Kamis, 27 Desember 2007

AYAH

Terkadang tak terpikir dalam menjalankan hidup ini akan peran besarnya terhadap diri. Bahkan terkadang ku seolah menutup mata dan melupakan jasa besarnya.
Tidakkah menjadi perhatian, diri ini tumbuh dan berkembang dengan hampir sangat sempurna karena salah satunya atas usahanya atas diri ini. Dan lihatlah posisi yang diraih saat ini, apakah itu terlepas dari jasa beliau? Tidak… sama sekali tidak…
Beliau dahulu selalu berada di sampingku, bahkan ku menangisinya ketika tak berada di pangkuanku. Tapi sekarang… apakah aku berlaku demikian? Belum tentu… Tapi di balik itu semua, aku dahulu merindukan keberadaanya, mendambakan rasa kasih sayangnya, dan pastinya, merasa tenang dan damai bila berada dalam pelukan hangatnya.
Dia lah sosok kuat nan tegar dalam menghidupi suasana rumah. Dialah sang pemimpin yang sangat perkasa. Sang manager keluarga yang super profesional, sehingga dapat menghasilkan sosok diri ini. Sosok yang mungkin didambakan beliau dahulu. Sosok yang beliau saat ini banggakan.
Yah… dialah AYAH…
Sangat jelas diingatan. Kau dahulu mampu menggendongku dan kakakku sekaligus di atas bahumu. Bahkan sesekali ku menarik rambutmu hanya untuk memberi keseimbangan diriku. Yang kesemuanya hanya untuk membuatku tertawa. Hanya tuk membuatku bahagia. Hanya untuk memberi pengetahuan kepadaku bagaimana rasanya berada pada posisi ketinggian.
AYAH…
Ku ingat Kau membawa ku ke suatu tempat bersama dengan kakak. Yah… Kau sendiri yang membawa kami berdua menaiki bus angkutan umum dan menyeberangi sungai dengan sebuah kapal angkutan umum tuk menunjukkan kepada kami dunia luar. Seolah saat itu Kau berkata, “Nak, dunia tak sebatas di dalam rumahmu, di keluargamu, atau bahkan disekitarmu saat ini. Lihatlah duniamu ada daratan. Tapi jangan lupakan duniamu juga ada perairan.”
AYAH…
Tiap pagi Kau berangkat kerja tuk menafkahi keluargamu dengan sepeda tuamu, kendaraan kesayanganmu satu-satunya, senjata hidupmu. Padahal ku tahu, jarak yang Kau tempuh tak dekat. Butuh waktu lama tuk menjangkaunya. Namun Kau tetap teguh pendirian tuk setia pada senjata hidupmu itu. Demi istrimu, demi anak-anakmu, demi seluruh keluargamu. Yang Kau lupakan dirimu demi semua itu.
Setelah pulangnya dari tempat kerja, Kau tertidur pulas di bilik keluarga. Bahkan terkadang keringatmu menyertai nyenyaknya tidurmu. Nafasmu terengah. Kulitmu kuperhatikan memerah karena teriknya sinar sang mentari menyapamu. Semua itu Kau relakan demi keluargamu.
Padahal dengan uang yang Kau raih, Kau dapat membeli kendaraan bermesin yang tidak melelahkanmu. Atau setidaknya Kau dapat naik angkutan umum yang tidak membuat kulitmu berteriak kepanasan. Tidak… Tidak… Semua itu tak Kau lakukan. Karena cerdasnya manajemen keluargamu. Kuatnya rasa khawatirmu terhadap kebutuhan keluarga. Terlebih terhadap Kami, anak-anakmu.
AYAH…
Kulihat ada orang yang rela menjerumuskan dirinya dalam dosa demi menafkan keluarganya. Yah.. demi kecintaaanya terhadap keluarganya, tentunya. Namun Kau kulihat, tak rela membiarkan diri-diri Kami dalam keluargamu menyentuh panasnya nafkah setan, tak berkahnya harta haram. Padahal ku tahu, semua itu disertai dengan konsekuensi yang berat. Kau harus bekerja banting tulang. Demi semua itu, ku salut, Kau merelakannya.
AYAH…
Kau tak henti-hentinya menunjukkan ketegaranmu di hadapan anggota keluragamu. Padahal ku tahu Kau lelah, Kau letih, Kau sangat butuh pertolongan kami. Ku tahu beban itu sangat berat sekali untuk Kau pikul sendiri. Tapi Kau tersenyum dan dengan hangatnya Kau memeluk dan menciumku. Yah… mungkin dengan ulah manjaku semua rasa itu dapat lenyap.
AYAH…
Terlihat sekarang Kau telah banyak berubah. Setelah sekian lama tak berjumpa. Kulitmu tak sekencang dulu, saat Kau masih berjiwa muda. Satu per satu rambutmu dipenuhi hiasan putih yang menandakan saat ini Kau tak muda lagi. Tubuhmu seolah tak mampu lagi menopang jiwa semangatmu yang masih menggebu, sehingga terkadang lelah dengan mudahnya menyerangmu. Rentamu terselimuti penyakitmu yang silih berganti pergi.
Ayah sekarang Kau telah banyak berubah. Masamu tak lagi seperti dahulu. Saat semua penuh semangat, penuh gairah, penuh dengan perjuang keras. Kau tetap tuk meraih semua itu. Kau tunjukkan padaku bahwa dirimu tak kalah dengan usiamu.
Ku tahu, AYAH… semua itu adalah pelajaran yang diperuntukkan kepadaku. Namun rasa egoisku terkadang enggan tuk menerimanya, enggan tuk melakukannya, bahkan terkadang menentangnya dengan tindakan. Yang semua itu membuatmu sedikit kecewa terhadap diri walau tak Kau nampakkan secara nyata di wajahmu.
Aku yang telah beranjak dewasa, merasa tak pantas lagi berjalan berdampingan dengan mu. Yah dengan berdalih “aku telah dewasa”. Padahal saat ini, dialah yang membutuhknku, butuh tuntunanku saat ia berjalan, butuh arahanku saat matanya tak awas lagi melihat dunia yang seolah telah Kau telan mentah-mentah. Bahkan terkadang Kau dengan bersusah payah pergi ke tempat tujuanmu sendiri karena Kau tak ingin menyusahkan orang lain. AYAH kumohon,, katakanlah kalimat itu. “Tolong Nak!”
Sekarang hanya dapat ku bayangkan wajah tegarmu, tubuh perkasamu, jiwa sejukmu. Karena Kau telah berada jauh dariku. Karena Kau tak lagi di sampingku.
Jasamu kan selalu kukenang, kan selalu ku abdikan, kan selalu ku terapkan untuk kehidupanku. Karena itulah yang Kau ingin selama ini. Kau ingin ku tegar sepertimu, perkasa sepertimu, kuat sepertimu. Akan dan selalu akan kulakukan semua.
Terima kasih AYAH. Smg semua jasamu beriringan dg kebaikanmu, semuanya diterima sbg amalan bekalmu di Hari Pertimbangan kelak.