Kamis, 31 Januari 2008

Kerdil

Tak bersikap karena aku tak mampu
Tak berkata karena aku membisu
Sedihku berkepanjangan
Sesalanku tak berkesudahan
Aku tak mampu menatap mereka
Aku yang kerdil dihadapan mereka
Aku yang bukan apa-apanya untuk mereka
Karena aku bukan siapa-siapa
Dan aku pun tak punya nilai lebih bagi mereka

Jangan Pergi Dari Ku

Aku
Yang tak berharga aku
Yang tak berkata aku
Yang tak bertindak aku
Jangan berpihak selain aku
Karena aku tak bisa tanpa mu

Aku Berubah

Dia berkata
Aku berubah
Dia berkata
Aku diam

Memang aku tak bernilai
Memang aku tak berharga
Aku tak bisa berbuat apa-apa
Karena aku hanya manusia kecil
Yang tak bernilai
Karena kebodohan
Karena semua
Kelalaian diri

Selasa, 29 Januari 2008

Pergi Selamanya

Telah hilang
Karena telah ku anggap hilang
Telah pergi
Karena telah ku anggap pergi
Telah menjauh
Karena telah ku usaha jauhkan
Telah hilang dari genggaman
Terbang bebas menembus batas
Tak terkendali
Karena diri tak dapat menguasai
Dia yang telah mati
Terus ku kenang masa itu
Walau diri itu tak jauh dari ku
Karena itu diri yang berbeda

Dia

Terlena ku untuk sesaat
Akan ungkapan kagum terpesona
Salut ku akannya
Akan kemampuan yang dimilikinya
Tersipu dibuatnya
Karena pujian yang terlontar darinya
Mati rasa ku karena
Karena semua itu tak terungkap
Juga...
Tak terkendali

Lepas Batas

Kaku dalam berfikir
Telah membuat diri laknat
Hati tak lagi dapat dikuasai
Karena egois diri
Dia menjadi terkutuk akan kelakuan
Terkutuk dalam perkataan
Terkutuk dalam pikiran

Kelakuan Tak Indah

Sesat karena tak berperasaan
Mati kaku karena tak menjalani
Semua berkepribadian hilang musnah
Diterpa mata tajam yang tak berkemampuan melihat
Kasihan dibuatnya diri
Menjadi hilang semua keinginan diri
Karena memang hati mati

Aneh

Aku tak mengerti dia mendiam
Aku tak dapat menangkap pesan yang tak terungkap
Dia seolah menatap diri
Dan aku tak berani menangkapnya
Ciut tak berkemampuan
Biarlah dia menjadi model pembangunan
Model kemajuan
Model perbaikan
Aku hanya bisa berkata
Perjalananku tuk hanya untuk menuju yang lebih baik
Aku tak akan bergantung padanya
Aku pun tak ingin disakitinya
Biarlah waktu yang dapat menggiring ku pada arah kebenaran

Berubah

Aku sesak tak mampu berkata
Aku sakit tak mampu bersikap
Aku mati dalam keadaan menyesal

Rabu, 23 Januari 2008

Bebas Lepas

Aku ingin berlari sekarang
Melompat tinggi meraih kerdipan surya
Menjejal dalam keramaian perasaan hati
Terbang ke pulau tak berpenghuni
Dan...
Lepas bebas merengkuh kedamaian malam

Keinginanku Saat Ini

Aku...
Hanya ingin berkunjung pada hati yang tenang
Berisi butiran bening yang damai
Bermesraan pada jiwa yang hangat
Bersenandungkan keindahan
Melompat girang menyambut keceriaan
Tertawa lepas menghapus penat
Semua penuh keceriaan
Semua penuh kasih sayang
Semua penuh cinta kasih

Sakit Hati

Ia berkata tak jelas makna
Apakah berdusta ataukah bercanda
Tertawa lepas ku dibuatnya
Namun luruh hati terluka
Akan maksud kata yang ku cerna

Ingin segera lari dan menghilang
Menjauhi senja kelam di peraduan
Tapi tak sempurna diri tuk bertindak
Tak kuasa diri tuk melawan
Hanya waktu yang berjalan
Yang akan datang menyapa
Tak tentu apakah dengan wajah lembut ia menyambut
Ataukah dengan kemurkaan yang membahana datang menghampiriku?

Berjuang Kembali

Bertandang pada kegiatan mula
Tuk berkunjung pada kehidupan ke depannya
Satu macam inti harus didapat
Jangan semua tertinggal
Hanya karena kelalaian

Minggu, 20 Januari 2008

Letih

Tak berdaya ku bertindak lebih
Karena diri telah letih
Meronta tak terkendali
Aku ingin seperti mereka
Terus ceria dan perkasa
Walau kadang angin malam menerpa
Mereka tetap bersahaja
Harap ku suatu hari kelak
Aku pergi melalui jalan yang baik
Dan meninggalkan hal yang baik pula

Dia

Berada di depanku hari yang ceria
Hari yang pernah menyambut ku ketika ku terpuruk
Hari yang menyapa ku ketika ku kecewa
Hari yang memeluk ku ketika ku berduka
Ia yang tak pernah lekang tuk bertandang
Menyapa senja yang berharap tak kan tergantikan siang
Namun ia yang terluka karena terpuruk oleh ketetapan alam
Terus bersyukur
Karena hari terus bersamanya

Jumat, 18 Januari 2008

Penghianat


Penghianatan tak berperikemanusiaan
Tersenyum dalam tatapan
Meringis dalm berpisah
Dan menghantam di belakangnya

Percaya pada kesetiaan
Karena hati tak ingin dinodai
Tapi apa daya
Sakit telah dirasa
Tertusuk dan pedih untuk diratapi
Semua telah berlalu
Semua akan pergi
Menyisakan rasa pahit
Yang akan terus menjadi kenangan

Sudahlah mereka manusia
Tak layak dipandang sempurna
BUSUK
Dan
Bertebaran kemunafikan
Persetan semua itu...!!!

Aku pun manusia
Tak ingin terus disakiti juga menyakiti
Biarlah tenang hidupku dalam kedamaian
Biarlah mereka hidup dengan cara mereka
Aku tak ingin membalas kejahatan mereka
Karena Tuhan-ku Maha Pembalas semuanya
Maha Adil atas semuanya
Aku hanya bisa mengucapkan
“Maafkan atas semua salahku
Dan...
Ku relakan semua salahmu atasku.”

Minggu, 13 Januari 2008

Tolong Aku

Tolong aku
Aku tersesat di belantara hutan
Gelap tak bersinar
Dingin menusuk tulang rusuk
Tak tahu arah mana

Tolong aku
Aku tersesat
Aku ingin kembali ke kehidupan semula
Keramaian yang menenang
Hingar bingar yang menyibukkan
Tutur sapa yang melembutkan hati

Tak ingin sendiri di tempat sepi ini
Tolong aku
Aku tersesat

Kebersamaan

Berjalan beriringan membentuk suatu pusara yang tak dapat diterjang dan tak dapat dihadang.
Melakukan keindahan yang dapat membuai dan yang dapat membelai.
Haruskah semua terjadi dalam dekade waktu yang berjalan beriringan.
Disertai penantian perpisahan yang menganga dan entah kapan akan menjerumuskan.
Menjalani saja keindahan ini dengan berusaha untuk menjadikannya terus mempesona.
Karena impianku adalah perjumpaan pada Sang Maha Indah Lagi Maha Mempesona.
Tuhanku Yang Maha Kuasa.

Respon

Berkata namun tak berekspresi
Hati meradang karena diterjang
Kepayahan tuk merespon
Padahal satu kata itu sangatlah bernilai
Apalagi lebih
Namun semua itu sangat sulit diluncurkan olehnya
Apakah Aku yang salah
Yang tak punya akal dan hati
Hingga menyambutku pun sangat tak sudi?

Minggu, 06 Januari 2008

Pupus

Awan mendung menghantar. Menutup kecerahan yang terjadi, yang telah dinanti. Dengan semaunya sang awan menumpahkan hujannya ke tanah yang akan beranjak kering. Mempelopori kemenangan atas hari yang cerah untuk kesekian kalinya. Tak tahu aku betapa jengkelnya Sinar Terang yang tak dapat memberikan hangatnya kembali. Kali ini dia termenung. Kali ini dia berkabung. Ia tak kuasa untuk itu semua. Namun ia terus berharap dan berdoa pada Sang Maha Kuasa. Agar sang angin membawa pergi awan mendung nan hitam pekat. Agar Sinar Terang kembali dapat memberikan kehangatannya kembali pada hati yang rapuh ini.

Rabu, 02 Januari 2008

Berlari Pergi

Pagiku berawal dengan kebisuan
Pagiku berawal pada kebutaan
Pagiku berawal melalui ketulian

Terlalu indah perlakuan tuk dipuja
Terlalu naif bila tuk dilupa
Hanya keapatisan yang ku jumpa
Menyapa lembut wajah nan tak berkemampuan

Hati ingin menghindar
Menjauh dari kehidupan pudar
Lagi melelahkan yang tak berkesudahan
Tak berubah ujung pangkalnya
Semua memang sulit untuk berubah

Aku terdiam menanti
Apakah kecendrungan tetap harus di sini
Atau aku harus berlari menjauh
Dan...
Tak akan kembali lagi?

Selasa, 01 Januari 2008

KELEMAHAN HINGGAP KEMBALI

Bergeraklah atau Kau akan mati...
Istirahatnya sang mujahid adalah pada saat ruh tak lagi melingkupi diri.
Untuk yang kesekian kalinya aku mengalami kelemahan. Kelemahan yang membuat diri tak berdaya tuk bertindak. Entah ini untuk yang ke berapa kalinya. Dewasa ini, tubuh ini sangat mudah sekali memberontak. Tuk terus membujuk dan membuai diri agar diri berhenti bertindak, apapun itu. Tapi aku sangat tidak menginginkan rayuan gombal itu. Rayuan yang dapat memperdayakan. Karena aku tahu semua tipu dayanya. Dengan alasan tuk memulihkan kembali kondisi diri, diri menghentikan semua apa yang harus dilakukan. Tapi nyatanya tak beda dengan saat diri bertindak. Kelemahan merasa menang, merajai semangat bara jiwa tuk terus bergerak. Yah... Aku telah terperdaya.
Saat ini aku telah diselimuti kebimbangan yang nyata, Kebimbangan yang bukan karena keputusan apakah aku harus menghentikan kegiatanku atau tidak. Aku tak ingin terperdaya olehnya untuk yang ke dua kalinya. Namun terus menerus diri ini merasa tak berdaya untuk menghadapi tantangan hidup yang berada di depan mata. Sejauh diri melangkahi jejak tuk maju ke depan, sejauh itu pula pemberontakan diri kian menjadi tuk hentikan langkahku yang harus ku rintis pada permulaan hidup ini.
Diri hanya mampu berkata, "Jiwa, sabarkan dirimu. Kuatkan tekadmu. Dan lapangkanlah dirimu tuk menerima semua yang Kau terima saat ini."
Di balik relung yang paling dalam, Aku terus mempertanyakan, "Haruskah sesering ini Aku merasakan peluh dan letih ini? Haruskah rasa ini terus berkepanjangan? Mengapa harus Aku yang menghadapi semua ini? Aku yang harus terus berkeinginan tuk menghentikan langkahku di persimpangan jalan, walaupun hanya untuk sementara.
Pertanyaan itu menjadi sirna kala ku ingat hadist nabi Muhammad SAW:
"Tidaklah seseorang merasakan sakit dihina atau tertusuk duri kecuali Allah menggugurkan dosanya, bagai gugurnya daun-daun"
Yah... Mungkin Allah sangat sayang kepada ku. Mungkin Allah tak menginginkan ku terus dalam kubangan dosa yang terus menggunung.
Atau mungkin juga Allah sedang memberi ku peringatan bahwa bahwa kapanpun dan di manapun aku harus terus mengingat-Nya seperti dalam keadaan sakitku ini.
Atau mungkin juga dengan sakitku ini Allah memberikan ku sedikit teguran bahwa nikmat sehat itu adalah nikmat yang sangat tak ternilai dan sangat mahal harganya. Namun nikmat itu seringlah dilupakan. Dan barulah dapat dirasa apabila dalam keadaan sakit seperti ini.
Aku terus introspeksi diri. Tak mungkin Allah memberikan yang tidak baik untuk hamba-Nya karena Allah benar-benar sangat menyayangi hamba-hamba-Nya. Dan aku pun terus berbaik sangka terhadap segala yang telah dan akan Allah berikan. Karena dengan adanya perasaan berbaik sangka ini, hidup kita akan terus berisi semangat dan optimis yang menggebu.
Tak seperti biasanya, aku saat ini terus merasa jenuh dan peluh akan semua yang kujalani karena kondisi tubuh yang terus menyeruak berontak. Dengan penuh kepayahan terus ku upayakan impianku agar terus dapat tercapai dan terus dapat ku rengkuh, yang pasti dengan usaha dalam pencapaiannya tersebut. Tak kunjung ku padamkan semua cita-cita diri dalam meraih hidup yang terus lebih baik di esok hari walau jurang terjal menganga lebar bak samudera tanpa batas. Aku bertekad "Aku Harus Terus Bergerak Dan Allahlah Sebagai Sang Dewan Juri dalam Kehidupan Ini."

Kerinduanku

Pergi menyusuri dunia harapan
Beralih pada kenyataan hidup
Tak menunggu sambutan itu
Yang belum pasti adanya

Bertemu insan idaman
Yang tak ingin kembali bercerai
Karena harapan dapat tertumpah padanya
Harapan yang tak kunjung usai
Harapan dalam kebahagian
Meraih Keindahan abadi
Bertemu Sang Kholik

THE UNFORGETTABLE MOMENT IN MY LIFE (2)

Pernah sang ayah mengakatakan anaknya tidak berada di rumah ketika teman laki-lakinya mengajaknya untuk bermain, padahal anaknya ada di dalam rumahnya tersebut. Pada saat itu umur mereka dapat dikatakan masih bocah, masih duduk dibangku SD. Kepada keluargaku, meraka meminta supaya kalau bisa pada saat bulan Ramadhanitu juga proses itu berlangsung, yang memang pada saat itu Ramadhan telah siap kami sambut kedatangannya dalam hitungan hari lagi. Tapi dengan penuh pertimbangan yang matang akhirnya proses peresmian kami baru dapat dilaksanakan lima hari setelah Hari Raya Idul Fitri.
Semua dapat kukatakan berlangsung dengan sangat mulus. Kesepakatan itu membuahkan semangatku yang terus membara. Namun di rentang waktu menunggu tersebut kami tak berani untuk saling jumpa, bahkan SMS satu satu sama lain menyakan kabarnya pun tidak berani kami lakukan. Semua hubungan komukasi kami lakukan dengan perantara orang ke tiga. Semuanya adalah bantuan campur tangan-Nya jua, ia mempunyai seorang adik lelaki yang berperan sebagai perantara ku dengannya dan juga Mbakku berperan sebagai prantaranya dengan ku. Bahkan masih ku ingat dengan jelas, ia hanya SMS ku hanya untuk mengucapkan selamat Idul Fitri, itupun atas nama keluarganya. Namun untuk kesepakan rumah kami kelak, kami perlu kesepakan bersama secara langsung. Hingga kami memutuskan untuk bertemu secara langsung dengan disertai adik laki-lakinya sebagai “penjaga” hubungan kami. Ini juga sebagai wujud serta mertaku terhadap sebuah buku yang pernah ku baca bahwa sebaiknya setelah menikah harus pisah rumah dengan orang tua. Itulah langkah, yang insyaALLAH, baik untuk kehidupan kami kelak.
Hari-hari pun berjalan dengan jiwa yang membuncah, jiwa yang menanti, jiwa yang tak jelas apakah timbul atau tenggelam. Namun semua itu alhamdulillah hubungan kami masih tetap dilindungi ALLAH SWT terhadap perilaku yang dapat membuat-NYA murka.
Hari H pun telah tiba, kami dihadapkan pada puluhan tamu undangan untuk menyaksikan peresmian hubungan kami, akad nikah kami. Dengan penghulu yang diminta sendiri oleh calon istriku, yaitu Ayahnya sendiri. Ia berkata kepada ku bahwa gladi dulu, coba-coba dulu. Namun para tamu mungkin tidak mendengar, sehingga mereka mengira perkataan akad yang kami ucapkan dengan lagak meyakinkan itu adalah serius. Hingga dijung ucapan akad kami dengan lafadz Arab telah kami ucpakan, sang penghulu berkata agak lebih kencang ini adalah gladi, percobaan. Sontak semua tertawa karena tidak menyangka akan keseriusan kami. Setelah itu, calon ayahku menyalami dengan lebih kencang untuk akad yang seriusnya, yang membuat ku hampir lupa apa yang akan aku ucapkan nanti untuk memjawab akd darinya. Tapi semua itu berjalan dengan lancar sekali. Dan resmilah hubungan kami. Setelah itu kami berjalan bersama dan betapa kagetnya aku tanganku tiba-tiba digaet oleh istri baruku ini. Berbisikku padanya mau-maunya akhwat menggandeng ikhwan. Eh.. malah menjawab masak kita dah resmi tapiberjalan kayak lagi bermusuhan. He… he… aku pun tersenyum sendiri bila ingat hal itu.
Dengan dibalut suasana yang sangat sederhana, pesta perkawinan kami pun kami gelar. Tanpa adanya panggung yang biasa ada pada pesta pernikahan pada umumnya. Kamipun berbaur dengan para tamu undangan, di mana istri ku duduk di antara para tamu undangan wanita dan aku pun duduk diantara para tamu undangan laki-laki. Namun begitu ingin mengabadikan acara ini, kami kebingungan untuk mencari tempat untuk berfoto bersama yang biasanya berlangsung di atas panggung. Akhirnya di belakang tulisan MOHON DOA BAROKAH kami berfoto ria di situ dengan kameraman yang disewa khusus hanya pada hari itu dari kelaurga kami sendiri, alias gratiasan.
Kejadian lucu baru tersadar setelah foto-foto itu berlangsung yang seharusnya sang lelaki berada di kanan dan wanita di kiri, ternyata posisi kami malah sebaliknya. Sehingga bila memandang foto-foto kami terlihat jelas kejanggalan itu.
Ya ALLAH… betapa nikmat yang kau berian sangatlah besar kepada ku. Tak terpikir ku bantuanmu sangatlah dahsyat terhadap makhluk-MU ini. Semoga rasa syukurku terus menelimuti segenap jiwa raga ku kepada-MU sepanjang hidupku. Tak berkurang sediitpun. Bahkan kuharapkan terus meningkat.
Semoga dengan walimah penikahan ini, menjadikan ke dua sosok ini menjadi tambah kaya. Kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya harta, dan sebagainya. Barakallohhulaka…

THE UNFORGETTABLE MOMENT IN MY LIFE (1)

Tak kusangka semua begitu cepat prosesnya. Memang benar-benar tangan-Nya telah ikut berperan dalam seluruh proses kehidupanku. Pada saat ku berpikir bahwa halangan rintangan itu sangat sulit dilewati. Ternyata dipenghujung perjuanganku, pertolongan bertubi-tubi datang menghampiri. Yang semuanya itu, membuatku mencapai sesuatu yang diharapkan, bahkan lebih dari itu, hasil yang di dapat sangat menggembirakan.
***
Semua itu berawal pada perkenalan ku pada seorang akhwat yang pada saat itu sedang berkunjung ke rumah kakak perempuanku, yang biasa ku panggil Mbak. Kebetulan juga ku berada di rumah Mbak ku pada saat itu. Mbakku menawarkanku untuk berkenalan dengan temannya tersebut. memang ku pikir pada saat itu, "resek"nya Mbakku mulai kumat. Masak tiba-tiba ku menyodorkan diriku tuk berkenalan dengan seorang akhwat, yang nota bene, semua sikap tingkah laku harus terjaga antara lawan jenis yang nonmuhrim. Kontan saja, aku tanpa pikir panjang langsung menolaknya. Toh aku juga tahu penawaran Mbakku hanyalah bercanda karena dengan umurku saat ini yang sebenarnya telah layak untuk melanjutkan jenjang itu dan juga aku secara umum telah punya modal, minimal pekerjaanku alhamdulillah telah tetap saat ini. Tapi pikiranku masih belum terlaku fokus ke sana. Aku masih ragu untuk itu dan juga keberanian ku untuk "menembak" seorang akhwat untuk hidup bersama itu masih jauh.
Namun itu merupakan perjumpaanku dengannya yang pertama saat itu. Aku tak tahu bagaimana paras mukanya saat itu. Karena selama ia berada di rumah kakaku, aku tak berani menampakkan dirikudi depannya, bahkan untuk mengintippun, untuk sekedar ingin tahu siapa sih teman Mbakku itu, aku tak berani. Jadi pertemuan itu hanya berawal dengan perjumpaan satu arah. Dimana aku hanya melihat sosoknya secara sekilas namun ia pastinyatidak tahu keberadaanku di rumah Mbakku pada saat itu.
Namun entah mengapa, setelah kejadian itu semangatku dalam menggenapkan dien-ku sangatlah mengebu-gebu. Bagai kobaran api yang berada pada puncak panasnya yang sangat membara. Pastinya aku yakin keyakinanku ini tidak terlepas karena hidayah dari-Nya jua.
Setelah mengalami proses yang dapat ku katakan sangat singkat, ta'aruf dengan akhwat tersebut berlangsung. Ada apa dengan beliau, daya tarik magnetiknya sangatlah kuat menarik hati dan diriku terhadapnya. Padahal sebelumnya, sangatlah jauh dari pikiranku untuk melakukan hal ini. Serasa mendidih tubuhku ketika berhadapan dengan seorang akhwat. Yah... bisa dibilang aku gerogi pada saat itu. Kami tak berani saling pandang satu sama lain. Sekali lagi ini merupakan campur tangan ALLAH SWT terhadap salah satu proses kehidupanku, yang menjadi the unforgettable moment in my life.
Kuingat sebelumnya orang tuaku berkata bahwa jangan mencari seorang istri dari keluarga yang sangat kaya. Karena sangatlah sulit untuk mengajak seseorang yang kesehariannya terbiasanya hidup enak untuk hidup prihatin, serba kekurangan. Karena ku akui, keluargaku bukanlah tergolong keluarga yang serba berkecukupan. Malah sebaliknya keluargaku merupakan keluarga yang serba kekurangan, namun bagiku tetaplah sebagai keluarga yang membahagiakan. Rezeki adalah haknya ALLAH terhadap kita, jadi pasang surut dalam hidup harus siap diarungi. Sesusah apapun itu ataupun sebahagia apapun itu, semua harus dijalani. Kuingat beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang mengenalkan seorang akhwat pada orang tuaku dengan hanya menguraikan identitasnya saja, yang tentunya orangnya tak berani ku bawa serta ke rumah. Toh aku juga tidak begitu kenal dengannya. Namun ternyata ayahku tahu bahwa ia berasal dari golongan kelas ekonomi atas, setidaknya jauh bila dibanding denganku. Ayahku bukannya tidak setuju namun menekankan kalau bisa jangan. Karena ia telah terbiasa dengan hidup senang dari kecil sampai saat ini ia dewasa. Bukanlah kesalahan ia yang dianugerahi ALLAH SWT menjadi angota keluarga berada, namun untuk berbakti kepada orang tuaku, aku tak mengambil langkah berikutnya ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Patut ku syukuri setelah proses ta'aruf tersebut, terus berlanjut pada pertemuan antara kedua orang tua kami. Semua, sekali lagi ku katakan, seperti mimpi, berjalan ngalir tanpa adanya hambatan yang berarti dalam proses ini. Dan alhamdulillah kriteria akhwat ini telah memenuhi syarat dari orang tuaku tersebut, tidak bersal dari kelurga kelas atas. Aku tak ikut dalam proses pertemuan itu karena itu adalah urusan antara orang tua masing-masing kedua belah pihak. Aku kaget ketika ayahku bercerita bahwa saat pertemua itu berlangsung orang tua ku tanpa basa-basi lagi langsung bertanya kepada orang tua dari pihak Sang Akhwat apakah ia mau diajak hidup sengsara. Namun syukur alhamdulillah jawabannya pun sesuai harapan orang tua ku, ia siap untuk hidup prihatin.
Dan dari pihak akhwat ternyata proses tindak lanjut untuk melegalkan hubungan kami secara hukum agama dan negara harus dengan segera. Karena untuk menjaga agar dengan adanya ikatannya yang masih belum resmi ini dapat menjadi ladang kekufuran buat kami. Merajalelanya zina mata, zina hati, zina telinga, dsb. Memang kuakui Sang ayah akhwat tersebut sangatlah protected terhadap anaknya bila berhubungan dengan hal-hal ini. Apapun itu, pernah sang ayah mengakatakan anaknya tidak berada di rumah ketika teman laki-lakinya mengajaknya untuk bermain, padahal anaknya ada di dalam rumahnya tersebut... (bersambung)