Bertahan dalam diam
Menunggu sesuatu yang tak pasti
Mengharu dalam biru
Mencerca akan tindakan
Semua liku dalam hidup
Takkan pupus ditelan zaman
Semua merekah dan membahana
Meneriakkan kemenangan
Keindahan yang ingin diraih
Melaju untuk keinginan
Tak punah akan keadaan
Semua ingin kebahagian
Ketenangan untuk diri
Penantian jiwa
Siap mengantarkan diri
Menuju ketentraman diri
Jumat, 08 Agustus 2008
Senin, 04 Agustus 2008
Mengapa ini terjadi pada ku?!
Tak akan ku perdayakan diri dalam matinya jiwa. Biarlah jasad mati, membusuk tak berdaya, asalkan tak pernah ku rasakan matinya jiwa, matinya nurani. Andai manusia tak pernah ada di bumi ini, tak akan kurasakan manis cinta, kasih sayang, serta manisnya perjuangan hidup.
Di sinilah ku pertama kali merasakan dingin, panas, marah, dan benci. Tak pernah hilang perasaan syukur itu walau diri terus disiasati untuk menghilang. Yah.. Diri tak ingin terbang bebas lepas mengikuti aliran pikiran yang terkadang dapat menyesatkan dengan dalih demi logika.
Bertahun lamanya aku berhenti menghadirkan diri pada-Nya. Bukan karena ku hendak berkhianat, namun tak kenalnya diri pada perjumpaan yang membahagiakan itu. Semua itu merupakan rahasia dari Nya. Mengapa aku dapat berdiri, mengapa aku berlari, semua tak luput dari rencana-Nya yang pastinya tak mengenal istilah keliru.
Dapatkah aku berhenti saat ini juga? Kenapa tidak?! Toh, hidupku adalah pilihanku. Namun aku tak akan melupakan keberadaan Tuhan dalam hidupku. Kehendak-Nyalah aku dapat hadir di sini. So pastinya, jangan sampai kita tak tahu aturan Sang Pencipta kita. Alat elektronik pun dalam pemakaiannya harus sesuai buku petunjuk dari sang pembuatnya. Kenapa hal tersebut harus dipertentangkan untuk hidupnya manusia. Ku pikir, silahkan saja hidup semaunya. Toh, hidup itu gak cuma sekali. Ada kehidupan lain setelah ini dalam rangka pembalasan atas tingkah kita di dunia.
(Gak percaya? Coba aja mati.. Tapi kalo gak enak, gak ada yang jamin bisa balik lagi.)
Di sinilah ku pertama kali merasakan dingin, panas, marah, dan benci. Tak pernah hilang perasaan syukur itu walau diri terus disiasati untuk menghilang. Yah.. Diri tak ingin terbang bebas lepas mengikuti aliran pikiran yang terkadang dapat menyesatkan dengan dalih demi logika.
Bertahun lamanya aku berhenti menghadirkan diri pada-Nya. Bukan karena ku hendak berkhianat, namun tak kenalnya diri pada perjumpaan yang membahagiakan itu. Semua itu merupakan rahasia dari Nya. Mengapa aku dapat berdiri, mengapa aku berlari, semua tak luput dari rencana-Nya yang pastinya tak mengenal istilah keliru.
Dapatkah aku berhenti saat ini juga? Kenapa tidak?! Toh, hidupku adalah pilihanku. Namun aku tak akan melupakan keberadaan Tuhan dalam hidupku. Kehendak-Nyalah aku dapat hadir di sini. So pastinya, jangan sampai kita tak tahu aturan Sang Pencipta kita. Alat elektronik pun dalam pemakaiannya harus sesuai buku petunjuk dari sang pembuatnya. Kenapa hal tersebut harus dipertentangkan untuk hidupnya manusia. Ku pikir, silahkan saja hidup semaunya. Toh, hidup itu gak cuma sekali. Ada kehidupan lain setelah ini dalam rangka pembalasan atas tingkah kita di dunia.
(Gak percaya? Coba aja mati.. Tapi kalo gak enak, gak ada yang jamin bisa balik lagi.)
Harapku
Ya Alloh...
Aku takut akan azab-Mu yang pedih itu, ya Alloh...
Jangan Kau lemparkan kami dalam kesesatan itu, ya Alloh...
Kami takut terlena akan kubangan dosa itu, ya Alloh...
Berilah kami pengawal yang dapat membentengi kami, ya Alloh...
Yang dapat memberikan kekuaatan kepada kami dalam menegakkan ajaran-Mu, ya Alloh...
Kami ingin saling menguatkan dalam segala kebaikan itu, ya Alloh...
Jangan biarkan kami dalam kegalauan yang menyesatkan, ya Alloh...
Tuntunlah kami selalu dalam keindahan ajaran-Mu itu, ya Alloh...
Kami ingin mereka dan kami pun semakin tahu bahwa ajaran-Mu ini benar-benar indah dan sempurna, ya Alloh...
Tanamkan keyakinan kepada kami bahwa kebersamaan-Mu itu adalah yang terbaik, ya Alloh...
Terus tumbuh suburkan kepada kami cinta yang abadi, cinta yang tak lekang waktu, cinta yang tak menjerumuskan, cinta yang mengarahkan pada kesempurnaan, yaitu cinta pada Mu, ya Alloh...
Ya Alloh...
Aku takut akan kesendirian ini, ya Alloh...
Ku tahu Kau saat ini terus menemani ku...
Namun mengapa hati ini terus merasakan kesendirian itu, Ya Alloh...
Kesendirian yang kadang terus menyesakkan...
Kesendirian yang dapat menjerumuskan ku pada kesesatan, ya Alloh...
Dalam diam seperti ini aku terkadang menangis tersedu...
Menanti kehadiran sang pelipur lara...
Yang dapat menghilangkan perasaan penat ini...
Aku yang memang tak dapat bercengkerama dengan mereka, merasa ingin bercengkerama bersama mereka...
Dilihat ku bahagia akan semua itu...
Tidak...
Aku yang terpaku menyendiri...
Menghindar akan kepalsuan...
Menyusuri keabadian...
Namun...
Sekali lagi aku tak dapat menyentuh ketenangan itu...
Jiwaku terus gelisah tak tentu arah...
Apakah diri ini telah munafik?
Yah...
Semua terjadi terperikan...
Aku tak sanggup dengan ini...
Namun aku terus berusaha sekuat mungkin untuk menguatkan diri...
Sebuah kejadian yang pasti diberikan dengan kemampuan menanggungnya...
Namun...
Sampai kapan diri terus membuat topeng?
Sedang topeng lamaku telah lusuh akan seringnya dipakai...
Mereka tak tahu di balik topeng itu...
Akankah aku melepaskan topeng ini?
Sampai kapan aku harus mengenakan topeng ini?
Aku ingin seperi semula...
Tak ada cacian, hinaan, dan makian...
Semua dapat membentengi diri...
Semua dapat saling mengokohkan...
Ya Alloh...
Aku benar-benar berserah pada-Mu, ya Alloh...
Sejauh ini aku terus menghitamkan diri ini, ya Alloh...
Aku ingin semua ini musnah, ya Alloh...
Digantikan keindahan itu, ya Alloh...
Ketenangan itu, ya Alloh...
Kesempurnaan akan sikap yang menyejukkan itu, ya Alloh...
Perkataan yang membuai jiwa ketuhanan itu, ya Alloh...
Kuharap...
Jalanku tak terus melenceng jauh pada-Mu...
Teruskanlah aku bersama orang-orang sholeh yang dapat saling menuntun, ya Alloh...
Yang aku pun tahu akan kesholehannya, ya Alloh...
Teruskanlah kami pada kebersamaan itu, ya Alloh...
Bimbinglah kami, ya Alloh...
Ku harap semua itu berujung pada kehidupan abadi yang membahagiakan...
Di Syurga-Mu, ya Alloh...
Aku takut akan azab-Mu yang pedih itu, ya Alloh...
Jangan Kau lemparkan kami dalam kesesatan itu, ya Alloh...
Kami takut terlena akan kubangan dosa itu, ya Alloh...
Berilah kami pengawal yang dapat membentengi kami, ya Alloh...
Yang dapat memberikan kekuaatan kepada kami dalam menegakkan ajaran-Mu, ya Alloh...
Kami ingin saling menguatkan dalam segala kebaikan itu, ya Alloh...
Jangan biarkan kami dalam kegalauan yang menyesatkan, ya Alloh...
Tuntunlah kami selalu dalam keindahan ajaran-Mu itu, ya Alloh...
Kami ingin mereka dan kami pun semakin tahu bahwa ajaran-Mu ini benar-benar indah dan sempurna, ya Alloh...
Tanamkan keyakinan kepada kami bahwa kebersamaan-Mu itu adalah yang terbaik, ya Alloh...
Terus tumbuh suburkan kepada kami cinta yang abadi, cinta yang tak lekang waktu, cinta yang tak menjerumuskan, cinta yang mengarahkan pada kesempurnaan, yaitu cinta pada Mu, ya Alloh...
Ya Alloh...
Aku takut akan kesendirian ini, ya Alloh...
Ku tahu Kau saat ini terus menemani ku...
Namun mengapa hati ini terus merasakan kesendirian itu, Ya Alloh...
Kesendirian yang kadang terus menyesakkan...
Kesendirian yang dapat menjerumuskan ku pada kesesatan, ya Alloh...
Dalam diam seperti ini aku terkadang menangis tersedu...
Menanti kehadiran sang pelipur lara...
Yang dapat menghilangkan perasaan penat ini...
Aku yang memang tak dapat bercengkerama dengan mereka, merasa ingin bercengkerama bersama mereka...
Dilihat ku bahagia akan semua itu...
Tidak...
Aku yang terpaku menyendiri...
Menghindar akan kepalsuan...
Menyusuri keabadian...
Namun...
Sekali lagi aku tak dapat menyentuh ketenangan itu...
Jiwaku terus gelisah tak tentu arah...
Apakah diri ini telah munafik?
Yah...
Semua terjadi terperikan...
Aku tak sanggup dengan ini...
Namun aku terus berusaha sekuat mungkin untuk menguatkan diri...
Sebuah kejadian yang pasti diberikan dengan kemampuan menanggungnya...
Namun...
Sampai kapan diri terus membuat topeng?
Sedang topeng lamaku telah lusuh akan seringnya dipakai...
Mereka tak tahu di balik topeng itu...
Akankah aku melepaskan topeng ini?
Sampai kapan aku harus mengenakan topeng ini?
Aku ingin seperi semula...
Tak ada cacian, hinaan, dan makian...
Semua dapat membentengi diri...
Semua dapat saling mengokohkan...
Ya Alloh...
Aku benar-benar berserah pada-Mu, ya Alloh...
Sejauh ini aku terus menghitamkan diri ini, ya Alloh...
Aku ingin semua ini musnah, ya Alloh...
Digantikan keindahan itu, ya Alloh...
Ketenangan itu, ya Alloh...
Kesempurnaan akan sikap yang menyejukkan itu, ya Alloh...
Perkataan yang membuai jiwa ketuhanan itu, ya Alloh...
Kuharap...
Jalanku tak terus melenceng jauh pada-Mu...
Teruskanlah aku bersama orang-orang sholeh yang dapat saling menuntun, ya Alloh...
Yang aku pun tahu akan kesholehannya, ya Alloh...
Teruskanlah kami pada kebersamaan itu, ya Alloh...
Bimbinglah kami, ya Alloh...
Ku harap semua itu berujung pada kehidupan abadi yang membahagiakan...
Di Syurga-Mu, ya Alloh...
Busuk
Mengapa diri terus dilingkupi jiwa berdosa. Menuding diri dalam penistaan. Tidak diri mengerti bahwa semua itu adalah hina. Busuknya telah terungkap tetapi masih saja menjadi perangkat untuk diri. Kapankah diri akan terlepas dari jeratan hitam itu. Aku ingin terbebas dari masa kelam itu. Masa yang terus membuat ku merasa bersalah dan merasa penuh dosa.
Tidakkah diri ini berdusta?
Tidakkah diri ini munafik?
Yah.. selamat datang malam. Aku tersenyum untuk diam. Tak terungkap kata hitam. Karena diri tak ingin meradang.
Semua menjadi saksi bisu. Akan tingkah keji nan lugu. Karena menghamba pada nafsu. Memang diri ini sangat tak bermalu.
Tidakkah diri ini berdusta?
Tidakkah diri ini munafik?
Yah.. selamat datang malam. Aku tersenyum untuk diam. Tak terungkap kata hitam. Karena diri tak ingin meradang.
Semua menjadi saksi bisu. Akan tingkah keji nan lugu. Karena menghamba pada nafsu. Memang diri ini sangat tak bermalu.
Langganan:
Postingan (Atom)
