Sabtu, 25 Oktober 2008

TINGKAH SANG AUDITOR

Sang auditor akan melakukan pemeriksaan belanja daerah. Belanja apapun harus diperiksa. Sekecil apapun, apalagi gede, itu mah kudu’. Nah sewaktu Sang Auditor akan datang ke daerah yang akan diperiksa, eh… ternyata di sana masih ada bau-bau lebarannya. Halal bi halal sedang berlangsung (Gila’ lebarannya kok ga’ abis-abis ya’. Secara ini udah memasuki tanggal 27 Syawal gituh loh…). So… Ikut maap-maapan dah kita, gabung ama orang Pemda sono. Eh ada kata sambutan pula yang khusus diberikan kesempatan kepada Tim Sang Auditor dengan mengatasnamakan stakeholders-nya pemda (Maksa banget… ). Sambutan disampaikan oleh Sang Ketua Tim Auditor yang intinya berisi mohon maap lahir batin apabila selama ini ada salah. (loh??? Kapan buat salahnya??? Ketemu aja baru kali ini…)
Karena belum pada kenal, so point pertama pada pembukaan pertemuan ini (entry briefing) adalah saling kenalan dulu. Eh ternyata di sana banyak yang single di sini pun banyak yang single. So, ingle-single lan oi… single-single lan… cubit-cubitan oi… (loh?!). Yang pastinya, yang dah merasa tua usil untuk jodoh-jodohin sesama single tapi dengan yang beda jenis kelaminnya pastinya (ya iyalah….)
Tuing…. Tuing…. Tuing…. Jalan menuju hotel kok banyak yang bolong. So Joget-jogetan oi… joget-jogetan… (mobilnya maksudnya).
“Nah ini bisa jadi bahan pertama pemeriksaan”, ide gila Sang Auditor dalam pencarian objek pemeriksaan mulai kumat.
Liat kanan kiri, “kok banyak kubangan di jalanan yah? Wah ini kagak bener neh!” Pas ngeliat saluran pembuangan airnya, ”kok kecil amir yak? Ini nih yang buat jalan mudah rusak. Satu lagi bahan pemeriksaan guwe!” Jreng… Jreng… Jreng…

***

Hari ke sekian dari pemeriksaan.
“Ah… pengen ngecek jalan yang kemaren rusak. Secara teori guwe dah tau. Sekarang pengen ngecek secara nyatanya.”
Sang Auditor lalu meminta seseorang untuk menggali jalan tersebut beberapa meter untuk mengecek ketebalan aspal yang telah dibuat.
“Bener gak struktur tanah dan memang cocok gak dengen kontraknya?”
Setelah menggali, Sang Penggali berteriak bahwa ada yang keras-keras di bawahnya sehingga agak sulit untuk digali. Pas Sang Auditor meneliti tiba-tiba Sang Auditor menjerit, “HARTA KARUUUUNNNN…!!!”
Dan Sang Penggali pun ikut-ikutan histeris, “Wuaaaaa….. Kita kaya!!!”
Ternyata sekarang mereka kompak, bekerja sama menggali tanah, bahkan Sang Auditor yang lebih giat menggali dibanding Sang Penggali. Penggalian makin dalam dan makin lebar kemudian dapat diangkatlah peti besi itu. Sambil menghilangkan peluh demi peti itu, Sang Auditor tiba-tiba kaget dengan kondisi jalan yang berlobang luar biasa guwede karena semangat penggalian yang luar biasa tadi.
“Ah… Bodo’ amat. Gampang ditimbun dan diaspal lagi dengan duit hasil harta karun ini,” pikir Sang Auditor.
Eh... Terlupakanlah tujuan utama Sang Auditor singgah di kota itu akibat dari ulah Sang Penggali yang menemukan peti itu.
Karena sulit dibuka akhirnya Sang Penggali dan Sang Auditor sepakat untuk membuka segel garansi peti itu (LOH?!) dan rusaklah peti itu akibat dari tindak kekerasan yang luar biasa brutal. Semua terpaku pada Sang Peti ketika Sang Auditor membuka perlahan-lahan membuka peti itu. Setelah dibuka…. Jreng….. Jreng…. Jreng….. Ternyata isinya kertas-kertas dan buku-buku tua. Kecewalah mereka semua. Namun Sang Ketua Auditor malah berbinar-binar matanya ketika melihat tulisan pada kertas itu. Ternyata itu adalah dokumen-dokumen pengadaan pembuatan jalan yang asli. Lengkap….kap….kap…. Dan dokumen yang mereka terima dari Dinas PU pada waktu sebelumnya adalah dokumen yang palsu…su…su….
“Cihuy…. Bahan laporan temuan pemeriksaan kita dapat banyak neh...!! Hore…!!” Menari dan Bergembiralah semua Sang Auditor yang berjumlah lima orang itu walaupun peti itu bukanlah berisi harta karun yang diidamkan sebelumnya.

***

Menuju ke Dinas PU, Sang Auditor tampak sangat riang gembira. Mereka langsung menanyakan (lebih tepatnya mengklarifikasi) hal-hal yang berkaitan dengan dokumen yang ditemukan tersebut. Karena merasa terpojok, Sang Pemain di Dinas PU menawarkan pada Sang Auditor voucher belanja 5 (lima) hari di Matahari, liburan ke Bali 1 (satu) minggu, dan penginapan di hotel berbintang tujuh, serta tiket pulang pergi Lampung-Jakarta (Jakarta-Bali-Jakartanya biaya sendiri karena dananya sudah tidak cukup lagi).
Ditawarin seperti itu, terang saja Sang Auditor langsung berdiri dengan muka yang merah padam dengan mata yang ikut memerah (karena ngantuk…) lalu berteriak lantang,
“Apa-apaan ini!!! Masak Jakarta-Bali-Jakartanya beli sendiri. Jangan Gila dong!!!”
Orang-orang PU sontak langsung keblingsatan memikirkan cara lain dan menawarkan bagaimana kalau vouchernya digantikan untuk tiket tersebut. Sang Auditor tersenyum dan berkata,
“Semua masalah tersebut akan saya laporkan pada Temuan Pemeriksaan kami.”
Terang saja Sang Kepala PU sontak memegang dadanya karena penyakit jantungnya yang tiba-tiba kumat…nyut….nyut…nyut…. Kemudian dengan menahan sakit lalu ia berkata,
“Oke. Kalau begitu semua akan kami penuhi dengan tanpa ada yang kami kurangi, malah akan kami tambah dengan oleh-oleh sebagai kenang-kenanganan dari Bali untuk keluarga kalian di rumah. Dan untuk pegawai PU seluruhnya diharapkan untuk prihatin di bulan ini karena gaji kalian semua akan dipotong 90% untuk biaya Sang Auditor berlibur ke Bali.”
Mendengar perkataan Sang Kepala PU, Sang Auditor langsung menyalaminya dengan berkata, “Kau memang tiada duanya.” Dan tak lupa ia berkata, “terima kasih ya.”
Namun, di ruangan lain, di klinik di lingkungan Pemda tiba-tiba mendadak sibuk kebanjiran pasien dari Dinas PU karena mendengar ucapan atasan mereka tadi yang langsung semaput (pingsan).”

***

Dengan santai, Sang Auditor menikmati liburan yang diberikan oleh penghuni Dinas PU dengan melupakan segala beban yang ada pada pemeriksaan di Dinas PU tersebut. Waktu pemeriksaan telah berakhir seiring dengan berakhir pula liburan Sang Auditor. Terlihat setelah Tugas Pemeriksaan wajah yang cerah pada Sang Auditor dengan raut muka yang sangat….sangat… sumringah. Sangat tidak terlihat raut muka kelelahan yang jelas tampak pada Tim Sang Auditor yang bertugas di daerah lainnya. Setelah tiba waktu untuk pembuatan laporan, Sang Auditor bekerja dengan senang riang gembira karena seluruh pembuatannya telah dilakukan oleh Pegawai Pemda di Dinas PU yang diperiksanya tersebut sehingga Sang Auditor hanya melakukan editting seperlunya sesuai dengan format yang diminta oleh instansi tempat Sang Auditor mengabdi.
“Ah… Nikmatnya hidup,” pikir Sang Auditor.
Selebihnya, Sang Auditor berselancar bebas di dunia maya yang memang disediakan oleh instansi Sang Auditor sebagai fasilitas kantor dengan alasan menjalin silaturahim dengan orang-orang, yang baik dikenal maupun tidak. Sang Auditor ber-ceting ria mulai dari obrolan yang tidak penting, sangat tidak penting, sampai ke obrolan yang benar-benar sangat tidak penting sekali.

Ketika hampir tiba jadwal review oleh atasan atas temuan yang dibuat dengan keharusan adanya pemaparan temuan dari Sang Auditor, Sang Auditor baru mearasakan pusing tujuh keliling kampung (Loh kok bisa? Ya iyalah masak iya pun). Ia sadar memang ia tidak mengerti dengan yang ada pada laporan pemeriksaan yang diserahkannya tersebut. Tiba-tiba ia merasa panas dingin…. karena ia berada di dekat kompor yang di sampingnya ada kulkas yang pintunya lupa ditutup. (Halagh… Gubrak…)
Tiba-tiba Sang Auditor baru menyadari bahwa dokumen yang diberikan sebagai laporan temuan tersebut sempat ia copy terlebih dahulu. Ia lalu mengorek-ngorek kembali tas kerjanya. Ternyata barang yang dimaksud untuk ia pelajari untuk presentasi ke atasannya masih setia berada di sana. Tersenyum manislah Sang Auditor. Oh….

Rabu, 15 Oktober 2008

Tersenyum

Bahagia di kala ceria
Tak terhingga akan keindahan dunia
Berkata untuk memuja
Di mana semua akan bertindak
Berlaku dalam pelaksanaan baku
Tak sanggup untuk menggapai
Namun...
Semua telah memberi
Semua telah berbaik hati
Akankah aku akan membalas ini semua
Belum tentu bisa
Bahkan tidak mungkin
Karena semua itu membahana dan berkelanjutan
Terima kasih hanya mampu ku ucap
Kepada insan yang berbaik hati

Bermain dalam Kehidupan

Terkadang kebisingan dunia membuat kita jengah akan peradaban yang saat ini sedang kita jalani. Kita dengan sangat menginginkan hilangnya kepenatan dalam diri sehingga jalanya roda kehidupan ini dapat terlaksana dengan penuh keikhlasan dan kesejukan di hati. Namun, apa yang diharapkan terkadang tak jua sirna. Peluh semakin tertumpuk bagai dedaunan pada belantara hutan rimba. Dan juga kelamnya Sang Malam tak jua menunjukkan tanda-tanda akan datangnya Sang Pagi. Perasaan itulah yang membuat datangnya Sang Keputusasaan. Dengan merajai jiwa, ia terus mengikis jiwa dan semangat manusia untuk terus berjuang. Apakah manusia tak dapat bertindak lagi?
Yah… pertanyaan inilah yang terus menjadi pertanyaan ‘klise’ di saat pertanyaan-pertanyaan lain tidak terpikirkan di dalam suatu forum diskusi para mahasiswa ataupun para profesional. Seyogyanya memang sangat mudah memperoleh tips hidup karena jaringan komunikasi yang telah sangat canggih di zaman ini. Dengan mudahnya kita berselancar pada dunia maya, internet. Ataupun dengan tidak mengenal batas jarak, kita dapat menghungi teman, sahabat, maupun saudara kita setiap saat untuk berbagi saran ataupun nasehat agar terus menyemangati kehidupan kita. Tapi bukan itu yang menjadi hambatan apakah rasa manisnya hidup itu dapat terus kita nikmati atau tidak. Bukanlah menjadi inti.
Sepatutnya manusia sadar diri akan keberadaan dirinya pribadi. Apakah ia hanya menggantungkan kehidupan pribadi sepenuhnya pada sarana dan prasarana kehidupan yang ia miliki saat ini atau tidak? Itulah yang menjadi hambatan dalam hidup. Manusia memang layak untuk memperoleh sejumlah nilai, baik itu uang, kehormatan, jabatan, ataupun bentuk lainnya atas usaha yang telah ia laksanakan. Namun, tidak patut menjadi sebuah alasan bila manusia menjadikan semua itu sebagai nilai kebanggaan dirinya, bahkan menjadi suatu nilai candu bagi dirinya.
Kita hanyalah manusia yang dengan akal logika menyadari bahwa kekuatan alam itu selalu berlaku. Perputaran roda kehidupan itu akan terjadi pada setiap jiwa yang memiliki nyawa. Sebesar apapun tenaga yang kita kerahkan untuk membentengi diri tidak akan melunturkan apa yang menjadi ketentuan bagi dirinya. Semua memiliki kendali dan pengatur yang dikuasai seluruhnya oleh Sang Pemilik Kekuatan yang Maha Dahsyat.
Dalam diri manusia memiliki panggilan jiwa untuk bertahan. Namun, bila semua ketidakberdayaan menyelimuti diri dan keterpurukan yang menjadi bisikan utama, kita tidak dapat berpikir jernih apakah semua ini berlaku baik atau tidak, yang terpenting adalah semua beban terpecahkan sempurna walau hanya untuk sementara.
Di sinilah letak titik pertentangan antara manusia yang dapat berpikir bijak dengan manusia yang dijajah oleh rasa kekalutan. Manusia bijak menyadari sepenuhnya bahwa manusia hidup tidak akan lepas dari masalah, baik itu masalah kecil ataupun masalah yang serasa dapat mengakhiri hidup ini. Bila satu masalah hidup terselesaikan, tidak akan pernah terjadi bahwa masalah lain menolak untuk menghampiri. Semakin tinggi perjuangan yang ia kerahkan, semakin besar pula terjangan yang akan ia hadapi. Yang menjadi kunci permasalahan hidup di sini adalah sikap hidup kita dalam menghadapinya.
Banyak manusia yang hidupnya penuh dengan sumpah serapah dalam ucapannya walaupun ia menghadapi kebaikan bagi dirinya. Banyak pula manusia yang hanya berdiam diri dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan namun ia ledakkan sewaktu-waktu apabila dirasa telah sangat membebani. Dan banyak pula manusia dengan santainya menikmati setiap liku kehidupan dengan jiwa menerima apa adanya. Bukan karena ia tak mampu untuk membentengi diri tapi ia ingin terus hidup dengan konsekuensi ia harus terus menyelami semua liku kehidupan tersebut.
Tidak dapat dipungkiri bahwa semua yang kita miliki dapat menjadi sarana dalam memperindah kehidupan ini namun hanya memiliki sifat yang sementara. Hakekat perjuangan ini adalah apakah manusia memiliki semangat yang tinggi, yang tak akan lekang pada kuatnya terjangan badai yang menghampiri. Pasang surut semua itu yang dapat terjadi karena permasalahan hidup memang tidak dapat terelakkan. Tapi, yang pastinya kita memiliki sandaran hidup yang memiliki jiwa penyemangat. Hampirilah ia. Jangan kita lupakan keberadaannya. Kapanpun itu, pastinya kita akan menyadari bahwa keberadaannya sangat kita butuhkan. Hakekat kehidupan terletak pada manusia itu sendiri yang bersumber pada Tuhan yang wajib menjadi Penopang kehidupan kita, tempat berserah diri kita. Dialah Sang Hakiki. Tak kenal waktu dan zaman karena Dia yang menguasainya. Ingatlah kapanpun itu, walaupun sekarang kita tidak menyadarinya, panggilan jiwa ketuhanan kita pasti akan berbisik tajam untuk segera terpenuhi. Kembailikanlah semua pada-Nya. Jalani kehidupan kita sewajarnya dan seoptimal mungkin. Karena hakekatnya kita wajib berusaha tanpa tahu kapan usaha kita akan berakhir. Ingatlah, sekali lagi ingatlah, bahwa hidup tak hanya sekali. Dunia ini hanyalah tempat permainan, seutuhnya hidup adalah pada akhirat kelak. Layakkah kita hanya bermain dan bersenang-senang di sini tanpa ada pelajaran yang kita ambil dari permainan tersebut. Hanya diri kita pribadi yang hanya bisa menjawabnya? Sedini mungkin semua itu harus tertanam dalam jiwa pribadi manusia seutuhnya.
Selamat menjalani kehidupan dengan rasa optimis akan manisnya kehidupan di akhirat kelak. Seperti apa itu? Bahkan akal pikiran pun tak dapat membayanginya.

Rabu, 24 September 2008

Doaku Saat Ini

Bersama diri untuk mempersatukan
Namun entah tak berlaju dalam tindakan
Andaikan kesunyian menyeruak
Aku pun tak terbiasa dengan keributan
Menanti demi sebuah kedamaian
Andaikan dia mempesona
Sejukkan dalam tindakan
Membahanalah hati karena bahagia

Peta Buta

Entahlah...
Jiwaku memang serasa harus terus berdiam diri. Yah... Sepertinya aku diam-diam berkutat dalam hal-hal yang hanya melibatkan diriku pribadi. Yang aku tahu memang hanya aku. Aku sangat sulit menyibukkan diri ini ke dalam kesibukan dalam rangka memberikan manfaat kepada orang lain. aku tidak tahu arah mana yang harus ku lalui karena aku memang sangat lama untuk memahami peta petunjuk jalan itu. Sungguh sangatlah sulit. Dan sungguh itu di luar kemampuanku, yaitu kapan harus berakhir dan kapan harus memulainya.

Teguran Hidup

Ya Alloh, terima kasih atas nikmat yang telah Kau beri selama ini kepada diri yang hina lagi penuh dosa ini. Kau berikan teguran kepada ku.
Yah… Aku sedang menikmati rasa sakit saat ini. Aku sangat tak ingin, dengan sakit ini, aku menjadi orang yang terus melemah dan menjadi tak berdaya. Ku berdayakan diri ini dalam mengarungi hidup seperti selayaknya ketika sehatku.
Diamlah!!!
Aku memang sedang menikmati rasa sakitku. Semoga Alloh terus membimbing diri ini dalam jalan yang diridhoi-Nya.

Percintaan Sang Sahabat

Hati tak lagi ikhlas
Pengharapan akan semua ulah yang ku anggap mulia
Hah...
Semua tak ternilai
Semua tak berguna
Semua debu
Matilah kau...

Tapi...
Tidakkah diri pecundang
Merenung saat semua tersenyum
Menangis saat semua tertawa
Teriak saat semua berbisik
Aku butuh engkau, teman
Saat diri terasa sangat lemah
Tak mampu bertindak apapun
Bahkan untuk diri sekalipun
Diri tak ingin terjerumus ke lembah nista itu, teman
tolong diriku, teman
Tanyakan kabarnya
Tidakkah kau tahu
Apakah ia memang benar-benar baik
Ketika ia berada di sisimu dengan sikap manisnya dan berkata
"Alhamdulillah aku baik"

Jiwa Pendosa

Mengapa diri ini terus dilingkupi jiwa berdosa
Menuding diri dalam penistaan
Tidak diri mengerti bahwa semua itu hina
Busuknya telah terungkap
Tetapi…
Masih saja menjadi perangkat untuk diri
Kapankah diri akan terlepas dari jeratan hitam itu
Aku ingin terbebas dari masa kelam itu
Masa yang terus membuatku merasa bersalah
Dan…
Merasa penuh dosa

Tidakkah diri ini berdusta?
Tidakkah diri ini munafik?
Yah….
Selamat datang malam
Aku tersenyum untuk diam
Tak terungkap kata hitam
Karena diri tak ingin meradang
Semua menjadi saksi bisu
Akan tingkah keji nan lugu
Karena menghamba pada nafsu
Memang diri ini sangat tak bermalu

Kekuatan Sang Pesakitan

Mengapa kemegahan itu berkuasa
Yang berkarya gegap gempita
Menjadikan hati hidup membahana

Kapan diri akan menghadiri
Tak berpihak untuk hidup
Menjadikan diri menghadiri kekalutan
Sulit tumpah ruah
Menyatu demi kedamaian
Semua bertepi
Jurang terjal memisahkan
Terpacu untuk saling mematahkan

Terlelapnya Hidup

Tak berkata aku berlaku
Menunjukkan muka hitam pada sang Nakhkoda
Tak ragu diri menyimbolkan keanarkisan
Masalah terus berbicara
Tak henti tak mengenal shubuh akan menanti
Cahaya malam telah memejamkan matanya
Aku terhiris dan menyesatkan diri
Agar semua ini berakhir
Namun satu hal belum terungkap
Dan akupun tak mampu berungkap
Biarlah waktu yang akan mengungkap

Warna Hidup

Terlindungi kesenyapan malam
Diam tak berkuasa
Menjadi diam mematung seribu bahasa
Tak ada kelalaian yang memuja
Meminta untuk diperlakukan istimewa
Tak selalu hilang persoalan hidup
Karena roda kehidupan yang selalu berputar
Memuncak menurun dan mereda
Mahligai hidup tertera pada kebahagiaan
Ketenangan diri ada pada sang pelipur
Nyanyian keharuan ada pada kegalaluan
Kedamaian sejati ada pada ketaatan pada-Nya

Jumat, 08 Agustus 2008

Menanti dan Mengharap

Bertahan dalam diam
Menunggu sesuatu yang tak pasti
Mengharu dalam biru
Mencerca akan tindakan
Semua liku dalam hidup
Takkan pupus ditelan zaman
Semua merekah dan membahana
Meneriakkan kemenangan
Keindahan yang ingin diraih

Melaju untuk keinginan
Tak punah akan keadaan
Semua ingin kebahagian
Ketenangan untuk diri
Penantian jiwa
Siap mengantarkan diri
Menuju ketentraman diri

Senin, 04 Agustus 2008

Mengapa ini terjadi pada ku?!

Tak akan ku perdayakan diri dalam matinya jiwa. Biarlah jasad mati, membusuk tak berdaya, asalkan tak pernah ku rasakan matinya jiwa, matinya nurani. Andai manusia tak pernah ada di bumi ini, tak akan kurasakan manis cinta, kasih sayang, serta manisnya perjuangan hidup.
Di sinilah ku pertama kali merasakan dingin, panas, marah, dan benci. Tak pernah hilang perasaan syukur itu walau diri terus disiasati untuk menghilang. Yah.. Diri tak ingin terbang bebas lepas mengikuti aliran pikiran yang terkadang dapat menyesatkan dengan dalih demi logika.
Bertahun lamanya aku berhenti menghadirkan diri pada-Nya. Bukan karena ku hendak berkhianat, namun tak kenalnya diri pada perjumpaan yang membahagiakan itu. Semua itu merupakan rahasia dari Nya. Mengapa aku dapat berdiri, mengapa aku berlari, semua tak luput dari rencana-Nya yang pastinya tak mengenal istilah keliru.
Dapatkah aku berhenti saat ini juga? Kenapa tidak?! Toh, hidupku adalah pilihanku. Namun aku tak akan melupakan keberadaan Tuhan dalam hidupku. Kehendak-Nyalah aku dapat hadir di sini. So pastinya, jangan sampai kita tak tahu aturan Sang Pencipta kita. Alat elektronik pun dalam pemakaiannya harus sesuai buku petunjuk dari sang pembuatnya. Kenapa hal tersebut harus dipertentangkan untuk hidupnya manusia. Ku pikir, silahkan saja hidup semaunya. Toh, hidup itu gak cuma sekali. Ada kehidupan lain setelah ini dalam rangka pembalasan atas tingkah kita di dunia.
(Gak percaya? Coba aja mati.. Tapi kalo gak enak, gak ada yang jamin bisa balik lagi.)

Harapku

Ya Alloh...
Aku takut akan azab-Mu yang pedih itu, ya Alloh...
Jangan Kau lemparkan kami dalam kesesatan itu, ya Alloh...
Kami takut terlena akan kubangan dosa itu, ya Alloh...
Berilah kami pengawal yang dapat membentengi kami, ya Alloh...
Yang dapat memberikan kekuaatan kepada kami dalam menegakkan ajaran-Mu, ya Alloh...
Kami ingin saling menguatkan dalam segala kebaikan itu, ya Alloh...
Jangan biarkan kami dalam kegalauan yang menyesatkan, ya Alloh...
Tuntunlah kami selalu dalam keindahan ajaran-Mu itu, ya Alloh...
Kami ingin mereka dan kami pun semakin tahu bahwa ajaran-Mu ini benar-benar indah dan sempurna, ya Alloh...
Tanamkan keyakinan kepada kami bahwa kebersamaan-Mu itu adalah yang terbaik, ya Alloh...
Terus tumbuh suburkan kepada kami cinta yang abadi, cinta yang tak lekang waktu, cinta yang tak menjerumuskan, cinta yang mengarahkan pada kesempurnaan, yaitu cinta pada Mu, ya Alloh...

Ya Alloh...
Aku takut akan kesendirian ini, ya Alloh...
Ku tahu Kau saat ini terus menemani ku...
Namun mengapa hati ini terus merasakan kesendirian itu, Ya Alloh...
Kesendirian yang kadang terus menyesakkan...
Kesendirian yang dapat menjerumuskan ku pada kesesatan, ya Alloh...


Dalam diam seperti ini aku terkadang menangis tersedu...
Menanti kehadiran sang pelipur lara...
Yang dapat menghilangkan perasaan penat ini...
Aku yang memang tak dapat bercengkerama dengan mereka, merasa ingin bercengkerama bersama mereka...
Dilihat ku bahagia akan semua itu...
Tidak...
Aku yang terpaku menyendiri...
Menghindar akan kepalsuan...
Menyusuri keabadian...
Namun...
Sekali lagi aku tak dapat menyentuh ketenangan itu...
Jiwaku terus gelisah tak tentu arah...

Apakah diri ini telah munafik?
Yah...
Semua terjadi terperikan...
Aku tak sanggup dengan ini...
Namun aku terus berusaha sekuat mungkin untuk menguatkan diri...
Sebuah kejadian yang pasti diberikan dengan kemampuan menanggungnya...
Namun...
Sampai kapan diri terus membuat topeng?
Sedang topeng lamaku telah lusuh akan seringnya dipakai...
Mereka tak tahu di balik topeng itu...
Akankah aku melepaskan topeng ini?
Sampai kapan aku harus mengenakan topeng ini?
Aku ingin seperi semula...
Tak ada cacian, hinaan, dan makian...
Semua dapat membentengi diri...
Semua dapat saling mengokohkan...

Ya Alloh...
Aku benar-benar berserah pada-Mu, ya Alloh...
Sejauh ini aku terus menghitamkan diri ini, ya Alloh...
Aku ingin semua ini musnah, ya Alloh...
Digantikan keindahan itu, ya Alloh...
Ketenangan itu, ya Alloh...
Kesempurnaan akan sikap yang menyejukkan itu, ya Alloh...
Perkataan yang membuai jiwa ketuhanan itu, ya Alloh...

Kuharap...
Jalanku tak terus melenceng jauh pada-Mu...
Teruskanlah aku bersama orang-orang sholeh yang dapat saling menuntun, ya Alloh...
Yang aku pun tahu akan kesholehannya, ya Alloh...
Teruskanlah kami pada kebersamaan itu, ya Alloh...
Bimbinglah kami, ya Alloh...
Ku harap semua itu berujung pada kehidupan abadi yang membahagiakan...
Di Syurga-Mu, ya Alloh...

Busuk

Mengapa diri terus dilingkupi jiwa berdosa. Menuding diri dalam penistaan. Tidak diri mengerti bahwa semua itu adalah hina. Busuknya telah terungkap tetapi masih saja menjadi perangkat untuk diri. Kapankah diri akan terlepas dari jeratan hitam itu. Aku ingin terbebas dari masa kelam itu. Masa yang terus membuat ku merasa bersalah dan merasa penuh dosa.
Tidakkah diri ini berdusta?
Tidakkah diri ini munafik?
Yah.. selamat datang malam. Aku tersenyum untuk diam. Tak terungkap kata hitam. Karena diri tak ingin meradang.
Semua menjadi saksi bisu. Akan tingkah keji nan lugu. Karena menghamba pada nafsu. Memang diri ini sangat tak bermalu.

Rabu, 23 Juli 2008

Aku Harus Hidup Hari Ini

Terkdang untuk menatap ke depan itu sangatlah sulit karena diri sangatlah merasa kecil yang membuat diri merasa tak mampu untuk menginjakkan kaki tuk meidupan napaki kehidupan di masa dating. Tapi semua itu hanyalah sebuah kecemasan diri untuk tak bergerak dan tak bertindak dalam memecahkan permasalahan hidup ini. Aku yang di sini terus menentang diri untuk tak menghidupkan perasaan Sang Pengecut dalam menghiupkan kehidupan ini. Tak peduli apa kata pikiranku bahwa yang ku lalui akan sangat tak mungkin terlewati. Toh, aku masih punya Tuhanku yang pastinya akan membantuku dalam menjelajahi dunia yang telah digariskannya kepadaku yang aku tak tahu akan jadi apa aku di di dalam dunia hasil rancangan-Nya ini. Yang pastinya, aku diwajibkan untuk berusaha dan berusaha. Selebihnya hanya Tuhanku yang berhak menentukan apakah aku berhak atas hasil yang ku peroleh ata usaha ku tersebut. Ataukah aku harus memperoleh penundaan atas keberhasilan atas usaha ku tersebut. Aku yakin Tuhanku Maha Penyayang dan Maha Tahu atas segala makhluk-Nya. Ia tahu segala yang terbaik untuk hambanya sehingga dengan Kemahasayangan-Nya tersebut ia memberikan yang terbaik untuk hambanya tersebut, baik itu berupa keberhasilan ataupun berupa kegagalan (dibaca: penundaan keberhasilan).
Dengan perjuangan gigih, seseorang dapat serta merta memperoleh hasil yang memuaskan karena ia berhak atas hal tersebut. Tetapi dengan perjuangan yang tidak kalah gigihnya, kadang kala manusia memperoleh kegagalan yang telak, terpuruk jatuh tak berdaya. Bukan karena ia tak ingin keberhasilan ataupun karena usahanya yang setengah-setengah namun Tuhannya tahu bahwa keberhasilan belum layak untuk nya pada hari itu. Karena mungkin akan ada keberhasilan yang lebih besar lagi di hari esok jika ia berusaha kembali. Ataupun penundaan keberhasilan karena dengan keberhasilannya tersebut, ia mungkin akan menjadi lupa diri sehingga tak ingin berusaha kembali di hari berikutnya.
“Maka, apabila kamu telah selesai (dari segala suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah [94]:7-8).
Selalulah berbaik sangka terhadap Tuhan Yang Maha Bijak ini. Apapun yang telah kita peroleh, baik itu yang kita inginkan ataupun yag kita benci sekalipun, yakinlah itu merupakan yang terbaik untuk kita.
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada Ku.” (H.R. Syaikhani dan Turmudzi)
Namun dengan langkah bijak juga harus kita olah hal yang telah kita raih tersebut untuk menjadi hal yag sangat mengesankan di mata kita sendiri, di mata masyarakat sekitar, di mata dunia, dan yang intinya pergerakan kita harus memberikan kesan di mata agama.
“Orang yang berilmu itu bukanlah orang yang banyak ilmu agamanya. Tetapi orang yang berilmu itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya daqn dengan ilmunya itu ia menjauhi apa-apa yang tidak disukai Alloh Azza wa Jalla.”

Jumat, 18 Juli 2008

Pulkam ke Musi

Alhamdulillah...
Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju tempat kelahiran yang setelah beberapa bulan ini ku tinggalkan... Caela segitunya... Ya iyalah masak ya iya dong...
Penuh perjuangan pada sore setelah pulang kerja karena harus mengantarkan lembaran pengumuman muqoyam ke rumah Pak Ansyori. Sebelumnya memang aku ditugaskan untuk memfoto copy pengumuman agar masing-masing temanku dapat satu. So, jadinya hari ini seharusnya ku bagikan kertas itu. Namun, karena niatku yang sudah bulat-bulat untuk pulang ke Palembang, aku harus bolos untuk pertemuan kali ini. Pastinya bolos dengan izin Pak Ansyori nya duongs...
Setelah lembaran itu, aku masih bersama Tedy dan motre'nya pulang ke kosku. So pasti Tedy hanya mengantar doanks. Dari kemarin diriku ini keliling-keliling mulu'. Sebelumnya aku bersama Fitra dan Mas Syarif keliling. Niatnya sih beli Clear Holder untuk data pegawai. Namun, karena barangnya tidak ada jadinya melakukan efek samping nya saja, yaitu beli tiket ku pulang ke Palembang, ya iya ini. Terus besoknya lagi aku keliling sama Fitra beli barang yang sama dan alhamdulillah perjuangan kami membuahkan hasil. Lagi-lagi besoknya lagi, tepatnya hari ini, aku harus ngider lagi karena barang yang dibeli kemarin tidak sesuai dengan pesanan. So, complain lah kita ke toko nya, De Oni, di Way Halim. Untungnya mereka mau nukerin ntuh barang walaupun dengan barang yang tidak sama persis. Yang penting warnanya sama (Kata Bu'Evi).
Dan sekarang aku dan orang-orang di sekitarku lagi terjebak macet di Lampung Tengah. Entah ada masalah apa di jalan ini, hingga mobil pun tidak bisa jalan, berhenti total Bro'.
Semoga dapat yang terbaiklah dari-Nya dalam menjalankan perjuangan ini. Amin.

Blas Pas....

Tak mengerti
Perjalanan terus berjalan
Kehidupan terus hidup
Namun arah tak tentu akan ke mana
Semua mendera
Mempertanyakan...
Akan ke mana semua itu bermuara

Tentukan langkah
Tentukan arah
Karena diri tak selamanya di sini
Diri harus pergi
Menjauh meninggalkan kenangan panjang
Nan manis menyejukkan

Selamat malam, Siang
Selamat sore, Fajar
Selamat tinggal kegelapan

Sabtu, 28 Juni 2008

Kembali ke Jakarta

Perjalanan ini dilalui dengan empit-empitan di angkot CO9 yang berisi 15 orang. Satu sama lain saling berebutan oksigen guna mempertahankan hidupnya masing. Wangi parfum yang makin kini makin berubah dengan aroma semerbak keringat yang membuat kota Jakarta ini makin terasa kian sumpek.
Walaupun begitu, semangat membara tuk menuju sasaran perjalanan tidak menjadi pudar karena semangat persaudaraan yang tertanam dalam diri terus menyertai guna memenuhi undangan kebahagian walimahan Dony dan Lia.
Setelah turun di perempatan Carefour Lebak Bulus, kami membagi 15 orang ini menjadi 3 kelompok. Kebetulan kelompokku berisi orang-orang yang akrab dengan ku, yaitu Yonak, Oktora, Dedi, Wahyudi, dan tentunya aku. Walaupun dah dibagi kelompok-kelompok, kami melanjutkan bersama-sama dengan bus yang juga luar biasa padet. Orang diibaratkan barang yang terus dipadat-padatin agar muat. Tapi alhamdulillah aku masih dapat kursi, Brow. Setelah nyampe Cijantung kami baru naek taksi sesuai kelompok yang sudah dibagi tadi. Ternyata jaraknya gak terlalu jauh, so argonya pake argo minimal, Rp10.000,-. Pas nyampe di Gedung Balai Komando, Cijantung, Pasar Rebo, keadaan masih sepi yang ada cuma panitia aja.
Wah keliatannya bantu-bantu ngedekor (dekorasi) dulu neh. Pletak...
Eh ternyata Sang Mempelai Pria masih belom siap sempurna yang masih berdiri sendiri di depan gedung dengan baju setelan serba putih. Setelah ditunjuki letak posisi masjid oleh Doni, kami sholat maghrib terlebih dahulu di Masjid An-Nur di belakang gedung yang keadaannya masih gelap sebelum rombongan kami ke sana. Sesuai kesepakatan, kami menuju resepsinya ba'da Isya. So, ngobrol-ngobrollah dulu kami di masjid sambil nunggu Isya, sekalian reunian lah dengan mereka.
Setelah Isya', kami gabung rombongan Media Center dan anak-anak STAN laennya.
Luar biasa aku kaget, tuh acara bener-bener spektakuler, acara mewah. So pasti kalo setarafku mahal sehingga aku gak keduitan kalo ngadain seperti itu. But, yang membuat ku agak ilfil (ilang feeling) ama tuh acara adalah standing party-nya itu. Acara formalnya kan di awal dan sebentar banget, selebihnya didominasi oleh acara serbu makanan tiap stan-stan makanan yang ada. Nah itu dia, niat awal mau menikmati tuh makanan yang dikemas apik ntu, eh.. alih-alih gak nafsu karena gak ada tempat duduk untuk makan. Secara, aku gak biasa makan dan minum sambil berdiri karena bagi ku ntu gak nyunnah. Aku makan seperlunya aja sekedar untuk ngilangin rasa laperku yang hampir menjelang stadium empat. So, berjejal-jejallah aku memperebutkan jatah makan yang saingannya para tamu yang berbaju glamour. Walaupun laper, aku menghentikan rasa rakus karena laper ini. Bodo' amat lah ama temen-temenku dan yang laennya pada menggilir ke setiap stan makanan untuk icip-icip, aku hanya menonton mereka dan sedikit bujuk-bujuk untuk segera pulang ama temen kelompokku yang memang jam kesepakatan pulang udah waktunya.
Ku akui tuh acara meriah dan luar biasa, sampe-sampe tetamunya pun ada orang-orang penting, petinggi-petinggi kayak aku ini loh... Pletak.. Eh beneran, Bapak Wakil Gubernur pun sempet-sempetnya mampir ke walimahan ini loh. Salut deh buat sang pengantin, keluarga, panitia, dan terkhusus buat ku pribadi.. Gubrak.. He.. He..
Sesudah berhasil mengumpulkan 5 orang kelompokku, kami ikut ngantri menuju plaminan untuk salam-salaman. Eh ternyata ada cupika-cupikinya juga antara aku dan Dony, sambil Dony berkata, "wah yang jaoh-jaoh dari Lampung." Aku hanya bisa tersenyum, karena memang aku berniat datang dari Lampung ke Jakarta untuk ngunjungin pesta ini. Terus Dony request ke kami untuk foto bersama nanti. Weleh... Weleh... Nunggu agak lama lagi neh. Sambil nunggu aku cas cis cus ama temen-temen yang ku jumpai. Tapi yang lain menjamahi makanan lagi.. Hajaa..rr.
Akhirnya foto juga dengan perjuangan yang hebat karena antri salamannya gak abis-abis. Lalu aku berjuang bujuk-bujuk rayu lagi untuk pulang ke temen-temen kelompokku. Wah.. Ada Mas Lutfi dateng sama pasangan idealnya, istrinya. Eh.. Cupika-cupiki lagi deh aku dan dia sebegai salam pertemuanku yang dah lama gak ketemu.
Karena sepakat pulangnya naek taksi, kami menuju jalan untuk mencari taksi bersama Mas Lutfi dan pasangannya. Caela dinks, yang mau naek taksi juga bejibun. Temenku beride cemerlang, ngajakin nunggu di seberang jalan. Yes, emang di seberang sepi, jadinya, kami dengan mudah dapet taksi. Mas Lutfi pun ikut jejak langkah kami.
Tuk pasangan yang menginjakkan kaki pada dunia baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah..

9 Juni

Kepalaku sakit. Ingin ku hilangkan namun tak jua reda. Aku yang terus melandai diri dengan kesedihan, tak jua sirna dalam kesepian. Ingin ku memanggil seseorang tuk menghampiri, tapi siapa yang mau peduli. Mereka telah sibuk dengan urusannya masing-masing. Siapa peduli dengan jiwa kecil yang sendiri terpojok karena sepi. Tak dihiraukan pun tak mengapa karena memang sangat tak berguna bagi mereka.

Wow.. Tua..

Hah...!!
Bentar lagi umur ku bertambah...!!

Wow.. Tua..

Hah...!!
Bentar lagi umur ku bertambah...!!

Wow.. Tua..

Hah...!!
Bentar lagi umur ku bertambah...!!

Kontradiksi

Mulai beranjak menjadi pembangkang
Penolakan terhadap segala perlakuan
Terkesan tak berperasaan

Kondisi yang berbeda ku hadapi
Tak tertarik akan tindak tanduknya
Sangat bertentangan dengan keinginanku

Semua belum tentu berlaku sama
Walau semua dipaksa sama
Semua tak dapat menjadi indah
Walau dipaksa untuk indah

Pikiran Diam

Aku yang merindu
Kehidupan yang terabaikan
Meski tak tertandingi
Aku ingin semua itu damai
Semua itu hidup kembali

Terluka karena hati
Musnah karena terpuruk
Menjadilah terbenam aku
Bagai semua dalam diam
Mati pun aku tak berkesudahan

Janganlah aku berhenti
Karena diri telah sepi
Janganlah aku berlari
Karena diri tak mungkin kembali

Hitam Pekat

Aku terhempas
Lepas menghatam dasar lembah
Nurani tak lagi putih
Telah tertutupi mendung
Gelegar petir turut menyertai
Hati terus menghitam
Dengan mulut yang tak lagi terbungkam
Noda diri terus menggunung
Menghancur sisi diri
Terpuruk...
Yah...
Aku hanya bisa menangis
Akankah semua kembali suci
Dalam perjalanan menuju Ilahi

Tak Sehat

Betapa malang nasib pejuang
Sakit melawan terus diterjang
Sulit melirik
Jua sirna tak pupus harapan

Dunia Baru

Ketemu orang asing buat ku pusing
Melihat yang terusik telah melirik pada yang asyik
Sudilah diri membasuh hati
Agar tak kesampaian tuk menjadi buaian

Sedih

Di sini aku berkelana
Tak memiliki kekuatan akan pengetahuan
Terpaku aku duduk di sini
Hanya menatap kosong pembicaraan tak berkesudahan
Aku yang berkeinginan untuk berlari
Keluar dari komunitas ini
Menggelayuti dunia yang aku idamkan
Tapi...
Sampai sekarang tak tahu pasti
Ke mana aku harus singgah
Ke mana aku harus menggapai
Dunia terasa begitu kejam
Tak tersenyum ketika diri bersedih
Terbahak-bahak sewaktu diri di pesakitan

Dalam diam aku memendam
Dalam senyum aku meringis
Dalam siang aku terus merasakan malam
Ingin ku cari hangatnya sang mentari
Memeluk diri
Dan
Membelai kasih

Minggu, 22 Juni 2008

Tak Berdaya

Bertahta pada pemikiran
Lenyap pengabdian disusul pertanyaan
Apakah harus semua ku buang?
Aku tak akan terus berdiri dan terhenti
Aku tak mampu...
Dunia menyesakkan
Dan...
Mendorongku menjauh
Menjauh dari segala
Yang telah ku rengkuh
Yang telah ku genggam
Aku harus berlari
Menjauh pergi
Menyusuri pelangi
Tuk menyejukkan hati

Tumpuan Hidupku

Mengapa dunia menggelora
Mengapa jiwa selalu tak bersahaja
Lepaskan...
Bebaskan aku dari belenggu itu
Runtuhkan candu itu

Memuakkan!!

Ingin ku tinggalkan pertanyaan 'mengapa'
Menambah sesak diri
Meruntuhkan pertahanan hati

Tak hendak aku membangkang
Tak hendak aku berteriak
Bahwa aku putus asa

Diamlah...
Biarkanlah aku menangis
Biarkanlah aku curahkan kepada mu
Sesak dada ini
Sakit kepala ini
Perih hati ini

Semoga petunjuk-Mu selalu menyertai langkah perjuanganku ini.

Ketakutan Diri

Hari ini tersenyum kembali
Walau tak terobati
Ku ceriakan diri ini
Ku hidupkan hati ini

Kebahagian ada di depan mata
Kenikmatan telah menganga
Namun...
Semua semu
Semua tak menentramkan hati
Haruskah terus menerus menentang
Atau...
Mengikuti perintah dunia asing

Ketakutan terus membahana
Karena perkataannya
Yang terus meragukanku...

Aku...
Ingin terus bertahan
Sampai jiwa menyerang
Tuk menyudahkan
Masa hidupku

Senin, 26 Mei 2008

Perbandingan Waktu

Meski berkata
Aku diam
Bersimpuh ku bersedih
Atas kelalaian yang menyeruak

Dulu
Bertahta pada kepatuhan
Bergelimang pada ketenangan
Berselimutkan kebanggaan

Aku yang kini gamang
Tak tentu akan arah
Tak memiliki penyangga
Terus terpuruk
Terus menghinakan diri
Muncul pada kemunafikan

Tak ingin terus terjatuh
Ketaatan ingin terus memuncak
Dan berharap...
Pertolongan-Nya menggelayati jiwa
Amin ya Robbal 'alamin

Penguasa Bejat

Kekuasaan merayapi
Menusuk gemerlap dingin
Kaku berkepanjangan
Sedang...
Sang penguasa...
Merasa terus berkuasa
Mematikan kehangatan
Meleburkan kesejukan
Sang penguasa...
Akan terus berkuasa
Hingga...
Sang Pemilik Kekuasaan menghendaki kematian kuasa
Padanya

Kekuasaan Hitam

Tak ubahnya kehinaan
Mendera kebenaran
Menutup kelam kesucian
Terkucil dalam ramuan keangkuhan
Tersudut karena tak berkekuasaan
Jiwa yang terluka
Tak mampu berontak Hanya mencanangkan tekad
Kekuasaan hitam harus mati
Meluruskan kebenaran
Mencerahi dunia lama kelam
ALLOHU AKBAR...

Doaku Saat Ini

Bertahta dalam kemakmuran
Namun hati terus meregang
Menjadikan diri terus mendera
Aku yang tak bersahaja
Tak lagi memiliki kekuatan
Untuk mempertahankan diri
Diri terus diserang
Mengerang dari dalam
Di sekitar saling membela diri

Aku terpaku
Menyesalkan keterpurukanku
Menyesalkan kelemahanku
Menyesalkan segala ketakberdayaanku

Hanya satu yang ku butuh
Kehadiran-Mu, Ya ALLOH
Semoga selalu menyertai derap langkahku
Dan...
Jiwa bersahaja-Mu
Bersama selalu untuk meringankan langkah ini

Tertekan

Tak hendak aku berlari
Jika tak hendak ada pencapaian
Apalah artinya kehidupan
Jika semua tak berpenghasilan
Jika semua tak berkesudahan
Hanya pemuas nafsu

Tapi...
Terhambatnya langkah turut menyertai
Hingga tak lagi diri berbakti
Tak lagi diri mengabdi
Tinggal menyisakan
Diri yang berubah menjadi pemberontak
Yang terlihat lebih hina dan tercela

Ketakutan Diri

Aku memutuskan untuk kembali
Jangan terulang lagi akan sepi
Aku berkeinginan untuk pergi
Walau diri tak ingin menjauh
Aku yang tak berharga lagi
Sejenak berhenti
Mengindahkan sepiku

Di Dunia Luar

Di sini aku berkelana
Tak memiliki kekuatan akan pengetahuan
Terpaku aku duduk di sini
Hanya menatap kosong pembicaraan tak berkesudahan
Aku yang berkeinginan untuk berlari
Keluar dari komunitas ini
Menggelayuti dunia yang aku idamkan
Tapi...
Sampai sekarang tak tahu pasti
Ke mana aku harus singgah
Ke mana aku harus menggapai
Dunia terasa begitu kejam
Tak tersenyum ketika diri bersedih
Terbahak-bahak sewaktu diri di pesakitan

Dalam diam aku memendam
Dalam senyum aku meringis
Dalam siang aku terus merasakan malam
Ingin ku cari hangatnya sang mentari
Memeluk diri
Dan
Membelai kasih

Trauma

Di atas singgasana itu aku melihat
Sekumpulan pasir nan hitam mendominasi
Tak ada warna warni di sana
Tak ada senyum sapa di sana
Aku yang tak tahu arah
Dan...
Yang tak lagi gembira
Menyapanya dengan rasa kecewa
Karena ia tak menjadi harapan
Dan entah menjadi asing sampai kapan

Dunia Saat Ini

Di persimpangan jalan ini aku bernyanyi
Mengantar fajar yang menari
Di rumah itu aku menangis
Di rumah itu pula aku tertawa
Namun di rumah itu pula aku pernah berduka
Dulu aku bertahan
Dulu aku selalu menyapa
Sekarang
Aku hanya melihat mendung
Belantara di sepanjang jalan
Gemuruh hujan menemani dalam perjalanan
Sekaranglah ujianku muncul
Sekaranglah kesetiaanku mulai dipertanyakan
Dan sekarang dan entah sampai kapan aku dapat bertahan
Aku berharap Tuhanku selalu menguatkan diri ini

Selasa, 06 Mei 2008

Menyerah

Aku bertanya adakah aku bertahta
Aku melawan namun tak berkekuatan
Aku terus mempertanyakan apakah aku harus menyertakan baktiku padanya

Ternista

Bersahabatku pada keangkuhan
Mata terbelalak pada kenistaan
Namun logika tak berkekuatan
Aku tersingkirkan oleh kekuasaan Bermalamku pada kelalaian

Marilah singkirkan semuanya
Aku yangterlahir dengan kesucian
Berharap kesucian itu pun menemani

Jauh Sendiri Berlari

Mengapa riuh rendah itu menghampiri
Merajalela di dunia kehidupan
Namun semua asing bagiku
Dan terasa menggelegar jiwaku
Aku yang belum berdiri
Memaksanya untuk berlari
Aku yang tak berkehidupan ramai
Memaksaku tuk terbang bebas bersamanya

Kamis, 01 Mei 2008

Galau

Hari ini... Tak ku ketahui harus berbuat apa..
Sampai kapan aku harus sendiri dan menyepi. Sedang orang-orang di sekelilingku berkata dan bertingkah tidak sesuai dengan pola pikirku. Mereka terus berbicara akan kesenangan dunia dan bagaimana menikmatinya. Mereka berbicara tentang ancaman dunia dan bagaimana cara menghindarinya. Mereka tak ikut sertakan keberadaan Tuhan di situ. Mereka hanya ingat saat-saat tertentu namun melupakan untuk waktu yang lama bahkan menentang-Nya jika hal itu diperlukan untuk mendapatkan kejayaan.
Sampai sekarang aku merasa gamang. Pencarian terus ku lakukan. Di mana kehidupan yang harus ku selami. Dan aku yakin Tuhanku akan membimbingku dengan segera agar aku tak terjerumus ke lembah busuk itu. Lembah yang menyengsarakan diri dan apa yang ada besertanya.
Saat ini.. Aku menunggu dan menyendiri. Hanya lantunan buaian Nasyid dari MP4 ku yang menemani. Dan sahabat setiaku yang selalu menemani adalah buku-bukuku. Semoga aku beserta-Nya.

Doaku

Ya ALLOH aku yakin Kau akan melindungi diri ini dari segala hal yang dapat membuat-Mu murka. Aku tak ingin segala hal itu terjadi.

Terpuruk

Aku berkaca dalam hari
Dapatkah aku bermimpi
Aku berkata-kata pada dunia
Mampukah aku merengkuhnya
Aku menghentikan langkah
Karena waktu telah menghilang
Aku tersenyum pada kematian
Yang menanti kehadiranku bersamanya

Tekadku

Aku ingin terus hidup
Untuk terus memperbaiki diri
Aku ingin terus hidup
Agar dapat terus berjuang diri ini
Aku ingin terus hidup
Walau entah kapan akan berakhir

Terlaknat

Tersenyum ku sendiri
Dalam menghadapi kebodohan diri
Tersenyum sinis ku dibuatnya namun apa daya kekuatan tak melampaui
Hati yang dulu meradang
Kini menguak makin menganga
Senyum simpulku padanya
Sambil berkata ku
"Laknat diri makin tak bertepi"

Jumat, 25 April 2008

Rinduku

Senyum itu
Yang ku rindu saat ini
Suara itu
Yang ku nanti saat ini
Sosok itu
Yang ku rindu saat ini

Mengapa ditinggalkan sosok yang kau rindu?
Mengapa itu yang menjadi pilihanmu?
Bukankah ada pilihan untuk bersamanya?
Mengapa itu yang menjadi pilihanmu?

Saat ini...
Aku sendiri
Aku kembali terasing
Aku tak mempunyai kekuatan
Karena aku lemah

Aku butuh kau, teman
Berada jauh kau di sisi
Hanya dapat mengenang
Dan berdoa
Agar kau...
Selalu dalam naungan ALLOH SUBHANA WATA'ALA

Sabtu, 19 April 2008

Doaku Saat Ini

Ya ALLOH kuatkanlah diri lemah ini. Ku yakin inilah kehendak-Mu. Diri ini adalah bagian dari karunia-Mu. Maka, apapun yang terjadi atas diri ini, itu merupakan bagian dari karunia-Mu itu. Maka dari itu, seindah apapun itu, sesulit apapun itu, ku mohon pada-Mu agar aku mampu melewati dengan terus melaluinya dalam koridor jalan petunjuk-Mu. Aku takut akan azab-Mu, Ya ALLOH. Dan terus tumbuhkanlah rasa cintaku ini pada-Mu, sebagaimana Kau sangat mencintai diri ini. Amin ya robbal 'alamin.

Kehilangan Saudara

Senyum itu
Yang ku rindu saat ini
Suara itu
Yang ku nanti saat ini
Sosok itu
Yang ku rindu saat ini

Mengapa ditinggalkan sosok yang kau rindu?
Mengapa itu yang menjadi pilihanmu?
Bukankah ada pilihan untuk bersamanya?
Mengapa itu yang menjadi pilihanmu?

Saat ini...
Aku sendiri
Aku kembali terasing
Aku tak mempunyai kekuatan
Karena aku lemah

Aku butuh kau, teman
Berada jauh kau di sisi
Hanya dapat mengenang
Dan berdoa
Agar kau...
Selalu dalam naungan ALLOH SUBHANA WATA'ALA

Senin, 07 April 2008

Berbeda

Berbaur dalam warna
Putih yang pudar
Hilang menggantikan
Hitam yang tenang
Sangat terkendali untuk bertahan
Putih yang terus menggugat
Walau Si Hitam tak dapat mempengaruhi

Kepergian Itu

Berat tuk melangkah
Meniti kepastian menuju ketidakpastian
Genderang juang telah ditabuh
Bertalu berteriak di muka telinga
Aku terjerit dan terus menjerit
Sakit menggigit menyerang hati
Dipaksa tuk melupakan manisnya hidup yang telah direngkuh
Terus menyusuri jalan itu
Walau kesedihan menghasi wajah
Tetaplah ku harus bertahan di hadapannya
Dan...
Bertahan dengan semangat juang baru

Berkelana

Berjalan di tengah gurun
Pasir terpanggan penghantar panas ke tubuhku
Binatang gurun pun menganga mengancam diri
Mautpun dapa menjadi kunci mati untuk menghindar
Namun...
Tak ada celah
Tak ada penunjuk arah
Aku tersesat
Terus ku susuri
Walau tujuan tak pasti
Akan dapat diraih

Bukanlah Aku

Jangan bilang kalau aku Sang Mentari
Karena Aku tak mampu menyinari
Dan juga tak mampu menerangi
Hanya mampu memberi kehangatan

Jangan bilang aku Sang Guru
Karena aku masih sangat bodoh akan ilmu
Dan juga tak banyak memberikan ilmu
Hanya mampu menerapkan apa yang ada pada diri

Jangan bilang aku Sang Munafik
Karena aku tidak ingin seperti itu
Aku hanya berusaha menjadi lebih baik
Tuk menuju kehidupan yang lebih baik

Kemenangan Sang Bintang

Bagai bintang yang disapu malam
Tetap indah walau kecil berpendar
Menghiasi kelamnya malam
Bagai merajai sang awan
Ia tidak melupakan kedudukan Sang Bulan
Yang telah berkuasa jaya
Namun...
Bintang tetaplah bintang
Tunduk patuh
Yang menjadikan
Ia terus menarik hati

Perlawanan

Jangan melawan
Karena Ia akan bertahan
Jangan membangkang
Karena Ia akan meradang
Jangan menantang
Karena Ia pasti menang

Tak berarti harga diri
Jika hanya jadi tameng
Tak berarti kejayaan
Jika hanya jadi pemuas diri
Tak berarti sosok manusia
Jika hanya jadi makhluk berdosa

Hasilnya...
Ku berharap
Berakhir dengan bahagia
Menuju Robb Tercinta

My Life

The sound is likely lost
The hero is likely disappear
The white is likely being black
The life is likely wild

It's not enough
To get proud
To get happiness
To let me lough

Smiling is rarely seen
The sun is not bright
The night is so cold
Is it life?
Or...
Whether I am not in my life
Oh...
It's so difficult
To be clear in my mind

Sad

Berlalu waktu
Tak kunjung henti
Tuk menangisi
Berapa belah sisa hati
Yang masih tertanam di diri
Karena dipaksa runtuh
Gugur berserakan
Karena arus waktu

My Paradise

Somebody, like you, is not perfect
Not the best
Not the only one
Just be the man
Trying better
Believe
It's not worst for you
Because your wish is
His Paradise

Sikap Alam

Apakah dunia akan tertawa
Melihat tingkah yang membabi buta
Demi logika nafsu belaka
Mengesampingkan hati manusia
Hingga...
Kebencian merajalela
Kekayaan dan kekuasaan yang selalu dipuja
Kapan dunia akan bangga
Terhadap manusia yang semakin serakah

Pertanyaanku

Kapankah aku
Akan bertemu
Akan melihat
Akan merasakan
Kedamaian
Ketentraman
Kesejukan
Yang mendalam
Dan...
Abadi
Tak lekan
Sampai waktu berkata
Untuk mengakhiri

Selamat untuk mu

Tak seperti harapan
Terpuruk bersimpuh
Tertunduk tak berdaya
Perlahan pergi
Karena...
Diri tak kuasa

Bukanlah siapa-siapa bagi mereka
Dan...
Tidaklah memiliki kekuasaan atas mereka
Sebutir debu pada padang gurun luas
Tak memiliki arti hidup
Bernilai pun tidak
Karena diri tidak layak dinilai

Bergerak melangkah
Meninggalkan segala jejak-jejak kebusukan diri
Agar mereka dapat bernilai
Tanpa disertai noda-noda pendusta di diri ini
Untuk mereka ku ucap: "Selamat atas hilangnya sampah tercela itu"

Ragu

Bingung menentukan sikap
Apakah harus berduka
Ataukah harus tertawa
Di saat sekelumpulan tertawa ceria
Namun di sisi lain menangis mengiris

Keinginanku

Segala yang ku hendaki dalam hidup ini adalah semuanya hanya dalam lingkup keredhoan-Nya. Tak terlepas pada rahmat-Nya. Yang tak ingin ternodai akan perlakuan yang membuatnya murka. Aku, yang selama ini merenung dan hanya tersenyum, berharap cinta kasih-Nya selalu melingkupi diri. Agar hati tak ternistai. Dan perpisahanku pun atas dunia dilalui melalui sebaik-baik cara tuk kembali, yaitu ketenangan yang berperan sebagai jembatanku menuju syurga-Nya.

Ukhuwah

Berjuang diri
Hanya untuk mementingkan kejayaan pribadi
Berbuat baik diri
Hanya untuk memberlakukan eksisnya diri
Hati telah jauh terbengkalai jauh
Menyusuri senyapnya kota mati
Bertalu genderang tuk menyerang
Keegoisan diri yang menantang
Untuk selalu diterjang
Jauh menembus awang-awang

Jalinan Ukhuwah

Mengenalmu merupakan anugerah terindah dalam hidupku
Rahmat terbesar yang selama ini ku raih
Mengingatkan dan saling diingatkan adalah suatu keindahan yang tak terpikirkan
Mencintai dan saling dicintai adalah pemanis persaudaraan yang terjalin antara kita
Semua tertuju karena Tuhan kita
Allah saw.

Sabtu, 29 Maret 2008

Dunia Baru yang Menanti

Bingung menentukan sikap
Apakah harus berduka
Ataukah harus tertawa
Di saat sekelumpulan tertawa ceria
Namun di sisi lain menangis mengiris

Sabtu, 22 Maret 2008

Salam Sapa

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengalirkan nikmat-Nya, yang wajib disyukuri. Setitik dari lautan karunia-Nya meliputi seluruh alam semesta, mengisi relung-relung hati dengan kegembiraan atas sedikit pemberian dari hamparan pemberian-Nya yang sangat luas. Kenikmatan yang meletupkan kekaguman hati terhadap tanda kekuasaan-Nya.

"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya," (Q.S. Ibrahim: 34)
"Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin," (Q.S. Luqman: 20)

Shalawat serta salam atas Muhammad, makhluk terbaik. Shalawat serta salam untukmu wahai pemimpin manusia. Shalawat serta salam atasmu wahai Nabi Islam. Semoga Allah membalas kebaikan yang engkau berikan untuk umatmu, melebihi pembalasan atas seorang nabi dari umatnya. Berikanlah barakah untuk kami dalam mengikutimu wahai pemimpin yang tak ada tandingannya. Seluruh makhluk meminta syafaatmu pada hari kiamat kelak.

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersektukan sesuatu apapun dengan Aku." (An-Nur: 55)

Sebagai aplikasi dari perintah Allah dalam Al-Qur'an yang berbunyi, "Jika kamu bersyukur (atas nikmat-Ku), niscaya akan Aku tambah," (Q.S. Ibrahim: 7), dan sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., "Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti dia tidak berterima kasih kepada Allah," maka saya merasa perlu mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya dan penghargaan sebesar-besarnya kepada orang yang telah berjasa untuk membantu dalam melaksanakan proyek besar hidup ini, perlahan menuntun pada cahaya hidayah untuk diraih demi tujuan hakiki kelak. Terlepas dari cahaya itu adalah kehendak-Nya atas umat-Nya, saya selayaknya bersyukur atas mereka yang berperan sebagai perantara-Nya dalam menunjuki jalan keselamatan, jalan yang terindah yang diridhoi-Nya, dan menuntun tuk keluar dari kegelapgulitaan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya.

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa," (Q.S. Az-Zukhruf: 67), maka saya pun berharap hubungan yang telah terjalin selama ini tidak membuat kita tercela di jalan-Nya, melainkan lebih menjadikan kita sebagai makhluk yang bertakwa kepada-Nya. Dan, pertemuan yang diharapkan kelak adalah kita sama-sama dapat saling berjumpa dalam keadaan suci nan bersahaja di suatu tempat, di syurga-Nya kelak. Semua itu diharapkan, salah satunya, karena hubungan pertemanan, persahabatan, persaudaraan yang telah terjalin selama ini.

"Dan, rahmat-Ku meliputi segala sesuatu," (Q.S. Al-A'raf: 156).
Segala aspek dalam hidup merupakan rahmat dari-Nya selagi niat suci masih tetap teguh atas-Nya. Oleh karena itu, sebagai seorang makhluk yang pernah terikat dalam satu pertalian yang tertuju karena-Nya, saya berharap keberkahan dan keridhoaan-Nya selalu memayungi diri yang taat dan cinta pada-Nya.

Mengutip taushiyah
bermakna dari Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Raudhah Al Muhibbin, "Cinta merupakan cermin bagi seseorang yang sedang jatuh cinta untuk mengetahui watak dan kelemahlembutan dirinya dalam citra kekasihnya. Karena sebenarnya, ia tidak jatuh cinta kecuali terhadap dirinya sendiri."

Jumat, 21 Maret 2008

Pertanyaan

Aku tak dapat menawan hati yang gundah pada kecemasan yang menggelayuti hidup. Dunia penuh dengan sengketa yang harus dengan segera minta dipenuhi. Namun terkadang dunia juga yang tak mengizinkan semua itu terselesaikan dengan sempurna. Karena hambatan yang melambai, kesulitan yang menyapa, dan dera sakit yang menerpa, membuat diri kadang terhenti sesaat tuk berjuang. Ia tampak lelah dalam sikap. Ia yang dengan enggan berbuat keindahan untuk membangkitkan pengembangan diri. Semua bermula pada pertanyaan, "apakah aku dapat kembali berkutat pada kebangkitan awal?"

Kisah Duka

Aku tak mengira
Dunia pecah berkeping
Dalam lembaran-lembaran berwarna
Hitam ia menjadi kelam
Putih ia menjadi suci
Merah ia menjadi pembangkang
Muncul satu pertanyaan pada diri
Akankah sang hitam menjadi putih
Dan merah akan memudar
Semoga keniscayaan itu menjadi keberkahannya

Panggilan Masa Lalu

Kenangan itu menyeruak kembali
Di mana...
Masa-masa penuh tawaku bangkit
Masa-masa candaku tampil
Kebersamaan yang erat bertahta mendominasi

Aku yang di sini...
Bertanya...
Mengapa perubahan ini berontak
Mengapa harus aku mempertanyakannya
Mengapa dia muncul dengan tersenyum ramah?

Minggu, 09 Maret 2008

Penantian Kesempurnaan

Aku melihat kebahagiaan itu
Pancaran sinar yang menyilaukan
Aku merasakan kehangatan itu
Sejuk dalam kedamaian
Aku menginginkan tuk merasakan itu
Tapi bukanlah aku buta pikiran
Dan juga aku bukan buta mata
Tapi aku juga harus menatap orang yang berjasa dalam hidup
Tidakkah mereka lebih membutuhkan ku
Dibanding meninggikan keegoisan diri
Yang lebih mementingkan kebahagiaan diri

Sabtu, 01 Maret 2008

Harapan yang Beranjak Punah

Luka apa lagi ini
Tidakkah aku tersadar saat ini
Mengapa aku tersenyum
Mengapa aku ikut tawa yang membahana itu

Entah...
Aku tak tahu mengapa aku bersedih saat ini
Saat pemberitahuan diungkapkan
Menumbuhkan kembali luka yang beranjak terobati

Sang Pelatihku

Entah apa yang harus ku ucap padanya
Dia yang terlihat begitu idealis
Dia yang sangat berjiwa pemimpin
Dan juga dia yang berintelektual tinggi
Tak menghiraukan diri kecil ini
Dia berucap namaku saat acara perpisahan itu
Yang sebelumnya tak ku kira bahwa
Ia tahu identitasku
Salut bangga padamu
Salam hormat untuk mu
Semoga berkah ALLAH selalu ada pada mu
Salam rindu ku padamu...
Pak Handoko..

Tak Berkuasa

Berkembang menuju alam keluguan
Tak mengetahui gerak gerik kelayakan
Aku bertanya
Apakah mereka akan tersentuh
Pada kata-kata yang tak berkekuatan atas mereka?

Kamis, 21 Februari 2008

Kemenangan

Kemenangan itu
Menjadikan ku kuat
Menjadikan ku lebih berharga
Menjadikan ku merasa tak terbuang

Aku...
Yang di sini
Menapaki bumi
Menggapai kebahagian
Memperoleh kenangan indah
Yang terus tertoreh dalam jiwa
Bersama kemenangan

Kemenangan itu
Berucap selamat tinggal padaku
Menyampaikan pesan yang sulit diungkap padaku
Dan selebihnya...
Aku bersyukur berada di sisi Sang kemenangan
Ku ucapkan terima kasih
Karena kemenangan
Ku dapat bangkit kembali tersenyum merekah

Berakhir

Aku tak ingin berakhir dengan kesedihan
Melalui peristiwa tragis yang sulit terungkap
Aku ingin kebahagian
Ketenangan dalam hidup
Tanpa meninggalkan kekecewaan
Pada semua orang
Termasuk diriku sendiri

Sabtu, 16 Februari 2008

Kepergian Penuh Duka

Ternyata ia benar
Aku egois
Aku pengemis
Aku pesimis
Si bangsat yang tahu malu
Mencari muka hanya untuk mencari perhatian diri

Aku...
Busuk...
Pantas musnah seketika
Agar sekelilingmu tak kau sakit

Aku...
Tak ingin lagi bertemu mereka
Tak ingin lagi bercengkerama dengan mereka
Karena senyum ceria itu telah lenyap
Senyum yang ku rindu saat ini

Dengan segera ingin ku tinggalkan
Negeri yang membuatku resah
Negeri yang selalu membuatku bersedih
Negeri yang selalu membuatku sakit hati
Negeri yang tak berkesudahan saling mencurigai

Tidakkah aku dapat mensucikan diri
Tidakkah mereka menjadi bagian dalam kenangan manis hidupku
Tidakkah kepergian diriku karena keterbuangan diri yang tak berguna
Tak lagi dibutuhkan
Tak lagi diperhatikan

Selamat tinggal ku ucapkan pada hati yang suci
Sang Munafik ini akan dan ingin segera beranjak pergi

Sang Pencari Cinta

Pergi dan tak kan kembali
Jauh menembus batas awan
Memecah hingar bingar dunia
Dan...
Ingin ku menjumpai-Nya
Demi menatap keelokan
Demi menghilangkan kerinduan rasa cinta ini
Rasa cinta yang terus menggelora

Namun...
Penghalang batas masih terus dirasa
Berjuang keras menghancurkannya
Menahan letih membuangnya jauh

Aku...
Sang Pencari Cinta
Terus bertanya
Sanggupkah Aku menatap Wajah Kedamaian itu?

Yang Terdalam

Ku lepas semua yang ku inginkan
Tak akan ku ulangi
Maafkan jika Kau ku sayangi
Dan bila ku menanti

Pernahkah Engkau coba bermimpi
Lihatlah ku di sini
Mungkinkah jika aku bermimpi
Salahkah tuk menanti

Takkan lelah aku menanti
Takkan hilang cintaku ini
Hingga saat Kau tak kembali
Kan ku kenang di hati saja

Kau
Telah tinggalkan hati yang terdalam
Hingga
Tiada cinta yang tersisa di jiwa

By: Peter Pan

Jumat, 08 Februari 2008

Kehidupan Hitam

Mereka pikir si hitam itu putih
Yang layak untuk di perlakukan selayaknya penuh kesanjunan
Tapi...
Si hitam yang terus ternoda
Dan...
Dengan penuh kepayahan untuk memutihkan diri
Sang penyanjung tak mengetahui
Merekalah Sang Putih sebenarnya
Merekalah yang layak disanjung
Sedang Si Hitam...
Hanya bisa pasrah pada keadaan
Ia tak mau bertindak tuk merubah kehidupan jadi lebih baik
Ia berjuang hanya untuk mempertahankan hidup

Si hitam telah menyadari
Namun telah terhimpit keadaan
Ia tak mampu berbuat lebih
Karena ia...
Lebih hitam dari pada mereka
Pekat tak terkendali

Terbelakang

Berharapku akan keagungan diri
Jauh pada kesesatan duniawi
Namun kehendak tak merestui
Sifat diri yang mendominasi
Membuat diri terus ternodai
Hingga jiwa tak lagi suci

Terhina

Tak pantas diri di sisinya
Tak pantas diri di hadapannya
Karena diri tak bernilai
Karena diri sangat hina

Berjuang dalam Kesakitan

Beruntun menuntut kenyamanan
Tak berarti kenikmatan yang disuguhkan
Aku berfikir tuk melepas masa kelam
Dengan tekun dalam bertindak
Namun...
Sang kepala menjejali kepenatan
Ia berkata jenuh akan kehidupan
Tapi...
Aku yang di sini bertekad tuk terus berjuang
Bertekad tuk terus bertindak

Jangan bertingkah
Karena kau tak tahu kapan masamu berakhir
Kau tak tahu kapan kau tak dapat lagi berjuang dalam kehidupan duniawi ini

Pesan yang Tak Tersampaikan

Kkhwatiran akn hlang dg dsrtainy tndkn
Q tlh dngar kau sbuk dlm perhelatan akbar itu
Dan..
Q pun ingin dngr kau ikut mnikmati itu klak
Bgitu pun jg aq
Qt sm2 dlm msa brjuang
Rsa suka duka sll mnyrtai
Tapi yakinla
4JJI sll mnyrtai lngkh qt.
(Maaf q tak snggup brucp dg tatapn lgsg, krn prasaan brslh q sll mnggeluti q bila tatapn q brada di atas tatapn mu)
Izinkan q tuk tidur tnang mlm ni dg trsmpaikn psan ni...

Minggu, 03 Februari 2008

Kembali Berduka

Teman...
Aku tak berdaya saat ini
Aku tak dapat berbuat apa-apa sekarang
Aku melemah

Runtuhnya pertahanan diri
Membuat ku terpuruk
Aku bersedih
Air mata menggenang
Dan ia tertahan pada suatu waktu
Sesaknya aku

Terus ku berharap
Keajaiban-Nya menghampiri
Hikmah di balik itu semua kembali

Aku tak ingin jatuh kembali ke dasar jurang hitam yang bahkan lebih hina

Terus Hidup

Aku rasa aku sedang tidak sehat
Aku rasa aku sedang menderita
Aku rasa aku sedang berduka
Mati jatuh tersungkur
Terhina tak terelakkan

Kepala membentur bongkahan udara
Membuatnya sulit bekerja
Ia...
Yang selalu mengganggu kerjanya tubuh
Karena mungkin
Ia tak ingin lagi berada di tubuh itu

Tapi
Kehendak takdir berkata lain
Mereka harus tetap bekerja sama
Karena mereka
Aku ada di sini
Dan entah
Harus sampai kapan aku di sini...

Sabtu, 02 Februari 2008

Tumpuan Hidup

Aku ingin seperti bumi
Menyongsong matahari menjemput kehangatan
Aku ingin menjadi belalang itu
Bebas berloncatan sesuai tujuan hidupnya
Aku ingin seperti elang
Terbang mengawasi dunia luas dengan kehendak diri
Semua terlihat tak terbelenggu
Semua mandiri

Aku ingin seperti mereka
Karena mereka aku hidup

Kamis, 31 Januari 2008

Kerdil

Tak bersikap karena aku tak mampu
Tak berkata karena aku membisu
Sedihku berkepanjangan
Sesalanku tak berkesudahan
Aku tak mampu menatap mereka
Aku yang kerdil dihadapan mereka
Aku yang bukan apa-apanya untuk mereka
Karena aku bukan siapa-siapa
Dan aku pun tak punya nilai lebih bagi mereka

Jangan Pergi Dari Ku

Aku
Yang tak berharga aku
Yang tak berkata aku
Yang tak bertindak aku
Jangan berpihak selain aku
Karena aku tak bisa tanpa mu

Aku Berubah

Dia berkata
Aku berubah
Dia berkata
Aku diam

Memang aku tak bernilai
Memang aku tak berharga
Aku tak bisa berbuat apa-apa
Karena aku hanya manusia kecil
Yang tak bernilai
Karena kebodohan
Karena semua
Kelalaian diri

Selasa, 29 Januari 2008

Pergi Selamanya

Telah hilang
Karena telah ku anggap hilang
Telah pergi
Karena telah ku anggap pergi
Telah menjauh
Karena telah ku usaha jauhkan
Telah hilang dari genggaman
Terbang bebas menembus batas
Tak terkendali
Karena diri tak dapat menguasai
Dia yang telah mati
Terus ku kenang masa itu
Walau diri itu tak jauh dari ku
Karena itu diri yang berbeda

Dia

Terlena ku untuk sesaat
Akan ungkapan kagum terpesona
Salut ku akannya
Akan kemampuan yang dimilikinya
Tersipu dibuatnya
Karena pujian yang terlontar darinya
Mati rasa ku karena
Karena semua itu tak terungkap
Juga...
Tak terkendali

Lepas Batas

Kaku dalam berfikir
Telah membuat diri laknat
Hati tak lagi dapat dikuasai
Karena egois diri
Dia menjadi terkutuk akan kelakuan
Terkutuk dalam perkataan
Terkutuk dalam pikiran

Kelakuan Tak Indah

Sesat karena tak berperasaan
Mati kaku karena tak menjalani
Semua berkepribadian hilang musnah
Diterpa mata tajam yang tak berkemampuan melihat
Kasihan dibuatnya diri
Menjadi hilang semua keinginan diri
Karena memang hati mati

Aneh

Aku tak mengerti dia mendiam
Aku tak dapat menangkap pesan yang tak terungkap
Dia seolah menatap diri
Dan aku tak berani menangkapnya
Ciut tak berkemampuan
Biarlah dia menjadi model pembangunan
Model kemajuan
Model perbaikan
Aku hanya bisa berkata
Perjalananku tuk hanya untuk menuju yang lebih baik
Aku tak akan bergantung padanya
Aku pun tak ingin disakitinya
Biarlah waktu yang dapat menggiring ku pada arah kebenaran

Berubah

Aku sesak tak mampu berkata
Aku sakit tak mampu bersikap
Aku mati dalam keadaan menyesal

Rabu, 23 Januari 2008

Bebas Lepas

Aku ingin berlari sekarang
Melompat tinggi meraih kerdipan surya
Menjejal dalam keramaian perasaan hati
Terbang ke pulau tak berpenghuni
Dan...
Lepas bebas merengkuh kedamaian malam

Keinginanku Saat Ini

Aku...
Hanya ingin berkunjung pada hati yang tenang
Berisi butiran bening yang damai
Bermesraan pada jiwa yang hangat
Bersenandungkan keindahan
Melompat girang menyambut keceriaan
Tertawa lepas menghapus penat
Semua penuh keceriaan
Semua penuh kasih sayang
Semua penuh cinta kasih

Sakit Hati

Ia berkata tak jelas makna
Apakah berdusta ataukah bercanda
Tertawa lepas ku dibuatnya
Namun luruh hati terluka
Akan maksud kata yang ku cerna

Ingin segera lari dan menghilang
Menjauhi senja kelam di peraduan
Tapi tak sempurna diri tuk bertindak
Tak kuasa diri tuk melawan
Hanya waktu yang berjalan
Yang akan datang menyapa
Tak tentu apakah dengan wajah lembut ia menyambut
Ataukah dengan kemurkaan yang membahana datang menghampiriku?

Berjuang Kembali

Bertandang pada kegiatan mula
Tuk berkunjung pada kehidupan ke depannya
Satu macam inti harus didapat
Jangan semua tertinggal
Hanya karena kelalaian

Minggu, 20 Januari 2008

Letih

Tak berdaya ku bertindak lebih
Karena diri telah letih
Meronta tak terkendali
Aku ingin seperti mereka
Terus ceria dan perkasa
Walau kadang angin malam menerpa
Mereka tetap bersahaja
Harap ku suatu hari kelak
Aku pergi melalui jalan yang baik
Dan meninggalkan hal yang baik pula

Dia

Berada di depanku hari yang ceria
Hari yang pernah menyambut ku ketika ku terpuruk
Hari yang menyapa ku ketika ku kecewa
Hari yang memeluk ku ketika ku berduka
Ia yang tak pernah lekang tuk bertandang
Menyapa senja yang berharap tak kan tergantikan siang
Namun ia yang terluka karena terpuruk oleh ketetapan alam
Terus bersyukur
Karena hari terus bersamanya

Jumat, 18 Januari 2008

Penghianat


Penghianatan tak berperikemanusiaan
Tersenyum dalam tatapan
Meringis dalm berpisah
Dan menghantam di belakangnya

Percaya pada kesetiaan
Karena hati tak ingin dinodai
Tapi apa daya
Sakit telah dirasa
Tertusuk dan pedih untuk diratapi
Semua telah berlalu
Semua akan pergi
Menyisakan rasa pahit
Yang akan terus menjadi kenangan

Sudahlah mereka manusia
Tak layak dipandang sempurna
BUSUK
Dan
Bertebaran kemunafikan
Persetan semua itu...!!!

Aku pun manusia
Tak ingin terus disakiti juga menyakiti
Biarlah tenang hidupku dalam kedamaian
Biarlah mereka hidup dengan cara mereka
Aku tak ingin membalas kejahatan mereka
Karena Tuhan-ku Maha Pembalas semuanya
Maha Adil atas semuanya
Aku hanya bisa mengucapkan
“Maafkan atas semua salahku
Dan...
Ku relakan semua salahmu atasku.”

Minggu, 13 Januari 2008

Tolong Aku

Tolong aku
Aku tersesat di belantara hutan
Gelap tak bersinar
Dingin menusuk tulang rusuk
Tak tahu arah mana

Tolong aku
Aku tersesat
Aku ingin kembali ke kehidupan semula
Keramaian yang menenang
Hingar bingar yang menyibukkan
Tutur sapa yang melembutkan hati

Tak ingin sendiri di tempat sepi ini
Tolong aku
Aku tersesat

Kebersamaan

Berjalan beriringan membentuk suatu pusara yang tak dapat diterjang dan tak dapat dihadang.
Melakukan keindahan yang dapat membuai dan yang dapat membelai.
Haruskah semua terjadi dalam dekade waktu yang berjalan beriringan.
Disertai penantian perpisahan yang menganga dan entah kapan akan menjerumuskan.
Menjalani saja keindahan ini dengan berusaha untuk menjadikannya terus mempesona.
Karena impianku adalah perjumpaan pada Sang Maha Indah Lagi Maha Mempesona.
Tuhanku Yang Maha Kuasa.

Respon

Berkata namun tak berekspresi
Hati meradang karena diterjang
Kepayahan tuk merespon
Padahal satu kata itu sangatlah bernilai
Apalagi lebih
Namun semua itu sangat sulit diluncurkan olehnya
Apakah Aku yang salah
Yang tak punya akal dan hati
Hingga menyambutku pun sangat tak sudi?

Minggu, 06 Januari 2008

Pupus

Awan mendung menghantar. Menutup kecerahan yang terjadi, yang telah dinanti. Dengan semaunya sang awan menumpahkan hujannya ke tanah yang akan beranjak kering. Mempelopori kemenangan atas hari yang cerah untuk kesekian kalinya. Tak tahu aku betapa jengkelnya Sinar Terang yang tak dapat memberikan hangatnya kembali. Kali ini dia termenung. Kali ini dia berkabung. Ia tak kuasa untuk itu semua. Namun ia terus berharap dan berdoa pada Sang Maha Kuasa. Agar sang angin membawa pergi awan mendung nan hitam pekat. Agar Sinar Terang kembali dapat memberikan kehangatannya kembali pada hati yang rapuh ini.

Rabu, 02 Januari 2008

Berlari Pergi

Pagiku berawal dengan kebisuan
Pagiku berawal pada kebutaan
Pagiku berawal melalui ketulian

Terlalu indah perlakuan tuk dipuja
Terlalu naif bila tuk dilupa
Hanya keapatisan yang ku jumpa
Menyapa lembut wajah nan tak berkemampuan

Hati ingin menghindar
Menjauh dari kehidupan pudar
Lagi melelahkan yang tak berkesudahan
Tak berubah ujung pangkalnya
Semua memang sulit untuk berubah

Aku terdiam menanti
Apakah kecendrungan tetap harus di sini
Atau aku harus berlari menjauh
Dan...
Tak akan kembali lagi?

Selasa, 01 Januari 2008

KELEMAHAN HINGGAP KEMBALI

Bergeraklah atau Kau akan mati...
Istirahatnya sang mujahid adalah pada saat ruh tak lagi melingkupi diri.
Untuk yang kesekian kalinya aku mengalami kelemahan. Kelemahan yang membuat diri tak berdaya tuk bertindak. Entah ini untuk yang ke berapa kalinya. Dewasa ini, tubuh ini sangat mudah sekali memberontak. Tuk terus membujuk dan membuai diri agar diri berhenti bertindak, apapun itu. Tapi aku sangat tidak menginginkan rayuan gombal itu. Rayuan yang dapat memperdayakan. Karena aku tahu semua tipu dayanya. Dengan alasan tuk memulihkan kembali kondisi diri, diri menghentikan semua apa yang harus dilakukan. Tapi nyatanya tak beda dengan saat diri bertindak. Kelemahan merasa menang, merajai semangat bara jiwa tuk terus bergerak. Yah... Aku telah terperdaya.
Saat ini aku telah diselimuti kebimbangan yang nyata, Kebimbangan yang bukan karena keputusan apakah aku harus menghentikan kegiatanku atau tidak. Aku tak ingin terperdaya olehnya untuk yang ke dua kalinya. Namun terus menerus diri ini merasa tak berdaya untuk menghadapi tantangan hidup yang berada di depan mata. Sejauh diri melangkahi jejak tuk maju ke depan, sejauh itu pula pemberontakan diri kian menjadi tuk hentikan langkahku yang harus ku rintis pada permulaan hidup ini.
Diri hanya mampu berkata, "Jiwa, sabarkan dirimu. Kuatkan tekadmu. Dan lapangkanlah dirimu tuk menerima semua yang Kau terima saat ini."
Di balik relung yang paling dalam, Aku terus mempertanyakan, "Haruskah sesering ini Aku merasakan peluh dan letih ini? Haruskah rasa ini terus berkepanjangan? Mengapa harus Aku yang menghadapi semua ini? Aku yang harus terus berkeinginan tuk menghentikan langkahku di persimpangan jalan, walaupun hanya untuk sementara.
Pertanyaan itu menjadi sirna kala ku ingat hadist nabi Muhammad SAW:
"Tidaklah seseorang merasakan sakit dihina atau tertusuk duri kecuali Allah menggugurkan dosanya, bagai gugurnya daun-daun"
Yah... Mungkin Allah sangat sayang kepada ku. Mungkin Allah tak menginginkan ku terus dalam kubangan dosa yang terus menggunung.
Atau mungkin juga Allah sedang memberi ku peringatan bahwa bahwa kapanpun dan di manapun aku harus terus mengingat-Nya seperti dalam keadaan sakitku ini.
Atau mungkin juga dengan sakitku ini Allah memberikan ku sedikit teguran bahwa nikmat sehat itu adalah nikmat yang sangat tak ternilai dan sangat mahal harganya. Namun nikmat itu seringlah dilupakan. Dan barulah dapat dirasa apabila dalam keadaan sakit seperti ini.
Aku terus introspeksi diri. Tak mungkin Allah memberikan yang tidak baik untuk hamba-Nya karena Allah benar-benar sangat menyayangi hamba-hamba-Nya. Dan aku pun terus berbaik sangka terhadap segala yang telah dan akan Allah berikan. Karena dengan adanya perasaan berbaik sangka ini, hidup kita akan terus berisi semangat dan optimis yang menggebu.
Tak seperti biasanya, aku saat ini terus merasa jenuh dan peluh akan semua yang kujalani karena kondisi tubuh yang terus menyeruak berontak. Dengan penuh kepayahan terus ku upayakan impianku agar terus dapat tercapai dan terus dapat ku rengkuh, yang pasti dengan usaha dalam pencapaiannya tersebut. Tak kunjung ku padamkan semua cita-cita diri dalam meraih hidup yang terus lebih baik di esok hari walau jurang terjal menganga lebar bak samudera tanpa batas. Aku bertekad "Aku Harus Terus Bergerak Dan Allahlah Sebagai Sang Dewan Juri dalam Kehidupan Ini."

Kerinduanku

Pergi menyusuri dunia harapan
Beralih pada kenyataan hidup
Tak menunggu sambutan itu
Yang belum pasti adanya

Bertemu insan idaman
Yang tak ingin kembali bercerai
Karena harapan dapat tertumpah padanya
Harapan yang tak kunjung usai
Harapan dalam kebahagian
Meraih Keindahan abadi
Bertemu Sang Kholik

THE UNFORGETTABLE MOMENT IN MY LIFE (2)

Pernah sang ayah mengakatakan anaknya tidak berada di rumah ketika teman laki-lakinya mengajaknya untuk bermain, padahal anaknya ada di dalam rumahnya tersebut. Pada saat itu umur mereka dapat dikatakan masih bocah, masih duduk dibangku SD. Kepada keluargaku, meraka meminta supaya kalau bisa pada saat bulan Ramadhanitu juga proses itu berlangsung, yang memang pada saat itu Ramadhan telah siap kami sambut kedatangannya dalam hitungan hari lagi. Tapi dengan penuh pertimbangan yang matang akhirnya proses peresmian kami baru dapat dilaksanakan lima hari setelah Hari Raya Idul Fitri.
Semua dapat kukatakan berlangsung dengan sangat mulus. Kesepakatan itu membuahkan semangatku yang terus membara. Namun di rentang waktu menunggu tersebut kami tak berani untuk saling jumpa, bahkan SMS satu satu sama lain menyakan kabarnya pun tidak berani kami lakukan. Semua hubungan komukasi kami lakukan dengan perantara orang ke tiga. Semuanya adalah bantuan campur tangan-Nya jua, ia mempunyai seorang adik lelaki yang berperan sebagai perantara ku dengannya dan juga Mbakku berperan sebagai prantaranya dengan ku. Bahkan masih ku ingat dengan jelas, ia hanya SMS ku hanya untuk mengucapkan selamat Idul Fitri, itupun atas nama keluarganya. Namun untuk kesepakan rumah kami kelak, kami perlu kesepakan bersama secara langsung. Hingga kami memutuskan untuk bertemu secara langsung dengan disertai adik laki-lakinya sebagai “penjaga” hubungan kami. Ini juga sebagai wujud serta mertaku terhadap sebuah buku yang pernah ku baca bahwa sebaiknya setelah menikah harus pisah rumah dengan orang tua. Itulah langkah, yang insyaALLAH, baik untuk kehidupan kami kelak.
Hari-hari pun berjalan dengan jiwa yang membuncah, jiwa yang menanti, jiwa yang tak jelas apakah timbul atau tenggelam. Namun semua itu alhamdulillah hubungan kami masih tetap dilindungi ALLAH SWT terhadap perilaku yang dapat membuat-NYA murka.
Hari H pun telah tiba, kami dihadapkan pada puluhan tamu undangan untuk menyaksikan peresmian hubungan kami, akad nikah kami. Dengan penghulu yang diminta sendiri oleh calon istriku, yaitu Ayahnya sendiri. Ia berkata kepada ku bahwa gladi dulu, coba-coba dulu. Namun para tamu mungkin tidak mendengar, sehingga mereka mengira perkataan akad yang kami ucapkan dengan lagak meyakinkan itu adalah serius. Hingga dijung ucapan akad kami dengan lafadz Arab telah kami ucpakan, sang penghulu berkata agak lebih kencang ini adalah gladi, percobaan. Sontak semua tertawa karena tidak menyangka akan keseriusan kami. Setelah itu, calon ayahku menyalami dengan lebih kencang untuk akad yang seriusnya, yang membuat ku hampir lupa apa yang akan aku ucapkan nanti untuk memjawab akd darinya. Tapi semua itu berjalan dengan lancar sekali. Dan resmilah hubungan kami. Setelah itu kami berjalan bersama dan betapa kagetnya aku tanganku tiba-tiba digaet oleh istri baruku ini. Berbisikku padanya mau-maunya akhwat menggandeng ikhwan. Eh.. malah menjawab masak kita dah resmi tapiberjalan kayak lagi bermusuhan. He… he… aku pun tersenyum sendiri bila ingat hal itu.
Dengan dibalut suasana yang sangat sederhana, pesta perkawinan kami pun kami gelar. Tanpa adanya panggung yang biasa ada pada pesta pernikahan pada umumnya. Kamipun berbaur dengan para tamu undangan, di mana istri ku duduk di antara para tamu undangan wanita dan aku pun duduk diantara para tamu undangan laki-laki. Namun begitu ingin mengabadikan acara ini, kami kebingungan untuk mencari tempat untuk berfoto bersama yang biasanya berlangsung di atas panggung. Akhirnya di belakang tulisan MOHON DOA BAROKAH kami berfoto ria di situ dengan kameraman yang disewa khusus hanya pada hari itu dari kelaurga kami sendiri, alias gratiasan.
Kejadian lucu baru tersadar setelah foto-foto itu berlangsung yang seharusnya sang lelaki berada di kanan dan wanita di kiri, ternyata posisi kami malah sebaliknya. Sehingga bila memandang foto-foto kami terlihat jelas kejanggalan itu.
Ya ALLAH… betapa nikmat yang kau berian sangatlah besar kepada ku. Tak terpikir ku bantuanmu sangatlah dahsyat terhadap makhluk-MU ini. Semoga rasa syukurku terus menelimuti segenap jiwa raga ku kepada-MU sepanjang hidupku. Tak berkurang sediitpun. Bahkan kuharapkan terus meningkat.
Semoga dengan walimah penikahan ini, menjadikan ke dua sosok ini menjadi tambah kaya. Kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya harta, dan sebagainya. Barakallohhulaka…

THE UNFORGETTABLE MOMENT IN MY LIFE (1)

Tak kusangka semua begitu cepat prosesnya. Memang benar-benar tangan-Nya telah ikut berperan dalam seluruh proses kehidupanku. Pada saat ku berpikir bahwa halangan rintangan itu sangat sulit dilewati. Ternyata dipenghujung perjuanganku, pertolongan bertubi-tubi datang menghampiri. Yang semuanya itu, membuatku mencapai sesuatu yang diharapkan, bahkan lebih dari itu, hasil yang di dapat sangat menggembirakan.
***
Semua itu berawal pada perkenalan ku pada seorang akhwat yang pada saat itu sedang berkunjung ke rumah kakak perempuanku, yang biasa ku panggil Mbak. Kebetulan juga ku berada di rumah Mbak ku pada saat itu. Mbakku menawarkanku untuk berkenalan dengan temannya tersebut. memang ku pikir pada saat itu, "resek"nya Mbakku mulai kumat. Masak tiba-tiba ku menyodorkan diriku tuk berkenalan dengan seorang akhwat, yang nota bene, semua sikap tingkah laku harus terjaga antara lawan jenis yang nonmuhrim. Kontan saja, aku tanpa pikir panjang langsung menolaknya. Toh aku juga tahu penawaran Mbakku hanyalah bercanda karena dengan umurku saat ini yang sebenarnya telah layak untuk melanjutkan jenjang itu dan juga aku secara umum telah punya modal, minimal pekerjaanku alhamdulillah telah tetap saat ini. Tapi pikiranku masih belum terlaku fokus ke sana. Aku masih ragu untuk itu dan juga keberanian ku untuk "menembak" seorang akhwat untuk hidup bersama itu masih jauh.
Namun itu merupakan perjumpaanku dengannya yang pertama saat itu. Aku tak tahu bagaimana paras mukanya saat itu. Karena selama ia berada di rumah kakaku, aku tak berani menampakkan dirikudi depannya, bahkan untuk mengintippun, untuk sekedar ingin tahu siapa sih teman Mbakku itu, aku tak berani. Jadi pertemuan itu hanya berawal dengan perjumpaan satu arah. Dimana aku hanya melihat sosoknya secara sekilas namun ia pastinyatidak tahu keberadaanku di rumah Mbakku pada saat itu.
Namun entah mengapa, setelah kejadian itu semangatku dalam menggenapkan dien-ku sangatlah mengebu-gebu. Bagai kobaran api yang berada pada puncak panasnya yang sangat membara. Pastinya aku yakin keyakinanku ini tidak terlepas karena hidayah dari-Nya jua.
Setelah mengalami proses yang dapat ku katakan sangat singkat, ta'aruf dengan akhwat tersebut berlangsung. Ada apa dengan beliau, daya tarik magnetiknya sangatlah kuat menarik hati dan diriku terhadapnya. Padahal sebelumnya, sangatlah jauh dari pikiranku untuk melakukan hal ini. Serasa mendidih tubuhku ketika berhadapan dengan seorang akhwat. Yah... bisa dibilang aku gerogi pada saat itu. Kami tak berani saling pandang satu sama lain. Sekali lagi ini merupakan campur tangan ALLAH SWT terhadap salah satu proses kehidupanku, yang menjadi the unforgettable moment in my life.
Kuingat sebelumnya orang tuaku berkata bahwa jangan mencari seorang istri dari keluarga yang sangat kaya. Karena sangatlah sulit untuk mengajak seseorang yang kesehariannya terbiasanya hidup enak untuk hidup prihatin, serba kekurangan. Karena ku akui, keluargaku bukanlah tergolong keluarga yang serba berkecukupan. Malah sebaliknya keluargaku merupakan keluarga yang serba kekurangan, namun bagiku tetaplah sebagai keluarga yang membahagiakan. Rezeki adalah haknya ALLAH terhadap kita, jadi pasang surut dalam hidup harus siap diarungi. Sesusah apapun itu ataupun sebahagia apapun itu, semua harus dijalani. Kuingat beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang mengenalkan seorang akhwat pada orang tuaku dengan hanya menguraikan identitasnya saja, yang tentunya orangnya tak berani ku bawa serta ke rumah. Toh aku juga tidak begitu kenal dengannya. Namun ternyata ayahku tahu bahwa ia berasal dari golongan kelas ekonomi atas, setidaknya jauh bila dibanding denganku. Ayahku bukannya tidak setuju namun menekankan kalau bisa jangan. Karena ia telah terbiasa dengan hidup senang dari kecil sampai saat ini ia dewasa. Bukanlah kesalahan ia yang dianugerahi ALLAH SWT menjadi angota keluarga berada, namun untuk berbakti kepada orang tuaku, aku tak mengambil langkah berikutnya ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Patut ku syukuri setelah proses ta'aruf tersebut, terus berlanjut pada pertemuan antara kedua orang tua kami. Semua, sekali lagi ku katakan, seperti mimpi, berjalan ngalir tanpa adanya hambatan yang berarti dalam proses ini. Dan alhamdulillah kriteria akhwat ini telah memenuhi syarat dari orang tuaku tersebut, tidak bersal dari kelurga kelas atas. Aku tak ikut dalam proses pertemuan itu karena itu adalah urusan antara orang tua masing-masing kedua belah pihak. Aku kaget ketika ayahku bercerita bahwa saat pertemua itu berlangsung orang tua ku tanpa basa-basi lagi langsung bertanya kepada orang tua dari pihak Sang Akhwat apakah ia mau diajak hidup sengsara. Namun syukur alhamdulillah jawabannya pun sesuai harapan orang tua ku, ia siap untuk hidup prihatin.
Dan dari pihak akhwat ternyata proses tindak lanjut untuk melegalkan hubungan kami secara hukum agama dan negara harus dengan segera. Karena untuk menjaga agar dengan adanya ikatannya yang masih belum resmi ini dapat menjadi ladang kekufuran buat kami. Merajalelanya zina mata, zina hati, zina telinga, dsb. Memang kuakui Sang ayah akhwat tersebut sangatlah protected terhadap anaknya bila berhubungan dengan hal-hal ini. Apapun itu, pernah sang ayah mengakatakan anaknya tidak berada di rumah ketika teman laki-lakinya mengajaknya untuk bermain, padahal anaknya ada di dalam rumahnya tersebut... (bersambung)