Tak selamanya hidup ini penuh dengan derita. Karena suka pun selalu menghiasi kehidupan yang indah ini.
“kapan sampe di sini, Pras” pagi itu ia menegur diri.
“kemaren pagi pak” sambil berjalan pulang dari sholat shubuh meninggalkan masjid dengan setengah kaget dan bingung “ kok bapak itu tahu namaku ya?” bisikku
“dah langsung ditempatkan kerja kan?” tanyanya kembali .
“alhamdulillah sudah Pak” sambil menundukkan diri, tak mampu menatap tatapannya yang dapat membuat hati menjadi riya.
***
Suasana baru dalam kehidupan yang baru telah ku raih. Setelah perjuangan menentang segala apa yang diidam-idamkan selama ini. berpenghujung pada kebahagiaan. Perjuangan itu menjadi sangat berarti.
“Pras, mau mengambil jurusan apa nanti untuk SPMB?”
”pengen banget sih masuk jurusan matematika. Tapi aku bingung, Wan, ke depannya kok gak ada harapan ya. Yah.. paling-paling jadi guru. Makanya kuberalih pengen masuk tehnik kimia ajalah” jawabku pada Iwan teman sekelasku.
“Yah enak kamu, masih nyambung dengan semua materi di sekolah. Lah aku ngitung aja susah banget. Nih liat nilai ujian matematikaku gak ada yang gede. Semua jeblok.”
Iya juga ya ku pikir. Aku harus bersyukur dengan apa yang kudapat saat ini. Tapi itu semua tak cukup membuatku berbangga hati.
“Tapi disisi lain kamu kan punya banyak sekali kelebihan dari ku, Wan. Dalam organisasi, kamu dah pernah jadi ketua OSIS. Sekarang juga organisasi tak pernah Kau tinggalkan. Kamu juga adalah sang orator ulung, terbukti dengan kamu selalu menjuarai lomba pidato yang kamu ikuti. Iya kan?!”
“Yah Pras.. itu kan gak di pake dalam ujian SPMB nanti…!!”
“Ye.. emangnya kamu mau pidato di SPMB nanti. Yang kumaksud itu kamu bisa mengembangkan itu semua yang dapat dijadikan modal untuk kehidupanmu kelak. Kita kan wajib berusaha. Toh yang nentuin juga kan Allah. Karena dialah yang punya otoritas akan semua itu.”
“ Okeh Bos,, thanks kawan..” senyum simpulnya menghiasi raut mukanya.
***
Tapi keadaan berbalik arah setelah Aku mengetahui hakekat dari kemandirian. Aku tak ingin menyusahkan orang lain , sekalipun itu orang tuaku.
“Bu, kan Pras bisa jualan sambil kuliah nantinya.” Pintaku padanya.
“Yah Ibu ngerti tekadmu Pras. Tapi Ibu tetap khawatir dengan keadaanmu nantinya. Ibu juga gak mau melepas mu dengan keadaan seperti itu.” Jawaban yang bijaksana dari Ibu setelah kunyatakan niatku yang ingin memasuki suatu perguruan tinggi ternama di luar kota.
“Masalah kos gak usah dipikirin banget. Nanti kan bisa nginep di masjid aja, jadi marbotnya gituh. Bu,,!!” jawabku dengan sambil tersenyum, tetapi dalam hati itu telah menjadi tekadku.
“Ye.. emangnya kamu mau kayak gituh. Lagian juga hidup terpisah itu mahal, Pras. Kamu tahu kan gaji ayah mu berapa sekarang. Kamu udah bisa makan dan sekolah tinggi aja udah syukur. Kalo orang lain belum tentu seperti kamu dengan gaji orang tuanya yang segitu..”
Ibu dengan bijak memaparkan yang telah menjadi pikirannya selama ini. Terpikirku untuk menjawab semua itu. Tapi aku tak tega dengan itu semua. Ibu, tak ingin kulukai hatimu. Tak ingin ku menjadi bebanmu untuk ke depannya. Tak ingin berkepanjangan hidupku selalu tergantung dengan mu.
Yah biarlah semua itu, yang telah ada kesempatan di depan mata, ku buang jauh. Karena aku harus beralih pada kehidupan baruku. Yang tak ada sama sekali dalam pikiranku sebelumnya. Sedikit pun tidak ada. Tapi demi berbakti ku pada mereka. Aku rela melepas itu semua. Walau sakit untuk dilalui.
***
“Pras kamu lulus,, selamat ya..!” telepon dari temanku setelah melihat pengumuman terlebih dahulu.
“Yang bener Yan?!”
“Iya, masak Aku tega bohongin Kamu sih”
“Alhamdulillah. Kamu gimana? Lulus juga kan?!” tanya ku balik kepadanya.
“Gak Pras, ah.. gak papalah, gak masalah kok.” Jawabnya dengan disertai tawa yang terdengar dari teleponku yang sangat terasa untuk menutupi kekecewaan diri.
“Mungkin rezeki kita berbeda yah Yan. Kamu pasti akan dapat tempat yang terbaik dari Allah pastinya ya..!”
Sangat jelas sekali perjalanan panjang itu yang kulalui. Dialah yang sangat berantusias sekali untuk memasuki “dunia aneh” itu. Aku pun tahu bukaan pendaftaran itu pun dari dia. Tapi mengapa aku yang terjerumus disini ya?! Ada tangan ALLAH SWT yang ikut andil dalam penentuan semua ini.
***
Ayahku memanggil ku dengan suara yang sedikit agak berbeda saat itu. Ia terlihat sangat berbahagia sekali. Setelah aku menghampirinya. Ia mengulurkan tangannya kepadaku, memberiku sepucuk surat.
“Apaan ini?” tanya ku.
“Surat dari Universitas yang Kau ajukan. Kamu lulus tanpa tes disana Pras.”
Muka ku merah. Besegera tanganku membuka amplop tersebut. dan tertulis jelas, dengan font paling besar dan dihitamkan yang berada pada posisi center tertuliskan LULUS. Baru kuperhatikan nama yang tertera di situ siapa tahu bukan namaku. Jantungku tambah berdebar kencang setelah namaku tertera disitu. Prastyawan Pramudya. Ya Allah rahasia apa lagi yang Kau anugerahkan padaku. Disisi lain itu merupakan kenikmatan yang patut ku syukuri. Namun di sisi lain ini, membuat ku bimbang dengan pilihan mana yang harus ku ambil.
***
Perjalanan perjuangan menuju masa depanku tak berhenti sampai di situ saja. Selama ku tak tahu harus kemana dan sebelum kepastian Aku masuk ke mana, ku ikuti tes yang bisa memenuhi syarat bagiku...(bersambung)
