Tak kusangka semua begitu cepat prosesnya. Memang benar-benar tangan-Nya telah ikut berperan dalam seluruh proses kehidupanku. Pada saat ku berpikir bahwa halangan rintangan itu sangat sulit dilewati. Ternyata dipenghujung perjuanganku, pertolongan bertubi-tubi datang menghampiri. Yang semuanya itu, membuatku mencapai sesuatu yang diharapkan, bahkan lebih dari itu, hasil yang di dapat sangat menggembirakan.
***
Semua itu berawal pada perkenalan ku pada seorang akhwat yang pada saat itu sedang berkunjung ke rumah kakak perempuanku, yang biasa ku panggil Mbak. Kebetulan juga ku berada di rumah Mbak ku pada saat itu. Mbakku menawarkanku untuk berkenalan dengan temannya tersebut. memang ku pikir pada saat itu, "resek"nya Mbakku mulai kumat. Masak tiba-tiba ku menyodorkan diriku tuk berkenalan dengan seorang akhwat, yang nota bene, semua sikap tingkah laku harus terjaga antara lawan jenis yang nonmuhrim. Kontan saja, aku tanpa pikir panjang langsung menolaknya. Toh aku juga tahu penawaran Mbakku hanyalah bercanda karena dengan umurku saat ini yang sebenarnya telah layak untuk melanjutkan jenjang itu dan juga aku secara umum telah punya modal, minimal pekerjaanku alhamdulillah telah tetap saat ini. Tapi pikiranku masih belum terlaku fokus ke sana. Aku masih ragu untuk itu dan juga keberanian ku untuk "menembak" seorang akhwat untuk hidup bersama itu masih jauh.
Namun itu merupakan perjumpaanku dengannya yang pertama saat itu. Aku tak tahu bagaimana paras mukanya saat itu. Karena selama ia berada di rumah kakaku, aku tak berani menampakkan dirikudi depannya, bahkan untuk mengintippun, untuk sekedar ingin tahu siapa sih teman Mbakku itu, aku tak berani. Jadi pertemuan itu hanya berawal dengan perjumpaan satu arah. Dimana aku hanya melihat sosoknya secara sekilas namun ia pastinyatidak tahu keberadaanku di rumah Mbakku pada saat itu.
Namun entah mengapa, setelah kejadian itu semangatku dalam menggenapkan dien-ku sangatlah mengebu-gebu. Bagai kobaran api yang berada pada puncak panasnya yang sangat membara. Pastinya aku yakin keyakinanku ini tidak terlepas karena hidayah dari-Nya jua.
Setelah mengalami proses yang dapat ku katakan sangat singkat, ta'aruf dengan akhwat tersebut berlangsung. Ada apa dengan beliau, daya tarik magnetiknya sangatlah kuat menarik hati dan diriku terhadapnya. Padahal sebelumnya, sangatlah jauh dari pikiranku untuk melakukan hal ini. Serasa mendidih tubuhku ketika berhadapan dengan seorang akhwat. Yah... bisa dibilang aku gerogi pada saat itu. Kami tak berani saling pandang satu sama lain. Sekali lagi ini merupakan campur tangan ALLAH SWT terhadap salah satu proses kehidupanku, yang menjadi the unforgettable moment in my life.
Kuingat sebelumnya orang tuaku berkata bahwa jangan mencari seorang istri dari keluarga yang sangat kaya. Karena sangatlah sulit untuk mengajak seseorang yang kesehariannya terbiasanya hidup enak untuk hidup prihatin, serba kekurangan. Karena ku akui, keluargaku bukanlah tergolong keluarga yang serba berkecukupan. Malah sebaliknya keluargaku merupakan keluarga yang serba kekurangan, namun bagiku tetaplah sebagai keluarga yang membahagiakan. Rezeki adalah haknya ALLAH terhadap kita, jadi pasang surut dalam hidup harus siap diarungi. Sesusah apapun itu ataupun sebahagia apapun itu, semua harus dijalani. Kuingat beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang mengenalkan seorang akhwat pada orang tuaku dengan hanya menguraikan identitasnya saja, yang tentunya orangnya tak berani ku bawa serta ke rumah. Toh aku juga tidak begitu kenal dengannya. Namun ternyata ayahku tahu bahwa ia berasal dari golongan kelas ekonomi atas, setidaknya jauh bila dibanding denganku. Ayahku bukannya tidak setuju namun menekankan kalau bisa jangan. Karena ia telah terbiasa dengan hidup senang dari kecil sampai saat ini ia dewasa. Bukanlah kesalahan ia yang dianugerahi ALLAH SWT menjadi angota keluarga berada, namun untuk berbakti kepada orang tuaku, aku tak mengambil langkah berikutnya ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Patut ku syukuri setelah proses ta'aruf tersebut, terus berlanjut pada pertemuan antara kedua orang tua kami. Semua, sekali lagi ku katakan, seperti mimpi, berjalan ngalir tanpa adanya hambatan yang berarti dalam proses ini. Dan alhamdulillah kriteria akhwat ini telah memenuhi syarat dari orang tuaku tersebut, tidak bersal dari kelurga kelas atas. Aku tak ikut dalam proses pertemuan itu karena itu adalah urusan antara orang tua masing-masing kedua belah pihak. Aku kaget ketika ayahku bercerita bahwa saat pertemua itu berlangsung orang tua ku tanpa basa-basi lagi langsung bertanya kepada orang tua dari pihak Sang Akhwat apakah ia mau diajak hidup sengsara. Namun syukur alhamdulillah jawabannya pun sesuai harapan orang tua ku, ia siap untuk hidup prihatin.
Dan dari pihak akhwat ternyata proses tindak lanjut untuk melegalkan hubungan kami secara hukum agama dan negara harus dengan segera. Karena untuk menjaga agar dengan adanya ikatannya yang masih belum resmi ini dapat menjadi ladang kekufuran buat kami. Merajalelanya zina mata, zina hati, zina telinga, dsb. Memang kuakui Sang ayah akhwat tersebut sangatlah protected terhadap anaknya bila berhubungan dengan hal-hal ini. Apapun itu, pernah sang ayah mengakatakan anaknya tidak berada di rumah ketika teman laki-lakinya mengajaknya untuk bermain, padahal anaknya ada di dalam rumahnya tersebut... (bersambung)
