Senin, 26 Mei 2008

Perbandingan Waktu

Meski berkata
Aku diam
Bersimpuh ku bersedih
Atas kelalaian yang menyeruak

Dulu
Bertahta pada kepatuhan
Bergelimang pada ketenangan
Berselimutkan kebanggaan

Aku yang kini gamang
Tak tentu akan arah
Tak memiliki penyangga
Terus terpuruk
Terus menghinakan diri
Muncul pada kemunafikan

Tak ingin terus terjatuh
Ketaatan ingin terus memuncak
Dan berharap...
Pertolongan-Nya menggelayati jiwa
Amin ya Robbal 'alamin

Penguasa Bejat

Kekuasaan merayapi
Menusuk gemerlap dingin
Kaku berkepanjangan
Sedang...
Sang penguasa...
Merasa terus berkuasa
Mematikan kehangatan
Meleburkan kesejukan
Sang penguasa...
Akan terus berkuasa
Hingga...
Sang Pemilik Kekuasaan menghendaki kematian kuasa
Padanya

Kekuasaan Hitam

Tak ubahnya kehinaan
Mendera kebenaran
Menutup kelam kesucian
Terkucil dalam ramuan keangkuhan
Tersudut karena tak berkekuasaan
Jiwa yang terluka
Tak mampu berontak Hanya mencanangkan tekad
Kekuasaan hitam harus mati
Meluruskan kebenaran
Mencerahi dunia lama kelam
ALLOHU AKBAR...

Doaku Saat Ini

Bertahta dalam kemakmuran
Namun hati terus meregang
Menjadikan diri terus mendera
Aku yang tak bersahaja
Tak lagi memiliki kekuatan
Untuk mempertahankan diri
Diri terus diserang
Mengerang dari dalam
Di sekitar saling membela diri

Aku terpaku
Menyesalkan keterpurukanku
Menyesalkan kelemahanku
Menyesalkan segala ketakberdayaanku

Hanya satu yang ku butuh
Kehadiran-Mu, Ya ALLOH
Semoga selalu menyertai derap langkahku
Dan...
Jiwa bersahaja-Mu
Bersama selalu untuk meringankan langkah ini

Tertekan

Tak hendak aku berlari
Jika tak hendak ada pencapaian
Apalah artinya kehidupan
Jika semua tak berpenghasilan
Jika semua tak berkesudahan
Hanya pemuas nafsu

Tapi...
Terhambatnya langkah turut menyertai
Hingga tak lagi diri berbakti
Tak lagi diri mengabdi
Tinggal menyisakan
Diri yang berubah menjadi pemberontak
Yang terlihat lebih hina dan tercela

Ketakutan Diri

Aku memutuskan untuk kembali
Jangan terulang lagi akan sepi
Aku berkeinginan untuk pergi
Walau diri tak ingin menjauh
Aku yang tak berharga lagi
Sejenak berhenti
Mengindahkan sepiku

Di Dunia Luar

Di sini aku berkelana
Tak memiliki kekuatan akan pengetahuan
Terpaku aku duduk di sini
Hanya menatap kosong pembicaraan tak berkesudahan
Aku yang berkeinginan untuk berlari
Keluar dari komunitas ini
Menggelayuti dunia yang aku idamkan
Tapi...
Sampai sekarang tak tahu pasti
Ke mana aku harus singgah
Ke mana aku harus menggapai
Dunia terasa begitu kejam
Tak tersenyum ketika diri bersedih
Terbahak-bahak sewaktu diri di pesakitan

Dalam diam aku memendam
Dalam senyum aku meringis
Dalam siang aku terus merasakan malam
Ingin ku cari hangatnya sang mentari
Memeluk diri
Dan
Membelai kasih

Trauma

Di atas singgasana itu aku melihat
Sekumpulan pasir nan hitam mendominasi
Tak ada warna warni di sana
Tak ada senyum sapa di sana
Aku yang tak tahu arah
Dan...
Yang tak lagi gembira
Menyapanya dengan rasa kecewa
Karena ia tak menjadi harapan
Dan entah menjadi asing sampai kapan

Dunia Saat Ini

Di persimpangan jalan ini aku bernyanyi
Mengantar fajar yang menari
Di rumah itu aku menangis
Di rumah itu pula aku tertawa
Namun di rumah itu pula aku pernah berduka
Dulu aku bertahan
Dulu aku selalu menyapa
Sekarang
Aku hanya melihat mendung
Belantara di sepanjang jalan
Gemuruh hujan menemani dalam perjalanan
Sekaranglah ujianku muncul
Sekaranglah kesetiaanku mulai dipertanyakan
Dan sekarang dan entah sampai kapan aku dapat bertahan
Aku berharap Tuhanku selalu menguatkan diri ini

Selasa, 06 Mei 2008

Menyerah

Aku bertanya adakah aku bertahta
Aku melawan namun tak berkekuatan
Aku terus mempertanyakan apakah aku harus menyertakan baktiku padanya

Ternista

Bersahabatku pada keangkuhan
Mata terbelalak pada kenistaan
Namun logika tak berkekuatan
Aku tersingkirkan oleh kekuasaan Bermalamku pada kelalaian

Marilah singkirkan semuanya
Aku yangterlahir dengan kesucian
Berharap kesucian itu pun menemani

Jauh Sendiri Berlari

Mengapa riuh rendah itu menghampiri
Merajalela di dunia kehidupan
Namun semua asing bagiku
Dan terasa menggelegar jiwaku
Aku yang belum berdiri
Memaksanya untuk berlari
Aku yang tak berkehidupan ramai
Memaksaku tuk terbang bebas bersamanya

Kamis, 01 Mei 2008

Galau

Hari ini... Tak ku ketahui harus berbuat apa..
Sampai kapan aku harus sendiri dan menyepi. Sedang orang-orang di sekelilingku berkata dan bertingkah tidak sesuai dengan pola pikirku. Mereka terus berbicara akan kesenangan dunia dan bagaimana menikmatinya. Mereka berbicara tentang ancaman dunia dan bagaimana cara menghindarinya. Mereka tak ikut sertakan keberadaan Tuhan di situ. Mereka hanya ingat saat-saat tertentu namun melupakan untuk waktu yang lama bahkan menentang-Nya jika hal itu diperlukan untuk mendapatkan kejayaan.
Sampai sekarang aku merasa gamang. Pencarian terus ku lakukan. Di mana kehidupan yang harus ku selami. Dan aku yakin Tuhanku akan membimbingku dengan segera agar aku tak terjerumus ke lembah busuk itu. Lembah yang menyengsarakan diri dan apa yang ada besertanya.
Saat ini.. Aku menunggu dan menyendiri. Hanya lantunan buaian Nasyid dari MP4 ku yang menemani. Dan sahabat setiaku yang selalu menemani adalah buku-bukuku. Semoga aku beserta-Nya.

Doaku

Ya ALLOH aku yakin Kau akan melindungi diri ini dari segala hal yang dapat membuat-Mu murka. Aku tak ingin segala hal itu terjadi.

Terpuruk

Aku berkaca dalam hari
Dapatkah aku bermimpi
Aku berkata-kata pada dunia
Mampukah aku merengkuhnya
Aku menghentikan langkah
Karena waktu telah menghilang
Aku tersenyum pada kematian
Yang menanti kehadiranku bersamanya

Tekadku

Aku ingin terus hidup
Untuk terus memperbaiki diri
Aku ingin terus hidup
Agar dapat terus berjuang diri ini
Aku ingin terus hidup
Walau entah kapan akan berakhir

Terlaknat

Tersenyum ku sendiri
Dalam menghadapi kebodohan diri
Tersenyum sinis ku dibuatnya namun apa daya kekuatan tak melampaui
Hati yang dulu meradang
Kini menguak makin menganga
Senyum simpulku padanya
Sambil berkata ku
"Laknat diri makin tak bertepi"