Pertama ku berharap kita dapat bersama menapaki jalan duri ini dan bersama mengarungi derasnya arus kehidupan ini.
Namun ku tak dapat mengikuti jejak langkahmu yang tak ku ketahui ke mana arah tujuannya.
Tetapi terus ku berusaha untuk mempersatukan hati kita, jiwa kita, dan langkah kita.
Sampai puncak kelelahanku hinggap dan akupun tak dapat berbuat banyak untukku juga untukmu.
Sesalanku menjalari seluruh tubuh membuat diri terus menjadi tak berdaya.
Namun kesedihanku terus memuncak karena sikap tak pedulimu pada jiwa lemah ini, jiwa bodoh ini, jiwa nista ini.
Di saat diri terpuruk dan membutuhkan dirimu, kau hanya berkata dan bersikap manis seadanya namun sangat hambar akan rasa peduli terhadap jiwa terpuruk ini.
Hingga ku tersadar, ku membuka mata, ku terbangun dari mimpi yang melenakan bahwa kau punya langkahmu sendiri yang tak ingin disentuh juga tak dapat kusentuh, hingga kau tersibukkan akan langkahmu itu.
Dan langkah juangku pun harus terus terlaksana tanpa harus peduli apakah mereka peduli ataukah tidak.
Ku yakinkan diri tuk tak tergantung pada sang makhluk karena merekapun lemah, sama sepertiku.
Maka gerak langkahku pun kuubah arah.
Aku harus dapat berjuang dalam hidup sendiri. Kalaupun ada pendamping yang menyertai, tak sepenuhnya aku bersandar padanya karena aku tak ingin tertipu kembali.
Dan sekarang kuucapkan dari hati:
"lanjutkanlah perjuanganmu itu. 4JJI Maha Tahu akan segala gerak langkah makhluk-Nya. Namun ingat teman, kau harus lihat disekelilingmu. Adakah yang bersedia mengulurkan tangan kepadamu? Jika ada, maka raihlah itu, renggut itu, dan rangkullah seerat mungkin. Jangan kau acuhkan, jangan kau biarkan, atau bahkan jangan kau buang.
Kau tahu kenapa ku berubah karena ku telah merasa kehilangan sosok yang kurindukan....
Kau... Saudaraku..."
