaan dengan merekalah yang menjadikan penyemangat diri dalam beribadah. Wajah-wajah yang penuh dengan semangat. Wajah-wajah yang penuh dengan harapan.
Walaupun makin kini, makin berkurang jumlah tiap orangnya, tak membuatku surut dalam membimbing mereka. Walaupun satu orang pun tetap aku bertekad akan tetap kujalankan. Karena ALLAH sajalah yang berhak atas hidayah kepada umat-Nya. Aku hanyalah penyampai semua itu. Aku terus berusaha agar mereka terus dapat merasakan nikmatnya ber-Islam. Damainya ber-Islam. Tenang-Nya ber-Islam.
Dipertengahan perjalanan kulihat sosok yang mempunyai potensi yang patut untuk terus dikembangkan, sehingga aku menariknya untuk ikut dalam kelompokku. Dan alhamdulillah kelompokku jumlahnya bertambah satu.
Saat ini, alhamdulillah semua kurasa telah ada perubahan. Yang sekali lagi itu semua karena hidayah-Nya jua. Pertemuan rutin tetap berjalan walau sulitnya untuk membuat mereka semua untuk datang secara lengkap. Memang tiap pertemuan seringnya pasti ada yang absen. Itu tak menjadi masalah. Yang terpenting, hubunganku dengan mereka terus berlanjut.
Makin kini hubungan kami makin terasa bertambah rasa cinta itu dan memang waktu telah membatasi perjumpaanku dengan mereka. Hingga di malam iti aku pun harus menyerahkan kelompokku untuk dibina oleh orang lain, temanku. Serasa sulit sekali untuk melepas mereka. Karena mereka adalah salah satu lahan dakwahku yang ingin terus ku garap sampai benar-benar terlihat hasilnya.
Tapi memang ALLAH mempunyai skenario tersendiri atas hidup ku dan mereka. kuharap kelak perkembang mereka semakin melesat dengan berada dalam binaan temanku tersebut. dan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Cinta ini tak akan lepas. Kenangan ini tak akan hilang. Semoga perjumpaan kita akan terus berlanjut kelak. Walaupun tidak ada perjumpaan kita di dunia ini, semoga ALLAH mempertemukan kita di syurga-Nya kelak.
Di penghujung gang masuk menuju rumahku, yang juga sebagai jalan yang harus ia lewati menuju ke rumahnya, aku memberikan suatu yang sangat berharga bagiku. Suatu yang seharusnya menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagiku. Tak apalah. Dia pun sangat bahagia sekali dengan sesuatu yang ku berikan tersebut.
Itu awal keterpautan hatiku terhadap mereka. rasa cintaku kepada merka. Rasa cinta yang bukan hanya karena nafsu duniawi semata. Cinta yang benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam. Cinta yang tertuju hanya karena ALLAH semata. Mudah-mudahan perasaan cinta ini tak pudar dimakan waktu. Dan niat cinta ini terus tertuju kepada Sang Pemilik Cinta yang Hakiki semata.
Dan alhamdulillah perjumpaan tersebut dapat berlanjut ke perjumpaan tiap pekan kami. Walaupun aku tak sepenuhnya baik dalam pengetahuan dan ilmu, tapi forum perjumpaan tersebut ku usahakan untuk terus eksis dan berisikan materi-materi yang sebisanya aku sampaikan.
Dengan adanya perjumpaan tersebut aku termotivasi untuk terus menggali ilmu. Aku terus memotivasi diri untuk terus memperbaiki diri. Karena dengan penyampaianku kepada mereka, otomatis harus aku aplikasikan dalam perbuatanku yang tidak hanya sekedar ucapan belaka. Karena perkataan tanpa aplikasi perbuatan, akan menjadikan perkataan yang kering, tak berbobot, sepenting apapun itu.
Setiap perjumpaan dengan merekalah yang menjadikan penyemangat diri dalam beribadah. Wajah-wajah yang penuh dengan semangat. Wajah-wajah yang penuh dengan harapan.
Walaupun makin kini, makin berkurang jumlah tiap orangnya, tak membuatku surut dalam membimbing mereka. Walaupun satu orang pun tetap aku bertekad akan tetap kujalankan. Karena ALLAH sajalah yang berhak atas hidayah kepada umat-Nya. Aku hanyalah penyampai semua itu. Aku terus berusaha agar mereka terus dapat merasakan nikmatnya ber-Islam. Damainya ber-Islam. Tenang-Nya ber-Islam.
Dipertengahan perjalanan kulihat sosok yang mempunyai potensi yang patut untuk terus dikembangkan, sehingga aku menariknya untuk ikut dalam kelompokku. Dan alhamdulillah kelompokku jumlahnya bertambah satu.
Saat ini, alhamdulillah semua kurasa telah ada perubahan. Yang sekali lagi itu semua karena hidayah-Nya jua. Pertemuan rutin tetap berjalan walau sulitnya untuk membuat mereka semua untuk datang secara lengkap. Memang tiap pertemuan seringnya pasti ada yang absen. Itu tak menjadi masalah. Yang terpenting, hubunganku dengan mereka terus berlanjut.
Makin kini hubungan kami makin terasa bertambah rasa cinta itu dan memang waktu telah membatasi perjumpaanku dengan mereka. Hingga di malam iti aku pun harus menyerahkan kelompokku untuk dibina oleh orang lain, temanku. Serasa sulit sekali untuk melepas mereka. Karena mereka adalah salah satu lahan dakwahku yang ingin terus ku garap sampai benar-benar terlihat hasilnya.
Tapi memang ALLAH mempunyai skenario tersendiri atas hidup ku dan mereka. kuharap kelak perkembang mereka semakin melesat dengan berada dalam binaan temanku tersebut. dan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Cinta ini tak akan lepas. Kenangan ini tak akan hilang. Semoga perjumpaan kita akan terus berlanjut kelak. Walaupun tidak ada perjumpaan kita di dunia ini, semoga ALLAH mempertemukan kita di syurga-Nya kelak.
Kebersamaan Yang Merayap Pergi (1)
Telah jauh dalam jarak tuk menggapai semua yang ku inginkan.
Kecintaan tarhadap sesuatu menjadikan ku sulit melepas semua itu. Begitupun juga terhadap mereka. Sulit ku untuk menjauhi mereka. Hati telah terpaut bersama mereka. Semua kenangan masih melekat dalam pikiran. Awal perjuanganku diawali kebersamaan dengan mereka. Semua sulit dan mungkin tak akan terlupakan.
Kebersamaan itu berawal pada pertemuan akbar yang hanya dilaksanakan satu tahun sekali. Aku yang saat itu tak terpikir akan masuk menjadi bagian dari orang yang bergelut dalam acara itu, tiba-tiba secara mendadak ditarik oleh temanku, yang juga baru kenal pada saat itu. Dengan berbekal keyakinan bahwa ini adalah kesempatan untukku dengan tanpa pengalaman apapun, aku menerima semua itu. Aku yakin ALLAH pasti akan menlongku.
Keesokan harinya adalah pertemuan pertamaku dengan mereka. Aku masih belum paham tentang semua yang harus aku lakukan pada saat itu. Yang pastinya aku harus memimpin dan juga menuntun mereka selama kurang lebih satu minggu dalam mengikuti acara �wajib� mereka tersebut. kadang terbersit perasaan tak yakin akan apa yang harus aku lakukan karena teman-temanku yang mengemban tugas yang sama sepertiku saat ini telah mendapat pelatihan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan berbulan-bulan yang lalu. Lah.. aku saat ini belum ada basic apapun, tiba-tiba saja harus siap untuk menjadi pemimpin bagi mereka. secara mental aku telah memaksakan diri untuk siap sepenuhnya. Tapi tidak mungkin bermodal semangat saja, tanpa tahu konsep acara sepenuhnya. Apa yang harus dan sebaiknya aku lakukan untuk mereka, aku masih belum jelas.
Untungnya aku masih bisa bertanya kepada temanku yang mengemban tugas yang sama dengan ku. Hampir tiap konsep acara aku bertanya kepadanya. Alhamdulillah.. ini memang benar-benar suatu mukjizat yang diberikan ALLAH kepadaku. Aku yang saat itu juga baru mengenalnya, tetapi aku merasa telah sangat lama mengenalnya dan kami pun bergelut dalam acara itu dengan tak ada kecanggungan layaknya perlakuan terhadap orang asing. Bahkan hubungan kami dapat dikatakan sangat dekat. Mungkin semua itu karena ada perasaan saling membutuhkan dan yang yang pastinya ada perasaan hubungan yang lebih hakiki antara aku dan dia, kami adalah saudara seiman.
Entah mengapa aku sering merasa terharu atas apa yang mereka perlakukan terhadapku. Aku diperlakukan selayaknya pemimpin yang benar-benar layak untuk memimpin mereka. Mereka tak tahu padahal aku hanyalah sebagai seorang pengganti, yang tentunya telah melalui seleksi yang ketat, buat mereka. Sedang aku hanya melalui jalur �penjerumusan�. Tetapi aku berusaha untuk menjadikan diriku yang terbaik untuk mereka. Amanah yang ku emban ini harus terlaksana dengan seoptimal mungkin. Dan yang pastinya semua harus diniatkan hanya untuk ALLAH semata.
Hari-hari ku lalui dengan rasa kebersamaan yang sangat kental. Walaupun memang rasa itu karena kami saling membutuhkan, tetapi semoga saja rasa itu tak lekang dimakan waktu. Rasa lelah, ngantuk, sakit mewarnai perjuangan kami demi melewati masa untuk memasuki pintu gerbang menuju kehidupan baru bagi mereka. Satu hari penuh selalu kami lewati bersama dengan kegiatan yang harus penuh dengan semangat. Malamnya pun harus dilalui dengan tugas yang dapat dibilang tidak sedikit. Akupun dengan semangat yang lebih pula harus menemi mereka untuk mengerjakan itu semua. Dan terkadang juga harus ikut terjun membantu mereka mengerjakan tugas-tugas itu, walaupupun tidak sering. Satu yang menjadi penyemangat diri dalam melewati ini semua, karena aku melihat pancaran semangat mereka yang tinggi dan juga karena perlakuan mereka yang sangat berpendidikan.
Terkadang disela-sela letihnya kami melewati semua yang harus dilewati, ada satu anggota kelompokku yang tak henti-hentinya membuat lelucon yang harus membuat kami tertawa karena tak tahan dengan kelucuan sikapnya tersebut, sehingga keletihan dan peluh kami pun sedikit terobati karena leluconnya. Bahkan ia sempat membuat istilah aneh kepada teman-temannya yang melakukan tindakan �bodoh� karena khilaf dengan menyebutnya bahwa �otaknya lagi dirental�.
Yah semua itu dilalui dengan penuh warna. Letih, bosan, ngantuk, suka, haru, dan yang paling dominan adalah ceria. Kami menjuluki kelompok kami, kelompok yang ku pimpin, dengan istilah �kelompok yang paling aneh dan paling gila�. Yang pastinya bukan aku yang masuk di dalamnya He.. He..
Satu minggu dilalui sudah. Akhir pertemuan kami dilaksanakan dengan suatu ceremony akbar yang mengharukan, yang kalau diperkenankan untuk menangis aku melakukannya saat itu. Kuajak mereka semua yang muslim untuk mengerjakan sholat magrib berjamaah di masjid. Setelah itu mereka pulang. Sedang aku dan salah satu anggota kelompokku yang rumahnya satu arah denganku masih berada di tempat itu. Aku lupa bahwa mereka harus menukarkan kado masing-masing yang mereka bawa. Tapi dia mengeluarkan kadonya, yaitu satu kotak kembang api. Yah mainan anak kecil, tapi kami menghidupkannya di situ dan kami berdua menikmati keindahan pancaran cahaya yang ditimbulkannya di saat waktu yang mulai merayap menuju pada kegelapan malam. Dengan perasaan yang sulit untuk dingkapkan, kami berdua duduk dan saling berbincang dengan dihiasi tawa dan canda. Yah.. hanya kami berdua, layaknya sang adik yang sedang bersenda gurau bersama sang kakak. Setelah itu adzan menghantarkan kami dalam pulang perjalanan menuju rumah masing-masing, sehingga aku mengajaknya untuk singgah ke masid untuk menunaikan shalat isya terlebih dahulu. (bersambung)
Kecintaan tarhadap sesuatu menjadikan ku sulit melepas semua itu. Begitupun juga terhadap mereka. Sulit ku untuk menjauhi mereka. Hati telah terpaut bersama mereka. Semua kenangan masih melekat dalam pikiran. Awal perjuanganku diawali kebersamaan dengan mereka. Semua sulit dan mungkin tak akan terlupakan.
Kebersamaan itu berawal pada pertemuan akbar yang hanya dilaksanakan satu tahun sekali. Aku yang saat itu tak terpikir akan masuk menjadi bagian dari orang yang bergelut dalam acara itu, tiba-tiba secara mendadak ditarik oleh temanku, yang juga baru kenal pada saat itu. Dengan berbekal keyakinan bahwa ini adalah kesempatan untukku dengan tanpa pengalaman apapun, aku menerima semua itu. Aku yakin ALLAH pasti akan menlongku.
Keesokan harinya adalah pertemuan pertamaku dengan mereka. Aku masih belum paham tentang semua yang harus aku lakukan pada saat itu. Yang pastinya aku harus memimpin dan juga menuntun mereka selama kurang lebih satu minggu dalam mengikuti acara �wajib� mereka tersebut. kadang terbersit perasaan tak yakin akan apa yang harus aku lakukan karena teman-temanku yang mengemban tugas yang sama sepertiku saat ini telah mendapat pelatihan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan berbulan-bulan yang lalu. Lah.. aku saat ini belum ada basic apapun, tiba-tiba saja harus siap untuk menjadi pemimpin bagi mereka. secara mental aku telah memaksakan diri untuk siap sepenuhnya. Tapi tidak mungkin bermodal semangat saja, tanpa tahu konsep acara sepenuhnya. Apa yang harus dan sebaiknya aku lakukan untuk mereka, aku masih belum jelas.
Untungnya aku masih bisa bertanya kepada temanku yang mengemban tugas yang sama dengan ku. Hampir tiap konsep acara aku bertanya kepadanya. Alhamdulillah.. ini memang benar-benar suatu mukjizat yang diberikan ALLAH kepadaku. Aku yang saat itu juga baru mengenalnya, tetapi aku merasa telah sangat lama mengenalnya dan kami pun bergelut dalam acara itu dengan tak ada kecanggungan layaknya perlakuan terhadap orang asing. Bahkan hubungan kami dapat dikatakan sangat dekat. Mungkin semua itu karena ada perasaan saling membutuhkan dan yang yang pastinya ada perasaan hubungan yang lebih hakiki antara aku dan dia, kami adalah saudara seiman.
Entah mengapa aku sering merasa terharu atas apa yang mereka perlakukan terhadapku. Aku diperlakukan selayaknya pemimpin yang benar-benar layak untuk memimpin mereka. Mereka tak tahu padahal aku hanyalah sebagai seorang pengganti, yang tentunya telah melalui seleksi yang ketat, buat mereka. Sedang aku hanya melalui jalur �penjerumusan�. Tetapi aku berusaha untuk menjadikan diriku yang terbaik untuk mereka. Amanah yang ku emban ini harus terlaksana dengan seoptimal mungkin. Dan yang pastinya semua harus diniatkan hanya untuk ALLAH semata.
Hari-hari ku lalui dengan rasa kebersamaan yang sangat kental. Walaupun memang rasa itu karena kami saling membutuhkan, tetapi semoga saja rasa itu tak lekang dimakan waktu. Rasa lelah, ngantuk, sakit mewarnai perjuangan kami demi melewati masa untuk memasuki pintu gerbang menuju kehidupan baru bagi mereka. Satu hari penuh selalu kami lewati bersama dengan kegiatan yang harus penuh dengan semangat. Malamnya pun harus dilalui dengan tugas yang dapat dibilang tidak sedikit. Akupun dengan semangat yang lebih pula harus menemi mereka untuk mengerjakan itu semua. Dan terkadang juga harus ikut terjun membantu mereka mengerjakan tugas-tugas itu, walaupupun tidak sering. Satu yang menjadi penyemangat diri dalam melewati ini semua, karena aku melihat pancaran semangat mereka yang tinggi dan juga karena perlakuan mereka yang sangat berpendidikan.
Terkadang disela-sela letihnya kami melewati semua yang harus dilewati, ada satu anggota kelompokku yang tak henti-hentinya membuat lelucon yang harus membuat kami tertawa karena tak tahan dengan kelucuan sikapnya tersebut, sehingga keletihan dan peluh kami pun sedikit terobati karena leluconnya. Bahkan ia sempat membuat istilah aneh kepada teman-temannya yang melakukan tindakan �bodoh� karena khilaf dengan menyebutnya bahwa �otaknya lagi dirental�.
Yah semua itu dilalui dengan penuh warna. Letih, bosan, ngantuk, suka, haru, dan yang paling dominan adalah ceria. Kami menjuluki kelompok kami, kelompok yang ku pimpin, dengan istilah �kelompok yang paling aneh dan paling gila�. Yang pastinya bukan aku yang masuk di dalamnya He.. He..
Satu minggu dilalui sudah. Akhir pertemuan kami dilaksanakan dengan suatu ceremony akbar yang mengharukan, yang kalau diperkenankan untuk menangis aku melakukannya saat itu. Kuajak mereka semua yang muslim untuk mengerjakan sholat magrib berjamaah di masjid. Setelah itu mereka pulang. Sedang aku dan salah satu anggota kelompokku yang rumahnya satu arah denganku masih berada di tempat itu. Aku lupa bahwa mereka harus menukarkan kado masing-masing yang mereka bawa. Tapi dia mengeluarkan kadonya, yaitu satu kotak kembang api. Yah mainan anak kecil, tapi kami menghidupkannya di situ dan kami berdua menikmati keindahan pancaran cahaya yang ditimbulkannya di saat waktu yang mulai merayap menuju pada kegelapan malam. Dengan perasaan yang sulit untuk dingkapkan, kami berdua duduk dan saling berbincang dengan dihiasi tawa dan canda. Yah.. hanya kami berdua, layaknya sang adik yang sedang bersenda gurau bersama sang kakak. Setelah itu adzan menghantarkan kami dalam pulang perjalanan menuju rumah masing-masing, sehingga aku mengajaknya untuk singgah ke masid untuk menunaikan shalat isya terlebih dahulu. (bersambung)
Jenuh
Saat diri tak tahu harus berbuat apa. Saat diri tak memiliki arah kemana harus kulangkahkan kaki ini. Saat diri ingin benar-benar mengembangkan kemampuan diri, malah semua menjadi musnah dan punah karena semua hanya tinggal harapan. Ingin ku bangkitkan diri dalam kesibukan yang mengarahkanku pada pengembangan diri, yang tentunya terus menuju pada perbaikan, namun aku tak mampu tuk berbuat itu. Suasana di sekitarku sangatlah tidak mendukung langkah ini. Aku tak ingin dianggap ekstrimis namun aku pun tak ingin menjadi manusia bodoh yang terus terjerumus pada kekufuran. Dengan tindak tandukku yang dianggap aneh oleh mereka, sehingga mengakibatkan mereka terus berusaha menjauh dari ku. Padahal itu semua itu sangatlah tidak ku ingin. Aku ingin terus menjadi dekat dengan mereka, sehingga aku dapat terus dapat memberikan pencerahan akan indahnya hidup, hakekat hidup, dan tujuan hidup. Hidup tak hanya sekedar hidup saat ini. Masih panjang perjalanan. Masih butuh perjuangan yang sangat. Perjuangan itulah yang harus aku dan mereka arungi. Dan aku ingin kami dapat bersama-sama mengarunginya.Cukup sudah orang-orang terdekatku terus perlahan menjauh dari ku. Mereka memberikan kesan aneh untukku. Aku sebenarnya merasa sangat tertekan dengan semua tingkah mereka itu tetapi aku tak dapat menentang apalagi berontak dengan sikap itu semua. Aku hanya bisa pasrah karena semua ini adalah konsekuensi perubahanku saat ini.
Aku terus dan terus untuk menjadi dekat dengan mereka namun aku pun tak mau terjerumus masuk ke dalam kehidupan mereka. Yang intinya aku ingin menjadi yang terbaik buat mereka. Baik sebagai teman, mitra, bahkan secara tidak langsung, aku ingin menjadi Saudara hidup mereka.
Aku terus dan terus untuk menjadi dekat dengan mereka namun aku pun tak mau terjerumus masuk ke dalam kehidupan mereka. Yang intinya aku ingin menjadi yang terbaik buat mereka. Baik sebagai teman, mitra, bahkan secara tidak langsung, aku ingin menjadi Saudara hidup mereka.
Cahaya Yang Datang Tiba-Tiba (2)
Namun dia bertanya kepadaku, "Kamu sakit ya?"
Aku tetap ingin dia tak menanggung beban yang ku rasa saat ini, namun di sisi lain aku tak mampu untuk berbohong kepadanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa ku utarakan keadaanku saat ini kepadanya. Dan ia pun dengan penuh kasih sayang menyarankanku untuk berobat ke suatu klinik yang berada tidak jauh dari rumahku. Awalnya aku enggan memenuhi permintaannya karena aku telah berobat di klinik layanan gratis tertuju untuk mahasiswa sepertiku. Namun ia berkilah, kalau pemeriksaan di sana tidak serius dan sangat tidak komprehensif. Akhirnya aku berterima kasih dan mempertimbangkan sarannya tersebut. Setelah ku serahkan draft konsep lomba itu, aku meminta maaf hanya bisa melakukan itu, dan tidak bisa membina mereka. Ia sangat memaklumi semua itu dan malah menyarankanku untuk terus istirahat.
Jadwal kuliah ku tak ku hentikan karena aku tak betah dengan terus berada dalam rumah. Dan juga karena kuliahku sangat terikat pada absen, sehingga untuk tidak masuk kuliah itu sangat dibatasi jumlahnya. Aku seringnya tak memperhatikan penjelasan yang diberikan sang dosen karena kepalaku seakan tak mampu lagi untuk dimasukkan materi-materi itu dan juga kepalaku seakan terus bergoncang dan membatu, sehingga, kalau bisa, ingin ku lempar saja kepala ini dan ku gantikan dengan yang baru yang lebih nyaman.
Di sela-sela pemberian materi oleh dosen, aku terpikir untuk memenuhi saran temanku. Akhirnya aku meng-SMS-inya dan menanyakan kesediaannya untuk mengantarku ke klinik yang ia sarankan nanti malam karena aku belum tahu pasti tempatnya. Alhamdulillah, ia bersedia untuk itu.
Akhirnya malam itu kami berdua menuju ke klinik. Seperti dugaanku, setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sang dokter menyarankan ku untuk check darah karena demamku yang telah lama dan tak kunjung turun. Kami menunggu beberapa saat untuk melihat hasil dari pemeriksaan darahku yang telah diambil tadi. Aku pun dipanggil ke ruangannya kembali oleh sang dokter dan menjelaskan kepadaku tentang hasilnya, yang intinya aku terserang penyakit Tifus.
Setelah menerima resep darinya, aku menuju ruang obat yang masih dalam satu ruangan dengan klinik tersebut. Lalu ku selesaikan semua administrasi termasuk pembayaran biaya-biaya yang ku nilai sangat tidak sedikit.
Alhamdulillah, Allah masih sayang kepadaku. Dengan penyakitku ini Allah telah menegurku untuk evaluasi segala kesalahan-kesalahanku. Dan dengan penyakit ini pula semoga Allah menggugurkan dosa-dosa kecilku.
"Apabila seorang muslim diberi kenikmatan maka ia bersyukur. Dan apabila ia diberi cobaan maka ia bersabar."
Aku disarankan untuk istirahat melakukan segala kegiatan, termasuk kuliahku, dengan diberikannya surat keterangan dokter kepadaku. Tapi aku bertekad dalam hati, itu semua tak akan kulakukan.
Sesampainya di rumah aku kembali berbaring untuk memberikan kenyamanan pada tubuh yang terus mengerang ini.
***
Seperti biasa aku keluar untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu sholat berjamaah di masjid. Tiba-tiba temanku menghampiriku pada waktu perjalanan menuju pulang ke rumahku. Dengan sikap kepeduliannya, ia menanyai kondisiku saat ini. Seperti biasa, ku jawab "Alhamdulillah, baik".
Namun sangat terlihat sekali tubuhku yang kokoh dengan paksaan. Kuat dengan dorongan. Sesampainya di perempatan jalan, aku mengucapkan salam untuk berpisah kepadanya, perlakuan yang biasa kami lakukan. Aku kaget tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah amplop, yang tak ku ketahui isinya, lalu menyodorkannya kepada ku sambil berkata, "Nih buat mu."
Dengan tergesa-gesa ia meninggalkanku begitu saja. Aku masih tercengang dengan semua itu. Ku simpan amplop itu ke dalam sakuku.
Sesampainya di rumah, dengan penuh penasaran, ku buka amplop tersebut. Kembali diri terkejut saat melihat isinya. Sepucuk surat dan sejumlah uang.
Ya... Allah siapakah sosok ini. Yang begitu peduli terhadap diri. Dia sangat mengetahui kondisi diri yang benar-benar sedang membutuhkan seseorang sebagai tempat sandaran dan juga sedang membutuhkan sejumlah uang untuk menutupi biaya-biaya pengobatanku itu.
Ya... Allah jadikan hubungan persaudaraan kami suci dan hanya tertuju kepada-Mu semata. Terus tumbuhkan rasa cinta antara kami, rasa cinta yang tak lekang dimakan waktu, rasa cinta karena adanya jiwa-jiwa yang beriman.
Ya... Allah tetapkanlah kami selalu di jalan-Mu. Kuatkanlah kami untuk selalu berjuang di jalan-Mu dan jadikanlah kami sebagai syuhada-Mu.
Hangatnya air mata tak terasa terus mengalir dan membasahi wajah yang tampak sayu sekaligus bangga karena bahagia.
***
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Akh...
Semoga cepet sembuh ye... Mungkin dengan sakit ini, Allah mengingatkan antum untuk senantiasa menjaga kondisi tubuh. Coz tubuh kita juga ada haknya lho..!! Banyak hikmahnya kok kalau kita lagi sakit.. Di sela2 istirahat, antum bisa lebih banyak tilawah ato menghafal Al-Qur'an yang mungkin ga' sempet antum lakukan di kala antum sehat + sedang sibuk2nya...
Ingat!!! Banyak karya2 besar yang lahir dari ulama2 justru di saat mereka sedang tertimpa masalah ato cobaan2...
Ane yakin kalo Allah pasti mengingat antum di kala susah. Coz antum juga sering mengingat Allah di saat senang.. So serahkan semuanya aja ama Allah, banyak bersabar, & sering2 berdoa agar diberi kesembuhan dan kekuatan untuk menjalani lika-liku kehidupan ini...
Duh!!! Afwan, ane terlalu banyak omong.. Eh banyak tulis. Yang penting semoga cepet sembuh aja dech.. Syafakallah syifaan ajilan syifaan laa yughoidiru ba'dahu saqaman...
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Aku tetap ingin dia tak menanggung beban yang ku rasa saat ini, namun di sisi lain aku tak mampu untuk berbohong kepadanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa ku utarakan keadaanku saat ini kepadanya. Dan ia pun dengan penuh kasih sayang menyarankanku untuk berobat ke suatu klinik yang berada tidak jauh dari rumahku. Awalnya aku enggan memenuhi permintaannya karena aku telah berobat di klinik layanan gratis tertuju untuk mahasiswa sepertiku. Namun ia berkilah, kalau pemeriksaan di sana tidak serius dan sangat tidak komprehensif. Akhirnya aku berterima kasih dan mempertimbangkan sarannya tersebut. Setelah ku serahkan draft konsep lomba itu, aku meminta maaf hanya bisa melakukan itu, dan tidak bisa membina mereka. Ia sangat memaklumi semua itu dan malah menyarankanku untuk terus istirahat.
Jadwal kuliah ku tak ku hentikan karena aku tak betah dengan terus berada dalam rumah. Dan juga karena kuliahku sangat terikat pada absen, sehingga untuk tidak masuk kuliah itu sangat dibatasi jumlahnya. Aku seringnya tak memperhatikan penjelasan yang diberikan sang dosen karena kepalaku seakan tak mampu lagi untuk dimasukkan materi-materi itu dan juga kepalaku seakan terus bergoncang dan membatu, sehingga, kalau bisa, ingin ku lempar saja kepala ini dan ku gantikan dengan yang baru yang lebih nyaman.
Di sela-sela pemberian materi oleh dosen, aku terpikir untuk memenuhi saran temanku. Akhirnya aku meng-SMS-inya dan menanyakan kesediaannya untuk mengantarku ke klinik yang ia sarankan nanti malam karena aku belum tahu pasti tempatnya. Alhamdulillah, ia bersedia untuk itu.
Akhirnya malam itu kami berdua menuju ke klinik. Seperti dugaanku, setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sang dokter menyarankan ku untuk check darah karena demamku yang telah lama dan tak kunjung turun. Kami menunggu beberapa saat untuk melihat hasil dari pemeriksaan darahku yang telah diambil tadi. Aku pun dipanggil ke ruangannya kembali oleh sang dokter dan menjelaskan kepadaku tentang hasilnya, yang intinya aku terserang penyakit Tifus.
Setelah menerima resep darinya, aku menuju ruang obat yang masih dalam satu ruangan dengan klinik tersebut. Lalu ku selesaikan semua administrasi termasuk pembayaran biaya-biaya yang ku nilai sangat tidak sedikit.
Alhamdulillah, Allah masih sayang kepadaku. Dengan penyakitku ini Allah telah menegurku untuk evaluasi segala kesalahan-kesalahanku. Dan dengan penyakit ini pula semoga Allah menggugurkan dosa-dosa kecilku.
"Apabila seorang muslim diberi kenikmatan maka ia bersyukur. Dan apabila ia diberi cobaan maka ia bersabar."
Aku disarankan untuk istirahat melakukan segala kegiatan, termasuk kuliahku, dengan diberikannya surat keterangan dokter kepadaku. Tapi aku bertekad dalam hati, itu semua tak akan kulakukan.
Sesampainya di rumah aku kembali berbaring untuk memberikan kenyamanan pada tubuh yang terus mengerang ini.
***
Seperti biasa aku keluar untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu sholat berjamaah di masjid. Tiba-tiba temanku menghampiriku pada waktu perjalanan menuju pulang ke rumahku. Dengan sikap kepeduliannya, ia menanyai kondisiku saat ini. Seperti biasa, ku jawab "Alhamdulillah, baik".
Namun sangat terlihat sekali tubuhku yang kokoh dengan paksaan. Kuat dengan dorongan. Sesampainya di perempatan jalan, aku mengucapkan salam untuk berpisah kepadanya, perlakuan yang biasa kami lakukan. Aku kaget tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah amplop, yang tak ku ketahui isinya, lalu menyodorkannya kepada ku sambil berkata, "Nih buat mu."
Dengan tergesa-gesa ia meninggalkanku begitu saja. Aku masih tercengang dengan semua itu. Ku simpan amplop itu ke dalam sakuku.
Sesampainya di rumah, dengan penuh penasaran, ku buka amplop tersebut. Kembali diri terkejut saat melihat isinya. Sepucuk surat dan sejumlah uang.
Ya... Allah siapakah sosok ini. Yang begitu peduli terhadap diri. Dia sangat mengetahui kondisi diri yang benar-benar sedang membutuhkan seseorang sebagai tempat sandaran dan juga sedang membutuhkan sejumlah uang untuk menutupi biaya-biaya pengobatanku itu.
Ya... Allah jadikan hubungan persaudaraan kami suci dan hanya tertuju kepada-Mu semata. Terus tumbuhkan rasa cinta antara kami, rasa cinta yang tak lekang dimakan waktu, rasa cinta karena adanya jiwa-jiwa yang beriman.
Ya... Allah tetapkanlah kami selalu di jalan-Mu. Kuatkanlah kami untuk selalu berjuang di jalan-Mu dan jadikanlah kami sebagai syuhada-Mu.
Hangatnya air mata tak terasa terus mengalir dan membasahi wajah yang tampak sayu sekaligus bangga karena bahagia.
***
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Akh...
Semoga cepet sembuh ye... Mungkin dengan sakit ini, Allah mengingatkan antum untuk senantiasa menjaga kondisi tubuh. Coz tubuh kita juga ada haknya lho..!! Banyak hikmahnya kok kalau kita lagi sakit.. Di sela2 istirahat, antum bisa lebih banyak tilawah ato menghafal Al-Qur'an yang mungkin ga' sempet antum lakukan di kala antum sehat + sedang sibuk2nya...
Ingat!!! Banyak karya2 besar yang lahir dari ulama2 justru di saat mereka sedang tertimpa masalah ato cobaan2...
Ane yakin kalo Allah pasti mengingat antum di kala susah. Coz antum juga sering mengingat Allah di saat senang.. So serahkan semuanya aja ama Allah, banyak bersabar, & sering2 berdoa agar diberi kesembuhan dan kekuatan untuk menjalani lika-liku kehidupan ini...
Duh!!! Afwan, ane terlalu banyak omong.. Eh banyak tulis. Yang penting semoga cepet sembuh aja dech.. Syafakallah syifaan ajilan syifaan laa yughoidiru ba'dahu saqaman...
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Cahaya Yang Datang Tiba-Tiba (1)
Entah siapakah gerangan, yang datang tiba-tiba menghampiri diri.
Ketidaklayakan diri dalam berbuat, merasakan diri enggan tuk bertindak. Terkadang diri merasa malu dengan semua apa yang dilakukan. Datang dengan lagak memerintah, berlapiskan topeng kesucian, dan menjadikan diri yang serasa serba tahu segalanya. Padahal di balik semua itu, diri ini hanyalah seonggok diri yang hina, yang tak layak untuk dipuji dan dihormati. Diri ini penuh dengan kotoran dosa yang melekat tak nampak. Diri ini penuh dengan kepalsuan.
Saat kekesalan hinggap di jiwa karena keadaan yang sangat tidak mendukung dengan tujuan diri, jiwa pun berontak. Memecahkan kesunyian yang selama ini kubuat.
Aku tak tahan akan semua ini!
Perlahan diri terus menghindar dari kehidupan mereka. Mereka yang selama ini sangat dekat denganku. Yang selama ini telah banyak mengisi lembar-lembar kehidupanku. Yah... Itu harus kulakukan. Karena telah ku ketahui makna hidup. Telah ku dapati arti kedamaian. Telah ku rengkuh hakekat cinta sejati. Yang kesemuanya itu harus ku bayar mahal. Harus ku relakan semua yang ada pada diriku tuk meraih kebahagian itu, ketenangan itu, kedamaian itu. Yah... Salah satunya harus ku relakan diri untuk perlahan menjauh dari kehidupan orang-orang yang telah sangat dekat dengan ku. Telah ku relakan diri tuk menjauhi kenikmatan fana itu, walau terlihat seperti surga di mata dunia. Semua itu harus ku relakan. Namun, hakekatnya aku tak dapat berdiri sendiri. Aku masih membutuhkan manusia lain sebagai penyanggah diri. Di saat itulah diri terus meraba, diri terus melata, diri terus berkelana mencari sosok yang dapat terus mengokohkan diri.
Kejenuhan tubuh pun tiba. Tubuh seakan tak mampu menahan semua beban dan semua yang dipikirkan oleh diri, sehingga ia memberontak. Yah... Diri ini telah sakit. Aku yang selama ini terus berkutat di luar tempat kediamanku, demi untuk melupakan kehidupan kelam di sana. Terus berusaha tuk terus giat dalam berbagai kegiatan, demi untuk mengembangkan diri bodoh ini. Namun diri melupakan hakekat dari jiwa yang lelah, jiwa yang letih, jiwa yang penuh dengan peluh.
Diri telah terjatuh pada kelemahan, sehingga tak mampu memenuhi semangat yang membara dalam jiwa tuk terus bergerak dan bertindak. Yah... Diri hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur yang juga biasa sebagai tempat ku melakukan segala kegiatan. Namun diri tak ingin memanjakan kelemahan yang ada padanya. Untuk kegiatan yang harus aku lakukan, sebisa mungkin akan tetap aku lakukan walaupun dengan penuh kepayahan. Perjalanan yang ku tempuh dalam mencapai kekhusyuk'an beribadah dan demi mencapai kesempurnaan sholat pun harus terus ku laksanakan dengan sekuat tenaga dilakukan secara berjamaah di masjid. Sehingga aku pun masih dapat bertemu jiwa-jiwa tobat, jiwa-jiwa penuh dengan semangat, jiwa-jiwa suci yang berketuhanan. Semua itu dapat menguatkan diri. Sesampainya diri kembali di rumah, hanya kasur kembali sebagai tempat tujuan. Diri terasa lelah dalam perjalanan yang walaupun hanya ditempuh dalam hitungan menit. Tapi itulah,, tubuh yang yang berontak. Orang di sekitarku tak tahu menahu dengan semua yang ku alami karena telah menjadi kebiasaan diri tuk tak banyak berkata-kata kepada mereka. Aku berbicara pun hanya seperlunya saja kepada mereka, yang sangat jarang sekali disertai dengan basa-basi. Sehingga diamnya aku kepada mereka, dianggap sebagai hal yang biasa. Diri tak hendak berkeluh kesah kepada mereka dan diri pun tak ingin membebani mereka, sehingga kelemahanku saat ini hanya aku seorang yang mengetahui sebagai orang yang langsung mengalami.
Hari-hari kulalui dengan penuh ketiadaan tindakan. Diri hanya terus dan terus berbaring di tempat peristirahatan. Hanya diselingi keluar untuk mencari makan dan sholat berjamaah ke masjid. Selebihnya diri hanya berbaring. Terkadang bosan diri dengan keadaan seperti ini, sehingga diri memaksakan tubuh ini untuk keluar melakukan kegiatan yang biasa aku lakukan di waktu diri kokoh. Diri rindu dengan tingkah polos bocah-bocah kecil itu. Bocah yang terus mengeja dengan bersusah payah demi melangkahi lembar demi lembar tingkatan IQRO' yang lebih tinggi.
Ketika mereka menghampiri tubuh yang sedang tak berdaya ini. Dengan serta merta mereka meloncat kearah ku dan berusaha tuk meraih pundakku. Yah... seperti anak monyet yang sedang bergelantungan di tubuh induknya. Itulah kemanjaan mereka. Itulah keluguan mereka. Itulah keceriaan mereka. Yang membuat diri tiba-tiba kembali kuat dan terus menampilkan pada wajah ini senyuman yang hangat kepada mereka serta perkataan yang lembut dengan dijiwai rasa kasih sayang yang hakiki, agar kepolosan mereka tak ternodai jiwa-jiwa kotor yang terus menyerang mereka setiap saat.
Namun diri tak seperti manusia baja yang tahan akan segala hantaman dari luar. Tubuh kembali mengerang sesampainya di tempat pembaringan. Mengapa ini terus terjadi?
Yah... Aku bertekad berhenti sejenak untuk menambah kekuatan yang baru. Perlahan aku menghilang dari penglihatan semua temanku. Aku, lagi-lagi tak berucap kepada mereka semua tentang keadaanku saat ini.
Namun tiba-tiba teman satu perjuanganku, meng-SMS-i ku. Dia memintaku untuk melatih salah satu anak di TPA tersebut dalam rangka persiapan mengikuti lomba yang diselenggarakan TPA tetangga. Aku tidak serta merta menolaknya namun aku memintanya untuk mengambil draftnya di rumahku. Sebisa mungkin aku menyambutnya dengan perlakuanku yang biasa. Namun dia bertanya kepadaku, "Kamu sakit ya?"
(bersambung)
Ketidaklayakan diri dalam berbuat, merasakan diri enggan tuk bertindak. Terkadang diri merasa malu dengan semua apa yang dilakukan. Datang dengan lagak memerintah, berlapiskan topeng kesucian, dan menjadikan diri yang serasa serba tahu segalanya. Padahal di balik semua itu, diri ini hanyalah seonggok diri yang hina, yang tak layak untuk dipuji dan dihormati. Diri ini penuh dengan kotoran dosa yang melekat tak nampak. Diri ini penuh dengan kepalsuan.
Saat kekesalan hinggap di jiwa karena keadaan yang sangat tidak mendukung dengan tujuan diri, jiwa pun berontak. Memecahkan kesunyian yang selama ini kubuat.
Aku tak tahan akan semua ini!
Perlahan diri terus menghindar dari kehidupan mereka. Mereka yang selama ini sangat dekat denganku. Yang selama ini telah banyak mengisi lembar-lembar kehidupanku. Yah... Itu harus kulakukan. Karena telah ku ketahui makna hidup. Telah ku dapati arti kedamaian. Telah ku rengkuh hakekat cinta sejati. Yang kesemuanya itu harus ku bayar mahal. Harus ku relakan semua yang ada pada diriku tuk meraih kebahagian itu, ketenangan itu, kedamaian itu. Yah... Salah satunya harus ku relakan diri untuk perlahan menjauh dari kehidupan orang-orang yang telah sangat dekat dengan ku. Telah ku relakan diri tuk menjauhi kenikmatan fana itu, walau terlihat seperti surga di mata dunia. Semua itu harus ku relakan. Namun, hakekatnya aku tak dapat berdiri sendiri. Aku masih membutuhkan manusia lain sebagai penyanggah diri. Di saat itulah diri terus meraba, diri terus melata, diri terus berkelana mencari sosok yang dapat terus mengokohkan diri.
Kejenuhan tubuh pun tiba. Tubuh seakan tak mampu menahan semua beban dan semua yang dipikirkan oleh diri, sehingga ia memberontak. Yah... Diri ini telah sakit. Aku yang selama ini terus berkutat di luar tempat kediamanku, demi untuk melupakan kehidupan kelam di sana. Terus berusaha tuk terus giat dalam berbagai kegiatan, demi untuk mengembangkan diri bodoh ini. Namun diri melupakan hakekat dari jiwa yang lelah, jiwa yang letih, jiwa yang penuh dengan peluh.
Diri telah terjatuh pada kelemahan, sehingga tak mampu memenuhi semangat yang membara dalam jiwa tuk terus bergerak dan bertindak. Yah... Diri hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur yang juga biasa sebagai tempat ku melakukan segala kegiatan. Namun diri tak ingin memanjakan kelemahan yang ada padanya. Untuk kegiatan yang harus aku lakukan, sebisa mungkin akan tetap aku lakukan walaupun dengan penuh kepayahan. Perjalanan yang ku tempuh dalam mencapai kekhusyuk'an beribadah dan demi mencapai kesempurnaan sholat pun harus terus ku laksanakan dengan sekuat tenaga dilakukan secara berjamaah di masjid. Sehingga aku pun masih dapat bertemu jiwa-jiwa tobat, jiwa-jiwa penuh dengan semangat, jiwa-jiwa suci yang berketuhanan. Semua itu dapat menguatkan diri. Sesampainya diri kembali di rumah, hanya kasur kembali sebagai tempat tujuan. Diri terasa lelah dalam perjalanan yang walaupun hanya ditempuh dalam hitungan menit. Tapi itulah,, tubuh yang yang berontak. Orang di sekitarku tak tahu menahu dengan semua yang ku alami karena telah menjadi kebiasaan diri tuk tak banyak berkata-kata kepada mereka. Aku berbicara pun hanya seperlunya saja kepada mereka, yang sangat jarang sekali disertai dengan basa-basi. Sehingga diamnya aku kepada mereka, dianggap sebagai hal yang biasa. Diri tak hendak berkeluh kesah kepada mereka dan diri pun tak ingin membebani mereka, sehingga kelemahanku saat ini hanya aku seorang yang mengetahui sebagai orang yang langsung mengalami.
Hari-hari kulalui dengan penuh ketiadaan tindakan. Diri hanya terus dan terus berbaring di tempat peristirahatan. Hanya diselingi keluar untuk mencari makan dan sholat berjamaah ke masjid. Selebihnya diri hanya berbaring. Terkadang bosan diri dengan keadaan seperti ini, sehingga diri memaksakan tubuh ini untuk keluar melakukan kegiatan yang biasa aku lakukan di waktu diri kokoh. Diri rindu dengan tingkah polos bocah-bocah kecil itu. Bocah yang terus mengeja dengan bersusah payah demi melangkahi lembar demi lembar tingkatan IQRO' yang lebih tinggi.
Ketika mereka menghampiri tubuh yang sedang tak berdaya ini. Dengan serta merta mereka meloncat kearah ku dan berusaha tuk meraih pundakku. Yah... seperti anak monyet yang sedang bergelantungan di tubuh induknya. Itulah kemanjaan mereka. Itulah keluguan mereka. Itulah keceriaan mereka. Yang membuat diri tiba-tiba kembali kuat dan terus menampilkan pada wajah ini senyuman yang hangat kepada mereka serta perkataan yang lembut dengan dijiwai rasa kasih sayang yang hakiki, agar kepolosan mereka tak ternodai jiwa-jiwa kotor yang terus menyerang mereka setiap saat.
Namun diri tak seperti manusia baja yang tahan akan segala hantaman dari luar. Tubuh kembali mengerang sesampainya di tempat pembaringan. Mengapa ini terus terjadi?
Yah... Aku bertekad berhenti sejenak untuk menambah kekuatan yang baru. Perlahan aku menghilang dari penglihatan semua temanku. Aku, lagi-lagi tak berucap kepada mereka semua tentang keadaanku saat ini.
Namun tiba-tiba teman satu perjuanganku, meng-SMS-i ku. Dia memintaku untuk melatih salah satu anak di TPA tersebut dalam rangka persiapan mengikuti lomba yang diselenggarakan TPA tetangga. Aku tidak serta merta menolaknya namun aku memintanya untuk mengambil draftnya di rumahku. Sebisa mungkin aku menyambutnya dengan perlakuanku yang biasa. Namun dia bertanya kepadaku, "Kamu sakit ya?"
(bersambung)
Bukan Basa Basi
Teman… jangan sekali-sekali Kau biarkan sahabat di sekitarmu terdiam terpaku pada saat Kau tertawa riang dengan orang-orang di dekatmu.
***
Entah apa yang terpikir dalam pikiran. Terkadang terpikir bahwa setiap orang memiliki watak yang sangat unik, masing-masing tidak pernah memiliki sifat dan sikap yang sama persis. Maka dari itu, sangat sulit untuk mengetahui apa yang tersembunyi dari tindak tanduk seseorang. Terkadang Kau hanya dapat menduga-duga terhadap sikap “aneh” yang Ia tunjukkan. Namun mungkin Ia mempunyai pikiran lain dari sikapnya tersebut, bahkan tidak jarang kemuliaan di balik sikap yang ditunjukkan tersebut muncul pada saat akhir masa, ketika Ia tak mampu bersikap demikian lagi atau bahkan ketika Kau tak dapat melihat sikapnya tersebut karena Ia tidak lagi berada di sisimu.
Mari teman! Mari kita sama-sama membuka mata, telinga, dan yang paling penting adalah bukalah hati Kalian. Perhatikanlah teman kita walau Ia tidak untuk selalu diperhatikan atau bahkan Ia yang Kau rasa sangat tidak layak untuk diperhatikan. TIDAK… sekali-sekali TIDAK teman. Kau telah memberikan yang terbaik pada orang-orang yang dianggap layak untuk diberi. Tapi apakah Kau benar-benar tahu, Ia layak Kau beri ataukah tidak, akan perhatianmu tersebut. Marilah teman! Mari kita lihat ulang jalur yang kita lalui. Apakah semua orang pada jalur tersebut telah Kau sapa, atau setidaknya sudahkah Kau tersenyum pada mereka semua? Terkadang Kau melupakan itu, atau bahkan Kau menganggap itu sangatlah tidak penting karena hanya akan membuang-buang waktu saja. Tidak teman, sekali kau tersenyum terhadap mereka, maka mereka akan dapat menularkan pada orang lain dengan perlakuan yang lebih manis dari yang Kau lakukan terhadapnya.
Dalam menunjukkan sikap pun, jangan perlakukan orang, yang Kau anggap beda, dengan perlakuan standar, bahkan dapat dikatakan hanya basa-basi. Tidak, itu hanya dibutuhkan untuk beberapa saat saja, Teman. Karena basa-basi itu sangat nyata tampak bedanya dengan perlakuan yang benar-benar peduli ataupun perlakuan dari hati. Semua dapat membekas di hati. Tunjukkan sikap itu walau orang di sekitar tak melihat sikap indah itu. Perlakukan mereka ibarat mereka adalah sahabatmu yang benar-benar berjasa bagimu. Sikap yang tidak dibuat-buat, sikap apa adanya, sikap yang bukan hanya sekedar basa-basi belaka.Karena dengan itu, hati mereka dapat luluh, tersentuh, dan bahkan dapat kagum akan sikap itu.
Tak dapat dipungkiri kadang bahwa basa-basi telah menjadi darah daging bagi bangsa kita. Itu memang terkadang dibutuhkan. Tapi tidak di setiap waktu. Tidak di setiap tempat. Juga tidak pada setiap orang. Karena temanmu membutuhkan dirimu apa adanya. Temanmu membutuhkan dirimu yang tak menjerumuskan. Yang pastinya, temanmu membutuhkanmu.
Maka, jangan membuat Ia bingung dengan sikap palsumu. Jangan membuatnya resah ketika Ia melihat dirimu yang sebenarnya tiba-tiba muncul. Kutahu, Kau pasti lelah dengan sikap palsu itu. Maka dari itu lepaskan sayap patah itu. Karena percuma, tidak dapat dipakai lagi untuk terbang. Tidak dapat lagi memperindah penampilan. Bahkan, hanya dapat menambah beban bagi hidup mu.
Ingat, sewaktu-waktu Kau pun pasti membutuhkan mereka. Karena Kau juga adalah manusia biasa, sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tak lekang zaman, selalu membutuhkan manusia lain untuk hidupnya. Tetapi dari semua sikapmu itu, jangan sekali-kali Kau banggakan kemaksiatanmu. Jangan Kau bangga akan aib mu. Jangan Kau bangga akan dosa mu. Hingga Kau pun membombardir semua sikap negatif mu. Dengan berdalih, inilah Aku apa adanya. Tidak selai-kali tidak. Yang perlu ditekankan adalah jangan sekali-kali Kau perlakuan orang dengan perlakuan yang berbeda-beda sesuai dengan seleramu sendiri. Tanpa perlu Kau perhatikan hatinya, tanpa perlu Kau perhatikan sifatnya, tanpa perlu Kau perhatikan sikapnya. TIDAK sekali-kali tidak Teman. Semua itu sangat tidak dibutuhkan.
Mereka saat ini membutuhkan dirimu menjadi super heronya. Menjadi orang yang selalu di sampingnya. Menjadi orang yang selalu menyapanya.
Memang ku akui itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Semua butuh perjuangan. Tapi ingat teman, semua hal yang dinilai oleh ALLAH adalah usaha dan proses kita menuju jalan ketakwaan. Bukan hasil. Sekali lagi ingat, BUKANLAH HASIL.
Maka jangan heran jika toh perlakuan itu menjadi cibiran orang-orang dengan berdalih “mencari muka”. Biarkan.. biarkan mereka berucap. Biarkan mereka menanggapi. Ambil sisi positif bahwa mereka telah peduli pada sikap kita yang memang berasal dari lubuk hati kita.
Selamat berjuang teman… jalan yang Kau lalui tidaklah luas, juga tidaklah sempit. Karena jalan yang Kau lalui masih sangat panjang. Laluilah setiap jalan yang memang dapat Kau lalui. Bukan yang dapat menyesatkanmu. Tapi jangan sampai Kau lupakan arahnya. Karena hanya ALLAH lah tujuan kita. Ketika kau menemukan alternatif jalan lain, silahkan lalui jalan alternatif tersebut. Tapi harus dengan tujuan yang sama. Karena semua itu dapat menambah pengalamanmu terhadap medan dakwahmu. Dapat mengetahui kondisi setiap lingkungan yang mempunyai posisi tidak “setrategis” bagi posisimu saat ini.
Mungkin mereka belum tahu indahnya “cahaya” itu teman. Maka dari itu, jangan Kau jauhi dia. Jangan Kau hinakan Dia karena keingkarannya. Bahkan jangan kau usir Ia, karena telah tidak sependapat lagi dengan mu. Karena Kau tak tahu nasibnya ke depan. Karena “cahaya”-Nya hanya akan dapat didapat dengan seizin yang Punya Cahaya pula, ALLAH swt.
***
Entah apa yang terpikir dalam pikiran. Terkadang terpikir bahwa setiap orang memiliki watak yang sangat unik, masing-masing tidak pernah memiliki sifat dan sikap yang sama persis. Maka dari itu, sangat sulit untuk mengetahui apa yang tersembunyi dari tindak tanduk seseorang. Terkadang Kau hanya dapat menduga-duga terhadap sikap “aneh” yang Ia tunjukkan. Namun mungkin Ia mempunyai pikiran lain dari sikapnya tersebut, bahkan tidak jarang kemuliaan di balik sikap yang ditunjukkan tersebut muncul pada saat akhir masa, ketika Ia tak mampu bersikap demikian lagi atau bahkan ketika Kau tak dapat melihat sikapnya tersebut karena Ia tidak lagi berada di sisimu.
Mari teman! Mari kita sama-sama membuka mata, telinga, dan yang paling penting adalah bukalah hati Kalian. Perhatikanlah teman kita walau Ia tidak untuk selalu diperhatikan atau bahkan Ia yang Kau rasa sangat tidak layak untuk diperhatikan. TIDAK… sekali-sekali TIDAK teman. Kau telah memberikan yang terbaik pada orang-orang yang dianggap layak untuk diberi. Tapi apakah Kau benar-benar tahu, Ia layak Kau beri ataukah tidak, akan perhatianmu tersebut. Marilah teman! Mari kita lihat ulang jalur yang kita lalui. Apakah semua orang pada jalur tersebut telah Kau sapa, atau setidaknya sudahkah Kau tersenyum pada mereka semua? Terkadang Kau melupakan itu, atau bahkan Kau menganggap itu sangatlah tidak penting karena hanya akan membuang-buang waktu saja. Tidak teman, sekali kau tersenyum terhadap mereka, maka mereka akan dapat menularkan pada orang lain dengan perlakuan yang lebih manis dari yang Kau lakukan terhadapnya.
Dalam menunjukkan sikap pun, jangan perlakukan orang, yang Kau anggap beda, dengan perlakuan standar, bahkan dapat dikatakan hanya basa-basi. Tidak, itu hanya dibutuhkan untuk beberapa saat saja, Teman. Karena basa-basi itu sangat nyata tampak bedanya dengan perlakuan yang benar-benar peduli ataupun perlakuan dari hati. Semua dapat membekas di hati. Tunjukkan sikap itu walau orang di sekitar tak melihat sikap indah itu. Perlakukan mereka ibarat mereka adalah sahabatmu yang benar-benar berjasa bagimu. Sikap yang tidak dibuat-buat, sikap apa adanya, sikap yang bukan hanya sekedar basa-basi belaka.Karena dengan itu, hati mereka dapat luluh, tersentuh, dan bahkan dapat kagum akan sikap itu.
Tak dapat dipungkiri kadang bahwa basa-basi telah menjadi darah daging bagi bangsa kita. Itu memang terkadang dibutuhkan. Tapi tidak di setiap waktu. Tidak di setiap tempat. Juga tidak pada setiap orang. Karena temanmu membutuhkan dirimu apa adanya. Temanmu membutuhkan dirimu yang tak menjerumuskan. Yang pastinya, temanmu membutuhkanmu.
Maka, jangan membuat Ia bingung dengan sikap palsumu. Jangan membuatnya resah ketika Ia melihat dirimu yang sebenarnya tiba-tiba muncul. Kutahu, Kau pasti lelah dengan sikap palsu itu. Maka dari itu lepaskan sayap patah itu. Karena percuma, tidak dapat dipakai lagi untuk terbang. Tidak dapat lagi memperindah penampilan. Bahkan, hanya dapat menambah beban bagi hidup mu.
Ingat, sewaktu-waktu Kau pun pasti membutuhkan mereka. Karena Kau juga adalah manusia biasa, sebagai makhluk sosial. Makhluk yang tak lekang zaman, selalu membutuhkan manusia lain untuk hidupnya. Tetapi dari semua sikapmu itu, jangan sekali-kali Kau banggakan kemaksiatanmu. Jangan Kau bangga akan aib mu. Jangan Kau bangga akan dosa mu. Hingga Kau pun membombardir semua sikap negatif mu. Dengan berdalih, inilah Aku apa adanya. Tidak selai-kali tidak. Yang perlu ditekankan adalah jangan sekali-kali Kau perlakuan orang dengan perlakuan yang berbeda-beda sesuai dengan seleramu sendiri. Tanpa perlu Kau perhatikan hatinya, tanpa perlu Kau perhatikan sifatnya, tanpa perlu Kau perhatikan sikapnya. TIDAK sekali-kali tidak Teman. Semua itu sangat tidak dibutuhkan.
Mereka saat ini membutuhkan dirimu menjadi super heronya. Menjadi orang yang selalu di sampingnya. Menjadi orang yang selalu menyapanya.
Memang ku akui itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Semua butuh perjuangan. Tapi ingat teman, semua hal yang dinilai oleh ALLAH adalah usaha dan proses kita menuju jalan ketakwaan. Bukan hasil. Sekali lagi ingat, BUKANLAH HASIL.
Maka jangan heran jika toh perlakuan itu menjadi cibiran orang-orang dengan berdalih “mencari muka”. Biarkan.. biarkan mereka berucap. Biarkan mereka menanggapi. Ambil sisi positif bahwa mereka telah peduli pada sikap kita yang memang berasal dari lubuk hati kita.
Selamat berjuang teman… jalan yang Kau lalui tidaklah luas, juga tidaklah sempit. Karena jalan yang Kau lalui masih sangat panjang. Laluilah setiap jalan yang memang dapat Kau lalui. Bukan yang dapat menyesatkanmu. Tapi jangan sampai Kau lupakan arahnya. Karena hanya ALLAH lah tujuan kita. Ketika kau menemukan alternatif jalan lain, silahkan lalui jalan alternatif tersebut. Tapi harus dengan tujuan yang sama. Karena semua itu dapat menambah pengalamanmu terhadap medan dakwahmu. Dapat mengetahui kondisi setiap lingkungan yang mempunyai posisi tidak “setrategis” bagi posisimu saat ini.
Mungkin mereka belum tahu indahnya “cahaya” itu teman. Maka dari itu, jangan Kau jauhi dia. Jangan Kau hinakan Dia karena keingkarannya. Bahkan jangan kau usir Ia, karena telah tidak sependapat lagi dengan mu. Karena Kau tak tahu nasibnya ke depan. Karena “cahaya”-Nya hanya akan dapat didapat dengan seizin yang Punya Cahaya pula, ALLAH swt.
Aku Benci Perpisahan
Kadang terpikir tuk membencinya, tapi mengapa itu sulit sekali dilakukan. Ketika diri berkata kasar padanya, dia malah menyikapinya dengan lembut dan penuh dengan kesabaran. Ketika diri bersikap baik padanya, dia makin sangat menghormati diri. Ketika diri meminta pertolongan padanya, ia segera menanggapinya dengan sangat antusias, tanpa pikir panjang apakah aku sedang sibuk ataukah tidak, seolah dia bersedia tunduk dan patuh akan semua permintaan diri. Tingkah laku sopannya sangat membuat diri malu pada diri sendiri. Keceriaannya membuncahkan jiwa, bergemuruh dalam dada tuk ikut masuk dalam dunia indahnya. Sekalipun ia dalam keadaan duka, semua tak ditampilkan pada sikap, ucapan, maupun raut mukanya. Bebannya hanya dia dan orang tertentu yang dapat mengetahuinya. Ibadahnya menjadi penyemangat diri tuk terus memperbaiki kualitasnya. Kesibukannya menjadikan diri terlupakan akan sifat malas yang dahulu terus menjajah diri. Diri terus terlunta-lunta ketika berada di hadapnya. Semangatnya itulah yang menjadikan cerminan bagi hidupku dalam mengarungi samudera hidup yang penuh aral demi pencapaian keredhoan Ilahi.
***
"Masuk sini, jangan malu-malu..." dia menarik tanganku menuju kamarnya, yang bagiku sulit berkata nyaman untuk berbagi bersama dua orang di dalamnya.
Kulihat di kamarnya berdiri gagah sebuah piala yang menandakan ia bukan manusia biasa, manusia berprestasi. Dan terdapat pula beberapa kaset dengan penyanyi yang aku lupa namanya siapa ketika ia menjelaskannya. Dia sibuk memperlakukan ku selayaknya tamu agung. Padahal siapalah aku.
Kesan pertama begitu menggoda,, yah itulah aku sangat terpikat akan kepribadian yang dimilikinya, yang sebelumya tak ku ketahui sama sekali sosok itu.
***
"Mengapa kamu puasa ya,,? ya udah buka di sini aja.." tawaranku kepadanya ketika ia bersilaturahim ke kos ku.
"Subhanallah.. makasih banget" raut muka ceria itu tak hilang dari ingatanku ketika ku suguhkan kepadanya hanya air putih dan kue kecil.
"Salut loh.. aku masih belum sanggup untuk istiqomah puasa senin kamis sepertimu" ia menanggapinya hanya dengan tersenyum.
Memang jujur aku merasa dipermalukan, seolah-olah ada yang berkata di depan telingku, "ibadahmu yang kau anggap baik itu belum ada apa-apanya, jek!"
Adzan berkumandang
"Subhanallah.. enak kuenya.. sampe abis nih."
"Yok shalat magrib di masjid ajak ku" setelah kulihat ia sangat puas dengan sedikit makanan yang kusajikan.
"Wah makasih banget ya" lagi-lagi ia berkata itu dengan disertai raut muka ceria khasnya.
***
Lagi-lagi ia mengunjungi kosku ba'da shubuh di masjid, padahal kebiasaan ku adalah tidur ba'da shubuh. Yah gak papalah, lagian juga aku suka banget ketika ia terlihat sangat sumringah berjumpa denganku, seolah kami sudah lama sekali tidak saling jumpa. Dan kami mengobrol, bisa juga dibilang diskusi santai, tentang topik-topik yang ada di berita pagi yang kami tonton.
Dia kemudian pamit setelah matahari pagi mulai menunjukkan dirinya, "aku pulang ya,, mau dhuha dulu karena nanti ada kuliah statistik jam 8."
Lagi-lagi muka ku serasa panas seolah abis ditampar bolak balik saking malunya. "Kapan ya aku terakhir mengerjakan sholat Dhuha??" Bisikan itu terus menggema di telingaku sampai-sampai ku segerakan diriku ambil air wudhu tuk melakukan shalat Dhuha setelah ia beranjak pergi dari kos ku.
***
Ketika ia sedang menonton TV karena kebetulan pagi itu ia gak ada kuliah,
"Aku mau ngomong bentar, boleh nggak?" selaku padanya.
"Ngomong aja,," perhatiannya langsung beralih ia tujukan kepadaku.
"Aku sering merasa lonely in the crowded,,,mau nggak kamu jadi saudaraku?" tanpa basa-basi aku langsung menuju inti pembicaraan.
"Ha..ha.. kita dah lama jadi saudara,, karena setiap muslim itu bersaudara." Dengan santai ia menanggapi permintaanku itu namun begitu mengena di diriku.
Kemudian kami pun saling berpelukan. (kayak Thelethubis jadinya) Setelah itu hubungan kami terasa sangatlah berbeda dari sebelumnya, saling perhatian walau tanpa ucapan, saling menasehati walau hanya dengan perbuatan. Nilai ibadah kami pun terasa terus membaik kualitasnya karena adanya saling memotivasi dengan teladan sikap perbuatan langsung. Yang intinya kami terus saling memotivasi untuk terus memperbaiki diri.
***
Kini,,, ia akan beranjak pergi dari kehidupanku yang aku yakin itulah kemenangan baginya. Dibalik itu semua adalah terbaik untuknya dari ALLAH SWT. Ku yakin dengan jiwa ikhlasnya, dengan istiqomah-nya dalam kualitas ibadahnya yang mantap, terus menebar keceriaan, dan sebagai pelaku teladan dalam tindakan, insya ALLAH akan membuatnya terus mulia, yang tentunya juga mulia di sisi ALLAH SWT.
Ingat,, saudaraku diri ini pastinya akan sulit menemukan sosok sepertimu. Diri ini akan merindukan tingkah lakumu, keceriaanmu, kesabaranmu, ketegaranmu, optimis hidupmu, sikap diammu, yang semuanya membuat ku nyaman, tenang dalam kehidupan. Pelajaran hidup banyak ku dapat dari dirimu. Yang semua itu menjadi bekal hidup kita kelak menuju jalan keabadian-NYA.
Suatu hal yang pastinya terus menjadi penyesalanku sepanjang waktu adalah sikap burukku, egoisku, keras kepalaku, prasangka burukku terhadapmu. Maafkan diri bodoh ini Saudaraku!
Aku mencintaimu karena ALLAH SWT!
***
"Masuk sini, jangan malu-malu..." dia menarik tanganku menuju kamarnya, yang bagiku sulit berkata nyaman untuk berbagi bersama dua orang di dalamnya.
Kulihat di kamarnya berdiri gagah sebuah piala yang menandakan ia bukan manusia biasa, manusia berprestasi. Dan terdapat pula beberapa kaset dengan penyanyi yang aku lupa namanya siapa ketika ia menjelaskannya. Dia sibuk memperlakukan ku selayaknya tamu agung. Padahal siapalah aku.
Kesan pertama begitu menggoda,, yah itulah aku sangat terpikat akan kepribadian yang dimilikinya, yang sebelumya tak ku ketahui sama sekali sosok itu.
***
"Mengapa kamu puasa ya,,? ya udah buka di sini aja.." tawaranku kepadanya ketika ia bersilaturahim ke kos ku.
"Subhanallah.. makasih banget" raut muka ceria itu tak hilang dari ingatanku ketika ku suguhkan kepadanya hanya air putih dan kue kecil.
"Salut loh.. aku masih belum sanggup untuk istiqomah puasa senin kamis sepertimu" ia menanggapinya hanya dengan tersenyum.
Memang jujur aku merasa dipermalukan, seolah-olah ada yang berkata di depan telingku, "ibadahmu yang kau anggap baik itu belum ada apa-apanya, jek!"
Adzan berkumandang
"Subhanallah.. enak kuenya.. sampe abis nih."
"Yok shalat magrib di masjid ajak ku" setelah kulihat ia sangat puas dengan sedikit makanan yang kusajikan.
"Wah makasih banget ya" lagi-lagi ia berkata itu dengan disertai raut muka ceria khasnya.
***
Lagi-lagi ia mengunjungi kosku ba'da shubuh di masjid, padahal kebiasaan ku adalah tidur ba'da shubuh. Yah gak papalah, lagian juga aku suka banget ketika ia terlihat sangat sumringah berjumpa denganku, seolah kami sudah lama sekali tidak saling jumpa. Dan kami mengobrol, bisa juga dibilang diskusi santai, tentang topik-topik yang ada di berita pagi yang kami tonton.
Dia kemudian pamit setelah matahari pagi mulai menunjukkan dirinya, "aku pulang ya,, mau dhuha dulu karena nanti ada kuliah statistik jam 8."
Lagi-lagi muka ku serasa panas seolah abis ditampar bolak balik saking malunya. "Kapan ya aku terakhir mengerjakan sholat Dhuha??" Bisikan itu terus menggema di telingaku sampai-sampai ku segerakan diriku ambil air wudhu tuk melakukan shalat Dhuha setelah ia beranjak pergi dari kos ku.
***
Ketika ia sedang menonton TV karena kebetulan pagi itu ia gak ada kuliah,
"Aku mau ngomong bentar, boleh nggak?" selaku padanya.
"Ngomong aja,," perhatiannya langsung beralih ia tujukan kepadaku.
"Aku sering merasa lonely in the crowded,,,mau nggak kamu jadi saudaraku?" tanpa basa-basi aku langsung menuju inti pembicaraan.
"Ha..ha.. kita dah lama jadi saudara,, karena setiap muslim itu bersaudara." Dengan santai ia menanggapi permintaanku itu namun begitu mengena di diriku.
Kemudian kami pun saling berpelukan. (kayak Thelethubis jadinya) Setelah itu hubungan kami terasa sangatlah berbeda dari sebelumnya, saling perhatian walau tanpa ucapan, saling menasehati walau hanya dengan perbuatan. Nilai ibadah kami pun terasa terus membaik kualitasnya karena adanya saling memotivasi dengan teladan sikap perbuatan langsung. Yang intinya kami terus saling memotivasi untuk terus memperbaiki diri.
***
Kini,,, ia akan beranjak pergi dari kehidupanku yang aku yakin itulah kemenangan baginya. Dibalik itu semua adalah terbaik untuknya dari ALLAH SWT. Ku yakin dengan jiwa ikhlasnya, dengan istiqomah-nya dalam kualitas ibadahnya yang mantap, terus menebar keceriaan, dan sebagai pelaku teladan dalam tindakan, insya ALLAH akan membuatnya terus mulia, yang tentunya juga mulia di sisi ALLAH SWT.
Ingat,, saudaraku diri ini pastinya akan sulit menemukan sosok sepertimu. Diri ini akan merindukan tingkah lakumu, keceriaanmu, kesabaranmu, ketegaranmu, optimis hidupmu, sikap diammu, yang semuanya membuat ku nyaman, tenang dalam kehidupan. Pelajaran hidup banyak ku dapat dari dirimu. Yang semua itu menjadi bekal hidup kita kelak menuju jalan keabadian-NYA.
Suatu hal yang pastinya terus menjadi penyesalanku sepanjang waktu adalah sikap burukku, egoisku, keras kepalaku, prasangka burukku terhadapmu. Maafkan diri bodoh ini Saudaraku!
Aku mencintaimu karena ALLAH SWT!
Saat Penantian Menjelang
Dalam penantian terkadang semua tak sesuai keinginan. Tindakan dalam penantian terkadang sulit tuk dilakukan. Di satu sisi, merasa segan tuk bertindak sesuai keinginan diri. Namun di sisi lain, kegiatan yang umum di sini merupakan kegiatan yang sangat tidak penting bagiku dalam mengisi waktu dalam penantian tersebut. Ku hanya ingin semua yang kulakukan adalah berguna, minimal untuk diriku pribadi. Kalaupun tidak, aku tak ingin melakukan kegiatan yang sia-sia. Apalagi yang merugikan, sangatlah tak ingin ku lakukan.
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk itu.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang sering mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia mensibukkan dirinya hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semalaman dengan dalih hanya untuk menghilangkan penat. Namun di sisi lain, ada manusia mensibukkan dirinya dengan bermuara pada kehidupan untuk masa depannya. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik binaannya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) pada saat ia tak sempat lagi untuk berjumpa pada mereka.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satu nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk itu.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang sering mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia mensibukkan dirinya hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semalaman dengan dalih hanya untuk menghilangkan penat. Namun di sisi lain, ada manusia mensibukkan dirinya dengan bermuara pada kehidupan untuk masa depannya. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik binaannya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) pada saat ia tak sempat lagi untuk berjumpa pada mereka.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satu nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!
Pola Pikir
Dia penunjang dalam kesempatanku tuk berpikir. Walau kadang jauh dari pikiranku tuk bertindak seperti apa sebenarnya yang aku inginkan. Aku pun tak ingin dia mengetahui hakekat sebenarnya dari pikiranku. Biarlah aku yang tahu, dan tak ada seorang pun yang tahu. Bukanlah suatu aib diriku. Tapi itu sangat berat tuk diungkap. Itu merupakan bagian dari perjuangan hidupku. Bagian dari jiwaku. Bagian dari seluruh takdirku kemarin, sekarang, dan kelak di kehidupan yang akan datang.
Perjuanganku sangatlah sakit ku rasa. Sangat pedih ku merintih, merayapi jalan terjal ini, sangat tak indah untuk dilihat dari dalam. Karena itu, biarlah mereka hanya tahu keindahan diri, senyuman diri, tertawanya diri. Dibalik semua itu biarlah aku yang mengetahui, biarlah aku yang berjuang,. Tak ingin ku menjadi orang yang lemah. Selalu mengeluh dalam keadaan apapun, tak ingin menjadi anak manja yang selalu tergantung pada seluruh makhluk.
Di balik semua itu kelebihan diri pun pasti dimiliki. Tapi itu juga sulit terungkap, sehingga terkadang diri pun tak ubahnya seperti milik orang lain yang tak tahu harus diterjunkan ke daerah mana diri ini. Tentunya orang pun tak mengetahui kelebihan diri karena sangat jarangnya muncul ke permukaan. Tak ubahnya sebuah bunga yang mekar di puncak kaki gunung terjal yang hanya bisa dilihat jika kita mendaki gunung tersebut. Yah itulah, perlu pendalaman diri, perlu pengenalan yang lebih untuk itu.
Aku tak ingin menjadi manusia misterius karena aku pun ingin menjadi orang familiar di mata mereka. Aku butuh mereka. Aku ingin berbagi cerita. Aku ingin mengungkapkan semua isi hatiku. Tapi tidakkah mereka akan mengetahui kelemahan diri yang banyak ini. Tidakkah dia tahu pikiranku kelak. Tidakkah dia tahu akan ku bawa kemana diri ini. Apakah mereka akan mengetahui itu semua dan memberi tahuku sesuatu dibalik itu semua sebagai bekal hidupku yang benar-benar bisa ku bawa pada kehidupanku sepanjang jaman? Ataukah hanya sekedar ingin tahu. Dan bercerita kepada manusia lain? Itu yang sangat tidak ku inginkan. Ingat kepedulian diri sangatlah ku junjung antar sesama manusia. Karena tanpa adanya rasa kemanusiaan, kemana lagi diri ini akan hidup. Karena semua manusia telah tidak memiliki hati untuk bertindak.
Tapi diri ini pun tak ingin menjadi manusia idaman yang selalu menjadi pusat perhatian. Yang selalu dibanggakan, yang selalu menjadi panutan. Siapalah diri ini? Siapalah? Sungguh sangat tak layak. Karena diri ini pun penuh dengan kekurangan. Diri ini masih butuh banyak pembelajaran dari kalian. Jika dibandingkan dari kalian. Tak ada bandingannya sama sekali.
Tetapi diri hanya berusaha untuk bertindak sesuai dengan ilmu yang kumiliki. Satu ilmu yang kudapat. Satu ilmu itu pula ku usahakan sekuat tenaga untuk ku terapkan. Walaupun tidak semuanya benar. Tapi selalu diusahakan mencari hakekat kebenarannya. Tak selamanya ku bertindak pada satu arah. Aku bukanlah manusia monotan, yang bertindak dengan tindakan selalu itu-itu saja. Aku dinamis. Tak betah dengan keadaan statis. Dan pembelajaran satu arah sangatlah sulit tuk dilakukan.
Yah.. itulah diri. Yang masih perlu banyak belajar. Yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Yang selalu tak puas dengan apa yang didapat selama ini. Dan juga yang selalu berusaha untuk mensyukuri dengan apa yang didapat saat ini.
Perjuanganku sangatlah sakit ku rasa. Sangat pedih ku merintih, merayapi jalan terjal ini, sangat tak indah untuk dilihat dari dalam. Karena itu, biarlah mereka hanya tahu keindahan diri, senyuman diri, tertawanya diri. Dibalik semua itu biarlah aku yang mengetahui, biarlah aku yang berjuang,. Tak ingin ku menjadi orang yang lemah. Selalu mengeluh dalam keadaan apapun, tak ingin menjadi anak manja yang selalu tergantung pada seluruh makhluk.
Di balik semua itu kelebihan diri pun pasti dimiliki. Tapi itu juga sulit terungkap, sehingga terkadang diri pun tak ubahnya seperti milik orang lain yang tak tahu harus diterjunkan ke daerah mana diri ini. Tentunya orang pun tak mengetahui kelebihan diri karena sangat jarangnya muncul ke permukaan. Tak ubahnya sebuah bunga yang mekar di puncak kaki gunung terjal yang hanya bisa dilihat jika kita mendaki gunung tersebut. Yah itulah, perlu pendalaman diri, perlu pengenalan yang lebih untuk itu.
Aku tak ingin menjadi manusia misterius karena aku pun ingin menjadi orang familiar di mata mereka. Aku butuh mereka. Aku ingin berbagi cerita. Aku ingin mengungkapkan semua isi hatiku. Tapi tidakkah mereka akan mengetahui kelemahan diri yang banyak ini. Tidakkah dia tahu pikiranku kelak. Tidakkah dia tahu akan ku bawa kemana diri ini. Apakah mereka akan mengetahui itu semua dan memberi tahuku sesuatu dibalik itu semua sebagai bekal hidupku yang benar-benar bisa ku bawa pada kehidupanku sepanjang jaman? Ataukah hanya sekedar ingin tahu. Dan bercerita kepada manusia lain? Itu yang sangat tidak ku inginkan. Ingat kepedulian diri sangatlah ku junjung antar sesama manusia. Karena tanpa adanya rasa kemanusiaan, kemana lagi diri ini akan hidup. Karena semua manusia telah tidak memiliki hati untuk bertindak.
Tapi diri ini pun tak ingin menjadi manusia idaman yang selalu menjadi pusat perhatian. Yang selalu dibanggakan, yang selalu menjadi panutan. Siapalah diri ini? Siapalah? Sungguh sangat tak layak. Karena diri ini pun penuh dengan kekurangan. Diri ini masih butuh banyak pembelajaran dari kalian. Jika dibandingkan dari kalian. Tak ada bandingannya sama sekali.
Tetapi diri hanya berusaha untuk bertindak sesuai dengan ilmu yang kumiliki. Satu ilmu yang kudapat. Satu ilmu itu pula ku usahakan sekuat tenaga untuk ku terapkan. Walaupun tidak semuanya benar. Tapi selalu diusahakan mencari hakekat kebenarannya. Tak selamanya ku bertindak pada satu arah. Aku bukanlah manusia monotan, yang bertindak dengan tindakan selalu itu-itu saja. Aku dinamis. Tak betah dengan keadaan statis. Dan pembelajaran satu arah sangatlah sulit tuk dilakukan.
Yah.. itulah diri. Yang masih perlu banyak belajar. Yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Yang selalu tak puas dengan apa yang didapat selama ini. Dan juga yang selalu berusaha untuk mensyukuri dengan apa yang didapat saat ini.
Menunggu
Dalam penantian terkadang semua tak sesuai keinginan. Tindakan dalam penantian terkadang sulit tuk dilakukan. Di satu sisi, merasa segan tuk bertindak sesuai keinginan diri. Namun di sisi lain, kegiatan yang umum di sini merupakan kegiatan yang sangat tidak penting bagiku dalam mengisi waktu dalam penantian tersebut. Ku hanya ingin semua yang kulakukan adalah berguna, minimal untuk diriku pribadi. Kalaupun tidak, aku tak ingin melakukan kegiatan yang sia-sia. Apalagi yang merugikan, sangatlah tak ingin ku lakukan.
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia sibuk hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semaleman dengan dalih menghilangkan penat. Namun di sisi lain, kesibukan manusia bermuara pada kehidupan di masa depan. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik kecilnya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di saat waktu sibuknya.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satunya nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia sibuk hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semaleman dengan dalih menghilangkan penat. Namun di sisi lain, kesibukan manusia bermuara pada kehidupan di masa depan. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik kecilnya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di saat waktu sibuknya.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satunya nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!
Syukurku
Jiwa kedamaian telah diraih di penghujung masa-masa perjuangan pahit ini.
Dilema hidup pernah dihadapi saat diri bimbang, jalan mana yang harus diraih. Semua itu penuh dengan tanya. Semua itu penuh dengan ketidak pastian. Namun semua itu telah menjadi pelajaran berharga buatku dalam menapaki perjalanan yang "singkat" ini.
Dilema hidup pernah dihadapi saat diri bimbang, jalan mana yang harus diraih. Semua itu penuh dengan tanya. Semua itu penuh dengan ketidak pastian. Namun semua itu telah menjadi pelajaran berharga buatku dalam menapaki perjalanan yang "singkat" ini.
Aku
Aku...
Yang berjalan dalam kelam
Yang menyusuri sinar malam
Yang merintih dalam diam
Tak tentu langkah tuk dituju
Hanya mengikuti arah angin menerpa
Sinar dunia petunjuk arah
Langit merah senja sang pelipur lara
Terdiam ku bertanya
Mengapa ku tak seperti badai
Yang mampu menerjang penghalang
Tak mudah terkalahkan oleh kokohnya beton
Yah...
Karena memang aku bukanlah mereka
Karena aku adalah aku
Dan tetap akan menjadi aku
Yang berjalan dalam kelam
Yang menyusuri sinar malam
Yang merintih dalam diam
Tak tentu langkah tuk dituju
Hanya mengikuti arah angin menerpa
Sinar dunia petunjuk arah
Langit merah senja sang pelipur lara
Terdiam ku bertanya
Mengapa ku tak seperti badai
Yang mampu menerjang penghalang
Tak mudah terkalahkan oleh kokohnya beton
Yah...
Karena memang aku bukanlah mereka
Karena aku adalah aku
Dan tetap akan menjadi aku
Butuh Jiwa Beriman
Hilang
Pecah beribu
Ketenanganku terusik
Merajai kegalauan diri
Tak kuat aku menopang kehidupan hitam nan panjang ini
Penarik dan penyimpul tali itu telah pergi
Sulit untuk giat bersama menyambung semuanya
Karena ia telah pergi
Aku yang kini terpuruk
Tak mampu berucap dan bertindak
Seolah kaku diri dibuat
Salam, senyum, sapa, dan kata bijakmu sangat ku butuh
Tuk menguatkan diri lemah ini
Sabar pilihan utama
Dan...
Kerinduan kehadirannya terus terbina dalam diri
Pecah beribu
Ketenanganku terusik
Merajai kegalauan diri
Tak kuat aku menopang kehidupan hitam nan panjang ini
Penarik dan penyimpul tali itu telah pergi
Sulit untuk giat bersama menyambung semuanya
Karena ia telah pergi
Aku yang kini terpuruk
Tak mampu berucap dan bertindak
Seolah kaku diri dibuat
Salam, senyum, sapa, dan kata bijakmu sangat ku butuh
Tuk menguatkan diri lemah ini
Sabar pilihan utama
Dan...
Kerinduan kehadirannya terus terbina dalam diri
Perpisahan Yang Bahagia
Bertemu wajah bahagia
Saat penghujung hari itu tiba
Mereka tertawa sambil tersenyum
Dan mengucapkan selamat tinggal
Telah menyemai suka dalam hati
Tuk jumpa tanah
Yang telah lama tak dijejaki
Salam bahagia padanya
Agar senyum merekah itu terus berkibar
Tak menjadi sisa
Di penghujung tahun
Di penghujung waktu
Dengan macam tanggung jawab kehidupan yang terus menanti
Salam bahagia untuk semua
Saat penghujung hari itu tiba
Mereka tertawa sambil tersenyum
Dan mengucapkan selamat tinggal
Telah menyemai suka dalam hati
Tuk jumpa tanah
Yang telah lama tak dijejaki
Salam bahagia padanya
Agar senyum merekah itu terus berkibar
Tak menjadi sisa
Di penghujung tahun
Di penghujung waktu
Dengan macam tanggung jawab kehidupan yang terus menanti
Salam bahagia untuk semua
Dialah Jiwa Bijak
Aku baru tersadar dengan semua ucapannya kemarin
Bahwa...
Dia terlalu tegar
Dia terlalu bijaksana
Yang pastinya dia lebih dari segala yang kuperkiran
Bahkan...
Sangat jauh dibanding denganku
Aku yang merasa telah berilmu
Aku yang merasa telah bijaksana
Aku yang merasa telah tabah
Yang intinya aku merasa lebih baik darinya
Telak telah menjadi angan-angan belaka
Sangat jauh perbandingannya secara nyata
Malu diri dibuatnya
Tertunduk diri menatapnya
Tak henti diri meratapi keangkuhan diri
Mengapa aku menolak kenyataan itu?
Yah... Itu semua karena keangkuhan diri
Tak ingin ada yang lebih baik dari diri
Hei... Kawan...
Tidakkah kau masih terpejam
Menikmati semua mimpi-mimpimu itu
Terpedaya akan nyenyaknya tidurmu
Hingga kau terlupa akan dunia nyata yang telah dan akan kau hadapi
Ayolah... Kawan...
Buka matamu
Lihat semua yang ada di hadapanmu
Buka pikiranmu
Tidakkah itu adalah alur wajar kehidupan
Buka hatimu
Tuk terima semua kehidupan ini
Sepahit apa pun itu
Karena semua bisa menjadi jembatan bagimu
Dalam mencapai ketaqwaan kepada ALLAH SWT
Bahwa...
Dia terlalu tegar
Dia terlalu bijaksana
Yang pastinya dia lebih dari segala yang kuperkiran
Bahkan...
Sangat jauh dibanding denganku
Aku yang merasa telah berilmu
Aku yang merasa telah bijaksana
Aku yang merasa telah tabah
Yang intinya aku merasa lebih baik darinya
Telak telah menjadi angan-angan belaka
Sangat jauh perbandingannya secara nyata
Malu diri dibuatnya
Tertunduk diri menatapnya
Tak henti diri meratapi keangkuhan diri
Mengapa aku menolak kenyataan itu?
Yah... Itu semua karena keangkuhan diri
Tak ingin ada yang lebih baik dari diri
Hei... Kawan...
Tidakkah kau masih terpejam
Menikmati semua mimpi-mimpimu itu
Terpedaya akan nyenyaknya tidurmu
Hingga kau terlupa akan dunia nyata yang telah dan akan kau hadapi
Ayolah... Kawan...
Buka matamu
Lihat semua yang ada di hadapanmu
Buka pikiranmu
Tidakkah itu adalah alur wajar kehidupan
Buka hatimu
Tuk terima semua kehidupan ini
Sepahit apa pun itu
Karena semua bisa menjadi jembatan bagimu
Dalam mencapai ketaqwaan kepada ALLAH SWT
Hentakan Tajam
Tak hendak tuk mengeluh
Tak hendak tuk meringkuh
Diri kecil tak berarti apa-apa
Bahkan bertindak pun terbatas pada angan-angan
Kebodohan diri terus mempesona masa
Yang membuat hati terluka
Tak ingin diri menghilang
Tak ingin diri diterjang
Diri ingin terus melayang bebas
Melanglang buana ke alam terbuka
Tak ada hentakan
Tak ada makian
Tak ada kata tuk mengusir tubuh ini
Diri ingin menjadi yang terbaik
Tak hendak tuk meringkuh
Diri kecil tak berarti apa-apa
Bahkan bertindak pun terbatas pada angan-angan
Kebodohan diri terus mempesona masa
Yang membuat hati terluka
Tak ingin diri menghilang
Tak ingin diri diterjang
Diri ingin terus melayang bebas
Melanglang buana ke alam terbuka
Tak ada hentakan
Tak ada makian
Tak ada kata tuk mengusir tubuh ini
Diri ingin menjadi yang terbaik
Jiwa Munafik
Berawal dalam keheningan
Menyusuri lembah belukar yang hitam
Menjauh meninggalkan riak sungai
Tak diam menyongsong fajar
Menggelayuti malam yang makin membahana
Tertusuk luka lama
Membuka kembali kehadiran Sang pendusta
Mendustai sore hari yang ditinggalkan
Ratapan tak jua usai
Menyelubungi riang tawa
Hai...
Sang muka manis
Menyusuri lembah belukar yang hitam
Menjauh meninggalkan riak sungai
Tak diam menyongsong fajar
Menggelayuti malam yang makin membahana
Tertusuk luka lama
Membuka kembali kehadiran Sang pendusta
Mendustai sore hari yang ditinggalkan
Ratapan tak jua usai
Menyelubungi riang tawa
Hai...
Sang muka manis
Khusnul Khotimah
Terasa bintang gemerlap menyapu gelapnya malam
Memeriahkan suasana sunyi kelam
Tak pelak diri berguncang
Bertandang pada kedamaian
Menikmati dinginnya kesejukan
Matipun terasa nikmat jika terus dalam kedamaian
Damai yang terang benderang
Damai yang membawa pada kebahagiaan hakiki
Kebahagiaan bertemu Ilahi
Terus memberi petunjuk sang bintang
Pada insan yang meradang
Karena ia tak ingin keindahannya menghilang
Dengan menyertai perjuangan yang bertandang tajam
Tuk menikmati jiwa ibadah kepada Sang Penciptanya
Memeriahkan suasana sunyi kelam
Tak pelak diri berguncang
Bertandang pada kedamaian
Menikmati dinginnya kesejukan
Matipun terasa nikmat jika terus dalam kedamaian
Damai yang terang benderang
Damai yang membawa pada kebahagiaan hakiki
Kebahagiaan bertemu Ilahi
Terus memberi petunjuk sang bintang
Pada insan yang meradang
Karena ia tak ingin keindahannya menghilang
Dengan menyertai perjuangan yang bertandang tajam
Tuk menikmati jiwa ibadah kepada Sang Penciptanya
Insan Impian
Sosok yang dicari terus pergi
Yang tak jelas kapan kembali
Ia terus hadir dalam mimpi
Membuat risaunya hati
Ingin terus menatapi
Dan...
Terus berkelana bersama menjalani
Jalan panjang terus ku daki
Demi meraih sosok ini
Sosok yang ku cintai
Sosok yang membuat hidup terasa nikmat abadi
Karena semuanya adalah berkah Ilahi
Yang terus tertanam dalam diri
Tuk mencari sosok ini...
Yang tak jelas kapan kembali
Ia terus hadir dalam mimpi
Membuat risaunya hati
Ingin terus menatapi
Dan...
Terus berkelana bersama menjalani
Jalan panjang terus ku daki
Demi meraih sosok ini
Sosok yang ku cintai
Sosok yang membuat hidup terasa nikmat abadi
Karena semuanya adalah berkah Ilahi
Yang terus tertanam dalam diri
Tuk mencari sosok ini...
Musnahlah Diam
Berpikir diam menjembatani ruang
Tak bermakna dalam hidup jika diam
Tak berpenghasilan diri jika terbengkalai
Gerakan tindakan harus terus menuai
Dengan harapan impian yang akan dapat dicapai
Perpanjangkan angan-angan
Karena akan membuat semangat terus dibelai
Bakar musnah layu tak berdaya
Karena hanya akan menjadikan alasan
Tuk terus berdiam diri
Sampai diri tak mampu lagi bergerak untuk selamanya
Tak bermakna dalam hidup jika diam
Tak berpenghasilan diri jika terbengkalai
Gerakan tindakan harus terus menuai
Dengan harapan impian yang akan dapat dicapai
Perpanjangkan angan-angan
Karena akan membuat semangat terus dibelai
Bakar musnah layu tak berdaya
Karena hanya akan menjadikan alasan
Tuk terus berdiam diri
Sampai diri tak mampu lagi bergerak untuk selamanya
Sepi
Kadang diri tak mampu menguasai perjalan hati
Menuju terbang bebas tak terkendali
Berkelana sendiri melintasi hari
Dan tak mampu untuk menghindari sepi
Mata pun berkelana dalam perjalanan panjang
Tak ingin menoleh orang-orang yang terdampar
Tersingkir tak dapat bertindak
Mati karena diterjang
Kaku karena tak berkemampuan
Dalam hening mungkin mereka melihat
Namun...
Lari kembali meninggalkan kebodohan itu
Kebodohan yang tak hendak dicapai
Tak hendak diakui namun terus tampak tak terkendali
Menuju terbang bebas tak terkendali
Berkelana sendiri melintasi hari
Dan tak mampu untuk menghindari sepi
Mata pun berkelana dalam perjalanan panjang
Tak ingin menoleh orang-orang yang terdampar
Tersingkir tak dapat bertindak
Mati karena diterjang
Kaku karena tak berkemampuan
Dalam hening mungkin mereka melihat
Namun...
Lari kembali meninggalkan kebodohan itu
Kebodohan yang tak hendak dicapai
Tak hendak diakui namun terus tampak tak terkendali
Kamis, 27 Desember 2007
AYAH
Terkadang tak terpikir dalam menjalankan hidup ini akan peran besarnya terhadap diri. Bahkan terkadang ku seolah menutup mata dan melupakan jasa besarnya.
Tidakkah menjadi perhatian, diri ini tumbuh dan berkembang dengan hampir sangat sempurna karena salah satunya atas usahanya atas diri ini. Dan lihatlah posisi yang diraih saat ini, apakah itu terlepas dari jasa beliau? Tidak sama sekali tidak
Beliau dahulu selalu berada di sampingku, bahkan ku menangisinya ketika tak berada di pangkuanku. Tapi sekarang apakah aku berlaku demikian? Belum tentu Tapi di balik itu semua, aku dahulu merindukan keberadaanya, mendambakan rasa kasih sayangnya, dan pastinya, merasa tenang dan damai bila berada dalam pelukan hangatnya.
Dia lah sosok kuat nan tegar dalam menghidupi suasana rumah. Dialah sang pemimpin yang sangat perkasa. Sang manager keluarga yang super profesional, sehingga dapat menghasilkan sosok diri ini. Sosok yang mungkin didambakan beliau dahulu. Sosok yang beliau saat ini banggakan.
Yah dialah AYAH
Sangat jelas diingatan. Kau dahulu mampu menggendongku dan kakakku sekaligus di atas bahumu. Bahkan sesekali ku menarik rambutmu hanya untuk memberi keseimbangan diriku. Yang kesemuanya hanya untuk membuatku tertawa. Hanya tuk membuatku bahagia. Hanya untuk memberi pengetahuan kepadaku bagaimana rasanya berada pada posisi ketinggian.
AYAH
Ku ingat Kau membawa ku ke suatu tempat bersama dengan kakak. Yah Kau sendiri yang membawa kami berdua menaiki bus angkutan umum dan menyeberangi sungai dengan sebuah kapal angkutan umum tuk menunjukkan kepada kami dunia luar. Seolah saat itu Kau berkata, Nak, dunia tak sebatas di dalam rumahmu, di keluargamu, atau bahkan disekitarmu saat ini. Lihatlah duniamu ada daratan. Tapi jangan lupakan duniamu juga ada perairan.
AYAH
Tiap pagi Kau berangkat kerja tuk menafkahi keluargamu dengan sepeda tuamu, kendaraan kesayanganmu satu-satunya, senjata hidupmu. Padahal ku tahu, jarak yang Kau tempuh tak dekat. Butuh waktu lama tuk menjangkaunya. Namun Kau tetap teguh pendirian tuk setia pada senjata hidupmu itu. Demi istrimu, demi anak-anakmu, demi seluruh keluargamu. Yang Kau lupakan dirimu demi semua itu.
Setelah pulangnya dari tempat kerja, Kau tertidur pulas di bilik keluarga. Bahkan terkadang keringatmu menyertai nyenyaknya tidurmu. Nafasmu terengah. Kulitmu kuperhatikan memerah karena teriknya sinar sang mentari menyapamu. Semua itu Kau relakan demi keluargamu.
Padahal dengan uang yang Kau raih, Kau dapat membeli kendaraan bermesin yang tidak melelahkanmu. Atau setidaknya Kau dapat naik angkutan umum yang tidak membuat kulitmu berteriak kepanasan. Tidak Tidak Semua itu tak Kau lakukan. Karena cerdasnya manajemen keluargamu. Kuatnya rasa khawatirmu terhadap kebutuhan keluarga. Terlebih terhadap Kami, anak-anakmu.
AYAH
Kulihat ada orang yang rela menjerumuskan dirinya dalam dosa demi menafkan keluarganya. Yah.. demi kecintaaanya terhadap keluarganya, tentunya. Namun Kau kulihat, tak rela membiarkan diri-diri Kami dalam keluargamu menyentuh panasnya nafkah setan, tak berkahnya harta haram. Padahal ku tahu, semua itu disertai dengan konsekuensi yang berat. Kau harus bekerja banting tulang. Demi semua itu, ku salut, Kau merelakannya.
AYAH
Kau tak henti-hentinya menunjukkan ketegaranmu di hadapan anggota keluragamu. Padahal ku tahu Kau lelah, Kau letih, Kau sangat butuh pertolongan kami. Ku tahu beban itu sangat berat sekali untuk Kau pikul sendiri. Tapi Kau tersenyum dan dengan hangatnya Kau memeluk dan menciumku. Yah mungkin dengan ulah manjaku semua rasa itu dapat lenyap.
AYAH
Terlihat sekarang Kau telah banyak berubah. Setelah sekian lama tak berjumpa. Kulitmu tak sekencang dulu, saat Kau masih berjiwa muda. Satu per satu rambutmu dipenuhi hiasan putih yang menandakan saat ini Kau tak muda lagi. Tubuhmu seolah tak mampu lagi menopang jiwa semangatmu yang masih menggebu, sehingga terkadang lelah dengan mudahnya menyerangmu. Rentamu terselimuti penyakitmu yang silih berganti pergi.
Ayah sekarang Kau telah banyak berubah. Masamu tak lagi seperti dahulu. Saat semua penuh semangat, penuh gairah, penuh dengan perjuang keras. Kau tetap tuk meraih semua itu. Kau tunjukkan padaku bahwa dirimu tak kalah dengan usiamu.
Ku tahu, AYAH semua itu adalah pelajaran yang diperuntukkan kepadaku. Namun rasa egoisku terkadang enggan tuk menerimanya, enggan tuk melakukannya, bahkan terkadang menentangnya dengan tindakan. Yang semua itu membuatmu sedikit kecewa terhadap diri walau tak Kau nampakkan secara nyata di wajahmu.
Aku yang telah beranjak dewasa, merasa tak pantas lagi berjalan berdampingan dengan mu. Yah dengan berdalih aku telah dewasa. Padahal saat ini, dialah yang membutuhknku, butuh tuntunanku saat ia berjalan, butuh arahanku saat matanya tak awas lagi melihat dunia yang seolah telah Kau telan mentah-mentah. Bahkan terkadang Kau dengan bersusah payah pergi ke tempat tujuanmu sendiri karena Kau tak ingin menyusahkan orang lain. AYAH kumohon,, katakanlah kalimat itu. Tolong Nak!
Sekarang hanya dapat ku bayangkan wajah tegarmu, tubuh perkasamu, jiwa sejukmu. Karena Kau telah berada jauh dariku. Karena Kau tak lagi di sampingku.
Jasamu kan selalu kukenang, kan selalu ku abdikan, kan selalu ku terapkan untuk kehidupanku. Karena itulah yang Kau ingin selama ini. Kau ingin ku tegar sepertimu, perkasa sepertimu, kuat sepertimu. Akan dan selalu akan kulakukan semua.
Terima kasih AYAH. Smg semua jasamu beriringan dg kebaikanmu, semuanya diterima sbg amalan bekalmu di Hari Pertimbangan kelak.
Tidakkah menjadi perhatian, diri ini tumbuh dan berkembang dengan hampir sangat sempurna karena salah satunya atas usahanya atas diri ini. Dan lihatlah posisi yang diraih saat ini, apakah itu terlepas dari jasa beliau? Tidak sama sekali tidak
Beliau dahulu selalu berada di sampingku, bahkan ku menangisinya ketika tak berada di pangkuanku. Tapi sekarang apakah aku berlaku demikian? Belum tentu Tapi di balik itu semua, aku dahulu merindukan keberadaanya, mendambakan rasa kasih sayangnya, dan pastinya, merasa tenang dan damai bila berada dalam pelukan hangatnya.
Dia lah sosok kuat nan tegar dalam menghidupi suasana rumah. Dialah sang pemimpin yang sangat perkasa. Sang manager keluarga yang super profesional, sehingga dapat menghasilkan sosok diri ini. Sosok yang mungkin didambakan beliau dahulu. Sosok yang beliau saat ini banggakan.
Yah dialah AYAH
Sangat jelas diingatan. Kau dahulu mampu menggendongku dan kakakku sekaligus di atas bahumu. Bahkan sesekali ku menarik rambutmu hanya untuk memberi keseimbangan diriku. Yang kesemuanya hanya untuk membuatku tertawa. Hanya tuk membuatku bahagia. Hanya untuk memberi pengetahuan kepadaku bagaimana rasanya berada pada posisi ketinggian.
AYAH
Ku ingat Kau membawa ku ke suatu tempat bersama dengan kakak. Yah Kau sendiri yang membawa kami berdua menaiki bus angkutan umum dan menyeberangi sungai dengan sebuah kapal angkutan umum tuk menunjukkan kepada kami dunia luar. Seolah saat itu Kau berkata, Nak, dunia tak sebatas di dalam rumahmu, di keluargamu, atau bahkan disekitarmu saat ini. Lihatlah duniamu ada daratan. Tapi jangan lupakan duniamu juga ada perairan.
AYAH
Tiap pagi Kau berangkat kerja tuk menafkahi keluargamu dengan sepeda tuamu, kendaraan kesayanganmu satu-satunya, senjata hidupmu. Padahal ku tahu, jarak yang Kau tempuh tak dekat. Butuh waktu lama tuk menjangkaunya. Namun Kau tetap teguh pendirian tuk setia pada senjata hidupmu itu. Demi istrimu, demi anak-anakmu, demi seluruh keluargamu. Yang Kau lupakan dirimu demi semua itu.
Setelah pulangnya dari tempat kerja, Kau tertidur pulas di bilik keluarga. Bahkan terkadang keringatmu menyertai nyenyaknya tidurmu. Nafasmu terengah. Kulitmu kuperhatikan memerah karena teriknya sinar sang mentari menyapamu. Semua itu Kau relakan demi keluargamu.
Padahal dengan uang yang Kau raih, Kau dapat membeli kendaraan bermesin yang tidak melelahkanmu. Atau setidaknya Kau dapat naik angkutan umum yang tidak membuat kulitmu berteriak kepanasan. Tidak Tidak Semua itu tak Kau lakukan. Karena cerdasnya manajemen keluargamu. Kuatnya rasa khawatirmu terhadap kebutuhan keluarga. Terlebih terhadap Kami, anak-anakmu.
AYAH
Kulihat ada orang yang rela menjerumuskan dirinya dalam dosa demi menafkan keluarganya. Yah.. demi kecintaaanya terhadap keluarganya, tentunya. Namun Kau kulihat, tak rela membiarkan diri-diri Kami dalam keluargamu menyentuh panasnya nafkah setan, tak berkahnya harta haram. Padahal ku tahu, semua itu disertai dengan konsekuensi yang berat. Kau harus bekerja banting tulang. Demi semua itu, ku salut, Kau merelakannya.
AYAH
Kau tak henti-hentinya menunjukkan ketegaranmu di hadapan anggota keluragamu. Padahal ku tahu Kau lelah, Kau letih, Kau sangat butuh pertolongan kami. Ku tahu beban itu sangat berat sekali untuk Kau pikul sendiri. Tapi Kau tersenyum dan dengan hangatnya Kau memeluk dan menciumku. Yah mungkin dengan ulah manjaku semua rasa itu dapat lenyap.
AYAH
Terlihat sekarang Kau telah banyak berubah. Setelah sekian lama tak berjumpa. Kulitmu tak sekencang dulu, saat Kau masih berjiwa muda. Satu per satu rambutmu dipenuhi hiasan putih yang menandakan saat ini Kau tak muda lagi. Tubuhmu seolah tak mampu lagi menopang jiwa semangatmu yang masih menggebu, sehingga terkadang lelah dengan mudahnya menyerangmu. Rentamu terselimuti penyakitmu yang silih berganti pergi.
Ayah sekarang Kau telah banyak berubah. Masamu tak lagi seperti dahulu. Saat semua penuh semangat, penuh gairah, penuh dengan perjuang keras. Kau tetap tuk meraih semua itu. Kau tunjukkan padaku bahwa dirimu tak kalah dengan usiamu.
Ku tahu, AYAH semua itu adalah pelajaran yang diperuntukkan kepadaku. Namun rasa egoisku terkadang enggan tuk menerimanya, enggan tuk melakukannya, bahkan terkadang menentangnya dengan tindakan. Yang semua itu membuatmu sedikit kecewa terhadap diri walau tak Kau nampakkan secara nyata di wajahmu.
Aku yang telah beranjak dewasa, merasa tak pantas lagi berjalan berdampingan dengan mu. Yah dengan berdalih aku telah dewasa. Padahal saat ini, dialah yang membutuhknku, butuh tuntunanku saat ia berjalan, butuh arahanku saat matanya tak awas lagi melihat dunia yang seolah telah Kau telan mentah-mentah. Bahkan terkadang Kau dengan bersusah payah pergi ke tempat tujuanmu sendiri karena Kau tak ingin menyusahkan orang lain. AYAH kumohon,, katakanlah kalimat itu. Tolong Nak!
Sekarang hanya dapat ku bayangkan wajah tegarmu, tubuh perkasamu, jiwa sejukmu. Karena Kau telah berada jauh dariku. Karena Kau tak lagi di sampingku.
Jasamu kan selalu kukenang, kan selalu ku abdikan, kan selalu ku terapkan untuk kehidupanku. Karena itulah yang Kau ingin selama ini. Kau ingin ku tegar sepertimu, perkasa sepertimu, kuat sepertimu. Akan dan selalu akan kulakukan semua.
Terima kasih AYAH. Smg semua jasamu beriringan dg kebaikanmu, semuanya diterima sbg amalan bekalmu di Hari Pertimbangan kelak.
Rabu, 31 Oktober 2007
Tak Lebih Dari Manusia Biasa
Aku berkata
Mereka manusia
Selayaknya bertingkah sama
Tak perlu penghambaan yang lebih
Karena...
Mereka manusia
Selebihnya...
Mereka punya posisi khusus
Yang layak dibanggakan untuknya
Dan demi pencapaian kemanusiaannya
Semua berharap sama
Semua memiliki keinginan yang tak berbeda
Terlebih aku yang berkata
Aku harus lebih dari mereka
Mereka manusia
Selayaknya bertingkah sama
Tak perlu penghambaan yang lebih
Karena...
Mereka manusia
Selebihnya...
Mereka punya posisi khusus
Yang layak dibanggakan untuknya
Dan demi pencapaian kemanusiaannya
Semua berharap sama
Semua memiliki keinginan yang tak berbeda
Terlebih aku yang berkata
Aku harus lebih dari mereka
Jiwa Tunggal
Pertama berlaku tak seperti awal
Perlakuan menuju pada kearifan
Bertindak akan ketiadaan
Tersendat pada sekumpulan manusia
Yang semua tak berpihak akan keindahan
Dan
Angin panas menyentuh manusia sendiri
Tuk hadapi jiwa bersama
Menanti semua bertatap muka
Perlakuan menuju pada kearifan
Bertindak akan ketiadaan
Tersendat pada sekumpulan manusia
Yang semua tak berpihak akan keindahan
Dan
Angin panas menyentuh manusia sendiri
Tuk hadapi jiwa bersama
Menanti semua bertatap muka
Senin, 22 Oktober 2007
Pertemuan Setelah Perpisahan
Hentakan jiwa jika bertemu
Ledakan hati tuk menyatu
Namun...
Lagu tak dapat menghantarkan
Anginpun tak dapat menyampaikan
Semua hanya dapat melalui raga
Pertemuan jiwa yang bersama
Merangkul erat
Tuk kembalikan diri menjadi suci
Tuk jadikan diri terus akrab abadi
Keajaiban
Jangan kau menghilang
Tak ingin ku ada yang merenggutnya
Karena jiwa dapat kokoh
Dengan tumbuhnya keajaiban
Ledakan hati tuk menyatu
Namun...
Lagu tak dapat menghantarkan
Anginpun tak dapat menyampaikan
Semua hanya dapat melalui raga
Pertemuan jiwa yang bersama
Merangkul erat
Tuk kembalikan diri menjadi suci
Tuk jadikan diri terus akrab abadi
Keajaiban
Jangan kau menghilang
Tak ingin ku ada yang merenggutnya
Karena jiwa dapat kokoh
Dengan tumbuhnya keajaiban
Desakan Pikiran
Salah satu tindakan aneh ku
Dialah menjadi pemicu
Tak berpikir lama
Selalu tiba-tiba
Dan melupakan sebab akibat
Untuk kehidupan kemarin, sekarang, dan akan datang
Selamat memasuki dunia baru
Di mana semua mata tertuju pada satu
Semua tindakan berlaku tuk semua
Tentukanlah niat
Satukanlah tekad
Jika hanya untuk mereka
Maka...
Matilah kau diri...
Tapi...
Jika tertuju hanya untuk ALLAH
Kau pastinya mendapat keredhoan dari-Nya
Dan yang pastinya...
Ketenangan jiwa telah akan kau raih
Dialah menjadi pemicu
Tak berpikir lama
Selalu tiba-tiba
Dan melupakan sebab akibat
Untuk kehidupan kemarin, sekarang, dan akan datang
Selamat memasuki dunia baru
Di mana semua mata tertuju pada satu
Semua tindakan berlaku tuk semua
Tentukanlah niat
Satukanlah tekad
Jika hanya untuk mereka
Maka...
Matilah kau diri...
Tapi...
Jika tertuju hanya untuk ALLAH
Kau pastinya mendapat keredhoan dari-Nya
Dan yang pastinya...
Ketenangan jiwa telah akan kau raih
Sabtu, 20 Oktober 2007
Harapan di Akhir Waktu
Harapan terus menjunjung
Melampaui terbatas raga
Melemah walau dia jauh
Mencari di penghujung waktu
Berharap perubahan terlaksana
Berharap terjadinya pembaharuan
Jiwa tak lekang dimakan zaman
Walau tak ditopang kokohnya raga
Melampaui terbatas raga
Melemah walau dia jauh
Mencari di penghujung waktu
Berharap perubahan terlaksana
Berharap terjadinya pembaharuan
Jiwa tak lekang dimakan zaman
Walau tak ditopang kokohnya raga
Perjalananku Dengannya
Berkataku padanya
Jadilah kau lebih baik
Namun tak terduga
Ia terdiam tak bertindak
Terpaku akan ucapan
Walau pergerakan yang sama tergelar
Usaha tak dapat sekaligus terhasilkan
Meruntuhkan perasaan tenang
Jadilah kau lebih baik
Namun tak terduga
Ia terdiam tak bertindak
Terpaku akan ucapan
Walau pergerakan yang sama tergelar
Usaha tak dapat sekaligus terhasilkan
Meruntuhkan perasaan tenang
Perusak Masa
Ketika kezaliman merajalela
Diripun tak jua membendungnya
Sekelebat peluang menyeruak
Bingung tuk tentukan arah
Langkah tunggal terasa dilaksanakan
Ingin merengkuhnya
Namun...
Sang pelaku kezalimanlah sebagai pemicu
Menuju jalan perpecahan
Diripun tak jua membendungnya
Sekelebat peluang menyeruak
Bingung tuk tentukan arah
Langkah tunggal terasa dilaksanakan
Ingin merengkuhnya
Namun...
Sang pelaku kezalimanlah sebagai pemicu
Menuju jalan perpecahan
Pandangan Hidup
Dulu aku berharap semua kan menyatu dalam kenangan manis
Bergerak tak indahkan siang menyangat
Walau kadang dingin malam menusuk tulang iga
Tapi...
Semua telah pergi
Semua telah berlalu
Dan yang pasti
Semua tak sesuai harapan
Harus kuhadapi hari
Dengan menyongsong hari esok
Tak kulihat kembali hari kemarin
Karena semua akan menjadi penyesalan
Biarlah...
Berusahalah...
Lakukanlah yang terbaik hari ini
Bergerak tak indahkan siang menyangat
Walau kadang dingin malam menusuk tulang iga
Tapi...
Semua telah pergi
Semua telah berlalu
Dan yang pasti
Semua tak sesuai harapan
Harus kuhadapi hari
Dengan menyongsong hari esok
Tak kulihat kembali hari kemarin
Karena semua akan menjadi penyesalan
Biarlah...
Berusahalah...
Lakukanlah yang terbaik hari ini
Dariku untukmu
Ingin kuucapkan terima kasih pada tiap insan
Namun apa daya keterbatasan melampaui
Ingin kuucapkan maaf pada tiap jiwa
Namun hembusan angin tak dapat beriringan menyampaikan
Biarkan diri bertindak
Ku hanya ingin terbaik untuk diriku
Juga untuk mereka
Tanpa ada noda yang menyertai
Namun apa daya keterbatasan melampaui
Ingin kuucapkan maaf pada tiap jiwa
Namun hembusan angin tak dapat beriringan menyampaikan
Biarkan diri bertindak
Ku hanya ingin terbaik untuk diriku
Juga untuk mereka
Tanpa ada noda yang menyertai
Memasuki Perubahan Dunia
Perubahan tampak
Tak sama dengan sebelumnya
Hati terasa kaku
Keras membeku
Sulit mencairkan suasana
Apalagi beramah tamah
Sangat tertolak diri tuk berlaku
Walau diri sangat ingin tuk melakukannya
Namun tak dapat dukungan dari mereka
Mereka menilaiku aneh
Mereka menganggapku tak baik
Mereka menganggapku bodoh
Dalam menyikapi kehidupan dunia ini
Akankah aku keluar lagi
Dan...
Dalam waktu yang lama aku tak kembali?
Ataukah aku harus di sini
Merubah keadaan gersang ini?
Tunjukilah ku pada jalan kebenaran ini
Agar ku terus dapat menikmati kesejukan cahaya itu
Karena Kau...
Maha Pemberi Petunjuk
Lagi Maha Pemberi Kasih dan Sayang
Kaulah Robb ku...
Ya ALLAH SWT...
Tak sama dengan sebelumnya
Hati terasa kaku
Keras membeku
Sulit mencairkan suasana
Apalagi beramah tamah
Sangat tertolak diri tuk berlaku
Walau diri sangat ingin tuk melakukannya
Namun tak dapat dukungan dari mereka
Mereka menilaiku aneh
Mereka menganggapku tak baik
Mereka menganggapku bodoh
Dalam menyikapi kehidupan dunia ini
Akankah aku keluar lagi
Dan...
Dalam waktu yang lama aku tak kembali?
Ataukah aku harus di sini
Merubah keadaan gersang ini?
Tunjukilah ku pada jalan kebenaran ini
Agar ku terus dapat menikmati kesejukan cahaya itu
Karena Kau...
Maha Pemberi Petunjuk
Lagi Maha Pemberi Kasih dan Sayang
Kaulah Robb ku...
Ya ALLAH SWT...
Saat Khilafnya Menyeruak
Dia berkata ada yang tahu
Dia berkata ada yang faham
Dia berkata ada yang mengajarkan
Namun dia tak mengerti mengapa ada penyimpangan
Mengapa ada kejahatan
Dia lupa...
Sesungguhnya dia manusia
Tempat lupa dan khilaf
Sesempurna apapun ia di matamu
Ingatlah... teman...
Dia hanyalah manusia...
Namun terlepas dari itu...
Kebaikannya janganlah kau lupakan,, teman...
Saat semua mencibirnya
Seharusnya kau mendekatnya
Tanyakan ada apa gerangan
Jika kau memang benar-benar peduli
Kuingin kau tak ikut mencibirnya
Karena ku tahu
Kau tak sejahat mereka
Kau tak seburuk mereka
Karena ku tahu
Kau faham implikasi tindakan itu
Dia berkata ada yang faham
Dia berkata ada yang mengajarkan
Namun dia tak mengerti mengapa ada penyimpangan
Mengapa ada kejahatan
Dia lupa...
Sesungguhnya dia manusia
Tempat lupa dan khilaf
Sesempurna apapun ia di matamu
Ingatlah... teman...
Dia hanyalah manusia...
Namun terlepas dari itu...
Kebaikannya janganlah kau lupakan,, teman...
Saat semua mencibirnya
Seharusnya kau mendekatnya
Tanyakan ada apa gerangan
Jika kau memang benar-benar peduli
Kuingin kau tak ikut mencibirnya
Karena ku tahu
Kau tak sejahat mereka
Kau tak seburuk mereka
Karena ku tahu
Kau faham implikasi tindakan itu
Keindahannya
Terus membayangi diri
Terus nampak di depan mata
Mereka tersenyum dengan sangat manis
Mengulurkan tangannya yang hangat
Mejabat tanganku dengan erat
Memeluk diri dengan penuh kasih sayang
Tertawanya yang sangat membahagiakan diri
Tetaplah indah di mataku
Tetaplah kau di hatiku
Tetaplah kau jadi kenangan manisku
Karena kau ku dapat meraih cahaya itu
Tentunya akan kehendak Sang Penentu
Hingga tak rela ku melepaskan hangatnya cahaya itu
Karena kau
Adalah Sahabatku
Terus nampak di depan mata
Mereka tersenyum dengan sangat manis
Mengulurkan tangannya yang hangat
Mejabat tanganku dengan erat
Memeluk diri dengan penuh kasih sayang
Tertawanya yang sangat membahagiakan diri
Tetaplah indah di mataku
Tetaplah kau di hatiku
Tetaplah kau jadi kenangan manisku
Karena kau ku dapat meraih cahaya itu
Tentunya akan kehendak Sang Penentu
Hingga tak rela ku melepaskan hangatnya cahaya itu
Karena kau
Adalah Sahabatku
Belahan Hatiku
Mereka adalah tantanganku
Mereka adalah ladang ku tuk menjadi lebih baik
Walau terus awan panas merusak benih yang kutebar di atasnya
Terus...
Dan terus ku tak menghentikan langkahku
Ku yakin mereka akan merasakan kenikmatan yang kurasa
Walau aku pun belum menjadi yang terbaik
Tapi apalah salah jika ku berusaha
Karena ku yakin Ia Maha Adil
Tak melupakan keringat hamba-Nya
Apalagi usaha tuk mendekat pada-Mu
Sebagai baktiku pada-Mu dan pada mereka
Bentangkanlah tanganku
Sambutlah keindahan ini
Rengkuhlah senja merah nan indah itu
Tuk songsong kegelapan di malam hari kelak
Mereka adalah ladang ku tuk menjadi lebih baik
Walau terus awan panas merusak benih yang kutebar di atasnya
Terus...
Dan terus ku tak menghentikan langkahku
Ku yakin mereka akan merasakan kenikmatan yang kurasa
Walau aku pun belum menjadi yang terbaik
Tapi apalah salah jika ku berusaha
Karena ku yakin Ia Maha Adil
Tak melupakan keringat hamba-Nya
Apalagi usaha tuk mendekat pada-Mu
Sebagai baktiku pada-Mu dan pada mereka
Bentangkanlah tanganku
Sambutlah keindahan ini
Rengkuhlah senja merah nan indah itu
Tuk songsong kegelapan di malam hari kelak
Pahlawan Jiwa
Caci maki tertular indah
Kekerasan dalam merajalela dalam berkata
Mampu diri tuk membendung
Dan seringnya diri terus terhanyut
Tak ingin diri mengikuti arusnya
Diri inginkan tuk jadi penahan derasnya aliran
Agar sang insan tak mati terhanyut derasnya aliran
Kekerasan dalam merajalela dalam berkata
Mampu diri tuk membendung
Dan seringnya diri terus terhanyut
Tak ingin diri mengikuti arusnya
Diri inginkan tuk jadi penahan derasnya aliran
Agar sang insan tak mati terhanyut derasnya aliran
Penelusuran Takdir
Ingin ku hidup lebih lama lagi
Dengan adanya kedamaian di hati
Juga kesejukan di sekitar yang menyertai
Tapi...
Apalah daya diri
Semua tak mampu ku ketahui
Semua rahasia Ilahi
Diri hanya wajib mentaati
Tanpa adanya pertentangan dalam menyikapi
Semoga diri
Terus menggapai ridho Ilahi...
Dengan adanya kedamaian di hati
Juga kesejukan di sekitar yang menyertai
Tapi...
Apalah daya diri
Semua tak mampu ku ketahui
Semua rahasia Ilahi
Diri hanya wajib mentaati
Tanpa adanya pertentangan dalam menyikapi
Semoga diri
Terus menggapai ridho Ilahi...
Maafkanku Teman
"Kenapa, ada masalah?
Tentang keluarga?
Masalah pribadi?"
Terus dia memperhatikan diri
Dia faham diri tak sedang ceria
Dia tahu diri menghadapi aral hidup
Tapi maaf teman
Diri hanya bisa menjawab
"tidak ada apa-apa kok"
Disertai senyum getar diri
Yah...
Diri tak ingin kau terbebani
Karena kau sahabatku
Kau harus terus semangat
Tak ingin kau pandang diri dengan rasa iba
Namun dia dengan penuh rasa kasih sayang sebagai seorang sahabat
Terus menguatkan diri
Berkata dengan penuh hikmah
Terima kasih teman...
Kau tidak berubah
Kaulah sahabat sejatiku
Cinta dan kasih sayang persaudaraan kita tertuju hanya untuk ALLAH SWT
Tentang keluarga?
Masalah pribadi?"
Terus dia memperhatikan diri
Dia faham diri tak sedang ceria
Dia tahu diri menghadapi aral hidup
Tapi maaf teman
Diri hanya bisa menjawab
"tidak ada apa-apa kok"
Disertai senyum getar diri
Yah...
Diri tak ingin kau terbebani
Karena kau sahabatku
Kau harus terus semangat
Tak ingin kau pandang diri dengan rasa iba
Namun dia dengan penuh rasa kasih sayang sebagai seorang sahabat
Terus menguatkan diri
Berkata dengan penuh hikmah
Terima kasih teman...
Kau tidak berubah
Kaulah sahabat sejatiku
Cinta dan kasih sayang persaudaraan kita tertuju hanya untuk ALLAH SWT
Pertemuan Kembali
Tak terduga semua sangat pahit
Walau secara tampak terlihat manis
Tak terduga hasil itu sulit dicapai
Yang diduga hanya dengan satu uluran tangan
Di tempat yang agung itu
Dia bercerita...
Semua penuh air mata
Semua penuh kesendirian
Semua penuh dengan rasa tak bersemangat
Tetapi dia memilih arah jalan yang terang
Itulah yang patut ku syukuri
Tak menuju kekufuran
Hingga saat ini
Kau tidak manja
Kau tidak sering mengeluh
Terlebih kau sangat tegar dewasa ini
Teman...
Hikmah perpisahan telah nampak satu per satu pada kita
Memang Sang Maha Kuasa telah memberi yang terbaik untuk kita
Walau secara tampak terlihat manis
Tak terduga hasil itu sulit dicapai
Yang diduga hanya dengan satu uluran tangan
Di tempat yang agung itu
Dia bercerita...
Semua penuh air mata
Semua penuh kesendirian
Semua penuh dengan rasa tak bersemangat
Tetapi dia memilih arah jalan yang terang
Itulah yang patut ku syukuri
Tak menuju kekufuran
Hingga saat ini
Kau tidak manja
Kau tidak sering mengeluh
Terlebih kau sangat tegar dewasa ini
Teman...
Hikmah perpisahan telah nampak satu per satu pada kita
Memang Sang Maha Kuasa telah memberi yang terbaik untuk kita
Jumat, 28 September 2007
Teriakku Dahulu
Alhmdlh...
Akhirnya pengumuman itu keluar juga,, dan namaku tertera dalam kolom yang berjudul "...Dinyatakan lulus"
Wo...oooii... AKU LULUU...UUSSS!!!
Dan aku langsung BERPELUKAN (like telethubis)...
THANK'S for all of u, friend, atas dukungan & doanya selama ini,, semoga 4JJI membalas semua kebaikanmu,, INGAT SEMUA,, bahkan berlipat berganda..
Jazakalloh khoiron katsir..
Wass...
Akhirnya pengumuman itu keluar juga,, dan namaku tertera dalam kolom yang berjudul "...Dinyatakan lulus"
Wo...oooii... AKU LULUU...UUSSS!!!
Dan aku langsung BERPELUKAN (like telethubis)...
THANK'S for all of u, friend, atas dukungan & doanya selama ini,, semoga 4JJI membalas semua kebaikanmu,, INGAT SEMUA,, bahkan berlipat berganda..
Jazakalloh khoiron katsir..
Wass...
Pesan Dari Sahabat
Kami sulit menahan pandangan mata ketika melihat kalian, apalagi jika kalian diamanahkan ALLAH kecantikan dan postur yang ideal, kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian. Karena itu lebarkanlah pakaian kalian dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian dengan kerudung yang membentang.
Kami juga sulit menahan pendengaran kami ketika berbicara dengan kalian, apalagi jika kalian diamanahkan oleh ALLAH suara yang merdu dengan irama yang mendayu. Karena itu tegaskanlah suara kalian dan berbicaralah seperlunya.
Kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati kalian ketika kalian dapat menjadi tempat mencurahkan isi hati kami. Waktu luang kami akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian. Karena itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian.
Kami tahu kami paling lemah bila harus berhadapan dengan kalian. Kekerasan hati kami dengan mudah bisa luluh hanya dengan senyum kalian. Hati kami akan bergetar ketika mendengar kalian menangis. Sungguh ALLAH telah memberikan amanah terindah kepada kalian, maka jagalah jangan sampai ALLAH murka dan memberikan keputusan.
Maha Besar ALLAH yang tahu akan kelemahan hati kami. Hanya dengan ikatan yang suci dan yang diridhoi-Nya kalian akan halal bagi kami.
Lalu apa yang telah aku lakukan selama ini... Ya Rabb...tolong ampuni aku...untuk setiap pandangan yang tak terjaga, lisan yang merayu dan hati yang tak terhijab...
Ya Rabb...Engkau mengawasi kami tiap detik. Karena kasih sayangMu kepada kami, Engkau perintahkan malaikat silih berganti menemani kami siang dan malam...
Kami juga sulit menahan pendengaran kami ketika berbicara dengan kalian, apalagi jika kalian diamanahkan oleh ALLAH suara yang merdu dengan irama yang mendayu. Karena itu tegaskanlah suara kalian dan berbicaralah seperlunya.
Kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati kalian ketika kalian dapat menjadi tempat mencurahkan isi hati kami. Waktu luang kami akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian. Karena itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian.
Kami tahu kami paling lemah bila harus berhadapan dengan kalian. Kekerasan hati kami dengan mudah bisa luluh hanya dengan senyum kalian. Hati kami akan bergetar ketika mendengar kalian menangis. Sungguh ALLAH telah memberikan amanah terindah kepada kalian, maka jagalah jangan sampai ALLAH murka dan memberikan keputusan.
Maha Besar ALLAH yang tahu akan kelemahan hati kami. Hanya dengan ikatan yang suci dan yang diridhoi-Nya kalian akan halal bagi kami.
Lalu apa yang telah aku lakukan selama ini... Ya Rabb...tolong ampuni aku...untuk setiap pandangan yang tak terjaga, lisan yang merayu dan hati yang tak terhijab...
Ya Rabb...Engkau mengawasi kami tiap detik. Karena kasih sayangMu kepada kami, Engkau perintahkan malaikat silih berganti menemani kami siang dan malam...
Masa Yang Terlewati
Biarkanlah hilang tersapu hembusan sepoi sang angin
Mengalir menjauhi mengikuti aliran arus sang lembah
Sulit untuk dilihat kembali
Sulit tuk dinikmati lagi
Semua menjadi kenangan
Masuk pori-pori tubuh sampai hati yang terdalam
Mengalir menjauhi mengikuti aliran arus sang lembah
Sulit untuk dilihat kembali
Sulit tuk dinikmati lagi
Semua menjadi kenangan
Masuk pori-pori tubuh sampai hati yang terdalam
Pelarian Masa
Inginku kembali ke masa itu
Mengubah semua menjadi inginku
Memperbaiki seluruh kesalahanku
Memperindah tali persaudaraan kita
Namun waktu terus melesat
Ku menjerit merintih pun ia tak peduli
Karena titik akhir akan telah ia tuju
Mengubah semua menjadi inginku
Memperbaiki seluruh kesalahanku
Memperindah tali persaudaraan kita
Namun waktu terus melesat
Ku menjerit merintih pun ia tak peduli
Karena titik akhir akan telah ia tuju
Selasa, 25 September 2007
Di Ujung Itu...
Aku berharap penantian itu berakhir
Perjuangan perubahan terus dilakukan
Menuju perbaikan
Walau pertentangan bertebaran...
Ku takkan bimbang
Karena ini jalan kebenaran
Perjuangan perubahan terus dilakukan
Menuju perbaikan
Walau pertentangan bertebaran...
Ku takkan bimbang
Karena ini jalan kebenaran
Kamis, 20 September 2007
Salam Hormatku
Entah sekedar ucapan
Ataukah memang dari cerminan hati
Yang pasti ku berjanji
Tak akan mengingkari
Semua yang terpakri
Harus terus disikapi
Dia yang menjadi panutan telah berubah
Janggal dirasa
Tak manis tuk dinikmati
Memang...
Semua bisa termakan waktu
Tapi...
Tidak kuingin baginya
Dia...
Harus tetap yang terbaik
Ataukah memang dari cerminan hati
Yang pasti ku berjanji
Tak akan mengingkari
Semua yang terpakri
Harus terus disikapi
Dia yang menjadi panutan telah berubah
Janggal dirasa
Tak manis tuk dinikmati
Memang...
Semua bisa termakan waktu
Tapi...
Tidak kuingin baginya
Dia...
Harus tetap yang terbaik
Minggu, 16 September 2007
Dia Berkata
Aq sdh bc,... sempat terpikir klo gk ada kamu sapa lg yg bngunin subuh q nanti? tp berkt kamu kini aq sdh trbiasa bngun subuh k masjid. maafin smua salah q ya. aq nyesel slama stahun brsama gk bs nyenengin kamu. q crita k tmn2 dan adik. q bangga pnya kakak seiman kaya' kamu. doa dr mu slalu kuharap, q jg berdoa mdh2an kebaikan mu dibalas 4JJI dgn kebaikan yg banyak. Sampai ketemu lagi ya. love u coz 4JJI.
Kamis, 13 September 2007
Hakekat Berjuang
Bermimpilah..
Karena dengan bermimpi semangat hidupmu terus membara
Berjuanglah..
Karena dengan berjuang semua impianmu dapat kau capai
Dan bertawakallah..
Karena segalanya hanya Dia yang menentukan
Ingat..
Hidup tak cukup hanya dengan sekedar ucapan, apalagi dengan rintihan..
LAKUKAN dan KERJAKAN
Karena dengan bermimpi semangat hidupmu terus membara
Berjuanglah..
Karena dengan berjuang semua impianmu dapat kau capai
Dan bertawakallah..
Karena segalanya hanya Dia yang menentukan
Ingat..
Hidup tak cukup hanya dengan sekedar ucapan, apalagi dengan rintihan..
LAKUKAN dan KERJAKAN
Rabu, 12 September 2007
Wisudaku
Terwujudkan tujuan
Walau jauh dari impian
Terlaksana perayaan
Penuh dengan penghormatan
Semua berbahagia
Semua bangga
Semua ceria
Hitam menyelimuti suasana
Terpadu padan akan warna-warni pengiring
Perayaan pun telah terlaksana
Semua boleh tertawa
Semua boleh suka cita
Tapi...
Semua juga harus bersyukur
Karena...
Semua tak lepas akan kasih sayang dan cinta-Nya
***
Terima kasih ya ALLOH
Anugerah dan rahmat yang Kau beri ini sungguh sangat luar biasa dan tak ternilai dengan kata-kata.
Puji syukur atas semua limpahan kasih sayang-Mu itu
Aku terus hanya ingin beribadah kepada-Mu
Tak ingin diri kufur kepada-Mu
ALHAMDULILLAHIROBBIL 'ALAMIN
Walau jauh dari impian
Terlaksana perayaan
Penuh dengan penghormatan
Semua berbahagia
Semua bangga
Semua ceria
Hitam menyelimuti suasana
Terpadu padan akan warna-warni pengiring
Perayaan pun telah terlaksana
Semua boleh tertawa
Semua boleh suka cita
Tapi...
Semua juga harus bersyukur
Karena...
Semua tak lepas akan kasih sayang dan cinta-Nya
***
Terima kasih ya ALLOH
Anugerah dan rahmat yang Kau beri ini sungguh sangat luar biasa dan tak ternilai dengan kata-kata.
Puji syukur atas semua limpahan kasih sayang-Mu itu
Aku terus hanya ingin beribadah kepada-Mu
Tak ingin diri kufur kepada-Mu
ALHAMDULILLAHIROBBIL 'ALAMIN
Merubah
Terus bertingkah diri tuk jadi diri yang sok suci
Terus berkelana diri tuk benahi jiwa-jiwa tersayang
Terlebih jiwa-jiwa yang menyayangi
Tapi...
Pertentangan membabi buta
Menghentakkan perjalanan perubahan
Dia...
Terasa asing
Telah berubah
Dan tak ingin
Terjerembab dalam kenistaan
Terus berkelana diri tuk benahi jiwa-jiwa tersayang
Terlebih jiwa-jiwa yang menyayangi
Tapi...
Pertentangan membabi buta
Menghentakkan perjalanan perubahan
Dia...
Terasa asing
Telah berubah
Dan tak ingin
Terjerembab dalam kenistaan
Palsu
Tak terasa indah bila disapa
Tak terasa manis bila dirasa
Tak terasa bahagia bila berpisah
Waktu perlahan berputar pasti
Meninggalkan sosok terdiam
Tak tahu harus berbuat apa
Hilang pacu api
Tertinggal bekunya angin
Menusuk tulang iga
Tertuju pada kebinasaan
Tak terasa manis bila dirasa
Tak terasa bahagia bila berpisah
Waktu perlahan berputar pasti
Meninggalkan sosok terdiam
Tak tahu harus berbuat apa
Hilang pacu api
Tertinggal bekunya angin
Menusuk tulang iga
Tertuju pada kebinasaan
Senin, 10 September 2007
Pahlawan Harapan
Bertambah muda pada tampaknya
Bertambah mulia pada tingkahnya
Bertambah kuat aliran jiwa ketenangan
Dan...
Bertambah besar harapan tuk bangkit
Bahu membahu dalam perjuangan
Menuju alam perubahan
Ketenangan dari kegelisahan
Kemandirian dari kemanjaan
Kejelian dari kejahiliaan
Terkhusus...
Keimanan dari kekufuran
Bertambah mulia pada tingkahnya
Bertambah kuat aliran jiwa ketenangan
Dan...
Bertambah besar harapan tuk bangkit
Bahu membahu dalam perjuangan
Menuju alam perubahan
Ketenangan dari kegelisahan
Kemandirian dari kemanjaan
Kejelian dari kejahiliaan
Terkhusus...
Keimanan dari kekufuran
Jumat, 07 September 2007
Berulang Kembali
Ku tertipu
Untuk kesekian kali...
Aku tertipu
Marahku akannya
Kesalku pada ulahnya
Tak simpati ku dibuatnya
Dia hanya diam
Dan tersenyum
Tanpa mau berbuat lebih
Tuk sembuhkan luka hati
Untuk kesekian kali...
Aku tertipu
Marahku akannya
Kesalku pada ulahnya
Tak simpati ku dibuatnya
Dia hanya diam
Dan tersenyum
Tanpa mau berbuat lebih
Tuk sembuhkan luka hati
Rabu, 05 September 2007
Jelang Akhir
Maaf atas sikapku yang sangat tidak terkesan ramah menjadikan suasana terasa ganjil.
Yah itulah diri ini, yang kembali dalam masa kefuturan untuk kesekian kalinya.
Tak hendak diri bertutur akan keadaan ini karena hanya menambah beban bagi sang penerima "sampah" ini dan juga tak layak dijadikan sebagai "tong sampah".
Mungkin terbilang sangat sepele, tetapi semua itu sangat mempengaruhi sikap diri dalam usaha perbaikan dan perkembangan iman.
Diri terus merasa hina atas semua orang bahkan terkadang tak hendak diri berjumpa orang lain karena malu diri padanya.
Pernah diri mengekang diri dengan keluar hanya untuk seperlunya hanya karena diri tak pantas terhadap mereka.
Juga dalam ibadah, kenikmatanpun sangat sulit didapat.
Dan bahkan terus terdesak keinginan diri untuk mengurangi kuantitasnya.
Diri tak hendak kufur, namun diri tak dapat berbuat banyak.
Makin dilakukan terasa hanya semakin menjadi beban.
Sehingga target pencapaian diri tak tahu kemana rimbanya.
Juga diri tak dapat merasakan nikmatnya ukhuwah karena terusnya muncul prasangka diri.
Dengan berdalihku "mereka muncul di saat membutuhkan dan setelahnya pergi kembali."
Tersiksa diri akan perasaan ini, namun begitu sulit dienyahkan.
Pengharapan terus dinantikan disertai usaha perbaikan diri yang terus berjalan.
Yah itulah diri ini, yang kembali dalam masa kefuturan untuk kesekian kalinya.
Tak hendak diri bertutur akan keadaan ini karena hanya menambah beban bagi sang penerima "sampah" ini dan juga tak layak dijadikan sebagai "tong sampah".
Mungkin terbilang sangat sepele, tetapi semua itu sangat mempengaruhi sikap diri dalam usaha perbaikan dan perkembangan iman.
Diri terus merasa hina atas semua orang bahkan terkadang tak hendak diri berjumpa orang lain karena malu diri padanya.
Pernah diri mengekang diri dengan keluar hanya untuk seperlunya hanya karena diri tak pantas terhadap mereka.
Juga dalam ibadah, kenikmatanpun sangat sulit didapat.
Dan bahkan terus terdesak keinginan diri untuk mengurangi kuantitasnya.
Diri tak hendak kufur, namun diri tak dapat berbuat banyak.
Makin dilakukan terasa hanya semakin menjadi beban.
Sehingga target pencapaian diri tak tahu kemana rimbanya.
Juga diri tak dapat merasakan nikmatnya ukhuwah karena terusnya muncul prasangka diri.
Dengan berdalihku "mereka muncul di saat membutuhkan dan setelahnya pergi kembali."
Tersiksa diri akan perasaan ini, namun begitu sulit dienyahkan.
Pengharapan terus dinantikan disertai usaha perbaikan diri yang terus berjalan.
Quantum
Memaksimalkan potensi diri yang telah tertanam sejak lahir dan terpendam selama beratus-ratus bulan, tak terbayangkan akan mendahsyatkan perkembangan yang dahulunya terus terjerumus dalam lumpur busuk yang terus dihindari orang, bahkan meliriknya pun tidak
Tersiksa
Sangat sakit mencintai sesuatu
Sama halnya dengan membenci sesuatu
Sangat sulit dihilangkan
Juga sulit dicari
Semua terpendam dalam diri
Merajut titian hati yang tak mudah rapuh
Kelak itu bangkit kembalikah?
Ataukah terus terselubung dalam jiwa?
Sama halnya dengan membenci sesuatu
Sangat sulit dihilangkan
Juga sulit dicari
Semua terpendam dalam diri
Merajut titian hati yang tak mudah rapuh
Kelak itu bangkit kembalikah?
Ataukah terus terselubung dalam jiwa?
Mimpi
Kembali pada silam
Semua terulang jelas
Serasa diputar untuk dipertontonkan
Dan...
Kejadian masa depan
Sayup-sayup tampak
Aakh...
Apakah semua ilusi
Diri terasa bimbang
Terus ragu dalam tindakan
Tapi mengapa...
Semoga hanya sekedar mimpi
Semua terulang jelas
Serasa diputar untuk dipertontonkan
Dan...
Kejadian masa depan
Sayup-sayup tampak
Aakh...
Apakah semua ilusi
Diri terasa bimbang
Terus ragu dalam tindakan
Tapi mengapa...
Semoga hanya sekedar mimpi
Doaku Padanya
Pintaku jangan halangi dirimu tuk menjadi lebih baik
Terus berjuang
4JJI bersama kita
Walau bebatuan menghalangi langkah
Itu sebagai pertanda
Ia mencintaimu
Dan ku berharap
Ketegaran selalu ada padamu
Kesuksesan selalu melekat di dirimu
Dan pastinya
Keredhoan-Nya tetap selalu kau raih
Terus berjuang
4JJI bersama kita
Walau bebatuan menghalangi langkah
Itu sebagai pertanda
Ia mencintaimu
Dan ku berharap
Ketegaran selalu ada padamu
Kesuksesan selalu melekat di dirimu
Dan pastinya
Keredhoan-Nya tetap selalu kau raih
Salah Jalan
Aku pergi menjauhi bintang
Aku berlayar menuju lautan
Aku hilang di pulau tak bertuan
Bertajuk mimpi melepas malam
Lepas penat dipenghujung siang
Dulu berpikir wajahku bersinar
Dasar muka pucat tak indah
Teruslah meratapi diri
Waktu lampau tetap tak dapat diraih
Aku berlayar menuju lautan
Aku hilang di pulau tak bertuan
Bertajuk mimpi melepas malam
Lepas penat dipenghujung siang
Dulu berpikir wajahku bersinar
Dasar muka pucat tak indah
Teruslah meratapi diri
Waktu lampau tetap tak dapat diraih
Selasa, 04 September 2007
Dia... Menghilang
Temanku perlahan menghilang..
Ulahku tak menghiraukannya Ulahku mengacuhkan Maafkan teman... Semua karena diri egois ini
Ulahku tak menghiraukannya Ulahku mengacuhkan Maafkan teman... Semua karena diri egois ini
Perjalanan Panjangku
Aku pergi...
Menjalankan dunia kelam
Meninggalkan dunia siang
Menuju dunia terang
Tapi...
Telah pantaskah aku
Telah mampukah aku
Berdiri tuk tegakkan keindahan
Berlari tuk nyalakan cahaya damai
Keabadian...
Kuharapkan kau berada dalam genggaman
Dengan kedamaian menyertai
Dengan cinta-Nya yang menyelimuti
Menjalankan dunia kelam
Meninggalkan dunia siang
Menuju dunia terang
Tapi...
Telah pantaskah aku
Telah mampukah aku
Berdiri tuk tegakkan keindahan
Berlari tuk nyalakan cahaya damai
Keabadian...
Kuharapkan kau berada dalam genggaman
Dengan kedamaian menyertai
Dengan cinta-Nya yang menyelimuti
Satu
Satu...
Tak dapat kutembus
Dia minta itu
Tak dapat kuraih
Terus ternoda dalam kubangan kelam
Terus berkelana dalam pencahayaan membakar
Satu...
Dia terus menyeru
tegakkan dan lakukan
Aku...
Berhenti...
Mengapa begitu sulit
Padahal hanya Satu
Yah.. Satu
Kau
Sebuah hati yang suci
Hati yang tak ternodai
Tak dapat kutembus
Dia minta itu
Tak dapat kuraih
Terus ternoda dalam kubangan kelam
Terus berkelana dalam pencahayaan membakar
Satu...
Dia terus menyeru
tegakkan dan lakukan
Aku...
Berhenti...
Mengapa begitu sulit
Padahal hanya Satu
Yah.. Satu
Kau
Sebuah hati yang suci
Hati yang tak ternodai
Malaikatku
Ragu bersama
Telak diri bertanya
Siapakah dia?
Datang tiba-tiba
Merangkul diri dengan hangat
Menyapa diri dengan senyuman
Menolong diri dengan kesejukan
Tak jua diri memberikan tuk bertanya
Apa tujuanmu wahai jiwa penolong
Biarlah...
Kunikmati saja kedamaian darinya
Kurasakan saja keindahan sikap darinya
Karena itulah yang kurindu saat ini
Itulah yang membuat diri dapat bangkit kembali
Karena kau terus dalam relung cintaku
Yang tumbuh hanya karena-Nya
Telak diri bertanya
Siapakah dia?
Datang tiba-tiba
Merangkul diri dengan hangat
Menyapa diri dengan senyuman
Menolong diri dengan kesejukan
Tak jua diri memberikan tuk bertanya
Apa tujuanmu wahai jiwa penolong
Biarlah...
Kunikmati saja kedamaian darinya
Kurasakan saja keindahan sikap darinya
Karena itulah yang kurindu saat ini
Itulah yang membuat diri dapat bangkit kembali
Karena kau terus dalam relung cintaku
Yang tumbuh hanya karena-Nya
Hanyalah Inginku
Di saat kau datang ku ceria
Kau suguhkan keindahan dirimu di depan mataku
Membuat ku terpikat akan daya tarik dirimu
Telah ku berjanji bahwa kita akan selalu bersama
Bahkan tuk jadikan kita bersaudara
Dengan kau berkata, "setiap muslim bersaudara"
Namun...
Itu semua hanya keinginan ku
Aku hanya bisa menuntut
Tanpa tahu apa yang kau inginkan dariku
Padahal telah kucari
Dan itu tak terucap dari bibirmu juga tak terungkap dari sikapmu
Maafkan ku teman akan keegoisanku
Akan semua tuntutanku terhadap dirimu
Aku tak dapat menyadari bahwa kita manusia
Tempat khilaf dan masing-masing condong pada perbedaan
Aku hanya ingin kita bersama
Aku hanya ingin kita terus lebih baik
Terutama dirimu
Yang terkadang tak kuhiraukan diriku
Sehingga kekecewaan muncul saat kau berlaku menyimpang
Terkadang sikap kurang ajar ku turut menyertai
Dan aku sering merasa bersalah terhadap itu
Yang membuatku merasa malu atas dirimu
Sikapmu yang seolah tak pernah disakiti
Sikapmu yang tak berbeda dari awal
Aku..
Terus malu atas sikap ku
Hanya satu alasan dipikiran ku
Aku ingin kau lebih baik
Karena kau SAUDARAKU
Maafkan aku atas semua tuntutan itu...
Dan ku berusaha tuk tak tergantung pada makhluk...
Kau suguhkan keindahan dirimu di depan mataku
Membuat ku terpikat akan daya tarik dirimu
Telah ku berjanji bahwa kita akan selalu bersama
Bahkan tuk jadikan kita bersaudara
Dengan kau berkata, "setiap muslim bersaudara"
Namun...
Itu semua hanya keinginan ku
Aku hanya bisa menuntut
Tanpa tahu apa yang kau inginkan dariku
Padahal telah kucari
Dan itu tak terucap dari bibirmu juga tak terungkap dari sikapmu
Maafkan ku teman akan keegoisanku
Akan semua tuntutanku terhadap dirimu
Aku tak dapat menyadari bahwa kita manusia
Tempat khilaf dan masing-masing condong pada perbedaan
Aku hanya ingin kita bersama
Aku hanya ingin kita terus lebih baik
Terutama dirimu
Yang terkadang tak kuhiraukan diriku
Sehingga kekecewaan muncul saat kau berlaku menyimpang
Terkadang sikap kurang ajar ku turut menyertai
Dan aku sering merasa bersalah terhadap itu
Yang membuatku merasa malu atas dirimu
Sikapmu yang seolah tak pernah disakiti
Sikapmu yang tak berbeda dari awal
Aku..
Terus malu atas sikap ku
Hanya satu alasan dipikiran ku
Aku ingin kau lebih baik
Karena kau SAUDARAKU
Maafkan aku atas semua tuntutan itu...
Dan ku berusaha tuk tak tergantung pada makhluk...
Kejadian Tak Diinginkan
Yang ku takutkan terjadi
Entahlah..
Hilang semua asaku
Berkelana ku selama ini
Menyesal ku berpanjangan
Tak ku lupakan ulahku selama ini
Penyesalanku terus berkepanjangan
Maaf terus ku mohon atas sikap naifku
Entahlah..
Hilang semua asaku
Berkelana ku selama ini
Menyesal ku berpanjangan
Tak ku lupakan ulahku selama ini
Penyesalanku terus berkepanjangan
Maaf terus ku mohon atas sikap naifku
Sabtu, 25 Agustus 2007
Hakekat Kebenaran
Berjalan dalam keheningan
Meluncur tuk harapkan kesenangan
Semua beralih dalam ketidakpastian
Tersindir dalam percakapan
Namun berkata dengan kebenaran
Haruskah berdiam diri
Membiarkan kebenaran yang terus diselimuti kabut pekat
Tidak..
Tak ku biarkan itu terjadi
Biarkan sakit demi kebenaran
Dan yang terpenting
Demi kebaikan dia dan aku
Meluncur tuk harapkan kesenangan
Semua beralih dalam ketidakpastian
Tersindir dalam percakapan
Namun berkata dengan kebenaran
Haruskah berdiam diri
Membiarkan kebenaran yang terus diselimuti kabut pekat
Tidak..
Tak ku biarkan itu terjadi
Biarkan sakit demi kebenaran
Dan yang terpenting
Demi kebaikan dia dan aku
Tindak Tanduk
Waktu berjalan, berlari, dan merayap
Tapi aku hanya terdiam
Tunduk patuh pada alur hidup
Tanpa malu aku meminta kenyamanan
Tanpa penyertaan akan usaha maksimal
Tak tahu malukah kau diri
Pecundangkah kau diri
Terus..Teruslah kau menginginkan mukjizat
Tapi ingat..
4JJI Maha Adil
Tapi aku hanya terdiam
Tunduk patuh pada alur hidup
Tanpa malu aku meminta kenyamanan
Tanpa penyertaan akan usaha maksimal
Tak tahu malukah kau diri
Pecundangkah kau diri
Terus..Teruslah kau menginginkan mukjizat
Tapi ingat..
4JJI Maha Adil
Selasa, 21 Agustus 2007
Kembali
Tak tega diri melepaskan pergi
Aura dulu bangkit kembali
Serasa dalam kekangan menganga
Tetapi mengapa dia?
Tak jauh dia pergi
Tak dekat dia kembali
Kuakui...
Telah terikat diri
Hidupmu pun telah jadi perhatian
Tapi dari semua itu
Jarak tetap ada
Sikap tetap berbeda
Dan
Waktupun terus berkejaran
Berbeda arah
Aura dulu bangkit kembali
Serasa dalam kekangan menganga
Tetapi mengapa dia?
Tak jauh dia pergi
Tak dekat dia kembali
Kuakui...
Telah terikat diri
Hidupmu pun telah jadi perhatian
Tapi dari semua itu
Jarak tetap ada
Sikap tetap berbeda
Dan
Waktupun terus berkejaran
Berbeda arah
Tujuan Pertama
Rinduku
Terbenam tak nampak
Terpendam terdorong tujuan lain
Dan...
Keinginan itu...
Menjadikanku merebut kembali rinduku
Yang tersisa
Dan yang menjadi tanda tanya besar
Terpenuhkah tujuanku
Seiring timbul dan terpenuhinya rinduku
Memang...
Kalaupun terjadi perubahan
Tetaplah mereka yang pertama
Karena...
Kau terkasih dan tercintaku
Kaulah keluargaku
Terbenam tak nampak
Terpendam terdorong tujuan lain
Dan...
Keinginan itu...
Menjadikanku merebut kembali rinduku
Yang tersisa
Dan yang menjadi tanda tanya besar
Terpenuhkah tujuanku
Seiring timbul dan terpenuhinya rinduku
Memang...
Kalaupun terjadi perubahan
Tetaplah mereka yang pertama
Karena...
Kau terkasih dan tercintaku
Kaulah keluargaku
Jumat, 17 Agustus 2007
Tanda Jasamu
Terima kasih kuucap pada semua insan terkasih yang telah bersedia mencurahkan jiwanya hanya untuk memberi perhatiannya kepada diri. Semua itu telah membuat diri kokoh, tegar, dan kembali bersinar dari kelamnya jiwa. Walaupun hanya dengan pesan singkat berisi "apa kabar", itu dapat mengobati rasa lelahku, rasa lemahku, rasa payahku. Itupun dapat memberikan semangatku, menggairahkan ibadah, dan pastinya menyatukan hati kita.
Sahabat..
Terkadang diri pupus dalam kesedihan dan ku tak ingin kau menanggungnya jua.
Namun kau terus memperhatikan perubahan pada diriku dan kau bertanya "apa ada masalah?"
Terus kau ingin melihatku ceria, melihatku tertawa, melihatku terbebas dari beban.
Dari semua itu kuucapkan dengan segenap sanjungan hatiku kepadamu "terima kasih, teman. Terima kasih, sahabat. Terima kasih, saudaraku."
Ku tak dapat membalas budi jasamu yang menggunung, bahkan membumi.
Hanya 4JJI lah yang akan membalas itu, ku yakin itu.
Semuanya.. Ingat semuanya saudara.. Tanpa ada sisa.. Bahkan mungkin berlipat berganda.
Pertemuan kita karena 4JJI, perpisahanpun diharapkan karena-Nya jua.
Sahabat..
Terkadang diri pupus dalam kesedihan dan ku tak ingin kau menanggungnya jua.
Namun kau terus memperhatikan perubahan pada diriku dan kau bertanya "apa ada masalah?"
Terus kau ingin melihatku ceria, melihatku tertawa, melihatku terbebas dari beban.
Dari semua itu kuucapkan dengan segenap sanjungan hatiku kepadamu "terima kasih, teman. Terima kasih, sahabat. Terima kasih, saudaraku."
Ku tak dapat membalas budi jasamu yang menggunung, bahkan membumi.
Hanya 4JJI lah yang akan membalas itu, ku yakin itu.
Semuanya.. Ingat semuanya saudara.. Tanpa ada sisa.. Bahkan mungkin berlipat berganda.
Pertemuan kita karena 4JJI, perpisahanpun diharapkan karena-Nya jua.
Cerita lalu
Pertama ku berharap kita dapat bersama menapaki jalan duri ini dan bersama mengarungi derasnya arus kehidupan ini.
Namun ku tak dapat mengikuti jejak langkahmu yang tak ku ketahui ke mana arah tujuannya.
Tetapi terus ku berusaha untuk mempersatukan hati kita, jiwa kita, dan langkah kita.
Sampai puncak kelelahanku hinggap dan akupun tak dapat berbuat banyak untukku juga untukmu.
Sesalanku menjalari seluruh tubuh membuat diri terus menjadi tak berdaya.
Namun kesedihanku terus memuncak karena sikap tak pedulimu pada jiwa lemah ini, jiwa bodoh ini, jiwa nista ini.
Di saat diri terpuruk dan membutuhkan dirimu, kau hanya berkata dan bersikap manis seadanya namun sangat hambar akan rasa peduli terhadap jiwa terpuruk ini.
Hingga ku tersadar, ku membuka mata, ku terbangun dari mimpi yang melenakan bahwa kau punya langkahmu sendiri yang tak ingin disentuh juga tak dapat kusentuh, hingga kau tersibukkan akan langkahmu itu.
Dan langkah juangku pun harus terus terlaksana tanpa harus peduli apakah mereka peduli ataukah tidak.
Ku yakinkan diri tuk tak tergantung pada sang makhluk karena merekapun lemah, sama sepertiku.
Maka gerak langkahku pun kuubah arah.
Aku harus dapat berjuang dalam hidup sendiri. Kalaupun ada pendamping yang menyertai, tak sepenuhnya aku bersandar padanya karena aku tak ingin tertipu kembali.
Dan sekarang kuucapkan dari hati:
"lanjutkanlah perjuanganmu itu. 4JJI Maha Tahu akan segala gerak langkah makhluk-Nya. Namun ingat teman, kau harus lihat disekelilingmu. Adakah yang bersedia mengulurkan tangan kepadamu? Jika ada, maka raihlah itu, renggut itu, dan rangkullah seerat mungkin. Jangan kau acuhkan, jangan kau biarkan, atau bahkan jangan kau buang.
Kau tahu kenapa ku berubah karena ku telah merasa kehilangan sosok yang kurindukan....
Kau... Saudaraku..."
Namun ku tak dapat mengikuti jejak langkahmu yang tak ku ketahui ke mana arah tujuannya.
Tetapi terus ku berusaha untuk mempersatukan hati kita, jiwa kita, dan langkah kita.
Sampai puncak kelelahanku hinggap dan akupun tak dapat berbuat banyak untukku juga untukmu.
Sesalanku menjalari seluruh tubuh membuat diri terus menjadi tak berdaya.
Namun kesedihanku terus memuncak karena sikap tak pedulimu pada jiwa lemah ini, jiwa bodoh ini, jiwa nista ini.
Di saat diri terpuruk dan membutuhkan dirimu, kau hanya berkata dan bersikap manis seadanya namun sangat hambar akan rasa peduli terhadap jiwa terpuruk ini.
Hingga ku tersadar, ku membuka mata, ku terbangun dari mimpi yang melenakan bahwa kau punya langkahmu sendiri yang tak ingin disentuh juga tak dapat kusentuh, hingga kau tersibukkan akan langkahmu itu.
Dan langkah juangku pun harus terus terlaksana tanpa harus peduli apakah mereka peduli ataukah tidak.
Ku yakinkan diri tuk tak tergantung pada sang makhluk karena merekapun lemah, sama sepertiku.
Maka gerak langkahku pun kuubah arah.
Aku harus dapat berjuang dalam hidup sendiri. Kalaupun ada pendamping yang menyertai, tak sepenuhnya aku bersandar padanya karena aku tak ingin tertipu kembali.
Dan sekarang kuucapkan dari hati:
"lanjutkanlah perjuanganmu itu. 4JJI Maha Tahu akan segala gerak langkah makhluk-Nya. Namun ingat teman, kau harus lihat disekelilingmu. Adakah yang bersedia mengulurkan tangan kepadamu? Jika ada, maka raihlah itu, renggut itu, dan rangkullah seerat mungkin. Jangan kau acuhkan, jangan kau biarkan, atau bahkan jangan kau buang.
Kau tahu kenapa ku berubah karena ku telah merasa kehilangan sosok yang kurindukan....
Kau... Saudaraku..."
Pertentangan
Aku benci diacuhkan
Aku benci didustai
Aku juga benci disakiti
Tapi...
Aku lebih benci mengacuhkan
Aku lebih benci mendustai
Aku juga lebih benci menyakiti
Maka...
Aku cinta kebersamaan
Aku cinta keterusterangan
Dan...
Aku cinta kedamaian
Aku benci didustai
Aku juga benci disakiti
Tapi...
Aku lebih benci mengacuhkan
Aku lebih benci mendustai
Aku juga lebih benci menyakiti
Maka...
Aku cinta kebersamaan
Aku cinta keterusterangan
Dan...
Aku cinta kedamaian
Permintaannya
Rindu pada kedamaian
Kesunyian malam mendobrak keadilan
Dimana jiwa seraya bersabda
Sediakan diri kesucian
Tempatkan ia dalam lembah tenang keabadian
Teruskan diri dalam berkiprah bersahaja
Dan...
Yang berharap
Tak jua tersentuh ketamakan duniawi
Kesunyian malam mendobrak keadilan
Dimana jiwa seraya bersabda
Sediakan diri kesucian
Tempatkan ia dalam lembah tenang keabadian
Teruskan diri dalam berkiprah bersahaja
Dan...
Yang berharap
Tak jua tersentuh ketamakan duniawi
Dimana mereka?
Hati tak lagi ikhlas
Pengharapan akan semua ulah yang ku anggap mulia
Hah...
Semua tak ternilai
Semua tak berguna
Semua debu
Matilah kau...
Tapi tidakkah aku pecundang
Merenung saat semua tersenyum
Menangis saat semua tertawa
Teriak saat semua berbisik
Aku butuh engkau teman
Saat diri terasa sangat lemah
Tak mampu bertindak apapun
Bahkan untuk diriku sendiri
Diri tak ingin terjerumus ke lembah nista itu teman
Tolong diriku teman
Ingatlah teman
Tanyakan kabarnya
Tidakkah kau tahu
Apakah ia memang benar-benar baik
Ketika ia berada di sisimu dengan sikap manisnya dan berkata "alhamdulillah aku baik"
Pengharapan akan semua ulah yang ku anggap mulia
Hah...
Semua tak ternilai
Semua tak berguna
Semua debu
Matilah kau...
Tapi tidakkah aku pecundang
Merenung saat semua tersenyum
Menangis saat semua tertawa
Teriak saat semua berbisik
Aku butuh engkau teman
Saat diri terasa sangat lemah
Tak mampu bertindak apapun
Bahkan untuk diriku sendiri
Diri tak ingin terjerumus ke lembah nista itu teman
Tolong diriku teman
Ingatlah teman
Tanyakan kabarnya
Tidakkah kau tahu
Apakah ia memang benar-benar baik
Ketika ia berada di sisimu dengan sikap manisnya dan berkata "alhamdulillah aku baik"
Minggu, 12 Agustus 2007
Kelemahan Diri
Hati tak lagi ikhlas
Pengharapan akan semua ulah yang ku anggap mulia
Hah...
Semua tak ternilai
Semua tak berguna
Semua debu
Matilah kau...
Tapi tidakkah aku pecundang
Merenung saat semua tersenyum
Menangis saat semua tertawa
Teriak saat semua berbisik
Aku butuh engkau teman
Saat diri terasa sangat lemah
Tak mampu bertindak apapun
Bahkan untuk diriku sendiri
Diri tak ingin terjerumus ke lembah nista itu teman
Tolong diriku teman
Ingatlah teman
Tanyakan kabarnya
Tidakkah kau tahu
Apakah ia memang benar-benar baik
Ketika ia berada di sisimu dengan sikap manisnya dan berkata "alhamdulillah aku baik"
Pengharapan akan semua ulah yang ku anggap mulia
Hah...
Semua tak ternilai
Semua tak berguna
Semua debu
Matilah kau...
Tapi tidakkah aku pecundang
Merenung saat semua tersenyum
Menangis saat semua tertawa
Teriak saat semua berbisik
Aku butuh engkau teman
Saat diri terasa sangat lemah
Tak mampu bertindak apapun
Bahkan untuk diriku sendiri
Diri tak ingin terjerumus ke lembah nista itu teman
Tolong diriku teman
Ingatlah teman
Tanyakan kabarnya
Tidakkah kau tahu
Apakah ia memang benar-benar baik
Ketika ia berada di sisimu dengan sikap manisnya dan berkata "alhamdulillah aku baik"
Sakitku
Sesak tak tertahan
Menyakiti berketerusan
Tak tahu asal rimba
Terus menusuk dan menekan
Dan...
Sang pemimpin inderapun terus menambah beban
Terus berkecamuk
Ingin ku lepas sesaat
Guna melenyapkan derita
Namun kehidupan pun berhenti...
Menyakiti berketerusan
Tak tahu asal rimba
Terus menusuk dan menekan
Dan...
Sang pemimpin inderapun terus menambah beban
Terus berkecamuk
Ingin ku lepas sesaat
Guna melenyapkan derita
Namun kehidupan pun berhenti...
Sabtu, 11 Agustus 2007
Hancur, Luluh Lantak
Beralih dalam keajaiban
Bertentangan dalam menuju kedamaian
Terjerembab dalam busuknya lembah
Matipun tak berpenghujung kehadiran
Terus membangun benteng diri
Namun...
Serangan luar menampakkan garang
Dan...
Diri terus terpedaya
Kelemahan diri
Kebodohan diri
Kemunafikan diri
Menjadikan diri terus terpuruk
Kesalahan itu...
Menjadikan racun diri
Membinasakan diri
Menghancurkan puing pelindung diri
Yang telah dibangun dalam waktu panjang
Luluh lantak
Kebencian diri
Kehinaan diri
Aniaya diri
Pedulikah mereka?
Tak hendak kuceritakan
Bertentangan dalam menuju kedamaian
Terjerembab dalam busuknya lembah
Matipun tak berpenghujung kehadiran
Terus membangun benteng diri
Namun...
Serangan luar menampakkan garang
Dan...
Diri terus terpedaya
Kelemahan diri
Kebodohan diri
Kemunafikan diri
Menjadikan diri terus terpuruk
Kesalahan itu...
Menjadikan racun diri
Membinasakan diri
Menghancurkan puing pelindung diri
Yang telah dibangun dalam waktu panjang
Luluh lantak
Kebencian diri
Kehinaan diri
Aniaya diri
Pedulikah mereka?
Tak hendak kuceritakan
Rabu, 08 Agustus 2007
More Life, Better
Wait a moment
Look back the life
Viewing all doing
It has done
But...
Is it good for the life?
Is it better?
The purpose is in it
Has it been reached
Now...
Look the future
Fill it the best for the life
Keep fighting with smiling
Trust it
You can do the best
Cos' 4JJI always is with us
Look back the life
Viewing all doing
It has done
But...
Is it good for the life?
Is it better?
The purpose is in it
Has it been reached
Now...
Look the future
Fill it the best for the life
Keep fighting with smiling
Trust it
You can do the best
Cos' 4JJI always is with us
Selasa, 07 Agustus 2007
Penuntun ku
Keberadaannya penenang jiwa
Kehadirannya sebagai pengikat hati
Sejuk dalam ucapan
Damai dalam tindakan
Tak kunjung henti untuk menuntun
Tak jua asa terputus
Ternyata...
Kebersamaan tak selalu berpihak
Walau jiwa menentang
Tapi...
Telah menjadi ketetapan
Berontak pun tak berujung perubahan
Asa tuk jadikan hidup lebih baik
Semoga...
Dan...
Ikatan hati takkan ku biarkan putus
Hingga diujung kehidupan
Kehadirannya sebagai pengikat hati
Sejuk dalam ucapan
Damai dalam tindakan
Tak kunjung henti untuk menuntun
Tak jua asa terputus
Ternyata...
Kebersamaan tak selalu berpihak
Walau jiwa menentang
Tapi...
Telah menjadi ketetapan
Berontak pun tak berujung perubahan
Asa tuk jadikan hidup lebih baik
Semoga...
Dan...
Ikatan hati takkan ku biarkan putus
Hingga diujung kehidupan
Senin, 06 Agustus 2007
Masa Lalu
Terbayang ku atas waktu
Tak sempat ku berkata
Melesat tajam
Terperangah akan kehandalannya
Berlalu ku bayang dahulu
Tak dapat ku berlaku
Tatapan masa depan terus menyekaku
Mendorongku tuk bertindak
Biarlah..
Semua telah menjadi kenangan
Tak sempat ku berkata
Melesat tajam
Terperangah akan kehandalannya
Berlalu ku bayang dahulu
Tak dapat ku berlaku
Tatapan masa depan terus menyekaku
Mendorongku tuk bertindak
Biarlah..
Semua telah menjadi kenangan
Minggu, 05 Agustus 2007
Perubahan
Tak mampu berungkap
Diam ku terpaku
Terpendamnya kekecawaan
Atas diriku dan dirinya
Makin hambar terasa
Makin tak manis dinikmati
Bahkan terkadang sakit dilakukan
Kapankah akan berakhir
Akankah akan membaik?
Atau terbuang
Menyisakan kepahitan?
Diam ku terpaku
Terpendamnya kekecawaan
Atas diriku dan dirinya
Makin hambar terasa
Makin tak manis dinikmati
Bahkan terkadang sakit dilakukan
Kapankah akan berakhir
Akankah akan membaik?
Atau terbuang
Menyisakan kepahitan?
Sabtu, 04 Agustus 2007
Kuingin Terbaik Untukmu
Tenang dalam bersikap
Diam memendam kesedihan
Termangu dalam balada kesendirian
Tak berarti diri untuk mereka
Benalu diri bagi mereka
Tak tahu seperti apa isi hati
Ungkapan sedikit bertanda kebencian
Padahal...
Sakit diri bertindak demikian
Tidak...
Tidaklah seperti itu...
Diri hanya kecewa
Diri hanya ingin kau menjadi lebih baik
Hanya itu
Dan hanya itu
Diam memendam kesedihan
Termangu dalam balada kesendirian
Tak berarti diri untuk mereka
Benalu diri bagi mereka
Tak tahu seperti apa isi hati
Ungkapan sedikit bertanda kebencian
Padahal...
Sakit diri bertindak demikian
Tidak...
Tidaklah seperti itu...
Diri hanya kecewa
Diri hanya ingin kau menjadi lebih baik
Hanya itu
Dan hanya itu
Kamis, 02 Agustus 2007
Diam
Entah haruskah bertindak
Terdiam ku terpuruk
Memasuki dunia kesendirian
Dalam keramaian
Tak kuasai diri
Penguasapun tak indahkan diri
Ku terus tersungkur
Menyungkur melintasi duri tajam belukar
Dan tak terusik diri
Pikiran menghentakkan jurang kematian
Kapankah berakhir...
Terdiam ku terpuruk
Memasuki dunia kesendirian
Dalam keramaian
Tak kuasai diri
Penguasapun tak indahkan diri
Ku terus tersungkur
Menyungkur melintasi duri tajam belukar
Dan tak terusik diri
Pikiran menghentakkan jurang kematian
Kapankah berakhir...
Rabu, 01 Agustus 2007
Terus Menanti
Penantian yang tak kunjung tiba waktunya
Tersentak akan kejadian yang tiba-tiba
Kadang kendala bertebaran menghadang jalan
Tetapi pelintas tetap dapat melaluinya
Walau terkadang banyak yang terhenti
Tak mampu menghadapi
Dan...
Rasaku bertanya
Telah sampaikah tiba waktuku
Ku hanya bisa menanti dan berharap
Pengharap yang besar
Dan ketidakpastian penantian
Tersentak akan kejadian yang tiba-tiba
Kadang kendala bertebaran menghadang jalan
Tetapi pelintas tetap dapat melaluinya
Walau terkadang banyak yang terhenti
Tak mampu menghadapi
Dan...
Rasaku bertanya
Telah sampaikah tiba waktuku
Ku hanya bisa menanti dan berharap
Pengharap yang besar
Dan ketidakpastian penantian
Selasa, 31 Juli 2007
Manusia Lemah
Laksana tak berharap
Menitipun tak berkehidupan
Satu sisi ku mati
Sisi hidupnya adalah impian ku
Tak ingin hiraukan duri tubuh
Tapi..
Mereka menusuk
Dan perih
Ku tak dapat menikmatinya
Juga tak dapat menghiraukannya
Yah..
Kekuatanku seolah tiada
Kemampuan ku bertindak seakan punah
Hanya tinggal tawakal padanya
Menitipun tak berkehidupan
Satu sisi ku mati
Sisi hidupnya adalah impian ku
Tak ingin hiraukan duri tubuh
Tapi..
Mereka menusuk
Dan perih
Ku tak dapat menikmatinya
Juga tak dapat menghiraukannya
Yah..
Kekuatanku seolah tiada
Kemampuan ku bertindak seakan punah
Hanya tinggal tawakal padanya
Senin, 30 Juli 2007
Jiwa Suci
Jujur..
Diri tak mampu berucap
Hanya kata-kata tertulis jadi jembatan
Yah..
Semua akan usai
Dan satu yang terus meraja
Walau diri tak di sana
Kekhilafan..
Atas itu semua
Kuharapkan keikhlasannya
Dalam rangkaian maaf memaafkan
Diri tak mampu berucap
Hanya kata-kata tertulis jadi jembatan
Yah..
Semua akan usai
Dan satu yang terus meraja
Walau diri tak di sana
Kekhilafan..
Atas itu semua
Kuharapkan keikhlasannya
Dalam rangkaian maaf memaafkan
Minggu, 29 Juli 2007
Gugur
Kebersamaan ku rasa telah berkurang
Tubuhpun tak sepenuhnya kokoh menyanggah
Entahlah
Mungkin karena telah menua
Atau saatnya telah beranjak tiba
Yang pasti..
Ku hanya ingin hidup ku berarti
Walau tak sepenuhnya manusia mengetahui
Tapi ku harap..
Tuhan ku menghargai
Dan..
Mempermudah dalam pertemuan dengan-Nya
Tubuhpun tak sepenuhnya kokoh menyanggah
Entahlah
Mungkin karena telah menua
Atau saatnya telah beranjak tiba
Yang pasti..
Ku hanya ingin hidup ku berarti
Walau tak sepenuhnya manusia mengetahui
Tapi ku harap..
Tuhan ku menghargai
Dan..
Mempermudah dalam pertemuan dengan-Nya
Sabtu, 28 Juli 2007
Rumahku Istanaku
Kediaman menjadikan nyaman
Tak terlalu peduli untuk ke depan
Dan sekarang
Maju mundur ku terpaku pada penyerahanku
Semua tertahan pada kediaman
Disatu sisi tak ingin kudapati benalu pada kediamanku
Disisi lain madu perekat tak dapat ku dekati
Takut lebah menyerangku
Disisi berikutnya
Adakah kenyamanan dalam kesederhanaan
Terlalu memang
Tapi yang kupakai adalah bukanlah milik bebas
Semua hasil mengemis
Dan aku harus tahu diri
Akan hal itu!!
Tak terlalu peduli untuk ke depan
Dan sekarang
Maju mundur ku terpaku pada penyerahanku
Semua tertahan pada kediaman
Disatu sisi tak ingin kudapati benalu pada kediamanku
Disisi lain madu perekat tak dapat ku dekati
Takut lebah menyerangku
Disisi berikutnya
Adakah kenyamanan dalam kesederhanaan
Terlalu memang
Tapi yang kupakai adalah bukanlah milik bebas
Semua hasil mengemis
Dan aku harus tahu diri
Akan hal itu!!
Kamis, 26 Juli 2007
Futur
Entah mengapa
Kelemahan diri terus merasuk
Apakah karena upaya penghilang noda
Atau karena kemurkaan atas kejahatan diri
Yang pasti
Kumohonkan maaf atas terselenggaranya kesalahan atas diri
Tak terpikir diri dalam upaya menempuh pemulihan
Hanya berserah
Disertai usaha yang terus terlaksana
Kelemahan diri terus merasuk
Apakah karena upaya penghilang noda
Atau karena kemurkaan atas kejahatan diri
Yang pasti
Kumohonkan maaf atas terselenggaranya kesalahan atas diri
Tak terpikir diri dalam upaya menempuh pemulihan
Hanya berserah
Disertai usaha yang terus terlaksana
Rabu, 25 Juli 2007
Pongah
Bertingkah tak bermalu
Merasa lebih baik
Merasa syurga telah menjadi miliknya
Ya...
Itulah diri
Kecongkakan terus menyelimuti diri
Entah sampai kapan akan berakhir
Yang jelas
Semua itu
Ku akui
Menyesatkan
Merasa lebih baik
Merasa syurga telah menjadi miliknya
Ya...
Itulah diri
Kecongkakan terus menyelimuti diri
Entah sampai kapan akan berakhir
Yang jelas
Semua itu
Ku akui
Menyesatkan
Selasa, 24 Juli 2007
Jurang Perbedaan
Beranjak pergi menjauh
Karena adanya pertentang
Semua yang ku pikir tak bermasalah
Telah menjadi petaka bagi diri
Mereka menampakkan diri
Dalam satu barisan
Sedang..
Kesendirianku
Telah dijadikannya boomerang untukku
Aku berpikir
Aku diam
Aku..
Tak tahu harus berbuat apa
Untuk mereka..
Karena adanya pertentang
Semua yang ku pikir tak bermasalah
Telah menjadi petaka bagi diri
Mereka menampakkan diri
Dalam satu barisan
Sedang..
Kesendirianku
Telah dijadikannya boomerang untukku
Aku berpikir
Aku diam
Aku..
Tak tahu harus berbuat apa
Untuk mereka..
Senin, 23 Juli 2007
Lelah Dunia
Berhenti mencari kenyamanan
Karena semua menyesatkan
Berhenti perpetualangan pada ketenaran
Karena semua hanya tameng
Keabadian tak ada padanya
Kesesatan penuh terkandung di dalamnya
Tertipu ku dibuatnya
Mati langkahku akannya
Tak sejuk
Tak indah
Walau telah teraih
Namun tanpa restu Ilahi
Ya.. Rob
Cinta-Mu yang kubutuh
Kemuliaan di sisi-Mu lah yang kumau
Bukan..
Jelas-jelas bukan itu
Semua permainan
Semua lekang oleh waktu
Satu cita
Satu asa
Kedamaian abadi bersama-Nya
Karena semua menyesatkan
Berhenti perpetualangan pada ketenaran
Karena semua hanya tameng
Keabadian tak ada padanya
Kesesatan penuh terkandung di dalamnya
Tertipu ku dibuatnya
Mati langkahku akannya
Tak sejuk
Tak indah
Walau telah teraih
Namun tanpa restu Ilahi
Ya.. Rob
Cinta-Mu yang kubutuh
Kemuliaan di sisi-Mu lah yang kumau
Bukan..
Jelas-jelas bukan itu
Semua permainan
Semua lekang oleh waktu
Satu cita
Satu asa
Kedamaian abadi bersama-Nya
Sabtu, 21 Juli 2007
Be The Best
Ledakan muncul pada diri
Tak tentu asal muasal
Tak yakin sumber pemicu
Telah berteriak diam jiwa berkelana
Memaksakan diri tuk selalu bertindak..
Berbuat..
Bertingkah laku sesuai keinginan jiwa
Telah kulakukan
Ternyata..
Keanehan..
Kejanggalan..
Muncul pada diri
Semua bagai mukjizat-Nya teranugerah pada diri
Semua harus ku pertahankan
Semua harus terus berkembang
Dan..
Semua harus terus lebih
Bahkan
Terbaik!!
Tak tentu asal muasal
Tak yakin sumber pemicu
Telah berteriak diam jiwa berkelana
Memaksakan diri tuk selalu bertindak..
Berbuat..
Bertingkah laku sesuai keinginan jiwa
Telah kulakukan
Ternyata..
Keanehan..
Kejanggalan..
Muncul pada diri
Semua bagai mukjizat-Nya teranugerah pada diri
Semua harus ku pertahankan
Semua harus terus berkembang
Dan..
Semua harus terus lebih
Bahkan
Terbaik!!
Kamis, 19 Juli 2007
Peradaban Baru
Telah tersemat dalam diri
Terus memotivasi pikiran
Jangan terlena akan keduniaan
Jangan terbuai akan kenikmatan semu
Raihlah satu jiwa
Raihlah satu tujuan
Kenikmatan hakiki
Surga-Nya
Matikupun tak kubiarkan dalam kesesatan
Apalagi hidupku
Harus terus dalam keredhoan-Nya
Satu jalan kebenaran
Yang masih dipandang sebelah mata oleh insan dunia
Yang tak mengetahui hakekat hidup
Mereka menyeringai
Tapi...
Tak kupeduli semua itu
Tuhanku telah memerintahkannya
Tuhanku Maha Tahu
Dan...
Tuhanku pasti Maha Adil
Ahhh...
Terus kubermimpi
Syuhada-Nya dapat kuraih!!
Terus memotivasi pikiran
Jangan terlena akan keduniaan
Jangan terbuai akan kenikmatan semu
Raihlah satu jiwa
Raihlah satu tujuan
Kenikmatan hakiki
Surga-Nya
Matikupun tak kubiarkan dalam kesesatan
Apalagi hidupku
Harus terus dalam keredhoan-Nya
Satu jalan kebenaran
Yang masih dipandang sebelah mata oleh insan dunia
Yang tak mengetahui hakekat hidup
Mereka menyeringai
Tapi...
Tak kupeduli semua itu
Tuhanku telah memerintahkannya
Tuhanku Maha Tahu
Dan...
Tuhanku pasti Maha Adil
Ahhh...
Terus kubermimpi
Syuhada-Nya dapat kuraih!!
Rabu, 18 Juli 2007
Khusnul Khotimah
Selayaknya penuntun juga harus dituntun dan tak layak dibiarkan bebas berlari sesuai keinginan diri
Apalah daya manusia yang tak berdaya
Berharap hanya pada yang mengabulkan harapan
Bersandar pada yang memiliki kekuatan yang paling
Tak biarkan diri terjerumus matikan jiwa yang telah lama kering
Hilangkan dahaga jiwa
Reguk kesejukan air cintanya
Setelah meraih kedamaian akannya
Kau...
Dapat berlari
Mengejar impian sejatimu
Mati dalam syahid di jalan-Nya
Apalah daya manusia yang tak berdaya
Berharap hanya pada yang mengabulkan harapan
Bersandar pada yang memiliki kekuatan yang paling
Tak biarkan diri terjerumus matikan jiwa yang telah lama kering
Hilangkan dahaga jiwa
Reguk kesejukan air cintanya
Setelah meraih kedamaian akannya
Kau...
Dapat berlari
Mengejar impian sejatimu
Mati dalam syahid di jalan-Nya
Selasa, 17 Juli 2007
Wajah
Bahagia bila bersama
Berduka dalam ceria
Menangis tampak tertawa
Kuat dibalut kelemahan
Takkan ku biarkan mereka bicara
Takkan ku biarkan mereka bertindak
Sebelum lahar panas benar-benar keluar dari liangnya
Ceria ada padanya
Suka ada padanya
Tertawa selalu tampak diparasnya
Ku adalah makhluk
Merekapun makhluk
Sang Penolong
Sang Pelindung
Sang Pemberi rahmat
Hanya satu...
Dialah 4JJI SWT.
Berduka dalam ceria
Menangis tampak tertawa
Kuat dibalut kelemahan
Takkan ku biarkan mereka bicara
Takkan ku biarkan mereka bertindak
Sebelum lahar panas benar-benar keluar dari liangnya
Ceria ada padanya
Suka ada padanya
Tertawa selalu tampak diparasnya
Ku adalah makhluk
Merekapun makhluk
Sang Penolong
Sang Pelindung
Sang Pemberi rahmat
Hanya satu...
Dialah 4JJI SWT.
Senin, 16 Juli 2007
Pelindung yang Terlindungi
Berjalan ku dalam buram
Tak jelas arah jalan yang baik ataupun menyesatkan
Beralih sang bulan dalam kedudukannya
Membuatku tertegun...
Betapa sulit diri dengan meraba
Tak terduga muncul
Sang bintang pembawa terang
Menyematkan ketenangan dalam jiwa
Membisik semangat
Tuk terus bangkit
Walau bukit rintangan terus menerjang
Terus kokohkan diri
Maka diripun akan mengokokoh diri yang lain
Termasuk engkau sahabat...
Tak jelas arah jalan yang baik ataupun menyesatkan
Beralih sang bulan dalam kedudukannya
Membuatku tertegun...
Betapa sulit diri dengan meraba
Tak terduga muncul
Sang bintang pembawa terang
Menyematkan ketenangan dalam jiwa
Membisik semangat
Tuk terus bangkit
Walau bukit rintangan terus menerjang
Terus kokohkan diri
Maka diripun akan mengokokoh diri yang lain
Termasuk engkau sahabat...
Gaung Perubahan
Jiwa...
Betapa duka dirimu menghadapi lelahnya perjalanan hidup yang penuh dengan duri menganga yang dengan tegas menentang mu untuk melanjutkan perjalanan kudusmu..
Diri...
Tindakan mu hanyalah tuk tentramkan jiwa dan ku mohon tindak tandukmu terlepas dari nafsu dunia yang sangat memenjarakan sang jiwa..
Biarkan tujuan hidupmu terus tersemat dalam perjuangan hidupmu..
Betapa duka dirimu menghadapi lelahnya perjalanan hidup yang penuh dengan duri menganga yang dengan tegas menentang mu untuk melanjutkan perjalanan kudusmu..
Diri...
Tindakan mu hanyalah tuk tentramkan jiwa dan ku mohon tindak tandukmu terlepas dari nafsu dunia yang sangat memenjarakan sang jiwa..
Biarkan tujuan hidupmu terus tersemat dalam perjuangan hidupmu..
Mata Uang
Kekalutan akan tindakan ku tuk mengisi hidup
Ku selalu berada pada dua sisi yang saling bertolak belakang
Satu sisi mengharuskan ku tuk hidup berarti
Di sisi lain...
Sarana tuk bertindak demikian tak kumiliki
Ku hanya bisa termangu
Ku selalu berada pada dua sisi yang saling bertolak belakang
Satu sisi mengharuskan ku tuk hidup berarti
Di sisi lain...
Sarana tuk bertindak demikian tak kumiliki
Ku hanya bisa termangu
Jumat, 13 Juli 2007
Kenangan
Indah bila ku dapat.. meraih bintang.. yang menjadi.. dambaanku.. di setiap waktunya
Tetapi mengapa.. aku mendapatkan bulan.. bukan bintang
Sekembalinya aku tertatih.. menuju tempat impian.. yang dahulu kuimpikan itu.. pada jalan yang berbeda
Entah.. apakah aku akan tiba.. di tempat itu.. dengan selamat
Kuharap pertolongan-Nya.. selalu menyertai.. aku berusaha
Tetapi mengapa.. aku mendapatkan bulan.. bukan bintang
Sekembalinya aku tertatih.. menuju tempat impian.. yang dahulu kuimpikan itu.. pada jalan yang berbeda
Entah.. apakah aku akan tiba.. di tempat itu.. dengan selamat
Kuharap pertolongan-Nya.. selalu menyertai.. aku berusaha
Kamis, 12 Juli 2007
Bebas
Selamat tinggal temaram malam
Kau deklarasikan diri sebagai keindahan
Padahal kau kelam tak berbintang
Lagi dingin pekat
Selamat tinggal Sang Mentari
Kau menjajikan kehangatan
Padahal kau menyengat membakar
Lagi panas membara
Biarkan aku hidup
Biarkan aku berdiri
Biarkan aku berlari
Jangan hiraukan diri
Kalau tidak dari hati
Suci lagi putih
Yah...
Selamat tinggal hitamku dan hitammu
Kusambut cahaya baru
Yang menanti
Fajar pagi lah yang menyambut...
Kau deklarasikan diri sebagai keindahan
Padahal kau kelam tak berbintang
Lagi dingin pekat
Selamat tinggal Sang Mentari
Kau menjajikan kehangatan
Padahal kau menyengat membakar
Lagi panas membara
Biarkan aku hidup
Biarkan aku berdiri
Biarkan aku berlari
Jangan hiraukan diri
Kalau tidak dari hati
Suci lagi putih
Yah...
Selamat tinggal hitamku dan hitammu
Kusambut cahaya baru
Yang menanti
Fajar pagi lah yang menyambut...
Rabu, 11 Juli 2007
Asa..
Yah..
Yg q btuh a/sang plipur hti
Kbradaanny yg tak prnh jauh dr diri
Trus brjuang dmi kdamaian diri
Tak jua lelah hrpkn suka cita brsma
Duka pun dpt brbagi dg ny
Smw crita hdp trlimpah u/ny
Smw pnghrgaan diri q prsmbhkn u/ny
Gapai jiwa q dan jiwany
Tapi...
Jiwany dan jiwa q
Adalah seonggok angan2 blaka???
Yg q btuh a/sang plipur hti
Kbradaanny yg tak prnh jauh dr diri
Trus brjuang dmi kdamaian diri
Tak jua lelah hrpkn suka cita brsma
Duka pun dpt brbagi dg ny
Smw crita hdp trlimpah u/ny
Smw pnghrgaan diri q prsmbhkn u/ny
Gapai jiwa q dan jiwany
Tapi...
Jiwany dan jiwa q
Adalah seonggok angan2 blaka???
Luluh lantak
Perubahan alam membawa ku pada perubahan sikap
Semua sulit terkendali
Semua karena derasnya arus kezaliman dalam diri
Semua tak kuasa tuk berkta TIDAK
Semua tak kuasa tuk membentengi dari kenistaan diri
Biarlah diri menjadi benteng pribadi
Dan semua
Tak jua usai menatap lelahnya jiwa
Hanya itu
Sedang diri
Harus terus tetap berjuang!
Semua sulit terkendali
Semua karena derasnya arus kezaliman dalam diri
Semua tak kuasa tuk berkta TIDAK
Semua tak kuasa tuk membentengi dari kenistaan diri
Biarlah diri menjadi benteng pribadi
Dan semua
Tak jua usai menatap lelahnya jiwa
Hanya itu
Sedang diri
Harus terus tetap berjuang!
Selasa, 10 Juli 2007
Azzam...
Tak dpt mnggapai keinginan jiwa
Trikt pd ktdkmampuan dri dlm mnjlajahi jiwa hitam
Kkuatn dri yg mghilang dlm angan
Aq yg tak sanggup tuk jlajahi khitaman kfanaan
Trtlan pahit fatamorgana yg mnysatkn
Trpuruk tuk bangkit
Trjatuh tuk brlari
Itulah diri
Putih saat kunjungn hitam mrajalela
Suci saat knistaan trs mmbyangi
Smgtkn diri
Tuk trs raih tujuan hakiki
Trikt pd ktdkmampuan dri dlm mnjlajahi jiwa hitam
Kkuatn dri yg mghilang dlm angan
Aq yg tak sanggup tuk jlajahi khitaman kfanaan
Trtlan pahit fatamorgana yg mnysatkn
Trpuruk tuk bangkit
Trjatuh tuk brlari
Itulah diri
Putih saat kunjungn hitam mrajalela
Suci saat knistaan trs mmbyangi
Smgtkn diri
Tuk trs raih tujuan hakiki
Harapan ku...
Penantian q hy plaksaan tndkn tuk mnuju jln dmai brsma jwa yg brsrah pd keagungn
Klak q akn branjak tuk tapaki keindhn yg tak jua brkehabisn
Satu asa tuk jnjang tapak yg trsa smpurna
Biarlah kdmaian suasana trasa bgai hujaman tiang pancang mnusuk slrh pori tbuh
Asal...
Kdamaian hti yg abadi trs trbnam dlm dri
Klak q akn branjak tuk tapaki keindhn yg tak jua brkehabisn
Satu asa tuk jnjang tapak yg trsa smpurna
Biarlah kdmaian suasana trasa bgai hujaman tiang pancang mnusuk slrh pori tbuh
Asal...
Kdamaian hti yg abadi trs trbnam dlm dri
Langganan:
Postingan (Atom)
