Tak akan ku perdayakan diri dalam matinya jiwa. Biarlah jasad mati, membusuk tak berdaya, asalkan tak pernah ku rasakan matinya jiwa, matinya nurani. Andai manusia tak pernah ada di bumi ini, tak akan kurasakan manis cinta, kasih sayang, serta manisnya perjuangan hidup.
Di sinilah ku pertama kali merasakan dingin, panas, marah, dan benci. Tak pernah hilang perasaan syukur itu walau diri terus disiasati untuk menghilang. Yah.. Diri tak ingin terbang bebas lepas mengikuti aliran pikiran yang terkadang dapat menyesatkan dengan dalih demi logika.
Bertahun lamanya aku berhenti menghadirkan diri pada-Nya. Bukan karena ku hendak berkhianat, namun tak kenalnya diri pada perjumpaan yang membahagiakan itu. Semua itu merupakan rahasia dari Nya. Mengapa aku dapat berdiri, mengapa aku berlari, semua tak luput dari rencana-Nya yang pastinya tak mengenal istilah keliru.
Dapatkah aku berhenti saat ini juga? Kenapa tidak?! Toh, hidupku adalah pilihanku. Namun aku tak akan melupakan keberadaan Tuhan dalam hidupku. Kehendak-Nyalah aku dapat hadir di sini. So pastinya, jangan sampai kita tak tahu aturan Sang Pencipta kita. Alat elektronik pun dalam pemakaiannya harus sesuai buku petunjuk dari sang pembuatnya. Kenapa hal tersebut harus dipertentangkan untuk hidupnya manusia. Ku pikir, silahkan saja hidup semaunya. Toh, hidup itu gak cuma sekali. Ada kehidupan lain setelah ini dalam rangka pembalasan atas tingkah kita di dunia.
(Gak percaya? Coba aja mati.. Tapi kalo gak enak, gak ada yang jamin bisa balik lagi.)
