Setelah itu adzan menghantarkan kami dalam pulang perjalanan menuju rumah masing-masing, sehingga aku mengajaknya untuk singgah ke masid untuk menunaikan shalat isya terlebih dahulu. Ia pun memnuhinya tak merasa keberatan sedikit pun.
Di penghujung gang masuk menuju rumahku, yang juga sebagai jalan yang harus ia lewati menuju ke rumahnya, aku memberikan suatu yang sangat berharga bagiku. Suatu yang seharusnya menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagiku. Tak apalah. Dia pun sangat bahagia sekali dengan sesuatu yang ku berikan tersebut.
Itu awal keterpautan hatiku terhadap mereka. rasa cintaku kepada merka. Rasa cinta yang bukan hanya karena nafsu duniawi semata. Cinta yang benar-benar tulus dari lubuk hati terdalam. Cinta yang tertuju hanya karena ALLAH semata. Mudah-mudahan perasaan cinta ini tak pudar dimakan waktu. Dan niat cinta ini terus tertuju kepada Sang Pemilik Cinta yang Hakiki semata.
Dan alhamdulillah perjumpaan tersebut dapat berlanjut ke perjumpaan tiap pekan kami. Walaupun aku tak sepenuhnya baik dalam pengetahuan dan ilmu, tapi forum perjumpaan tersebut ku usahakan untuk terus eksis dan berisikan materi-materi yang sebisanya aku sampaikan.
Dengan adanya perjumpaan tersebut aku termotivasi untuk terus menggali ilmu. Aku terus memotivasi diri untuk terus memperbaiki diri. Karena dengan penyampaianku kepada mereka, otomatis harus aku aplikasikan dalam perbuatanku yang tidak hanya sekedar ucapan belaka. Karena perkataan tanpa aplikasi perbuatan, akan menjadikan perkataan yang kering, tak berbobot, sepenting apapun itu.
Setiap perjumpaan dengan merekalah yang menjadikan penyemangat diri dalam beribadah. Wajah-wajah yang penuh dengan semangat. Wajah-wajah yang penuh dengan harapan.
Walaupun makin kini, makin berkurang jumlah tiap orangnya, tak membuatku surut dalam membimbing mereka. Walaupun satu orang pun tetap aku bertekad akan tetap kujalankan. Karena ALLAH sajalah yang berhak atas hidayah kepada umat-Nya. Aku hanyalah penyampai semua itu. Aku terus berusaha agar mereka terus dapat merasakan nikmatnya ber-Islam. Damainya ber-Islam. Tenang-Nya ber-Islam.
Dipertengahan perjalanan kulihat sosok yang mempunyai potensi yang patut untuk terus dikembangkan, sehingga aku menariknya untuk ikut dalam kelompokku. Dan alhamdulillah kelompokku jumlahnya bertambah satu.
Saat ini, alhamdulillah semua kurasa telah ada perubahan. Yang sekali lagi itu semua karena hidayah-Nya jua. Pertemuan rutin tetap berjalan walau sulitnya untuk membuat mereka semua untuk datang secara lengkap. Memang tiap pertemuan seringnya pasti ada yang absen. Itu tak menjadi masalah. Yang terpenting, hubunganku dengan mereka terus berlanjut.
Makin kini hubungan kami makin terasa bertambah rasa cinta itu dan memang waktu telah membatasi perjumpaanku dengan mereka. Hingga di malam iti aku pun harus menyerahkan kelompokku untuk dibina oleh orang lain, temanku. Serasa sulit sekali untuk melepas mereka. Karena mereka adalah salah satu lahan dakwahku yang ingin terus ku garap sampai benar-benar terlihat hasilnya.
Tapi memang ALLAH mempunyai skenario tersendiri atas hidup ku dan mereka. kuharap kelak perkembang mereka semakin melesat dengan berada dalam binaan temanku tersebut. dan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Cinta ini tak akan lepas. Kenangan ini tak akan hilang. Semoga perjumpaan kita akan terus berlanjut kelak. Walaupun tidak ada perjumpaan kita di dunia ini, semoga ALLAH mempertemukan kita di syurga-Nya kelak.
