Rabu, 24 September 2008

Doaku Saat Ini

Bersama diri untuk mempersatukan
Namun entah tak berlaju dalam tindakan
Andaikan kesunyian menyeruak
Aku pun tak terbiasa dengan keributan
Menanti demi sebuah kedamaian
Andaikan dia mempesona
Sejukkan dalam tindakan
Membahanalah hati karena bahagia

Peta Buta

Entahlah...
Jiwaku memang serasa harus terus berdiam diri. Yah... Sepertinya aku diam-diam berkutat dalam hal-hal yang hanya melibatkan diriku pribadi. Yang aku tahu memang hanya aku. Aku sangat sulit menyibukkan diri ini ke dalam kesibukan dalam rangka memberikan manfaat kepada orang lain. aku tidak tahu arah mana yang harus ku lalui karena aku memang sangat lama untuk memahami peta petunjuk jalan itu. Sungguh sangatlah sulit. Dan sungguh itu di luar kemampuanku, yaitu kapan harus berakhir dan kapan harus memulainya.

Teguran Hidup

Ya Alloh, terima kasih atas nikmat yang telah Kau beri selama ini kepada diri yang hina lagi penuh dosa ini. Kau berikan teguran kepada ku.
Yah… Aku sedang menikmati rasa sakit saat ini. Aku sangat tak ingin, dengan sakit ini, aku menjadi orang yang terus melemah dan menjadi tak berdaya. Ku berdayakan diri ini dalam mengarungi hidup seperti selayaknya ketika sehatku.
Diamlah!!!
Aku memang sedang menikmati rasa sakitku. Semoga Alloh terus membimbing diri ini dalam jalan yang diridhoi-Nya.

Percintaan Sang Sahabat

Hati tak lagi ikhlas
Pengharapan akan semua ulah yang ku anggap mulia
Hah...
Semua tak ternilai
Semua tak berguna
Semua debu
Matilah kau...

Tapi...
Tidakkah diri pecundang
Merenung saat semua tersenyum
Menangis saat semua tertawa
Teriak saat semua berbisik
Aku butuh engkau, teman
Saat diri terasa sangat lemah
Tak mampu bertindak apapun
Bahkan untuk diri sekalipun
Diri tak ingin terjerumus ke lembah nista itu, teman
tolong diriku, teman
Tanyakan kabarnya
Tidakkah kau tahu
Apakah ia memang benar-benar baik
Ketika ia berada di sisimu dengan sikap manisnya dan berkata
"Alhamdulillah aku baik"

Jiwa Pendosa

Mengapa diri ini terus dilingkupi jiwa berdosa
Menuding diri dalam penistaan
Tidak diri mengerti bahwa semua itu hina
Busuknya telah terungkap
Tetapi…
Masih saja menjadi perangkat untuk diri
Kapankah diri akan terlepas dari jeratan hitam itu
Aku ingin terbebas dari masa kelam itu
Masa yang terus membuatku merasa bersalah
Dan…
Merasa penuh dosa

Tidakkah diri ini berdusta?
Tidakkah diri ini munafik?
Yah….
Selamat datang malam
Aku tersenyum untuk diam
Tak terungkap kata hitam
Karena diri tak ingin meradang
Semua menjadi saksi bisu
Akan tingkah keji nan lugu
Karena menghamba pada nafsu
Memang diri ini sangat tak bermalu

Kekuatan Sang Pesakitan

Mengapa kemegahan itu berkuasa
Yang berkarya gegap gempita
Menjadikan hati hidup membahana

Kapan diri akan menghadiri
Tak berpihak untuk hidup
Menjadikan diri menghadiri kekalutan
Sulit tumpah ruah
Menyatu demi kedamaian
Semua bertepi
Jurang terjal memisahkan
Terpacu untuk saling mematahkan

Terlelapnya Hidup

Tak berkata aku berlaku
Menunjukkan muka hitam pada sang Nakhkoda
Tak ragu diri menyimbolkan keanarkisan
Masalah terus berbicara
Tak henti tak mengenal shubuh akan menanti
Cahaya malam telah memejamkan matanya
Aku terhiris dan menyesatkan diri
Agar semua ini berakhir
Namun satu hal belum terungkap
Dan akupun tak mampu berungkap
Biarlah waktu yang akan mengungkap

Warna Hidup

Terlindungi kesenyapan malam
Diam tak berkuasa
Menjadi diam mematung seribu bahasa
Tak ada kelalaian yang memuja
Meminta untuk diperlakukan istimewa
Tak selalu hilang persoalan hidup
Karena roda kehidupan yang selalu berputar
Memuncak menurun dan mereda
Mahligai hidup tertera pada kebahagiaan
Ketenangan diri ada pada sang pelipur
Nyanyian keharuan ada pada kegalaluan
Kedamaian sejati ada pada ketaatan pada-Nya