Selasa, 01 Januari 2008

KELEMAHAN HINGGAP KEMBALI

Bergeraklah atau Kau akan mati...
Istirahatnya sang mujahid adalah pada saat ruh tak lagi melingkupi diri.
Untuk yang kesekian kalinya aku mengalami kelemahan. Kelemahan yang membuat diri tak berdaya tuk bertindak. Entah ini untuk yang ke berapa kalinya. Dewasa ini, tubuh ini sangat mudah sekali memberontak. Tuk terus membujuk dan membuai diri agar diri berhenti bertindak, apapun itu. Tapi aku sangat tidak menginginkan rayuan gombal itu. Rayuan yang dapat memperdayakan. Karena aku tahu semua tipu dayanya. Dengan alasan tuk memulihkan kembali kondisi diri, diri menghentikan semua apa yang harus dilakukan. Tapi nyatanya tak beda dengan saat diri bertindak. Kelemahan merasa menang, merajai semangat bara jiwa tuk terus bergerak. Yah... Aku telah terperdaya.
Saat ini aku telah diselimuti kebimbangan yang nyata, Kebimbangan yang bukan karena keputusan apakah aku harus menghentikan kegiatanku atau tidak. Aku tak ingin terperdaya olehnya untuk yang ke dua kalinya. Namun terus menerus diri ini merasa tak berdaya untuk menghadapi tantangan hidup yang berada di depan mata. Sejauh diri melangkahi jejak tuk maju ke depan, sejauh itu pula pemberontakan diri kian menjadi tuk hentikan langkahku yang harus ku rintis pada permulaan hidup ini.
Diri hanya mampu berkata, "Jiwa, sabarkan dirimu. Kuatkan tekadmu. Dan lapangkanlah dirimu tuk menerima semua yang Kau terima saat ini."
Di balik relung yang paling dalam, Aku terus mempertanyakan, "Haruskah sesering ini Aku merasakan peluh dan letih ini? Haruskah rasa ini terus berkepanjangan? Mengapa harus Aku yang menghadapi semua ini? Aku yang harus terus berkeinginan tuk menghentikan langkahku di persimpangan jalan, walaupun hanya untuk sementara.
Pertanyaan itu menjadi sirna kala ku ingat hadist nabi Muhammad SAW:
"Tidaklah seseorang merasakan sakit dihina atau tertusuk duri kecuali Allah menggugurkan dosanya, bagai gugurnya daun-daun"
Yah... Mungkin Allah sangat sayang kepada ku. Mungkin Allah tak menginginkan ku terus dalam kubangan dosa yang terus menggunung.
Atau mungkin juga Allah sedang memberi ku peringatan bahwa bahwa kapanpun dan di manapun aku harus terus mengingat-Nya seperti dalam keadaan sakitku ini.
Atau mungkin juga dengan sakitku ini Allah memberikan ku sedikit teguran bahwa nikmat sehat itu adalah nikmat yang sangat tak ternilai dan sangat mahal harganya. Namun nikmat itu seringlah dilupakan. Dan barulah dapat dirasa apabila dalam keadaan sakit seperti ini.
Aku terus introspeksi diri. Tak mungkin Allah memberikan yang tidak baik untuk hamba-Nya karena Allah benar-benar sangat menyayangi hamba-hamba-Nya. Dan aku pun terus berbaik sangka terhadap segala yang telah dan akan Allah berikan. Karena dengan adanya perasaan berbaik sangka ini, hidup kita akan terus berisi semangat dan optimis yang menggebu.
Tak seperti biasanya, aku saat ini terus merasa jenuh dan peluh akan semua yang kujalani karena kondisi tubuh yang terus menyeruak berontak. Dengan penuh kepayahan terus ku upayakan impianku agar terus dapat tercapai dan terus dapat ku rengkuh, yang pasti dengan usaha dalam pencapaiannya tersebut. Tak kunjung ku padamkan semua cita-cita diri dalam meraih hidup yang terus lebih baik di esok hari walau jurang terjal menganga lebar bak samudera tanpa batas. Aku bertekad "Aku Harus Terus Bergerak Dan Allahlah Sebagai Sang Dewan Juri dalam Kehidupan Ini."