Pernah sang ayah mengakatakan anaknya tidak berada di rumah ketika teman laki-lakinya mengajaknya untuk bermain, padahal anaknya ada di dalam rumahnya tersebut. Pada saat itu umur mereka dapat dikatakan masih bocah, masih duduk dibangku SD. Kepada keluargaku, meraka meminta supaya kalau bisa pada saat bulan Ramadhanitu juga proses itu berlangsung, yang memang pada saat itu Ramadhan telah siap kami sambut kedatangannya dalam hitungan hari lagi. Tapi dengan penuh pertimbangan yang matang akhirnya proses peresmian kami baru dapat dilaksanakan lima hari setelah Hari Raya Idul Fitri.
Semua dapat kukatakan berlangsung dengan sangat mulus. Kesepakatan itu membuahkan semangatku yang terus membara. Namun di rentang waktu menunggu tersebut kami tak berani untuk saling jumpa, bahkan SMS satu satu sama lain menyakan kabarnya pun tidak berani kami lakukan. Semua hubungan komukasi kami lakukan dengan perantara orang ke tiga. Semuanya adalah bantuan campur tangan-Nya jua, ia mempunyai seorang adik lelaki yang berperan sebagai perantara ku dengannya dan juga Mbakku berperan sebagai prantaranya dengan ku. Bahkan masih ku ingat dengan jelas, ia hanya SMS ku hanya untuk mengucapkan selamat Idul Fitri, itupun atas nama keluarganya. Namun untuk kesepakan rumah kami kelak, kami perlu kesepakan bersama secara langsung. Hingga kami memutuskan untuk bertemu secara langsung dengan disertai adik laki-lakinya sebagai “penjaga” hubungan kami. Ini juga sebagai wujud serta mertaku terhadap sebuah buku yang pernah ku baca bahwa sebaiknya setelah menikah harus pisah rumah dengan orang tua. Itulah langkah, yang insyaALLAH, baik untuk kehidupan kami kelak.
Hari-hari pun berjalan dengan jiwa yang membuncah, jiwa yang menanti, jiwa yang tak jelas apakah timbul atau tenggelam. Namun semua itu alhamdulillah hubungan kami masih tetap dilindungi ALLAH SWT terhadap perilaku yang dapat membuat-NYA murka.
Hari H pun telah tiba, kami dihadapkan pada puluhan tamu undangan untuk menyaksikan peresmian hubungan kami, akad nikah kami. Dengan penghulu yang diminta sendiri oleh calon istriku, yaitu Ayahnya sendiri. Ia berkata kepada ku bahwa gladi dulu, coba-coba dulu. Namun para tamu mungkin tidak mendengar, sehingga mereka mengira perkataan akad yang kami ucapkan dengan lagak meyakinkan itu adalah serius. Hingga dijung ucapan akad kami dengan lafadz Arab telah kami ucpakan, sang penghulu berkata agak lebih kencang ini adalah gladi, percobaan. Sontak semua tertawa karena tidak menyangka akan keseriusan kami. Setelah itu, calon ayahku menyalami dengan lebih kencang untuk akad yang seriusnya, yang membuat ku hampir lupa apa yang akan aku ucapkan nanti untuk memjawab akd darinya. Tapi semua itu berjalan dengan lancar sekali. Dan resmilah hubungan kami. Setelah itu kami berjalan bersama dan betapa kagetnya aku tanganku tiba-tiba digaet oleh istri baruku ini. Berbisikku padanya mau-maunya akhwat menggandeng ikhwan. Eh.. malah menjawab masak kita dah resmi tapiberjalan kayak lagi bermusuhan. He… he… aku pun tersenyum sendiri bila ingat hal itu.
Dengan dibalut suasana yang sangat sederhana, pesta perkawinan kami pun kami gelar. Tanpa adanya panggung yang biasa ada pada pesta pernikahan pada umumnya. Kamipun berbaur dengan para tamu undangan, di mana istri ku duduk di antara para tamu undangan wanita dan aku pun duduk diantara para tamu undangan laki-laki. Namun begitu ingin mengabadikan acara ini, kami kebingungan untuk mencari tempat untuk berfoto bersama yang biasanya berlangsung di atas panggung. Akhirnya di belakang tulisan MOHON DOA BAROKAH kami berfoto ria di situ dengan kameraman yang disewa khusus hanya pada hari itu dari kelaurga kami sendiri, alias gratiasan.
Kejadian lucu baru tersadar setelah foto-foto itu berlangsung yang seharusnya sang lelaki berada di kanan dan wanita di kiri, ternyata posisi kami malah sebaliknya. Sehingga bila memandang foto-foto kami terlihat jelas kejanggalan itu.
Ya ALLAH… betapa nikmat yang kau berian sangatlah besar kepada ku. Tak terpikir ku bantuanmu sangatlah dahsyat terhadap makhluk-MU ini. Semoga rasa syukurku terus menelimuti segenap jiwa raga ku kepada-MU sepanjang hidupku. Tak berkurang sediitpun. Bahkan kuharapkan terus meningkat.
Semoga dengan walimah penikahan ini, menjadikan ke dua sosok ini menjadi tambah kaya. Kaya ilmu, kaya pengalaman, kaya harta, dan sebagainya. Barakallohhulaka…
