Terkadang kebisingan dunia membuat kita jengah akan peradaban yang saat ini sedang kita jalani. Kita dengan sangat menginginkan hilangnya kepenatan dalam diri sehingga jalanya roda kehidupan ini dapat terlaksana dengan penuh keikhlasan dan kesejukan di hati. Namun, apa yang diharapkan terkadang tak jua sirna. Peluh semakin tertumpuk bagai dedaunan pada belantara hutan rimba. Dan juga kelamnya Sang Malam tak jua menunjukkan tanda-tanda akan datangnya Sang Pagi. Perasaan itulah yang membuat datangnya Sang Keputusasaan. Dengan merajai jiwa, ia terus mengikis jiwa dan semangat manusia untuk terus berjuang. Apakah manusia tak dapat bertindak lagi?
Yah… pertanyaan inilah yang terus menjadi pertanyaan ‘klise’ di saat pertanyaan-pertanyaan lain tidak terpikirkan di dalam suatu forum diskusi para mahasiswa ataupun para profesional. Seyogyanya memang sangat mudah memperoleh tips hidup karena jaringan komunikasi yang telah sangat canggih di zaman ini. Dengan mudahnya kita berselancar pada dunia maya, internet. Ataupun dengan tidak mengenal batas jarak, kita dapat menghungi teman, sahabat, maupun saudara kita setiap saat untuk berbagi saran ataupun nasehat agar terus menyemangati kehidupan kita. Tapi bukan itu yang menjadi hambatan apakah rasa manisnya hidup itu dapat terus kita nikmati atau tidak. Bukanlah menjadi inti.
Sepatutnya manusia sadar diri akan keberadaan dirinya pribadi. Apakah ia hanya menggantungkan kehidupan pribadi sepenuhnya pada sarana dan prasarana kehidupan yang ia miliki saat ini atau tidak? Itulah yang menjadi hambatan dalam hidup. Manusia memang layak untuk memperoleh sejumlah nilai, baik itu uang, kehormatan, jabatan, ataupun bentuk lainnya atas usaha yang telah ia laksanakan. Namun, tidak patut menjadi sebuah alasan bila manusia menjadikan semua itu sebagai nilai kebanggaan dirinya, bahkan menjadi suatu nilai candu bagi dirinya.
Kita hanyalah manusia yang dengan akal logika menyadari bahwa kekuatan alam itu selalu berlaku. Perputaran roda kehidupan itu akan terjadi pada setiap jiwa yang memiliki nyawa. Sebesar apapun tenaga yang kita kerahkan untuk membentengi diri tidak akan melunturkan apa yang menjadi ketentuan bagi dirinya. Semua memiliki kendali dan pengatur yang dikuasai seluruhnya oleh Sang Pemilik Kekuatan yang Maha Dahsyat.
Dalam diri manusia memiliki panggilan jiwa untuk bertahan. Namun, bila semua ketidakberdayaan menyelimuti diri dan keterpurukan yang menjadi bisikan utama, kita tidak dapat berpikir jernih apakah semua ini berlaku baik atau tidak, yang terpenting adalah semua beban terpecahkan sempurna walau hanya untuk sementara.
Di sinilah letak titik pertentangan antara manusia yang dapat berpikir bijak dengan manusia yang dijajah oleh rasa kekalutan. Manusia bijak menyadari sepenuhnya bahwa manusia hidup tidak akan lepas dari masalah, baik itu masalah kecil ataupun masalah yang serasa dapat mengakhiri hidup ini. Bila satu masalah hidup terselesaikan, tidak akan pernah terjadi bahwa masalah lain menolak untuk menghampiri. Semakin tinggi perjuangan yang ia kerahkan, semakin besar pula terjangan yang akan ia hadapi. Yang menjadi kunci permasalahan hidup di sini adalah sikap hidup kita dalam menghadapinya.
Banyak manusia yang hidupnya penuh dengan sumpah serapah dalam ucapannya walaupun ia menghadapi kebaikan bagi dirinya. Banyak pula manusia yang hanya berdiam diri dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan namun ia ledakkan sewaktu-waktu apabila dirasa telah sangat membebani. Dan banyak pula manusia dengan santainya menikmati setiap liku kehidupan dengan jiwa menerima apa adanya. Bukan karena ia tak mampu untuk membentengi diri tapi ia ingin terus hidup dengan konsekuensi ia harus terus menyelami semua liku kehidupan tersebut.
Tidak dapat dipungkiri bahwa semua yang kita miliki dapat menjadi sarana dalam memperindah kehidupan ini namun hanya memiliki sifat yang sementara. Hakekat perjuangan ini adalah apakah manusia memiliki semangat yang tinggi, yang tak akan lekang pada kuatnya terjangan badai yang menghampiri. Pasang surut semua itu yang dapat terjadi karena permasalahan hidup memang tidak dapat terelakkan. Tapi, yang pastinya kita memiliki sandaran hidup yang memiliki jiwa penyemangat. Hampirilah ia. Jangan kita lupakan keberadaannya. Kapanpun itu, pastinya kita akan menyadari bahwa keberadaannya sangat kita butuhkan. Hakekat kehidupan terletak pada manusia itu sendiri yang bersumber pada Tuhan yang wajib menjadi Penopang kehidupan kita, tempat berserah diri kita. Dialah Sang Hakiki. Tak kenal waktu dan zaman karena Dia yang menguasainya. Ingatlah kapanpun itu, walaupun sekarang kita tidak menyadarinya, panggilan jiwa ketuhanan kita pasti akan berbisik tajam untuk segera terpenuhi. Kembailikanlah semua pada-Nya. Jalani kehidupan kita sewajarnya dan seoptimal mungkin. Karena hakekatnya kita wajib berusaha tanpa tahu kapan usaha kita akan berakhir. Ingatlah, sekali lagi ingatlah, bahwa hidup tak hanya sekali. Dunia ini hanyalah tempat permainan, seutuhnya hidup adalah pada akhirat kelak. Layakkah kita hanya bermain dan bersenang-senang di sini tanpa ada pelajaran yang kita ambil dari permainan tersebut. Hanya diri kita pribadi yang hanya bisa menjawabnya? Sedini mungkin semua itu harus tertanam dalam jiwa pribadi manusia seutuhnya.
Selamat menjalani kehidupan dengan rasa optimis akan manisnya kehidupan di akhirat kelak. Seperti apa itu? Bahkan akal pikiran pun tak dapat membayanginya.
