Senin, 31 Desember 2007

Cahaya Yang Datang Tiba-Tiba (1)

Entah siapakah gerangan, yang datang tiba-tiba menghampiri diri.
Ketidaklayakan diri dalam berbuat, merasakan diri enggan tuk bertindak. Terkadang diri merasa malu dengan semua apa yang dilakukan. Datang dengan lagak memerintah, berlapiskan topeng kesucian, dan menjadikan diri yang serasa serba tahu segalanya. Padahal di balik semua itu, diri ini hanyalah seonggok diri yang hina, yang tak layak untuk dipuji dan dihormati. Diri ini penuh dengan kotoran dosa yang melekat tak nampak. Diri ini penuh dengan kepalsuan.
Saat kekesalan hinggap di jiwa karena keadaan yang sangat tidak mendukung dengan tujuan diri, jiwa pun berontak. Memecahkan kesunyian yang selama ini kubuat.
Aku tak tahan akan semua ini!
Perlahan diri terus menghindar dari kehidupan mereka. Mereka yang selama ini sangat dekat denganku. Yang selama ini telah banyak mengisi lembar-lembar kehidupanku. Yah... Itu harus kulakukan. Karena telah ku ketahui makna hidup. Telah ku dapati arti kedamaian. Telah ku rengkuh hakekat cinta sejati. Yang kesemuanya itu harus ku bayar mahal. Harus ku relakan semua yang ada pada diriku tuk meraih kebahagian itu, ketenangan itu, kedamaian itu. Yah... Salah satunya harus ku relakan diri untuk perlahan menjauh dari kehidupan orang-orang yang telah sangat dekat dengan ku. Telah ku relakan diri tuk menjauhi kenikmatan fana itu, walau terlihat seperti surga di mata dunia. Semua itu harus ku relakan. Namun, hakekatnya aku tak dapat berdiri sendiri. Aku masih membutuhkan manusia lain sebagai penyanggah diri. Di saat itulah diri terus meraba, diri terus melata, diri terus berkelana mencari sosok yang dapat terus mengokohkan diri.
Kejenuhan tubuh pun tiba. Tubuh seakan tak mampu menahan semua beban dan semua yang dipikirkan oleh diri, sehingga ia memberontak. Yah... Diri ini telah sakit. Aku yang selama ini terus berkutat di luar tempat kediamanku, demi untuk melupakan kehidupan kelam di sana. Terus berusaha tuk terus giat dalam berbagai kegiatan, demi untuk mengembangkan diri bodoh ini. Namun diri melupakan hakekat dari jiwa yang lelah, jiwa yang letih, jiwa yang penuh dengan peluh.
Diri telah terjatuh pada kelemahan, sehingga tak mampu memenuhi semangat yang membara dalam jiwa tuk terus bergerak dan bertindak. Yah... Diri hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur yang juga biasa sebagai tempat ku melakukan segala kegiatan. Namun diri tak ingin memanjakan kelemahan yang ada padanya. Untuk kegiatan yang harus aku lakukan, sebisa mungkin akan tetap aku lakukan walaupun dengan penuh kepayahan. Perjalanan yang ku tempuh dalam mencapai kekhusyuk'an beribadah dan demi mencapai kesempurnaan sholat pun harus terus ku laksanakan dengan sekuat tenaga dilakukan secara berjamaah di masjid. Sehingga aku pun masih dapat bertemu jiwa-jiwa tobat, jiwa-jiwa penuh dengan semangat, jiwa-jiwa suci yang berketuhanan. Semua itu dapat menguatkan diri. Sesampainya diri kembali di rumah, hanya kasur kembali sebagai tempat tujuan. Diri terasa lelah dalam perjalanan yang walaupun hanya ditempuh dalam hitungan menit. Tapi itulah,, tubuh yang yang berontak. Orang di sekitarku tak tahu menahu dengan semua yang ku alami karena telah menjadi kebiasaan diri tuk tak banyak berkata-kata kepada mereka. Aku berbicara pun hanya seperlunya saja kepada mereka, yang sangat jarang sekali disertai dengan basa-basi. Sehingga diamnya aku kepada mereka, dianggap sebagai hal yang biasa. Diri tak hendak berkeluh kesah kepada mereka dan diri pun tak ingin membebani mereka, sehingga kelemahanku saat ini hanya aku seorang yang mengetahui sebagai orang yang langsung mengalami.
Hari-hari kulalui dengan penuh ketiadaan tindakan. Diri hanya terus dan terus berbaring di tempat peristirahatan. Hanya diselingi keluar untuk mencari makan dan sholat berjamaah ke masjid. Selebihnya diri hanya berbaring. Terkadang bosan diri dengan keadaan seperti ini, sehingga diri memaksakan tubuh ini untuk keluar melakukan kegiatan yang biasa aku lakukan di waktu diri kokoh. Diri rindu dengan tingkah polos bocah-bocah kecil itu. Bocah yang terus mengeja dengan bersusah payah demi melangkahi lembar demi lembar tingkatan IQRO' yang lebih tinggi.
Ketika mereka menghampiri tubuh yang sedang tak berdaya ini. Dengan serta merta mereka meloncat kearah ku dan berusaha tuk meraih pundakku. Yah... seperti anak monyet yang sedang bergelantungan di tubuh induknya. Itulah kemanjaan mereka. Itulah keluguan mereka. Itulah keceriaan mereka. Yang membuat diri tiba-tiba kembali kuat dan terus menampilkan pada wajah ini senyuman yang hangat kepada mereka serta perkataan yang lembut dengan dijiwai rasa kasih sayang yang hakiki, agar kepolosan mereka tak ternodai jiwa-jiwa kotor yang terus menyerang mereka setiap saat.
Namun diri tak seperti manusia baja yang tahan akan segala hantaman dari luar. Tubuh kembali mengerang sesampainya di tempat pembaringan. Mengapa ini terus terjadi?
Yah... Aku bertekad berhenti sejenak untuk menambah kekuatan yang baru. Perlahan aku menghilang dari penglihatan semua temanku. Aku, lagi-lagi tak berucap kepada mereka semua tentang keadaanku saat ini.
Namun tiba-tiba teman satu perjuanganku, meng-SMS-i ku. Dia memintaku untuk melatih salah satu anak di TPA tersebut dalam rangka persiapan mengikuti lomba yang diselenggarakan TPA tetangga. Aku tidak serta merta menolaknya namun aku memintanya untuk mengambil draftnya di rumahku. Sebisa mungkin aku menyambutnya dengan perlakuanku yang biasa. Namun dia bertanya kepadaku, "Kamu sakit ya?"
(bersambung)