Senin, 31 Desember 2007

Cahaya Yang Datang Tiba-Tiba (2)

Namun dia bertanya kepadaku, "Kamu sakit ya?"
Aku tetap ingin dia tak menanggung beban yang ku rasa saat ini, namun di sisi lain aku tak mampu untuk berbohong kepadanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa ku utarakan keadaanku saat ini kepadanya. Dan ia pun dengan penuh kasih sayang menyarankanku untuk berobat ke suatu klinik yang berada tidak jauh dari rumahku. Awalnya aku enggan memenuhi permintaannya karena aku telah berobat di klinik layanan gratis tertuju untuk mahasiswa sepertiku. Namun ia berkilah, kalau pemeriksaan di sana tidak serius dan sangat tidak komprehensif. Akhirnya aku berterima kasih dan mempertimbangkan sarannya tersebut. Setelah ku serahkan draft konsep lomba itu, aku meminta maaf hanya bisa melakukan itu, dan tidak bisa membina mereka. Ia sangat memaklumi semua itu dan malah menyarankanku untuk terus istirahat.
Jadwal kuliah ku tak ku hentikan karena aku tak betah dengan terus berada dalam rumah. Dan juga karena kuliahku sangat terikat pada absen, sehingga untuk tidak masuk kuliah itu sangat dibatasi jumlahnya. Aku seringnya tak memperhatikan penjelasan yang diberikan sang dosen karena kepalaku seakan tak mampu lagi untuk dimasukkan materi-materi itu dan juga kepalaku seakan terus bergoncang dan membatu, sehingga, kalau bisa, ingin ku lempar saja kepala ini dan ku gantikan dengan yang baru yang lebih nyaman.
Di sela-sela pemberian materi oleh dosen, aku terpikir untuk memenuhi saran temanku. Akhirnya aku meng-SMS-inya dan menanyakan kesediaannya untuk mengantarku ke klinik yang ia sarankan nanti malam karena aku belum tahu pasti tempatnya. Alhamdulillah, ia bersedia untuk itu.
Akhirnya malam itu kami berdua menuju ke klinik. Seperti dugaanku, setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sang dokter menyarankan ku untuk check darah karena demamku yang telah lama dan tak kunjung turun. Kami menunggu beberapa saat untuk melihat hasil dari pemeriksaan darahku yang telah diambil tadi. Aku pun dipanggil ke ruangannya kembali oleh sang dokter dan menjelaskan kepadaku tentang hasilnya, yang intinya aku terserang penyakit Tifus.
Setelah menerima resep darinya, aku menuju ruang obat yang masih dalam satu ruangan dengan klinik tersebut. Lalu ku selesaikan semua administrasi termasuk pembayaran biaya-biaya yang ku nilai sangat tidak sedikit.
Alhamdulillah, Allah masih sayang kepadaku. Dengan penyakitku ini Allah telah menegurku untuk evaluasi segala kesalahan-kesalahanku. Dan dengan penyakit ini pula semoga Allah menggugurkan dosa-dosa kecilku.
"Apabila seorang muslim diberi kenikmatan maka ia bersyukur. Dan apabila ia diberi cobaan maka ia bersabar."
Aku disarankan untuk istirahat melakukan segala kegiatan, termasuk kuliahku, dengan diberikannya surat keterangan dokter kepadaku. Tapi aku bertekad dalam hati, itu semua tak akan kulakukan.
Sesampainya di rumah aku kembali berbaring untuk memberikan kenyamanan pada tubuh yang terus mengerang ini.
***
Seperti biasa aku keluar untuk menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim, yaitu sholat berjamaah di masjid. Tiba-tiba temanku menghampiriku pada waktu perjalanan menuju pulang ke rumahku. Dengan sikap kepeduliannya, ia menanyai kondisiku saat ini. Seperti biasa, ku jawab "Alhamdulillah, baik".
Namun sangat terlihat sekali tubuhku yang kokoh dengan paksaan. Kuat dengan dorongan. Sesampainya di perempatan jalan, aku mengucapkan salam untuk berpisah kepadanya, perlakuan yang biasa kami lakukan. Aku kaget tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah amplop, yang tak ku ketahui isinya, lalu menyodorkannya kepada ku sambil berkata, "Nih buat mu."
Dengan tergesa-gesa ia meninggalkanku begitu saja. Aku masih tercengang dengan semua itu. Ku simpan amplop itu ke dalam sakuku.
Sesampainya di rumah, dengan penuh penasaran, ku buka amplop tersebut. Kembali diri terkejut saat melihat isinya. Sepucuk surat dan sejumlah uang.
Ya... Allah siapakah sosok ini. Yang begitu peduli terhadap diri. Dia sangat mengetahui kondisi diri yang benar-benar sedang membutuhkan seseorang sebagai tempat sandaran dan juga sedang membutuhkan sejumlah uang untuk menutupi biaya-biaya pengobatanku itu.
Ya... Allah jadikan hubungan persaudaraan kami suci dan hanya tertuju kepada-Mu semata. Terus tumbuhkan rasa cinta antara kami, rasa cinta yang tak lekang dimakan waktu, rasa cinta karena adanya jiwa-jiwa yang beriman.
Ya... Allah tetapkanlah kami selalu di jalan-Mu. Kuatkanlah kami untuk selalu berjuang di jalan-Mu dan jadikanlah kami sebagai syuhada-Mu.
Hangatnya air mata tak terasa terus mengalir dan membasahi wajah yang tampak sayu sekaligus bangga karena bahagia.
***
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Akh...
Semoga cepet sembuh ye... Mungkin dengan sakit ini, Allah mengingatkan antum untuk senantiasa menjaga kondisi tubuh. Coz tubuh kita juga ada haknya lho..!! Banyak hikmahnya kok kalau kita lagi sakit.. Di sela2 istirahat, antum bisa lebih banyak tilawah ato menghafal Al-Qur'an yang mungkin ga' sempet antum lakukan di kala antum sehat + sedang sibuk2nya...
Ingat!!! Banyak karya2 besar yang lahir dari ulama2 justru di saat mereka sedang tertimpa masalah ato cobaan2...
Ane yakin kalo Allah pasti mengingat antum di kala susah. Coz antum juga sering mengingat Allah di saat senang.. So serahkan semuanya aja ama Allah, banyak bersabar, & sering2 berdoa agar diberi kesembuhan dan kekuatan untuk menjalani lika-liku kehidupan ini...
Duh!!! Afwan, ane terlalu banyak omong.. Eh banyak tulis. Yang penting semoga cepet sembuh aja dech.. Syafakallah syifaan ajilan syifaan laa yughoidiru ba'dahu saqaman...
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.