Senin, 31 Desember 2007

Menunggu

Dalam penantian terkadang semua tak sesuai keinginan. Tindakan dalam penantian terkadang sulit tuk dilakukan. Di satu sisi, merasa segan tuk bertindak sesuai keinginan diri. Namun di sisi lain, kegiatan yang umum di sini merupakan kegiatan yang sangat tidak penting bagiku dalam mengisi waktu dalam penantian tersebut. Ku hanya ingin semua yang kulakukan adalah berguna, minimal untuk diriku pribadi. Kalaupun tidak, aku tak ingin melakukan kegiatan yang sia-sia. Apalagi yang merugikan, sangatlah tak ingin ku lakukan.
Di saat-saat kesibukan, terkadang terlintas dalam pikiran betapa nikmatnya hidup dalam keadaan santai. Namun ketika di seluruh waktuku dipenuhi dengan kegiatan yang namanya "menganggur", aku benar-benar sangat merindukan masa-masa sibukku dahulu. Walaupun letih menyerang, peluh berkepanjangan, semua baru sangat nikmat dirasakan saat ini. Diri ini benar-benar merindukan masa sibuk.
Yah memang benar kata Ust. Jumharudin, Ustadz yang mengisi kajian di masjid dekat kosku, bahwa fitrah manusia adalah suka pada kesibukan. Tetapi kesibukan manusia itu berarah pada dua sisi. Satu sisi manusia sibuk hanya untuk kebutuhan dunia semata. Seperti halnya seseorang yang dugem semaleman dengan dalih menghilangkan penat. Namun di sisi lain, kesibukan manusia bermuara pada kehidupan di masa depan. Seperti seseorang yang rindu tuk berjumpa dengan adik-adik kecilnya di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di saat waktu sibuknya.
Semua itu kembali pada diri kita pribadi. Apakah kita akan menjerumuskan diri pribadi ke jalan yang kelam nan hitam dengan disertai kenikmatan sesaat. Ataukah kita akan membawa diri ke jalan kedamaian dengan cahaya sejuk berteberan di segala penjuru namun dilalui dahulu dengan kesakitan yang mendalam.
Aku terus menguasai diri jangan sampai diri ini terus bergelayut dengan kegiatan yang tanpa kegiatan. Karena dengan kesia-siaan yang kulakukan akan membawa dampak pada matinya hatiku kelak. Apalagi jika aku melakukan perbuatan yang merugikan diri pribadi, murka ALLAH pasti akan tertuai pada diriku.
Yakinku ini merupakan jembatanku dalam menyelami kehidupan baru yang sangat bertolak belakang dengan pola pikirku saat ini. Jadi, penyesuaian harus terus kulakukan. Penetapan target harus ku buat agar diri tak menjadi manusia yang merugi. Semua ini merupakan salah satunya nikmat dari ALLAH SWT, Sang Maha Tahu segalanya.
Terus berjuang, walau keadaan barumu tak mendukung.
SEE..EEMAA..NGAA..AATT...!!!