Kadang terpikir tuk membencinya, tapi mengapa itu sulit sekali dilakukan. Ketika diri berkata kasar padanya, dia malah menyikapinya dengan lembut dan penuh dengan kesabaran. Ketika diri bersikap baik padanya, dia makin sangat menghormati diri. Ketika diri meminta pertolongan padanya, ia segera menanggapinya dengan sangat antusias, tanpa pikir panjang apakah aku sedang sibuk ataukah tidak, seolah dia bersedia tunduk dan patuh akan semua permintaan diri. Tingkah laku sopannya sangat membuat diri malu pada diri sendiri. Keceriaannya membuncahkan jiwa, bergemuruh dalam dada tuk ikut masuk dalam dunia indahnya. Sekalipun ia dalam keadaan duka, semua tak ditampilkan pada sikap, ucapan, maupun raut mukanya. Bebannya hanya dia dan orang tertentu yang dapat mengetahuinya. Ibadahnya menjadi penyemangat diri tuk terus memperbaiki kualitasnya. Kesibukannya menjadikan diri terlupakan akan sifat malas yang dahulu terus menjajah diri. Diri terus terlunta-lunta ketika berada di hadapnya. Semangatnya itulah yang menjadikan cerminan bagi hidupku dalam mengarungi samudera hidup yang penuh aral demi pencapaian keredhoan Ilahi.
***
"Masuk sini, jangan malu-malu..." dia menarik tanganku menuju kamarnya, yang bagiku sulit berkata nyaman untuk berbagi bersama dua orang di dalamnya.
Kulihat di kamarnya berdiri gagah sebuah piala yang menandakan ia bukan manusia biasa, manusia berprestasi. Dan terdapat pula beberapa kaset dengan penyanyi yang aku lupa namanya siapa ketika ia menjelaskannya. Dia sibuk memperlakukan ku selayaknya tamu agung. Padahal siapalah aku.
Kesan pertama begitu menggoda,, yah itulah aku sangat terpikat akan kepribadian yang dimilikinya, yang sebelumya tak ku ketahui sama sekali sosok itu.
***
"Mengapa kamu puasa ya,,? ya udah buka di sini aja.." tawaranku kepadanya ketika ia bersilaturahim ke kos ku.
"Subhanallah.. makasih banget" raut muka ceria itu tak hilang dari ingatanku ketika ku suguhkan kepadanya hanya air putih dan kue kecil.
"Salut loh.. aku masih belum sanggup untuk istiqomah puasa senin kamis sepertimu" ia menanggapinya hanya dengan tersenyum.
Memang jujur aku merasa dipermalukan, seolah-olah ada yang berkata di depan telingku, "ibadahmu yang kau anggap baik itu belum ada apa-apanya, jek!"
Adzan berkumandang
"Subhanallah.. enak kuenya.. sampe abis nih."
"Yok shalat magrib di masjid ajak ku" setelah kulihat ia sangat puas dengan sedikit makanan yang kusajikan.
"Wah makasih banget ya" lagi-lagi ia berkata itu dengan disertai raut muka ceria khasnya.
***
Lagi-lagi ia mengunjungi kosku ba'da shubuh di masjid, padahal kebiasaan ku adalah tidur ba'da shubuh. Yah gak papalah, lagian juga aku suka banget ketika ia terlihat sangat sumringah berjumpa denganku, seolah kami sudah lama sekali tidak saling jumpa. Dan kami mengobrol, bisa juga dibilang diskusi santai, tentang topik-topik yang ada di berita pagi yang kami tonton.
Dia kemudian pamit setelah matahari pagi mulai menunjukkan dirinya, "aku pulang ya,, mau dhuha dulu karena nanti ada kuliah statistik jam 8."
Lagi-lagi muka ku serasa panas seolah abis ditampar bolak balik saking malunya. "Kapan ya aku terakhir mengerjakan sholat Dhuha??" Bisikan itu terus menggema di telingaku sampai-sampai ku segerakan diriku ambil air wudhu tuk melakukan shalat Dhuha setelah ia beranjak pergi dari kos ku.
***
Ketika ia sedang menonton TV karena kebetulan pagi itu ia gak ada kuliah,
"Aku mau ngomong bentar, boleh nggak?" selaku padanya.
"Ngomong aja,," perhatiannya langsung beralih ia tujukan kepadaku.
"Aku sering merasa lonely in the crowded,,,mau nggak kamu jadi saudaraku?" tanpa basa-basi aku langsung menuju inti pembicaraan.
"Ha..ha.. kita dah lama jadi saudara,, karena setiap muslim itu bersaudara." Dengan santai ia menanggapi permintaanku itu namun begitu mengena di diriku.
Kemudian kami pun saling berpelukan. (kayak Thelethubis jadinya) Setelah itu hubungan kami terasa sangatlah berbeda dari sebelumnya, saling perhatian walau tanpa ucapan, saling menasehati walau hanya dengan perbuatan. Nilai ibadah kami pun terasa terus membaik kualitasnya karena adanya saling memotivasi dengan teladan sikap perbuatan langsung. Yang intinya kami terus saling memotivasi untuk terus memperbaiki diri.
***
Kini,,, ia akan beranjak pergi dari kehidupanku yang aku yakin itulah kemenangan baginya. Dibalik itu semua adalah terbaik untuknya dari ALLAH SWT. Ku yakin dengan jiwa ikhlasnya, dengan istiqomah-nya dalam kualitas ibadahnya yang mantap, terus menebar keceriaan, dan sebagai pelaku teladan dalam tindakan, insya ALLAH akan membuatnya terus mulia, yang tentunya juga mulia di sisi ALLAH SWT.
Ingat,, saudaraku diri ini pastinya akan sulit menemukan sosok sepertimu. Diri ini akan merindukan tingkah lakumu, keceriaanmu, kesabaranmu, ketegaranmu, optimis hidupmu, sikap diammu, yang semuanya membuat ku nyaman, tenang dalam kehidupan. Pelajaran hidup banyak ku dapat dari dirimu. Yang semua itu menjadi bekal hidup kita kelak menuju jalan keabadian-NYA.
Suatu hal yang pastinya terus menjadi penyesalanku sepanjang waktu adalah sikap burukku, egoisku, keras kepalaku, prasangka burukku terhadapmu. Maafkan diri bodoh ini Saudaraku!
Aku mencintaimu karena ALLAH SWT!
