Telah jauh dalam jarak tuk menggapai semua yang ku inginkan.
Kecintaan tarhadap sesuatu menjadikan ku sulit melepas semua itu. Begitupun juga terhadap mereka. Sulit ku untuk menjauhi mereka. Hati telah terpaut bersama mereka. Semua kenangan masih melekat dalam pikiran. Awal perjuanganku diawali kebersamaan dengan mereka. Semua sulit dan mungkin tak akan terlupakan.
Kebersamaan itu berawal pada pertemuan akbar yang hanya dilaksanakan satu tahun sekali. Aku yang saat itu tak terpikir akan masuk menjadi bagian dari orang yang bergelut dalam acara itu, tiba-tiba secara mendadak ditarik oleh temanku, yang juga baru kenal pada saat itu. Dengan berbekal keyakinan bahwa ini adalah kesempatan untukku dengan tanpa pengalaman apapun, aku menerima semua itu. Aku yakin ALLAH pasti akan menlongku.
Keesokan harinya adalah pertemuan pertamaku dengan mereka. Aku masih belum paham tentang semua yang harus aku lakukan pada saat itu. Yang pastinya aku harus memimpin dan juga menuntun mereka selama kurang lebih satu minggu dalam mengikuti acara �wajib� mereka tersebut. kadang terbersit perasaan tak yakin akan apa yang harus aku lakukan karena teman-temanku yang mengemban tugas yang sama sepertiku saat ini telah mendapat pelatihan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan berbulan-bulan yang lalu. Lah.. aku saat ini belum ada basic apapun, tiba-tiba saja harus siap untuk menjadi pemimpin bagi mereka. secara mental aku telah memaksakan diri untuk siap sepenuhnya. Tapi tidak mungkin bermodal semangat saja, tanpa tahu konsep acara sepenuhnya. Apa yang harus dan sebaiknya aku lakukan untuk mereka, aku masih belum jelas.
Untungnya aku masih bisa bertanya kepada temanku yang mengemban tugas yang sama dengan ku. Hampir tiap konsep acara aku bertanya kepadanya. Alhamdulillah.. ini memang benar-benar suatu mukjizat yang diberikan ALLAH kepadaku. Aku yang saat itu juga baru mengenalnya, tetapi aku merasa telah sangat lama mengenalnya dan kami pun bergelut dalam acara itu dengan tak ada kecanggungan layaknya perlakuan terhadap orang asing. Bahkan hubungan kami dapat dikatakan sangat dekat. Mungkin semua itu karena ada perasaan saling membutuhkan dan yang yang pastinya ada perasaan hubungan yang lebih hakiki antara aku dan dia, kami adalah saudara seiman.
Entah mengapa aku sering merasa terharu atas apa yang mereka perlakukan terhadapku. Aku diperlakukan selayaknya pemimpin yang benar-benar layak untuk memimpin mereka. Mereka tak tahu padahal aku hanyalah sebagai seorang pengganti, yang tentunya telah melalui seleksi yang ketat, buat mereka. Sedang aku hanya melalui jalur �penjerumusan�. Tetapi aku berusaha untuk menjadikan diriku yang terbaik untuk mereka. Amanah yang ku emban ini harus terlaksana dengan seoptimal mungkin. Dan yang pastinya semua harus diniatkan hanya untuk ALLAH semata.
Hari-hari ku lalui dengan rasa kebersamaan yang sangat kental. Walaupun memang rasa itu karena kami saling membutuhkan, tetapi semoga saja rasa itu tak lekang dimakan waktu. Rasa lelah, ngantuk, sakit mewarnai perjuangan kami demi melewati masa untuk memasuki pintu gerbang menuju kehidupan baru bagi mereka. Satu hari penuh selalu kami lewati bersama dengan kegiatan yang harus penuh dengan semangat. Malamnya pun harus dilalui dengan tugas yang dapat dibilang tidak sedikit. Akupun dengan semangat yang lebih pula harus menemi mereka untuk mengerjakan itu semua. Dan terkadang juga harus ikut terjun membantu mereka mengerjakan tugas-tugas itu, walaupupun tidak sering. Satu yang menjadi penyemangat diri dalam melewati ini semua, karena aku melihat pancaran semangat mereka yang tinggi dan juga karena perlakuan mereka yang sangat berpendidikan.
Terkadang disela-sela letihnya kami melewati semua yang harus dilewati, ada satu anggota kelompokku yang tak henti-hentinya membuat lelucon yang harus membuat kami tertawa karena tak tahan dengan kelucuan sikapnya tersebut, sehingga keletihan dan peluh kami pun sedikit terobati karena leluconnya. Bahkan ia sempat membuat istilah aneh kepada teman-temannya yang melakukan tindakan �bodoh� karena khilaf dengan menyebutnya bahwa �otaknya lagi dirental�.
Yah semua itu dilalui dengan penuh warna. Letih, bosan, ngantuk, suka, haru, dan yang paling dominan adalah ceria. Kami menjuluki kelompok kami, kelompok yang ku pimpin, dengan istilah �kelompok yang paling aneh dan paling gila�. Yang pastinya bukan aku yang masuk di dalamnya He.. He..
Satu minggu dilalui sudah. Akhir pertemuan kami dilaksanakan dengan suatu ceremony akbar yang mengharukan, yang kalau diperkenankan untuk menangis aku melakukannya saat itu. Kuajak mereka semua yang muslim untuk mengerjakan sholat magrib berjamaah di masjid. Setelah itu mereka pulang. Sedang aku dan salah satu anggota kelompokku yang rumahnya satu arah denganku masih berada di tempat itu. Aku lupa bahwa mereka harus menukarkan kado masing-masing yang mereka bawa. Tapi dia mengeluarkan kadonya, yaitu satu kotak kembang api. Yah mainan anak kecil, tapi kami menghidupkannya di situ dan kami berdua menikmati keindahan pancaran cahaya yang ditimbulkannya di saat waktu yang mulai merayap menuju pada kegelapan malam. Dengan perasaan yang sulit untuk dingkapkan, kami berdua duduk dan saling berbincang dengan dihiasi tawa dan canda. Yah.. hanya kami berdua, layaknya sang adik yang sedang bersenda gurau bersama sang kakak. Setelah itu adzan menghantarkan kami dalam pulang perjalanan menuju rumah masing-masing, sehingga aku mengajaknya untuk singgah ke masid untuk menunaikan shalat isya terlebih dahulu. (bersambung)
