Terkdang untuk menatap ke depan itu sangatlah sulit karena diri sangatlah merasa kecil yang membuat diri merasa tak mampu untuk menginjakkan kaki tuk meidupan napaki kehidupan di masa dating. Tapi semua itu hanyalah sebuah kecemasan diri untuk tak bergerak dan tak bertindak dalam memecahkan permasalahan hidup ini. Aku yang di sini terus menentang diri untuk tak menghidupkan perasaan Sang Pengecut dalam menghiupkan kehidupan ini. Tak peduli apa kata pikiranku bahwa yang ku lalui akan sangat tak mungkin terlewati. Toh, aku masih punya Tuhanku yang pastinya akan membantuku dalam menjelajahi dunia yang telah digariskannya kepadaku yang aku tak tahu akan jadi apa aku di di dalam dunia hasil rancangan-Nya ini. Yang pastinya, aku diwajibkan untuk berusaha dan berusaha. Selebihnya hanya Tuhanku yang berhak menentukan apakah aku berhak atas hasil yang ku peroleh ata usaha ku tersebut. Ataukah aku harus memperoleh penundaan atas keberhasilan atas usaha ku tersebut. Aku yakin Tuhanku Maha Penyayang dan Maha Tahu atas segala makhluk-Nya. Ia tahu segala yang terbaik untuk hambanya sehingga dengan Kemahasayangan-Nya tersebut ia memberikan yang terbaik untuk hambanya tersebut, baik itu berupa keberhasilan ataupun berupa kegagalan (dibaca: penundaan keberhasilan).
Dengan perjuangan gigih, seseorang dapat serta merta memperoleh hasil yang memuaskan karena ia berhak atas hal tersebut. Tetapi dengan perjuangan yang tidak kalah gigihnya, kadang kala manusia memperoleh kegagalan yang telak, terpuruk jatuh tak berdaya. Bukan karena ia tak ingin keberhasilan ataupun karena usahanya yang setengah-setengah namun Tuhannya tahu bahwa keberhasilan belum layak untuk nya pada hari itu. Karena mungkin akan ada keberhasilan yang lebih besar lagi di hari esok jika ia berusaha kembali. Ataupun penundaan keberhasilan karena dengan keberhasilannya tersebut, ia mungkin akan menjadi lupa diri sehingga tak ingin berusaha kembali di hari berikutnya.
“Maka, apabila kamu telah selesai (dari segala suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah [94]:7-8).
Selalulah berbaik sangka terhadap Tuhan Yang Maha Bijak ini. Apapun yang telah kita peroleh, baik itu yang kita inginkan ataupun yag kita benci sekalipun, yakinlah itu merupakan yang terbaik untuk kita.
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada Ku.” (H.R. Syaikhani dan Turmudzi)
Namun dengan langkah bijak juga harus kita olah hal yang telah kita raih tersebut untuk menjadi hal yag sangat mengesankan di mata kita sendiri, di mata masyarakat sekitar, di mata dunia, dan yang intinya pergerakan kita harus memberikan kesan di mata agama.
“Orang yang berilmu itu bukanlah orang yang banyak ilmu agamanya. Tetapi orang yang berilmu itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya daqn dengan ilmunya itu ia menjauhi apa-apa yang tidak disukai Alloh Azza wa Jalla.”
